
"Benarkah...Terus sekarang kakak sudah tahu bukan."Tanya Gibran membuat Gustian merasa tidak enak dengan pertanyaan itu.
"Apa maksud mu.."Tanya Gustian.
"Apakah kakak masih tetap akan menikah dengan Viany setelah kakak tahu bahwa Viany adalah wanita yang saya cintai."Tanya Gibran.
Degggg...
Inilah alasan kenapa Gustian sangat tidak berharap sebelum ia dan Viany menikah , Gibran dan Viany saling bertemu.Inilah yang ia takutkan akan menjadi kacau rencananya.
Tetapi di lubuk hati Gustian yang sebenarnya ia sangat takut Gibran merebut kembali Viany darinya.Gustian sangat takut kehilangan Viany hanya saja ia selalu berkata pada diri sendiri ini bukanlah sebuah cinta untuk Viany tetapi rasa ingin balas dendam kepada ayah Viany.
"Tentu." Ucap Gustian dengan tegas.
"Gustian Alvado."Teriak Gibran dengan emosi dan beranjak dari tempat duduknya tadi.
"Sekarang yang Viany cintai itu adalah kakak bukan kamu, Gibran."Ucap Gustian dengan nada biasa.
"Benarkah..."Tanya Gibran dengan sinis.
"Apa maksud mu.."Tanya Gibran.
"Sekarang saya sudah kembali,,,apakah kakak masih yakin sekarang yang Viany cintai itu kakak."Tanya Gibran.
Sebenarnya Gustian tidak yakin mengingat tatapan Viany terhadap Gibran yang tidak ia mengerti saat di rumah kakeknya.
"Jangan lupa Viany meninggalkan saya karena sahabatnya, Viany ingin saya bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan terhadap sahabatnya.Tetapi sekarang sahabatnya juga memilih meninggalkan saya dan tidak ingin saya bertanggung jawab dengan menikahinya.Menurut kakak apakah Viany masih akan memilih dan menikah dengan kakak."Ucap Gibran dengan panjang lebar dan membuat Gustian semakin takut jika Viany akan meninggalkannya dan kembali ke sisi Gibran.
"Gibran.."Panggil Gustian kepada Gibran dengan suara yang pelan dan kepalanya menunduk ke bawa.
"Apakah kamu yakin Viany akan kembali kepada mu lagi setelah kami sudah pernah melakukan sekali."Tanya Gustian menatap Gibran dengan muka datarnya.
Degggg...
"Apa yang kakak katakan."Tanya Gibran sudah merasa sangat sesak di dadanya.
"Kami sudah pernah melakukan sekali."Ucap Gustian sekali lagi dan membuat Gibran langsung terduduk kembali ke kursinya tadi dengan lemas.
Sebenarnya Gustian bohong pada Gibran,ia dan Viany tidak pernah melakukan, mana mungkin mereka akan melakukannya menyentuh Viany saja Gustian sudah merasa jijik terhadap Viany dan tentu saja kebohongan ini agar Gibran tidak mengacaukan rencananya.Lebih tepatnya tanpa di sadari oleh Gustian sendiri ia takut kehilangan Viany.
.
__ADS_1
.
"Jangan pernah tinggalkan saya."Ucap Gustian memeluk erat Viany ketika Gustian sudah berada di depan rumah Viany setelah pulang kerja tadi.
"Mas.."Panggil Viany terkejut karena baru saja membukakan pintunya Gustian langsung memeluknya.
"Berjanjinlah dengan saya, jangan pernah tinggalkan saya, Viany."Ucap Gustian lagi.
"Iya Mas.. Bukankah kita sudah mau menikah tidak ada alasan lain untuk saya meninggalkan mu, Mas.Kecuali memang Mas melakukan suatu kesalahan yang tidak bisa di maafkan."Ucap Viany lalu Gustian melepaskan pelukan mereka dan menatap Viany.
Degggg..
"Apakah kamu akan meninggalkan saya jika saya melakukan kesalahan."Tanya Gustian kepada Viany setelah melepaskan pelukan mereka.
"Tergantung apa kesalahan,Mas."Ucap Viany
"Jika suatu hari kamu tahu saya yang memisahkan mu dan Gibran karena ingin balas dendam terhadap ayahmu apakah kamu akan meninggalkan saya."Batin Gustian menatap Viany.
Kali ini yang di lakukan Gustian bukanlah yang di buat-buat,tetapi entah kenapa sejak Gibran mengatakan 'kini ia sudah kembali' membuat Gustian takut kehilangan Viany.Tetapi sayangnya... Gustian tetaplah Gustian.
"Gustian sadar...Kamu bukan benar-benar mencintainya kamu hanya takut kehilangan kesempatan untuk balas dendam."Batin Gustian mengingatkan dirinya bahwa perasaan takut kehilangan Viany yang dia rasakan sekarang itu bukanlah cintanya terhadap Viany tetapi balas dendam terhadap ayah Viany.
"Mas.."Panggil Viany menyadarkan lamunan Gustian.
"Apa yang sedang kamu pikirkan.."Tanya Viany dan membuat Gustian tersenyum.
"Saya sedang berpikir...."Jeda Gustian sengaja.
"Berpikir apa.."Tanya Viany.
"Bagaimana rasanya malam pertama kita nanti."Bisik Gustian di telinga Viany dengan sengaja menggoda Viany.
"Astagaaa Mas."Ucap Viany dengan malu dan satu tangannya memegang keningnya.
"Bagaimana rasanya malam pertama kita nanti jika saya akan meninggalkan mu sendirian di dalam kamar, apakah kamu akan sedih , Viany Nugraha."Batin Gustian.
"Saya harap kamu akan sedih.."Batin Gustian lagi.
Sedangkan di luar rumahnya Viany Gibran yang sudah dari tadi sedang berdiri di depan pagar rumah Viany merasa dadanya sangat sesak ketika melihat kemesraan kakaknya dan Viany di depan pintu rumahnya Viany.
Ya..Tadi Gibran juga ingin mengunjungi Viany setelah ia berpikir banyak hal di rumah setelah pulang dari perusahaan kakaknya tetapi ternyata kakaknya terlebih dahulu di sana.
__ADS_1
Tanpa melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah Viany, Gibran membalikkan badannya kembali ke dalam mobilnya dan pergi dari sana lalu pulang ke rumahnya lagi.
.
.
"Kami sudah pernah melakukan sekali."
Kata-kata Gustian tadi di kantornya masih terngiang di pikiran Gibran dan itu membuat Gibran semakin merasa sesak di dadanya.
"Apakah benar-benar sudah tidak ada kesempatan untuk Kita kembali seperti dulu lagi,Vian."Batin Gibran yang sudah terduduk di sofa ruang tamu rumahnya.
"Saya tidak keberatan jika kamu dan kakak sudah pernah melakukan sekali, walaupun sampai kamu sudah hamil saya pun tidak akan keberatan,tetapi kamu... Apakah kamu mau kembali ke sisi saya."Batin Gibran lagi.
"Saya akan membahagiakan kalian jika kamu mau kembali ke sisi saya lagi.Vian."Sambungnya lagi.
Tak berselang lama Gustian pun sudah pulang dari rumah Viany,saat melewati ruang tamu Gustian mendapati Gibran sedang duduk di sana tetapi Gibran mengabaikan kepulangan kakaknya tak seperti biasa akan menyapa kakaknya atau menanyakan apakah kakaknya sudah makan apa belum.
Menghela napasnya sejenak Gustian mendaratkan bokongnya di atas sofa dan menatap Gibran.
"Apakah kamu sedang marah sama Kakak."Tanya Gustian kepada Gibran,tetapi Gibran tidak menjawabnya ia beranjak dari sana dan hendak pergi dari sana.
Melihat kakaknya mengingatkan Gibran kemesraan kakaknya dan wanita yang ia cintai tadi.Juga mengingatkan kata-kata kakaknya tadi di kantornya.
"Gibran.."Panggil Gustian menghentikan langkah kaki Gibran.
"Apakah kamu masih marah sama Kakak, percayalah Kakak benar-benar tidak tahu wanita yang kita cintai itu orang yang sama."Ucap Gustian yang juga sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Terus... Walaupun sudah tahu apakah kakak akan menyerahkan Viany kepada saya."Tanya Gibran menatap Gustian.
"Gibran, walaupun kakak menyerahkan Viany kepada mu apakah kamu yakin Viany mau kembali ke sisi mu lagi."Tanya Gustian.
"Mau...Tentu saja Viany mau jika kakak yang memutuskan hubungan dengannya dan saya akan membawanya pergi dari kota ini "Ucap Gibran.
"Gibran.."Bentak Gustian.
"Kenapa,,Kakak yang tidak mau menyerahkan Viany kepada saya,bukan."Tanya Gibran.
"Bersikap lah dewasa , jangan seperti kanak-kanak lagi."Ucap Gustian.
"Saya dan Viany sudah mau menikah, terima lah kenyataannya ini."Ucap Gustian lagi lalu berlalu pergi dari sana memasuki kamar nya yang ada di lantai 2 dan meninggalkan Gibran yang masih berdiri di sana.
__ADS_1
Dukung author dong dengan mengklick Like, favorit, hadiah ,Vote dan comments...🙏🙏🙏