
Setelah semuanya sudah siap Viany pun segera menuju ke kamarnya, Saat masuk ke dalam kamar ternyata Gustian sudah siap membersihkan diri dan juga sudah berpakain rapi.
Viany yang melihat Gustian hari ini menggunakan kameja hitam dan Jas yang berwarna abu-abu juga celananya berwarna abu-abu tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Mas... Apakah sebelumnya kita pernah bertemu di cafe xxxx ."Tanya Viany.
Mendengar Viany berkata begitu Gustian mengernyitkan keningnya menandakan ia sedang mencoba mengingat apa yang Viany katakan.
"Sepertinya tidak pernah,Memangnya kenapa..."Tanya balik Gustian.Sebenarnya Gustian tidak lupa pertama kali ia bertemu dengan Viany memang di cafe xxxx karena waktu itu saat Gustian habis bertemu dengan kliennya dan hendak pergi ia kebetulan mendapati Viany baru saja masuk ke dalam cafe itu dan kebetulan Viany juga memilih kursi duduk di belakangnya bertemu Susan di sana.Setelah itu saat Viany dan Gustian bersamaan hendak keluar dari cafe itu Viany menabrak Gustian dan dengan reflesk Gustian memeluk pinggang Viany dan sejak saat itu jantung Gustian berdetak dengan cepat ketika mencium wanginya rambut Viany.Tetapi pada saat itu Gustian tidak mengerti dengan detak jantung itu menandakan Sebenarnya ia telah jatuh cinta pada Viany pada pandangan pertama.Tetapi sekarang mengingat kembali pada saat itu sepertinya Gustian sekarang sadar bahwa sebenarnya ia sudah jatuh cinta pada Viany pada pandangan pertama.
"Benarkah tidak pernah."Tanya Viany lagi.
"Iya..Tidak pernah.. Bukankah saat pertama kali kita bertemu saat kamu hendak di culik dan itu di Jakarta."Ucap Gustian.
"Oh..." Ucap Viany.
"Mungkin memang aku salah mengenal orang."Batin Viany.
"Ya sudah ,Mas sarapan lah dulu Aku mau membersihkan diri dulu." Ucap Viany lalu berlalu pergi dari hadapan Gustian.
Ketika Gustian turun ke bawah dan menuju ke meja makan ia tidak mendapati Gibran di sana,tadi kiranya Gibran sudah berada di sana.
Tak berselang lama Gibran dan Viany pun turun bersamaan menuju ke meja makan untuk sarapan.
"Pagi Kak."Ucap Gibran.
"Pagi.." Balas Gustian berusaha bersikap santai karena penyakit cemburunya kambuh lagi ketika melihat kedekatan mereka berdua ini.
"Kenapa perasaannya mereka berdua semakin dekat, apakah...Karena mereka berdua masih mempunyai rasa
saling mencintai seperti dulu."Batin Gustian.
Setelah selesai makan mereka pun melaksanakan aktivitas masing-masing yaitu masing-masing menuju ke tempat kerja masing-masing.
__ADS_1
"Mas..Aku sama Gibran berangkat dulu ya.."Ucap Viany yang sudah siap-siap mau berangkat bersama Gibran.
"Tunggu Sayang.."Panggil Gustian dan Viany pun menghentikan langkahnya.
"Sama Mas saja ya,,Mas juga mau ke rumah sakit hari ini ."Ucap Gustian.
"Hah...Mas, kenapa.. Apakah Mas kurang sehat."Tanya Viany karena tiba-tiba Viany mengingat Gustian tadi batuk- batuk.
Gustis yang mendengar itu pun mengernyitkan keningnya,emang kalau dia sakit baru ke rumah sakit bukankah kadang dia memang ke rumah sakit untuk pekerjaannya.. Kayaknya Viany memang lupa kalau rumah sakit itu milik keluarganya dan suaminya lah yang urus rumah sakit itu.
"Mas tidak sakit,Mas ke sana mau ngurus pekerjaan sana."Ucap Gustian .
"Oh iya ya..Lupa."Ucap Viany dengan tersenyum.
"Baiklah kalau begitu aku pergi sama ,Mas saja."Ucap Viany dan membuat Gustian tersenyum senang.
"Gi,Aku ikut mobil kakak mu , kakak mu juga mo ke rumah sakit cek pekerjaan sana."Ucap Viany saat ia sudah keluar bersama Gustian karena tadi Gibran memang sedang menunggunya.
"Okeyks.."Ucap Gibran lalu segera pergi dari sana.
"Apakah kalau bersama Gibran dia juga diam gitu kalau mereka berdua dalam satu mobil."Batin Gustian
"Mas.."Panggil Viany tiba-tiba.
"Hm.."
"Kepala rumah sakit pernah menawarin Aku ke desa menjadi dokter sana karena di sana memang sedang membutuhkan seorang dokter lagi,jadi izinkan Aku mutasi ke sana ya."Ucap Viany.
"Kenapa kamu tiba-tiba mau mutasi ke sana."Tanya Gustian.
"Karena Aku ingin mencoba suasana yang baru."Ucap Viany.
Viany sudah tahu Gustian pasti akan menanyakan alasannya jika ia minta izin kepada Gustian tawaran yang memang pernah di tawarin oleh kepala rumah sakit kepadanya.
__ADS_1
"Ingin mencoba suasana baru."Tanya Gustian.
"Hm.. Izinkan ya ,Mas."Ucap Viany lagi.
"Kamu tidak lagi coba untuk menghindari ku kan."Tanya Gustian.
"Jangan lupa apa yang semalam kamu katakan ingin menjadi pelampiasan Ku."Ucap Gustian lagi entah kenapa ia merasa Viany ingin menghindarinya oleh karena itu sengaja berkata begitu.
Sebenarnya memang seperti itu lah yang Viany inginkan untuk menghindarinya karena semalam setelah mendengar rancauan Gustian, Viany pikir ini memang kesempatan yang baik untuk sementara menghindari Gustian lagi pula Viany memang pernah berpikir ingin pergi dari Gustian juga, Tetapi sekarang mendengar Gustian berkata begitu sebenarnya hatinya sakit walaupun Viany tahu sebenarnya Gustian tidak ingin menyakitinya.
"Tidak,,Jika Aku ingin menghindari mu Aku tidak akan meminta izin pada mu."Ucap Viany dan Gustian hanya diam saja.
Setelah sampai di rumah sakit Gustian dan Viany masing-masing menuju ke ruangan mereka.
Gustian yang sudah berada di ruangan kerjanya segera meminta kepala rumah sakit menemuinya.
Tak berselang lama kepala rumah sakit pun sudah berada di ruangan Gustian.
"Selamat pagi ,Pak Gustian..Apa ada yang perlu bapak cari saya ,Pak ."Tanya kepala rumah sakit.
"Pagi,,Begini apakah bapak menawarin Viany Nugraha untuk mutasi ke desa menjadi dokter sana."Tanya Gustian.
"Benar Pak,karena di sana memang membutuhkan seorang dokter specialist seperti Bu Viany."Ucap kepala rumah sakit.
"Apakah selain Viany tidak ada dokter lain lagi di rumah sakit ini."Tanya Gustian yang sebenarnya tidak izin Viany mutasi ke sana.
"Kalau bisa kami memang ingin Bu Viany menjadi dokter di sana,Pak."Ucap kepala rumah sakit.
"Cari dokter lain saja,saya tidak mengizinkan Viany yang mutasi ke sana."Ucap Gustian.
"Tapi Pak..Bu Viany tadi barusan menanda tangani tanda setuju untuk mutasi ke sana,Pak."Ucap kepala rumah sakit.
"Apa.."Ucap Gustian dengan tidak percaya, bukankah tadi Gustian tidak mengatakan setuju lalu kenapa Viany sudah menanda tangani surat setuju.
__ADS_1
Tadi saat Viany hendak masuk ke ruang kerjanya ia tiba-tiba pikir sebaiknya ia bertemu dengan kepala rumah sakit terlebih dahulu sebelum Gustian meminta kepala rumah sakit menemuinya karena Viany tahu Gustian sepertinya tidak setuju jika Viany di mutasi kan.Oleh karena itu dengan cepat Viany pergi menemui kepala rumah sakit dan dugaannya benar saat ia baru saja selesai menanda tangani surat setuju di mutasikan ke desa seorang suster mengabari kepala rumah sakit bahwa Gustian ingin bertemu dengannya.