Dendam Menjadi Cinta

Dendam Menjadi Cinta
EP 69 Viden dan Verbian


__ADS_3

3 Tahun berlalu..


"Papaaa.."Teriak seorang anak laki-laki yang bernama Videndra Alvado,ketika melihat sang papa kunjungin ke rumahnya.


"Yess..Anak Papa..Hmm.. Wanginyaa..Anak papa sudah mandi ya."Tanya Gibran kepada anak laki-lakinya.


"Sudah Papa."Jawab Videndra,anak dari Gibran dan Susan.


"Mama mana,,apakah mama sudah siap."Tanya Gibran kepada anaknya.


"Sudah siap Papa."Jawab Susan yang baru keluar dari dalam rumahnya dan memanggil Gibran dengan sebutan Papa jika di depan anak mereka.


"Kalau begitu Ayo kita berangkat sekarang,Verbian sudah gak sabar ingin main sama anak Papa."Ucap Gibran.


"Ayoo Papa,,Viden juga gak sabar mau main sama adek."Ucap Viden.Lalu mereka bertiga pun segera keluar dari rumah.


Selama 3 tahun ini hubungan Gibran dan Susan tidak ada perubahan walaupun di antara mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengan Gibran.


Ya..Selama 3 tahun ini hubungan Gibran dan Susan seperti mereka berdua sudah menikah tetapi pada akhirnya mereka bercerai atau berpisah,walaupun pada kenyataannya mereka tidak pernah menikah dan berjalan begitu saja.


Selama 3 tahun ini walaupun Gibran dan Viany tidak akan mengkin kembali bersama lagi, Gibran tetap tidak bisa menerima Susan dalam kehidupannya walaupun ada anak di antara mereka.Ya..Boleh di bilang Gibran memang egois dengan kelakuannya itu,tetapi Gibran merasa itu lebih baik dari pada pada menerima Susan dalam ikatan pernikahan mereka tanpa adanya cintanya kepada Susan.Gibran juga berharap suatu hari Susan bisa menemukan pria yang lebih baik darinya.


Sedangkan untuk masalah orang tua Susan dan Kakek Gibran mereka berdua sepakat membohongi para tertua itu mengatakan mereka sudah menikah tetapi pada akhirnya mereka berdua memilih bercerai karena mereka berdua sadar ternyata mereka berdua tidak cocok.


Marah.. Tentu saja para tertua itu marah pada mereka berdua karena yang mereka tahu itu Gibran dan Susan diam-diam menikah juga diam-diam bercerai ,para tertua merasa Gibran dan Susan sangat tidak menghormati mereka yang masih hidup.Tetapi para tertua merasa jika ini sudah terjadi apa yang bisa mereka lakukan lagi, akhirnya para tertua hanya bisa berharap Susan dan Gibran tidak mengulangi hal kekonyolan mereka ini lagi.


Sedangkan Gustian tentu saja ia di marahi oleh kakeknya habis-habisan dan juga kena cambuk dari kakeknya beberapa kali karena tidak mengawasi Gibran dengan baik, sampai Gibran melakukan hal yang konyol seperti ini.Apalagi terhadap putri tunggal dari keluarga yang bukan orang sembarangan.Kakeknya tidak tahu saja jika Gibran bisa melakukan hal yang konyol seperti ini juga karena ulah Gustian sendiri,jadi ketika kakeknya begitu marah pada Gustian dan memcambuk Gustian beberapa kali sampai Gustian mendapat beberapa luka juga Gustian pun tidak akan menyalahkan Gibran yang sudah membuat cerita seperti itu bersama Susan kepada para tertua karena hal konyol yang Gibran lakukan juga di sebabkan oleh Gustian sendiri dan Gustian pun merasa itu lebih baik jika mendapat hukuman cambuk dari kakeknya.


"Verbiaann..."Teriak Viden saat sudah sampai di rumah Gustian.


"Om.. Verbian mana Om."Tanya Viden kepada Gustian ketika Gustian menyambut kedatangan mereka bertiga dengan senang hati.


"Salam dulu,Nak."Tegur Susan kepada Viden.


"Oh ya..Maaf Om,Viden lupa..Viden terlalu kangen sama Verbian jadi ingin cepat-cepat ketemu sama Verbian."Ucap Viden panjang lebar dan membuat ketiga Orang dewasa itu ketawa melihat tingkahnya.


"Gak pa-pa,Nak.Verbian sekarang lagi sama tante di kamarnya.Verbian baru siap mandi jadi tante sedang memakai kan baju pada Verbian di kamarnya."Ucap Gustian.


"Kalau begitu Viden sekarang ke kamar Verbian ya ,Om."Ucap Viden dan di angguk oleh Gustian.

__ADS_1


"Hm.. Silakan tapi jangan pakai lari-lari,Om tidak mau ponakan Om nanti terluka mengerti.."Ucap Gustian.


"Siap Om."Ucap Viden dengan sikap hormatnya dan membuat 3 orang dewasa ketawa lagi.


"Kalau begitu aku juga ke Sana,Kak,Gi."Ucap Susan dan di angguk oleh Gustian dan Gibran.


Hari ini adalah hari weekend.. Seperti 3 tahun yang lalu sebulan sekali mereka akan berkumpul bersama dan tentu saja bergantian tempat dan tidak selalu di rumah Gustian yang sekarang hanya di tempati keluarga kecilnya.


Sedangkan Gibran setelah tahu Viany dan kakaknya sudah baikkan dan Viany sedang hamil ia memilih tinggal di apartementnya sendiri.


"Apakah kamu dan Susan mau begitu terus ,Gi."Tanya Gustian.Kini Gibran dan Gustian sedang duduk teras rumah.


"Bukankah gitu lebih baik ,Kak."Tanya balik Gibran.


"Apakah sampai sekarang kamu masih tetap tidak bisa melupakan, Viany."Tanya Gustian menatap Gibran dengan serius,tetapi yang di tanya itu hanya tersenyum tanpa menjawabnya.


"Kakak sangat salut cinta mu pada Viany tetapi kakak juga sangat cemburu melihat ada pria yang begitu mencintai istri kakak."Ucap Gustian menatap lulus ke depan.


"Coba lah untuk membuka hati mu untuk Susan,kakak percaya dia wanita yang baik,Gi."Ucap Gustian lagi.


"Kamu tahu, walaupun Kakak merasa cemburu melihat mu begitu mencintai Viany tapi Kakak juga selalu merasa bersalah jika melihat mu sampai sekarang masih belum bisa melupakan Viany."Sambung Gustian.


"Apakah maksudnya kamu sekarang berusaha menghilangkan rasa yang kamu miliki terhadap Viany."Tanya Gustian tetapi Gibran hanya mengakat kedua bahunya menandakan ia tidak tahu.


Sebenarnya Gibran memang sudah pernah berusaha untuk menghilangkan cintanya kepada Viany, tetapi selalu semakin Gibran ingin melupakan Viany, Gibran malah semakin merindukan Viany.Jadi sekarang Gibran menjalani apa adanya dan membiarkan waktu yang menghilangkan rasa itu.


"Papa...Lihat..Adek Verbian sudah wangi kayak Viden."Ucap Viden ketika ia mengandeng tangan Verbian berjalan keluar dari dalam rumah bersama Susan dan Viany juga.


"Wuah.. Ponakan Om sudah wangi ya,,Sini Om gendong."Ucap Gibran lalu membawa Verbian duduk di pakuangnya.


"Ponakan Om ganteng kali sich."Ucap Gibran mengecup pipi gembul anak laki-laki dari Gustian dan Viany.


"Jadi Viden gak ganteng ya,Pa."Tanya Viden dengan cemberut.


"Astagaaa...Anak papa cemburu ya Kalau Papa bilang adek ganteng."Ucap Gibran.


"Sini Papa sayang anak ganteng Papa."Ucap Gibran lagi dan membawa Viden dalam dekapannya lalu mencium pipi gembul Viden dan tentu saja orang-orang dewasa yang ada di sana juga ikut tersenyum dengan sikap Viden yang begitu gemas.


"Ayok... Sekarang kita main di depan sana."Ucap Viany mengajak anak-anak main di depan halaman rumah mereka yang luas bersama Susan.

__ADS_1


.


.


Setelah mereka selesai makan siang bersama di teras rumah mereka pun saling melanjutkan obrolan mereka dengan senang dan tentu saja mengobrol aktivitas mereka setiap hari yang menjadi ibu rumah tangga dan para pria yang mencari nafkah di luar sana.


Tak berselang lama Viden dan Verbian pun merasa ngantok karena memang sudah waktunya mereka berdua tidur siang.Saat kedua anak sudah tidur di dalam kamar Verbian, Viany pun keluar dari kamarnya dan membiarkan Susan yang juga ikut istirahat di sana.


Saat Viany sudah berada di ruang tamu Viany melihat Gibran sedang sendirian duduk di ruang tamu sedang nonton film dan sambil mengemil beberapa snack yang tadi Gustian bawa.


"Kakak mu mana ,Gi."Tanya Viany dan mendudukkan dirinya di sofa juga mengambil snacks yang ada di meja.


" Berenang di belakang rumah,katanya gerah ingin Berenang."Ucap Gibran.


"Kok kamu gak ikut."Tanya Viany.


"Ngak deh...Lagi gak pingin.. Apakah anak-anak sudah pada tidur siang."Ucap dan tanya Gibran.


"Ya .Sudah tidur dan Susan juga ikut istirahat di sana "Ucap Viany dan di angguk oleh Gibran.


"Gi.."Panggil Viany setelah mereka berdua diam sejenak.


"Hm."


"Kamu tahu,orang tua Susan sedang menjodohkan Susan dengan pria pilihan orang tua nya."Tanya Viany menatap Gibran dan tentu saja itu membuat Gibran terkejut.


"Kenapa.. Kamu terkejut..Karena kamu tidak tahu."Tanya Viany lagi.


"Sebenarnya Susan sudah menolak banyak pria yang di jodohkan oleh orang tuanya tetapi kali ini kalau susan menolak lagi orang tuanya mengancam Susan akan memisahkan Viden bersamanya dan membawa Viden kepada mu yang merawatnya juga membawa Susan meninggalkan kota ini."Ucap Viany dan menatap Gibran hanya diam saja.


Sebenarnya Viany bohong pada Gibran tentang ancaman orang tua Susan tetapi tentang Susan di jodohkan oleh orang tuanya Viany tidak membohonginya.Susan pernah bercerita kepada Viany bahwa ia sudah beberapa kali di jodohkan oleh orang tuanya hanya saja Susan selalu menolak pria pilihan orang tua nya karena Susan masih berharap suatu hari Gibran mau menerimanya demi anak mereka.


"Apakah kamu akan membiarkan Susan menikahi pria yang tidak ia cintai demi tidak berpisah dengan anak kalian."Tanya Viany dan Gibran masih diam tidak menjawabnya.


"Pikirkan lah,Gi.. Kamu tahu selama ini Susan juga mencintai mu dan ia menolak beberapa pria yang di jodohkan oleh orang tuanya karena ia masih menunggu kamu membuka hati untuknya..Demi anak kalian kenapa kamu tidak coba untuk menerimanya.Lihatlah sekarang, kalian bisa membahagiakan anak kalian tanpa ada ikatan pernikahan kalian dan hubungan kalian pun baik-baik saja,bukan."


"Jika kamu memang tidak bisa mencintainya walaupun sudah ada anak di antara kalian apakah kamu tidak berencana mencari pendamping yang lain agar Susan tidak berharap pada mu lagi..Atau kamu mau Susan selalu menunggu mu membuka hati mu untuk nya."Ucap Viany panjang lebar.


"Pikirkan lah semuanya itu ,Gi.. Sebagai kakak ipar mu dan juga sebagai sahabat kalian aku berharap kalian berdua bahagia ,entah kalian berdua akan bersama atau kalian masing-masing hidup dengan pendamping kalian."Ucap Viany lalu ia menepuk pelan bahu Gibran sebelum ia benar-benar pergi dari sana dan mencari suaminya yang sedang berenang di belakang halaman rumah.

__ADS_1


__ADS_2