
"Apakah kamu juga masih mencintai, Gibran."Tanya Gustian dengan perasaan was-was dan mengabaikan Viany mengucap terima kasih kepadanya karena sudah mengatar Viany sampai di depan pintu apartement Gibran.
"Jika...Jika aku masih mencintai Gibran,, Apakah kamu akan melepaskan Aku dan akan bercerai dengan Ku."Tanya Viany menatap serius kepada Gustian.Entah kenapa tiba-tiba Viany ingin tahu jawabannya dari Gustian ini.
Deggggg...
Gustian tertegun dengan apa yang barusan Viany ucapkan.
"Ingat lah..Aku orang yang sangat egois..Jika kamu sudah menjadi milikku maka aku tidak akan melepaskan mu lagi dan di antara kita tidak ada percerain walaupun kamu tidak mencintai Ku lagi."Ucap Gustian menahan rasa sesaknya ketika mendengar pertanyaan Viany.
Lalu tanpa banyak berkata lagi Gustian pun meninggalkan Viany yang masih berdiri di depan pintu.Sebenarnya Gustian tidak ingin bersikap egois seperti yang ia ucapkan barusan apalagi kalimat terakhirnya mengatakan walaupun kamu tidak mencintai Ku lagi rasanya sangat sesak,karena tidak ingin Viany pergi darinya jadi Gustian pun sengaja berkata begitu.
Saat sudah berada di dalam lift,Gustian memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat lalu menarik napasnya dalam-dalam dan menghempaskannya dengan pelan-pelan,Gustian benar-benar merasa sangat sesak di dadanya ketika mendengar apa yang Viany ucapkan.
Sedangkan Viany masih tertegun dengan apa yang Gustian ucapkan tadi, apakah sekarang Gustian benar-benar sudah mencintainya atau karena ingin menembus kesalah pahamam nya terhadap Papanya saja seperti yang pernah ia lakukan untuk Gustian,menjadi pelampiasan nya sebagai penembus apa yang telah Papanya lakukan kepada Kedua orang tua nya, entahlah... Viany bingun dengan sikap Gustian sekarang ,kenapa baru sekarang Gustian dengan terang-teranngan menunjukkan sikapnya yang cemburu dan sikapnya yang tidak ingin Viany pergi darinya kenapa tidak dari dulu.Tanpa Viany sadari sendiri sebenarnya,kenyataannya bukan Gustian baru menunjukkan sikapnya itu tetapi Viany saja yang baru sadar sikap Gustian ini.Bukankah Gustian sudah pernah mengatakan alasannya kenapa ia tidak mengizinkan Viany di mutasikan ke desa hanya Viany saja yang tidak percaya alasan Gustian itu karena pada saat itu menurut Viany, Gustian tidak mencintainya dan alasan tidak mengizinkan Viany di mutasikan bukan karena mencintainya tetapi tidak ingin melepaskan Viany apa yang telah Papanya lakukan kepada kedua orang tuanya.
.
.
Sesuai dengan kesepakatan tadi siang, setelah pulang kerja Gibran langsung menjemput Viany dan mereka berdua keluar bersama merayain penerimaan interview Viany hari ini.
"Bagaimana,,enak.."Tanya Gibran kepada Viany ketika mereka berdua sedang menikmati makan malamnya mereka berdua .
"Hm...Sejak kapan kamu menemukan tempat yang begitu indah,bukan tempatnya saja yang Indah tapi makananya juga enak "Ucap Viany.
"Sudah sejak lama aku menemukan tempat ini,hanya tidak berkesempatan membawa mu ke sini saja."Ucap Gibran dan Viany mangut-mangut kepalanya tanpa mengerti apa maksud dari Gibran sudah lama menemukan tempat ini.
__ADS_1
Ya,,memang sudah lama Gibran menemukan tempat ini bahkan sebelum mereka berdua berpisah dan juga sebenarnya dulu Gibran ingin membawa Viany ke sini untuk melamarnya tetapi ya begitulah terkadang suatu rencana yang sudah kita rencanakan dan pikirkan tidak selalu sesuai dengan harapan kita.
"Apakah kamu tau, dulu aku ingin melamar mu di sini,Viany."Batin Gibran menatap Viany sedang menikmati makan dan memandang pemandangan yang indah di sebuah pantai.
"Gi.."Panggil Viany setelah ia sudah siap makan.
"Hm.."
"Nanti langsung antar aku pulang ke rumah ku saja ya,masa iya Aku sendiri punya rumah di sini dan tinggal di apartement mu,,"Ucap Viany dengan tersenyum.
"Baiklah Bu Boss,,,Siap di laksanakan jika itu memang yang kamu inginkan."Ucap Gibran dengan sikap hormat kepada Viany walaupun sebenarnya ia tidak ingin Viany pergi dari rumahnya lalu mereka berdua pun saling ketawa.
Bagaimana pun memanglah tidak baik jika Viany tinggal berduan bersama Gibran di apartmentnya, apalagi sekarang status Viany adalah kakak iparnya dan juga seperti yang Gustian katakan apakah Gibran akan seperti dirinya bisa menganggap mereka sekarang berdua hanya sebagai sahabat seperti dulu dan jawabannya tentu saja Viany tahu sendiri.
.
.
"Sudah seharusnya aku mengatar mu pulang dengan selamat,Bu Viany."Balas Gibran dengan candaan Viany lalu mereka berdua pun saling ketawa lagi.
"Baiklah,, Kalau begitu aku masuk dulu, sekali lagi terima kasih dan selamat malam, hati-hati bawa mobilnya."Ucap Viany dan hendak keluar dari mobi Gibran.
"Tunggu.. Vian."Panggil Gibran menahan Viany turun dari mobilnya.
"Apakah kamu tidak menawarku masuk ke dalam untuk sekedar minum dulu, jujur aku rindu dengan rumah mu ini."Ucap Gibran menatap rumah Viany.
"Hah.. Tapi ini sudah malam,Gi..Jadi.."Jeda Viany agak segan dengan Gibran karena tidak menawarkan Gibran masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"CK..Santai aja kali...Ya udah deh..Lain kali saja aku mampir."Ucap Gibran memecahkan rasa segan Viany terhadapnya.
"Terima kasih atas pengertian mu, Gibran."Ucap Viany dengan tersenyum lalu ia pun turun dari mobil Gibran dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Walaupun Viany sudah lama tidak tinggal di rumahnya sejak ia menikah dengan Gustian tetapi setiap hari ada Bibi yang memang sudah lama bekerja di keluarganya membersihkan rumahnya dan menjaga rumahnya bersama suaminya yang memang juga bekerja di rumah Viany, maksudnya Bibi dan suaminya tinggal di rumah Viany membantu Viany merawat rumahnya.
"Sebenarnya Aku rindu saat dulu aku selalu mampir ke rumah mu dan saat kita berdua di rumah mu, Viany."Batin Gibran menatap Viany masuk ke dalam rumahnya.
.
Keesokan harinya pagi-pagi Viany bersiap-siap untuk berangkat kerja karena hari ini adalah hari pertama Viany masuk kerja di rumah sakit baru ia kerja.
Baru saja Viany turun dari lantai dua ia terkejut dengan keberadaan Gibran yang sudah duduk di ruang tamu sedang menunggunya.
"Selamat pagi,,"Ucap Gibran ketika sadar Viany baru turun dari lantai dua.
"Selamat pagi,,Bidadari Ku."Batin Gibran yang sebenarnya hendak mengucapkan kata itu seperti dulu jika pagi-pagi ia kunjungin ke rumah Viany.
"Selamat pagi.. Tumben datangnya pagi-pagi."Ucap Viany.
"Apa yang perlu kamu heran kan lagi jika aku mengunjungin mu pagi-pagi begini."Tanya Gibran secara tidak langsung mengingatkan kepada Viany bukankah dulu dia juga sering mengunjungin Viany pagi begini dan mereka berdua akan sarapan bersama.
"Iya.. Tidak perlu di heran kan lagi jika kamu datang pagi gini hanya sekedar numpang sarapan,,dasar benalu..."Ucap Viany dengan bercanda walaupun ia tadi memang sempat mengingat masa lalu mereka berdua yaitu jika Gibran mengunjunginnya pagi begini karena rindu dengannya dan ingin sarapan bersamanya .
"Siapa juga jadi benalu mu,Vian..Ini orang bawa sarapan untuk mu juga."Ucap Gibran dengan pura-pura tersinggung dengan ucapan Viany mengatakan ia benalu.
"Hahahaha...Iya Iya...Ayok cepat sarapan ini Aku udah agak siangan..Masa iya hari pertama kerja udah terlambat."Ucap Viany lalu menuju ke meja makan bersama Gibran.
__ADS_1
"Nanti aku antar saja,,"Ucap Gibran.
"Iya harus..."Ucap Viany dan mereka berdua pun saling tersenyum dan menikmati sarapan mereka.