Dendam Menjadi Cinta

Dendam Menjadi Cinta
EP 35 Gustian merawat Viany


__ADS_3

Tok..tok..tok..


Kleck...


"Kak.."Panggil Gibran ketika sudah masuk ke dalam kamar Gustian.


"Ya,,"Ucap Gustian tanpa menoleh ke arah Gibran.


"Makanlah dulu,,Bibi bilang kamu sudah melewatkan sarapan pagi dan makan siang."Ucap Gibran menatap Gustian yang lagi sedang menatap istrinya dengan sedih.


"Kamu makan lah dulu,,Nanti baru kakak makan."Ucap Gustian masih tetap menatap Viany.


"Makanlah dulu,,Kalau kakak tidak makan dan sakit,siapa yang akan merawat Viany.Atau...Kakak mau Aku yang merawatnya..Jika begitu dengan senang hati Aku merawat Viany."Ucap Gibran.


"Panggil kakak ipar ,Gi..Jangan tidak sopan dengan memanggil namanya."Ucap Gustian dan kali ini ia menatap Gibran.


Ketika Gibran juga menatap Gustian ia tahu Gustian sedang cemburu dan dari sini Gibran juga jadi tahu ternyata kakaknya juga sangat mencintai Viany apalagi barusan Bibi mengatakan kepadanya bahwa Gustian telah melewatkan 2x makan dan seharian ini Gustian berada di dalam kamarnya merawat istrinya.


Sadar dengan sikap kecemburuan kakaknya dan cintanya terhadap Viany, Gibran pun jadi cemburu.


cemburu karena kakaknya begitu mencintai wanita yang masih ada di dalam hatinya dan Viany apakah dia juga begitu mencintai kakaknya dan sudah benar-benar melupakan cinta yang pernah mereka miliki.


"Baiklah,,Aku minta Bibi bawa ke sini saja makanan mu,makanlah sedikit jangan sampai kamu juga ikut sakit."Ucap Gibran.


"Terima Kasih.."Ucap Gustian lalu Gibran pun keluar dari kamarnya ketika juga menatap Viany sejenak.


.


.


"Kamu sudah bangun.."Tanya Gustian kepada Viany ketika ia baru keluar dari toilet membersihkan dirinya .

__ADS_1


Tetapi Viany tidak menjawabnya ia menutup matanya kembali tidak ingin melihat Gustian.


"Apa ada yang sakit,, katakan lah kepada Ku mana yang sakit, Viany."Ucap Gustian dengan khawatir ketika melihat Viany menutup matanya kembali tetapi Viany tetap masih diam dan tidak peduli pada Gustian.


Melihat Viany masih diam , Gustian jadi semakin khawatir lalu Gustian berlari keluar dari kamarnya dan memanggil Gibran memeriksa ke adaan Viany.


" Vian.."Panggil Gibran seperti dulu kadang suka memanggil Viany,Vian.Lalu Viany pun membuka matanya dan menatap Gibran.


"Bagaimana dengan perasaan mu,apakah masih ada yang merasa sakit."Tanya Gibran kepada Viany dengan lembut dan Viany menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu makan sesuatu dulu ya lalu minum obatnya..Jika kamu tidak berserela makan ,Aku minta Bibi buatkan Susu untuk mu ya."Ucap Gibran dan di angguk oleh Viany dengan tersenyum.


"Terima kasih."Ucap Viany lalu Gibran pun keluar dari kamarnya dan meminta Bibi membuatkan Susu untuk Viany.


Setelah Gibran keluar dari kamar Gustian, Viany kembali menutup matanya.Gustian yang melihat Viany kembali menutup matanya dan sepertinya tidak ingin melihatnya hatinya sangat sakit.


Viany yang mengingat apa yang Gustian lakukan kepadanya semalam ia benar-benar benci pada Gustian.Bukan Viany tidak ingin memberikan hak kepada Gustian tetapi Gustian melakukannya dengan paksa dan kasar juga tidak peduli dengan kesakitan yang Viany rasakan.. Apakah Viany begitu rendah sampai Gustian memperlakukannya dengan begitu kasar.Cobalah semalam Gustian memintanya dengan baik-baik, Viany tidak akan keberatan memberikan hak kepadanya walaupun hubungan mereka sekarang tidak seperti sepasang suami istri,mana tahu dengan kehadiran seorang anak nanti hubungan mereka berdua menjadi semakin baik dan tidak seperti sekarang.


Tok..tok..tok


"Den Gustian.."Panggil Bibi dari luar dan Gustian pun segera membuka pintu untuk Bibi.


"Biar Aku yang bawa ,Bi..Bibi istirahat lah dulu."Ucap Gustian kepada Bibi mengatarkan Susu untuk Viany.


"Baik Den."Ucap Bibi.


"Viany.."Panggil Gustian tetapi Viany tidak peduli padanya.


"Minumlah Susu nya dulu lalu minum obatnya."Ucap Gustian lalu Viany pun membuka matanya dan hendak bangun dari tempat tidurnya.Lalu dengan cepat Gustian hendak membantu Viany tetapi Viany mencegahnya.


"Jangan menyentuh ku."Ucap Viany dengan suara yang pelan tetapi masih bisa di dengar oleh Gustian.

__ADS_1


Deggg... Tiba-tiba Gustian merasa sesak di dadanya ketika mendengar Viany mengatakan jangan menyentuhnya.


Setelah minum Susu dan minum obat Viany kembali tidur dan tidak peduli Gustian yang masih berdiri di samping tidurnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam , Viany yang merasa lapar terbangun dari tidurnya.. Tetapi ketika Viany menggerakkan tangannya ia merasa seseorang sedang mengenggam tangannya dan ketika Viany menoleh ke arah tangannya Viany mendapati Gustian tertidur di samping ranjang dengan posisi tangannya mengenggam tangan Viany, kepalanya bersandar di samping ranjang dan posisi badannya terduduk di lantai yang dingin tanpa menutupi selimut.


Melihat Gustian begitu Viany tersenyum tipis karena Viany merasa Gustian khawatir dengan keadaannya.Jujur Viany sangat senang karena Gustian memperlakukannya begitu.


Lalu dengan pelan Viany menarik tangannya dan hendak bangun dari tempat tidurnya tetapi gerakannya terganggu Gustian yang lagi tidur dan akhirnya Gustian pun tersadar dari tidurnya.


Ketika melihat Viany terbangun dari tidurnya Gustian pun beranjak dari tempat tidurnya tadi.


"Kamu mau apa,, Apakah kamu perlu sesuatu atau apakah ada yang sakit"Tanya Gustian dengan nada khawatir.


Dan Viany ,ia tertegun melihat Gustian begitu khawatir dengannya.


"Viany.."Panggil Gustian menyadarkan kesadaran Viany.


"Aku lapar..Ingin makan sesuatu."Ucap Viany dan tanpa sadar Gustian tersenyum karena akhirnya Viany mau berbicara dengannya.


"Kamu mau makan apa"Tanya Gustian dengan antusias.


"Apa aja."Ucap Viany.


"Kalau begitu aku buatkan nasi goreng untuk mu,Kamu tunggu lah sebentar."Ucap Gustian lalu ia segera berlari keluar dan memasak nasi goreng untuk Viany.


Viany di buat tertegun lagi oleh tingkah Gustian yang begitu peduli dengannya.Selama mereka menikah baru pertama kali inilah Gustian masak sesuatu untuk Viany.


"Apakah harus sampai begini kamu baru peduli sama aku,Mas..Jika Aku sudah sembuh apakah kamu akan kembali seperti dulu lagi."Gumam Viany menatap pintu kamarnya ketika Gustian sudah hilang di balik pintu kamarnya.


Sedangkan Gustian di ruang dapur ia begitu antusias membuat nasi goreng untuk Viany dan tidak lupa dengan secangkir coklat panas.

__ADS_1


Tak berselang lama Gustian pun sudah siap memasak nasi goreng untuk Viany dan saat hendak membawa nasi goreng untuk Viany, Gustian tiba-tiba berhenti melangkah dan menatap nampan yang ada di tangannya yang sudah berisi nasi goreng dan coklat panas.Entah apa yang di pikirkan oleh Gustian.


__ADS_2