Dendam Menjadi Cinta

Dendam Menjadi Cinta
EP 46 Maafkan kakak,Dek.


__ADS_3

Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan Gustian berencana mengajak Viany makan siang bersama.Sekaligus ingin minta maaf padanya karena tidak mengizinkan Viany di mutasikan, Gustian tahu Viany kecewa padanya karena meminta kepala rumah sakit mencari dokter lain untuk menggantikannya mutasi ke desa.


Setelah sudah sampai di ruangan praktek Viany dan baru saja Gustian hendak mengetok pintu ruangan Viany,suster yang biasa membantu Viany kebetulan keluar dari dalam ruangan Viany.


"Pak Gustian.."Panggil suster.


"Viany ada."Tanya Gustian.


"Maaf Pak Gustian,Bu Viany tadi sudah pulang,Pak."Ucap suster.


"Sudah pulang, apakah tidak ada jabwalnya lagi."Tanya Gustian .


"Ada Pak,tapi bu Viany minta di gantikan Dokter Pandi."Ucap suster.


"Baiklah..Terima kasih."Ucap Gustian lalu ia pun pergi dari sana.


Setelah sudah berada di dalam mobilnya ia segera menghubungi Viany tetapi Viany tidak mengakatnya.


"Sepertinya dia benar-benar kecewa pada ku."Gumam Gustian.Lalu ia pun segera pulang ke rumah mencari Viany.


Tak berselang lama Gustian pun sudah sampai di rumah lalu Gustian mencari keberadaan Viany tetapi ia tidak mendapati keberadaan Viany.


"Kemana dia pergi.."Gumam Gustian.


"Bi..Bibi..."Panggil Gustian saat sudah berada di lantai bawah.


"Iya Den.."Ucap Bibi.


"Viany tadi ada pulang.."Tanya Gustian.


"Tidak Den,,"Ucap Bibi.

__ADS_1


"Baiklah Bi,,Terima kasih."Ucap Gustian lalu ia naik ke lantai 2 menuju ke kamarnya dan mencoba untuk menghubungi Viany lagi dan hasilnya tetap sama Viany tidak mengakat panggillan teleponnya.


"Apakah dia sedang bersama Gibran."Gumam Gustian lagi.


.


.


Waktu berlalu begitu cepat sekarang jam sudah menunjukkan pukul 6 sore ,Gibran baru saja sampai rumah dan Gustian yang dari tadi sedang menunggu kepulangan Viany di ruang tamu tidak mendapati Gibran pulang bersama Viany dan itu membuat Gustian jadi panik.


Karena tidak ingin masalahnya dengan Viany di ketahui oleh Gibran, Gustian pun segera naik ke atas menuju ke kamarnya dan mencoba untuk menghubungi Viany lagi tetapi hasilnya tetap sama Viany tidak menjawab panggillan teleponnya.


"Huft... Kenapa tidak menjawab panggillan telepon dari Ku..Jangan-jangan..Tidak..Kamu tidak boleh diam-diam meninggalkan ku seperti dulu kamu diam-diam meninggalkan Gibran..."Gumam Gustian lalu ia pun segera mengambil kunci mobilnya di nakas samping ranjang dan segera keluar dari rumah mencari keberadaan Viany.


Baru saja Gustian membuka pintu mobilnya hendak keluar mencari keberadaan Viany ada sebuah taxi berhenti di depan rumahnya dan ternyata itu Viany yang baru pulang entah dari mana tetapi Gustian merasa lega ketika melihat Viany pulang. Lalu setelah Viany membayar taxi ia pun segera masuk ke dalam rumah tanpa peduli Gustian yang sedang menatapnya dan Gustian pun mengikuti Viany masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu dari mana, kenapa tidak mengakat panggillan telepon dari ku."Tanya Gustian dengan nada lembut .


"Maaf Mas,, aku tadi membutuhkan waktu untuk diri sendiri."Ucap Viany lalu ia mengambil baju tidur di dalam lemari dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lalu Gustian pun menyimpan kembali semua barang-barang yang keluar dari dalam tas Viany yang tadi tidak Viany menutupnya dengan benar saat mengambil dompet dari dalam tas nya membayar tagihan taxi tadi.Saat menyimpan kembali semua barang Viany ke dalam tasnya Gustian melihat ada sebuah surat berwarna putih dan di sana ada logo rumah sakit milik keluarganya.


"Apa ini.."Ucap Gustian.Karena penasaran dengan isi amplop itu akhirnya Gustian membukanya dan membaca isi surat itu...


Deggg....


Ternyata itu surat penguduran diri dari Viany.


"Surat penguduran diri.."Lilih Gustian.


Tak berselang lama Viany pun keluar dari kamar mandi dan ia mendapati Gustian masih berada di dalam kamarnya.Lalu saat sedang merapikan rambutnya tiba-tiba Gustian memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Maaf.."Ucap Gustian dengan memejamkan matanya dan menghirup wanginya rambut Viany.


Viany yang tiba-tiba mendapat pelukan dari Gustian ia pun tertegun menatap Gustian di depan cermin.


"Maaf,,Aku hanya tidak ingin kamu jauh dari ku,Aku tidak ingin kamu pergi dari ku,oleh karena itu Aku tidak mengizinkan mu mutasi ke desa sana."Jujur Gustian memeluk erat Viany dari belakang dan kepalanya bertumpul pada bahu Viany lalu ia menatap Viany di depan cermin yang juga sedang menatapnya.


Setelah melihat surat penguduran diri dari Viany,Gustian jadi semakin takut Viany akan seperti dulu dengan diam-diam meninggalkan Gibran apalagi tadi Viany mengatakan ia membutuhkan waktu untuk diri sendiri.Apakah saat Viany membutuhkan waktu untuk sendirian, Viany memikirkan cara untuk meninggalkan nya .


"Sayang..."Panggil Gustian ketika melihat Viany hanya berdiam saja.


"Kamu membuat ku bingun,Mas.. Apakah kamu benar-benar tidak ingin jauh dari ku dan tidak ingin aku pergi dari mu,atau kamu,,,,"Batin Viany menatap Gustian dari cermin.


"Sayang.."Panggil Gustian lagi.


"Tenanglah..Aku tidak akan pergi dari mu, bukankah aku sudah mengatakan aku sudi menjadi pelampiasan mu, sampai kamu yang akan melepaskan ku."Ucap Viany menatap Gustian di depan cermin .


Gustian yang mendengar itu tiba-tiba dengan pelan ia menguraikan tangannya di pelukan Viany tadi.Hatinya sangat sakit karena di mata Viany atau bagi Viany Gustian tidak mencintainya dan Viany bagi nya hanya pelampiasan untuk ia balas dendam.


"Baguslah jika kamu tidak melupakan hal itu."Ucap Gustian lalu dengan segera ia pun turun ke bawah dan menuju ke ruang kerjanya.


Viany melihat kepergian Gustian,ia meneteskan air matanya karena hatinya juga sangat sakit mengatakan begitu apalagi mendengar apa yang barusan Gustian katakan.


Sementara Gustian yang berada di ruang kerjanya seperti kemarin meneguk wine dengan alkohol yang lumayan tinggi.Gustian menertawakan dirinya sendiri kenapa sampai dirinya bisa jatuh cinta pada Viany ,bukankah awalnya ia mendekati Viany karena ingin balas dendam terus sekarang kenapa ia bisa jatuh cinta pada Viany dan malah mencintainya sampai begitu sakit.Apakah ini karmanya memisahkan Gibran dan Viany yang dulu saling mencintai dan merebut Viany dari Gibran yang secara tidak langsung menyakiti hati adeknya sendiri.


"Kak..."Panggil Gibran saat masuk ke dalam ruang kerja Gustian.


"Gibran.."Panggil Gustian dengan tersenyum dan dalam keadaan yang sudah mabuk lalu mendekati Gibran dan memegang Kedua bahu Gibran.


"Kakak kenapa,,, Apakah terjadi sesuatu.."Tanya Gibran lagi karena tidak biasanya Gustian sampai mabuk-mabukan.


"Dek... Maafkan kakak ya.."Ucap Gustian menatap Gibran dalam keadaan sedikit mabuk.

__ADS_1


"Dek..."Ucap Gibran mengernyitkan keningnya ketika mendengar Gustian menyebutnya dengan sebutan, Dek.


"Apakah benar-benar terjadi sesuatu kenapa kakak sampai mabuk gitu dan memanggil ku 'Dek'."Batin Gibran


__ADS_2