Dendam Menjadi Cinta

Dendam Menjadi Cinta
EP 27 Sahabat


__ADS_3

Hari ini Viany memilih masuk kerja seperti biasa.Sejak menikah dengan Gustian,,Viany izin 3 hari tidak masuk kerja dan selama 3 hari ini berada di rumah Gustian, Viany merasa ada suami tapi seperti tidak mempunyai suami.


Sudah tinggal di rumah Gustian selama 3 hari Viany tidak merasa hubungan mereka seperti sepasang suami istri tetapi ia merasa dirinya seperti menyewa sebuah kamar alias menyewa kost.


Setiap pagi walaupun Gustian memakan sarapan yang di sediakan oleh Viany tetapi di antara mereka seperti orang asing.Baik saat sarapan atau sedang makan malam mereka hampir tidak pernah berbicara,masih bisa di hitung dengan jari sudah berapa kali mereka saling berbicara sejak Viany masuk ke dalam rumah ini.


Setiap pagi habis sarapan Gustian tidak pernah pamit dengan Viany , Gustian pergi begitu saja dan saat pulang kerja walaupun Gustian melihat Viany sedang duduk di ruang tamu pun mengabaikan keberadaannya tanpa menyapanya dan setiap makan malam bibi lah yang memanggil Gustian.


Bahkan selama 3 hari ini menjadi istri Gustian atau tinggal di dalam rumah Gustian Viany masih belum pernah menginjakkan kakinya naik ke atas dan menuju ke kamar Gustian yang ada di lantai 2.


Bukan Viany tidak pernah bertanya kepada Gustian kenapa Gustian bersikap dingin terhadapnya atau apakah Viany telah melakukan suatu kesalahan terhadapnya tetapi saat Viany menanyakan hal itu kepada Gustian, Gustian langsung menyelesaikan makananya dan pergi dari meja makan tanpa menjawab pertanyaan Viany walaupun hanya beberapa suap saja Gustian makan Dan nasinya belum habis Gustian pergi dari sana.


.


.


Saat di koridor rumah sakit Viany bertemu dengan Gibran dan mereka berdua saling bertatapan beberapa saat.


Semenjak Viany melihat keberadaan Gibran di hari pernikahannya mereka sudah tidak pernah bertemu atau saling menyapa melewati pesan yang ada di ponsel mereka.


"Selamat pagi..Kakak..Ipar."Ucap Gibran yang membuka suara terlebih dahulu dan menahan dirinya agar tidak memeluk Viany yang sudah menjadi kakak iparnya karena semenjak pergi dari pernikahan kakaknya dan Viany mereka tidak pernah bertemu lagi dan itu juga membuat Gibran rindu padanya.


"Selamat pagi, Gibran."Ucap Viany dengan tersenyum.


"Bagaimana dengan pernikahan mu dengan kakak,apakah semuanya baik-baik saja."Tanya Gibran.


"Ya..Semuanya baik-baik saja "Ucap Viany dengan tersenyum lagi.


"Baiklah..kalau begitu saya pergi dulu karena sudah ada pasien sedang menunggu."Ucap Gibran dan di angguk oleh Viany.


Saat Gibran berjalan melewati Viany,ia melihat Viany menundukkan kepalanya dengan wajah sedih dan itu membuat Gibran menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menatap Viany dan berjalan mendekati Viany lagi.


"Jangan pernah merasa bersalah dengan apa yang sudah menjadi pilihan mu.Walaupun kamu sudah menikah saya harap hubungan persahabatan kita masih bisa seperti dulu lagi."Ucap Gibran menatap Viany dan membuat Viany juga menatapnya entah dengan perasaan seperti apa.

__ADS_1


Gibran tahu Viany merasa bersalah terhadapnya saat melihat tatapan Viany kepadanya di saat pernikahan mereka.


"Kenalkan Saya Gibran Alvado,saya harap kamu tidak lupa dengan persahabatan kita seperti dulu walaupun kamu sudah menikah."Ucap Gibran berusaha bersikap seperti biasa dan mengulurkan tangannya kepada Viany agar Viany tidak merasa bersalah terhadapnya lagi.


"Kenalkan Saya Viany Nugraha,saya tidak akan melupakan sahabat saya yang ini selalu bersikap konyol."Ucap Viany menyambut uluran tangan Gibran dengan tersenyum dan Gibran pun ikut tersenyum ketika melihat Viany sudah lebih ceria.


"Mari kita awali semua ini tanpa memikirkan masa lalu yang pernah kita lewati."Ucap Gibran lagi dan masih belum melepaskan uluran tangan mereka tadi.


"Biarlah kita tidak berjodoh menjadi pasangan suami istri ,tetapi setiap hari masih bisa bersama mu seperti sekarang itu sudah cukup bagi saya."Sambung Gibran dalam hatinya .


Viany menjawabnya dengan mengangguk kan kepalanya dengan tersenyum lalu Gibran pun segera pergi dari sana dan Viany masih menatap kepergian Gibran sampai hilang di hadapannya.


"Semoga kamu dengan cepat menemukan kebahagian mu, Gibran."Batin Viany.


Sementara Gustian yang juga sudah berada di kantornya melihat pesan yang di kirim oleh orang suruhannya untuk mengawasi Viany juga mengepalkan tangannya ketika melihat beberapa photo yang di kirim oleh orang suruhannya itu dan salah satunya ialah ia melihat Viany sedang menatap kepergian Gibran dengan tersenyum tipis.Walaupun hanya tersenyum tipis tapi Gustian masih bisa melihatnya ketika memperbesar photo itu.


Gustian cemburu melihat Viany menatap kepergian Gibran dari hadapannya apalagi saat Gibran sudah hilang dari hadapannya Viany masih tetap berdiri di sana menatap ke arah kepergian Gibran tadi.


Tetapi...Ya begitulah Gustian masih tidak sadar dengan perasaannya terhadap Viany.


Saat baru masuk ke dalam cafe itu Viany mendapati Gustian juga sedang duduk di sana bersama beberapa rekan bisnisnya dan juga ada Rebecca yang bersama dengan mereka tetapi Gustian tidak tahu jika Viany dan adiknya juga ke sana,Viany mengabaikan keberadaan Gustian di sana dan terus berjalan bersama Gibran yang juga tidak melihat kakaknya berada di sana dan memilih salah satu meja untuk mereka berdua.


Setelah duduk mereka pun memesan beberapa menu makanan dan sambil ngobrol dengan santai seperti dulu sebagai sahabat dekat dan Viany pun sudah merasa lega melihat Gibran ceria seperti dulu lagi.


Saat sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya mata Gustian tidak sengaja menatap salah satu meja yang ada di sana dan itu adalah meja Gibran dan Viany.


Melihat dua insan itu sambil ngobrol dan ketawa membuat wajah Gustian berubah menjadi dingin.Rebecca yang sadar dengan wajah Gustian sudah berubah dingin sedang menatap ke arah depan ia pun mengikuti arah pandang Gustian dan melihat Gibran dan Viany sedangkan duduk di sambil mengobrol.


"Apakah kamu sedang cemburu,Tian.. Benarkah kamu telah mencintai wanita ini."Batin Rebecca sedang menatap Gustian.


Lalu Gustian pamit dengan rekan kerjanya dan berjalan mendekati meja Gibran dan Viany.Masalah photo tadi pagi sudah membuat Gustian menahan cemburunya dan sekarang di depannya melihat istrinya begitu dekat dengan adiknya sudah mau membuat dirinya meledak jika ia tidak berusaha untuk menahan cemburunya.


"Sayang.."Panggil Gustian dan membuat Gibran dan Viany menoleh ke arahnya dan membuat Gibran terkejut dengan kehadiran kakaknya tetapi Gibran hanya diam saja tidak menyapanya begitu juga dengan Viany tidak menyapanya tetapi Viany tidak terkejut karena ia sudah tahu Gustian juga berada di sini tadi.

__ADS_1


"Kalian sedang makan siang."Tanya Gustian ketika ia sudah duduk di samping Viany lalu Gustian mendekati kepala Viany ke bibirnya dan membuat Viany merasa heran dengan sikap Gustian sekarang.


"Apakah kalian sudah memesan sesuatu."Tanya Gustian lagi yang dari tadi hanya dia yang bicara saja.


Sudah."Jawab Viany dengan singkat.


"Kok kakak bisa di sini."Tanya Gibran akhirnya membuka suara juga.


"Kakak lagi sedang bertemu rekan bisnis kakak,,Tuh..mereka masih di sana."Ucap Gustian dan menunjukkan meja di mana rekan bisnisnya yang sedang makan siang di sana juga.


Lalu salah satu waitress datang mengatar pesan makanan Gibran dan Viany.


"Mas sudah makan ."Tanya viany.


"Sudah sayang."Ucap Gustian.


Lalu Viany dan Gibran pun menikmati makan siang mereka dan saling mengobrol dengan Gustian juga.


Gustian menanyakan prihal rumah sakit kepada Viany dan Gibran.


Saat sudah mau selesai makan , Rebecca berjalan mendekati mereka.


"Hai.. Gibran..Apa kabar."Sapa Rebecca kepada Gibran dan mengabaikan keberadaan Viany tetapi Viany pun mengabaikannya.


"Hai ,, Rebecca...Saya kabar baik..Dan bagaimana dengan kabar mu."Ucap Gibran.


"Saya baik seperti yang kamu lihat sekarang."Ucap Rebecca dengan tersenyum lalu ia pun menatap Gustian.


"Tian,, apakah sekarang kita bisa pergi."Tanya Rebecca kepada Gustian dan Gustian melirik Viany.


"Sayang,mau Mas antar."Tanya Gustian kepada Viany.


"Gak perlu Mas,biar nanti saya pulang bersama Gibran saja lagian tujuan kami sama ."Ucap Viany.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu.. Gibran, kakak titip Viany ya."Ucap Gustian dan di angguk oleh Gibran.


"Baiklah Sayang,,Mas pamit."Ucap Gustian lalu mencium kening Viany lagi dan beranjak pergi dari sana.


__ADS_2