
Saat sudah berada di dalam taxi, Viany menoleh ke belakang dan melihat mobil Gustian mengikutinya di belakang taxi yang ia tumpangi.
"Dasar keras kepala"Batin Viany.
Lalu tak berselang lama Viany pun sudah sampai tujuannya dan tanpa menunggu Gustian ,Viany pun masuk dulu ke dalam rumah sakit yang akan ia interview.
Saat sedang menunggu antriannya Viany bertemu dengan teman kuliahnya saat mereka kuliah di luar negeri.
"Viany.."Panggil seorang dokter yang adalah teman kuliah Viany.
"Apakah kamu sudah tidak mengenal ku, Viany Nugraha."Ucap Dokter itu lagi ketika melihat Viany sepertinya tidak mengingatnya.
"Kamu..."Jeda Viany masih belum ingat siapa itu.
"Haiz...Dasar wanita cerewet,,tau nya ngomel saja,bisa mati anak ayam kalau kamu jadi dokter."Ucap Dokter itu lagi.
"Dokter sialan,,,Bima Sebastian.."Ucap Viany menunjuk seorang pria di depannya keketika ia ingat teman kuliahnya itu mempunyai mulut yang sangat menyebalkan.
"Ck..Akhirnya kamu ingat juga."Ucap Bima dengan tersenyum.
"Apa kabar mu, Viany."Tanya Bima.
"Baik, seperti yang kamu lihat."Ucap Viany dengan tersenyum.
"Kok kamu bisa di sini."Tanya Bima lagi.
"Hm,,Ini..Aku sedang menunggu antri interview."Ucap Viany lalu Bima mangut-mangut kepalanya.
"Apakah kamu mau jadi dokter di rumah sakit sini."Tanya Bima
"Tentu..."Ucap Viany.
"Kalau begitu aku doain semoga kamu berhasil lewat interview dan kita bisa jadi rekan kerja."Ucap Bima.
"Terima kasih doa nya tapi....Kamu juga jadi dokter di rumah sakit ini."Tanya Viany.
"Ya,, Apakah kamu tidak melihat pakain ku ini."Tanya Bima menunjukkan Jas dokter yang sedang ia pakai.
''Oo.."Ucap Viany hanya beria O.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu,masih ada pasien sedang menunggu ku."Ucap Bima.
"Good luck."Ucap Bima lagi lalu mencubit hidung Viany dengan pelan sebelum Bima benar-benar sudah pergi dari sana seperti dulu ia sering melakukan kepada Viany saat mereka berdua kuliah di luar negeri.Oleh karena itulah Viany suka memanggilnya Dokter sialan.
"Dokter sialan."Umpat Viany mengusap hidungnya dan itu membuat Bima tertawa saat masih bisa mendengar umpatan Viany kepadanya walaupun ia sudah berjalan pergi dari sana.
__ADS_1
"Siapa pria itu,berani sekali dia menyentuh istri ku."Batin Gustian saat ia baru saja melihat seorang pria mencubit hidung istrinya.
Lalu Gustian pun menelepon seseorang mengecek semua data Dokter Bima.Saat Bima berjalan melewati Gustian, Gustian melihat name tag nya jadi Gustian pun jadi tahu Dokter sialan yang tadi istrinya sebut itu bernama Bima.
.
.
Kleck...
"Bagaimana... Apakah kamu di terima."Tanya Gustian ketika Viany baru saja keluar dari ruangan interview.
"Dari tadi Mas tunggu di sini.."Tanya Viany karena tadi saat ia masuk ke dalam ruangan ia tidak melihat Gustian ada di sana, Viany kirain setelah Gustian mengikutinya sampai ke rumah sakit Gustian langsung pergi dari sana.
"Hm."Ucap Gustian.
"Apakah kamu hari ini tidak kerja."Tanya Viany lagi.
"Kerja kok,,, dengan ini."Ucap Gustian menunjukkan iPad nya di hadapan Viany.
Melihat iPad yang di pegang oleh Gustian, Viany mengernyitkan keningnya.Sebenarnya apa yang di lakukan oleh Gustian,jika kerja kenapa di sini dan menggunakan iPad.Apa tidak dia tidak punya kantor lagi.
Lalu tanpa banyak berkata lagi Viany langsung jalan begitu saja tanpa peduli Gustian mengikutinya atau tidak.
"Sekarang kamu mau pergi mana."Tanya Gustian.
"Pulang.."Ucap Viany melepaskan tangan Gustian dari lengannya dan melanjutkan langkah kakinya.
"Aku antar,,"Ucap Gustian mengikuti langkah kaki Viany.
"Tidak perlu."Ucap Viany masih terus melangkah kan kakinya.
"Aku antar.."Ucap Gustian dengan tegas berdiri di hadapan Viany.
"Gustian.."Panggil seseorang lalu Gustian dan Viany pun menoleh ke sumber suara.
"Hai.. Gustian..Apa kabar."Tanya Rebecca ketika sudah berdiri di dekat Gustian dan Viany.
"Baik.. Seperti yang kamu yang lihat."Ucap Gustian dengan muka datarnya.
"Kok kamu bisa di sini."Tanya Rebecca lagi,dari tadi ia tidak menganggap keberadaan Viany ada di sini walaupun ia tahu Viany ada di sini dan ia hanya menatap Gustian saja.
"Aku sedang menemani istri ku "Ucap Gustian menoleh ke arah Viany begitu juga dengan Rebecca tapi ia sama sekali tidak menyapa Viany karena Rebecca sangat membenci Viany karena Viany ia tidak bisa mendekati Gustian dan tidak bisa menikah dengan Gustian.
"Apakah kamu sekarang punya waktu, sebentar lagi sudah waktunya makan siang mau kah kamu makan siang bersama ku,Tian."Ajak Rebecca kepada Gustian tanpa punya rasa malu dan tanpa peduli ada istri sah Gustian juga berada di sini.
__ADS_1
"Dasar pelakor,, wanita tidak tahu malu..."Batin Viany lalu tanpa pamit kepada Gustian ia berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Viany.. Tunggu.."Panggil Gustian mengejar Viany tanpa pamit kepada Rebecca dan meninggalkan Rebecca begitu saja.
"Gustian.."Teriak Rebecca tapi tidak di hiraukan oleh Gustian.
"Sial... Gara-gara wanita itu lagi Gustian meninggalkan ku.Baik..Tunggu saja kamu ****** Aku akan merebut Gustian dari mu."Ucap Rebecca dengan mengepalkan tangannya.
"Viany.."Panggil Gustian, akhirnya Viany menghentikan langkahnya.
"Aku antar.."Ucap Gustian lagi dan akhirnya Viany pun menganggukkan kepalanya karena ia tidak mau berdebat dengan Gustian lagi . Kalaupun Viany tetap tidak mau, Gustian pasti akan seperti tadi pagi mengikuti taxinya dari belakang.
Di dalam mobil Viany sama sekali tidak membuka suara, Viany menatap keluar dari dalam mobil Gustian dan Gustian yang melihat diamnya Viany ia pun mencoba memecahkan keheningan mereka.
"Sebentar lagi waktunya makan siang, apakah kamu makan siang bersama ku dulu,Viany."Tanya Gustian.
"Ngak,,Aku mau segera pulang saja."Ucap Viany tanpa menoleh ke arah Gustian.
"Kalau begitu biar aku beli makan siangnya dulu nanti makannya di rumah saja."Ucap Gustian lagi dan Viany tidak menjawabnya lalu tiba-tiba ponsel Viany bunyi dan ternyata Gibran menghubunginya.
"Hallo,,Gi.."Ucap Viany memanggil nama Gibran.
"Hallo Vian, apakah kamu sudah pulang dari interview."Tanya Gibran di seberang sana.
"Sudah..Ini lagi mau pulang."Ucap Viany.
"Jadi hasilnya bagaimana, apakah kamu di teeima .."Tanya Gibran lagi di seberang sana.
"Puji syukur,,Aku di terima,Gi."Ucap Viany dengan tersenyum.
Gibran baru ingat tadi saat ia bertanya kepada Viany apakah ia di terima,Viany belum menjawabnya ,,Tapi entah Viany belum menjawabnya atau memang tidak mau menjawabnya Gustian tidak tahu lalu sekarang sepertinya Gibran juga menanyakan Viany dengan hal yang sama dan Viany menjawabnya dengan sangat senang.Melihat itu tanpa sadar Gustian mengepalkan kemudi dengan erat karena merasa Viany mengabaikannya.
"Baguslah kalau begitu...Hmm... Bagaimana kalau nanti malam kita rayain keberhasilan interview mu hari ini "Tanya Gibran.
"Boleh.."Ucap Viany.
"Kalau begitu nanti malam setelah pulang kerja kita langsung makan di luar aja bagaimana."
"Boleh.."
"Kalau begitu nanti malam kamu bersiap-siap lah setelah aku pulang kerja kita langsung keluar."
"Hm..Okey..Aku tunggu kamu jemput."Ucap Viany lalu ia dan Gibran pun menutup panggillan teleponnya.
"Tunggu kamu jemput.."Batin Gustian.
__ADS_1