
Viany yang tadi berada di dalam kamar mandi tidak tahu apa yang terjadi pada Gustian di bawa sana.Setelah keluar dari kamar mandi Viany mendapati Bibi sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Bi.."Panggil Viany ketika melihat Bibi berdiri di depan pintu kamarnya dan membelakanginya.
"Nona Viany..Non...Den Gustian pingsan di bawah tadi."Ucap Bibi dengan nada khawatir.
"Apa.."Ucap Viany dengan terkejut.
"Iya non..Den Gibran sedang memeriksa Den Gustian di kamar tamu."Ucap Bibi lagi lalu tanpa banyak bertanya lagi Viany segera turun ke bawah dan menuju kamar tamu di lantai bawah.
"Gi.."Panggil Viany ketika sudah masuk ke dalam kamar tamu dan melihat Gibran baru siap memeriksa Gustian.
"Bagaimana dengan keadaan kakak mu."Tanya Viany ketika sudah berdiri di samping Gibran.
"Kakak kecapetan dan kurang gizi, sepertinya kakak semalam melewati makannya lagi dan juga banyak pikiran."Jelas Gibran.
"Bagaimana dengan mu,Vian."Tanya Gibran kemudian.
"Aku sudah agak baikan."Ucap Viany tetapi ia menatap Gustian yang sedang terbaring lemah di tempat tidur tanpa menatap Gibran yang berdiri di sampingnya.
"Kakak baik-baik saja,ingatin dia jangan lewatkan makannya lagi nanti asam lambungnya bisa kambuh."Ucap Gibran ketika melihat Viany sedang menatap Gustian dengan khawatir dan tentu saja Gibran cemburu melihatnya.
"Masih adakah Aku di dalam hati mu,Vian."Batin Gibran menatap Viany yang sedang menatap Gustian.
"Ya.."Ucap Viany.
"Baiklah.. Kalau begitu aku berangkat kerja dulu hari ini ada pasien yang perlu operasi."Ucap Gibran lalu keluar dari kamar tamu.
Setelah Gibran keluar dari kamar tamu Viany duduk di samping ranjang tempat Gustian terbaring dan Viany menatapnya dengan sedih.Viany tidak menyangka bahwa Ayahnya yang mengakibatkan orang tuanya meninggal dan sekarang Viany tidak tahu harus bagaimana menghadapi Gustian dan Gibran.
Tok..tok..tok...
Kleck...
"Nona Viany,, kamu sarapanlah dulu.Den Gibran tadi pesan agar Non juga jangan melewatkan sarapan pagi."Ucap Bibi.
Lihatlah,, walaupun Gibran sudah tahu ayahnya yang mengakibatkan orang tuanya meninggal Gibran masih begitu peduli dengannya dan Gustian menurut Viany, ternyata Gustian tidak mencintainya.Pantasan lah setelah mereka menikah Gustian bersikap dingin terhadapnya tetapi sekarang Viany tidak tahu saja sebenarnya Gustian sudah jatuh cinta padanya..Oh tidak... Bukan sekarang tetapi sebelum mereka menikah Gustian sudah jatuh cinta padanya.
"Non.."Panggil Bibi membuyarkan lamunan Viany
"Ya Bi,,"Ucap Viany lalu keluar dari kamar tamu dan menuju ke ruang dapur.
Saat Viany sedang sarapan di ruang dapur Gustian tersadar dari tidurnya lalu Gustian memanggil Bibi dari dalam kamar tamu tetapi Bibi tidak ada di sana karena tadi Bibi sudah minta izin sama Viany mau pergi ke pasar belanja lauk dan bumbu dapur yang sudah kosong.
"Bi..Bibi.."Panggil Gustian lagi.Mau tidak mau Viany menuju ke kamar tamu melihat Gustian.
__ADS_1
Kleck...Pintu kamar tamu di buka oleh Viany.
Melihat Viany yang membuka pintu Gustian menatapnya dengan diam.
"Bibi sedang ke pasar belanja,,Kamu memerlukan sesuatu.."Tanya Viany kepada Gustian.
"Ya,,Bisakah bantu Aku bawakan air putih."Ucap Gustian masih menatap Viany.
"Tunggu sebentar."Ucap Viany lalu ia pun ke dapur ambil air putih untuk Gustian tetapi bukan air putih saja yang di bawa oleh Viany.Viany juga membawa sarapan untuk Gustian.
Walaupun Viany kecewa dengan Gustian yang punya tujuan untuk mendekatinya tetapi sekarang Viany masih adalah istrinya jadi Viany tetap menjalani kewajibannya sebagai istri Gustian.Setelah itu jalan selanjutnya nanti baru ia pikirkan lagi, sekarang biarlah Viany merawatnya dulu.
Setelah mengambil air putih dan bubur Ayam yang tadi Bibi masak untuk sarapan pagi ini Viany juga membawa segelas susu panas untuk Gustian lalu Viany pun membawanya ke kamar tamu dan Gustian yang sudah duduk di tempat tidur dengan punggungnya bersandar di kepala ranjang melihat Viany membawa nampan yang bukan hanya ada air putih saja ia pun mengernyitkan keningnya.
"Gibran pesan agar kamu jangan lewatkan makan mu lagi agar asam lambung mu tidak kambuh."Ucap Viany dan Gustian sedikit kecewa karena Gibran yang pesan kepada Viany bukan Viany yang memang peduli dengannya lalu membawanya untuknya.
Setelah meletakkan nampan di atas nakas samping di ranjang Viany pun hendak keluar dari sana tetapi Gustian mencegahnya dengan memegang pergelangan tangannya.
"Apakah demam mu sudah benar-benar turun..Apa kamu sudah sarapan dan minum obat."Tanya Gustian dengan nada khawatir.
"Khawatir lah diri mu sendiri,tidak perlu mengkhawatirkan Ku."Ucap Viany melepaskan tangan Gustian dari tanganya dan segera keluar dari kamar tamu.
Setelah Viany keluar dari kamar tamu Gustian menghelakan napasnya menatap nampan yang tadi Viany bawa.
"Ayah, Bunda..Tian sadar, Tian telah jatuh cinta sama anak pembunuh kalian.Apa yang harus Tian lakukan,Bun."Batin Gustian .
.
.
Pagi menjelang Siang,siang menjelang sore dan sore pun menjelang malam.Gibran yang baru saja pulang dari rumah sakit segera masuk ke kamar tamu hendak memeriksa keadaan kakaknya tetapi saat masuk ke kamar tamu Gibran tidak mendapati Gustian di dalam sana.
"Bi.. Kakak ke mana." Tanya Gibran kepada Bibi yang kebetulan melewatinya.
"Den Gustian sedang berada di ruang kerjanya,Den Gibran." Ucap Bibi.
"Kalau Viany."Tanya Gibran lagi.
"Nona Viany sedang di dalam kamarnya,Den Gibran."Ucap Bibi lagi.
"Apakah mereka sudah makan malam , Bi."Tanya Gibran.
"Sudah Den,,tapi...Mereka tidak makan bersama tadi..Den Gustian dan Nona Viany Minta bibi antar ke kamar mereka masing-masing."Ucap Bibi dan membuat Gibran sadar akan sesuatu.
"Bi,, Kenapa Bibi Panggil Viany dengan sebutan Nona, seharusnya Nyonya deh atau ibu kek...."Ucap Gibran.
__ADS_1
"Terus Den Gibran kok Panggil namanya bukan Mbak atau kakak ipar,Den ."Tanya balik Bibi kepada Gibran agar ia bisa mengalihkan pertanyaan Gibran kenapa ia menyebut Viany dengan sebutan Nona bukan Nyonya atau ibu yang di perintahkan oleh Gustian dulu.
"Ihhhh..Bibi ni kok tanya balik sich."Ucap Gibran dengan pura-pura kesal pada Bibi dan Bibi pun ketawa melihat Gibran kesal terhadapnya.
.
.
"Kak.."Panggil Gibran kepada Gustian ketika ia sudah masuk ke ruang kerja Gustian.
"Bagaimana dengan keadaan kakak."Tanya Gibran ketika sudah duduk di kursi depan meja kerja Gustian.
"Kakak baik-baik saja."Ucap Gustian masih fokus dengan dokumen yang masih ada di tangannya tanpa menoleh ke arah Gibran
"Apakah kakak tidak bisa istirahat sehari saja..Apakah kakak tidak tahu kalau kakak sekarang butuh istirahat."Ucap Gibran dengan kesal melihat Gustian selalu mementingkan pekerjaannya dari pada kesehatannya .
"Bisa..Kalau kamu mau ke perusahaan bantu kakak."Ucap Gustian masih fokus dengan dokumen yang ada di tangannya.
"CK....Mulai lagi."Ucap Gibran.
"Apa kakak tidak sadar Aku bekerja sebagai dokter juga sedang membantu kakak mengatasi rumah sakit."Ucap Gibran.
"Kamu hanya peduli pasien mu bukan peduli rumah sakit yang dengan susah payah ayah bangunkan."Ucap Gustian lagi dan Gibran tidak bisa berkata lagi karena memang seperti itulah kenyataannya.
"Kak.."Panggil Gibran.
"Hm.."
"Apa rencana mu selanjutnya."Tanya Gibran dengan serius.
"Jika kakak memang tidak pernah mencintai Viany, lepaskan lah dia karena dia seperti Aku tidak tahu apa-apa yang telah ayahnya lakukan pada Bunda dan Ayah..Jangan lampiaskan masalah ayahnya kepadanya."Ucap Gibran lagi.
"Kak.."Panggil Gibran lagi ketika melihat Gustian tidak menjawabnya dari tadi.
"Apakah kamu akan memaafkan ayahnya.."Tanya Gustian menatap Gibran.
"Aku tidak tahu,tetapi jika Dokter Nugraha yang mengakibatkan ayah dan bunda meninggal kenapa waktu itu kakek tidak memecatnya atau menuntutnya karena telan mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang Dokter."Tanya Gibran.
"Kakek pernah menuntutnya tetapi ia di nyatakan tidak bersalah oleh karena itu ia tidak di pecat oleh kakek.Kakak tidak tahu alasannya kenapa kakek tidak memecatnya pada saat itu tetapi setelah 2 tahun sejak kejadian Ayah dan Bunda Dokter Nugraha berhenti bekerja di sana kalau tak salah kakak ia membawa putrinya keluar negeri untuk melanjutkan kuliahnya sebagai dokter dan putrinya itu adalah Viany."Ucap Gustian.
"Lalu sekarang apa yang akan kalian rencanakan."Tanya Gibran lagi.
"Kakak tidak tahu, karena kakak tidak bisa memaafkan ayahnya."Ucap Gustian dan tanpa di sadari oleh mereka Viany sedang berada di luar ruangan kerjanya mendengarkan semuanya.
Husft...Kenapa pula selalu begitu kebetulan Viany berada di luar ruangan kerja Gustian....
__ADS_1