
Kleck...
"Pak Bima."Ucap Viany terkejut ketika ia mendapati Bima sedang di ruangannya ketika ia baru saja kembali dari cafe tadi.
"Dokter Viany, Apakah anda tidak tahu sampai jam berapa waktu istirahatnya."Tanya Bima dengan nada protes karena Viany terlambat kembali masuk kerja setelah waktu jam istirahat habis.
Ya...Tadi setelah dari ruang rawat Gustian,masih ada waktu sekitar 20 menit lagi waktu istirahat habis.Tetapi Viany melewatkan waktu istirahat yang sudah di tentukan oleh rumah sakit tempat ia bekerja juga tanpa meminta izin kalau ia terlambat masuk kembali.
"Maaf.."Hanya itu yang bisa Viany ucapkan.
"Saya harap anda tidak mengulangi kesalahan ini lagi karena rumah sakit ini bukan milik suami mu yang bisa suka-suka kamu mau jam berapa kembali."Ucap Bima seperti dulu tak segan menegur Viany dengan kata pedasnya.
"Maaf.."Ucap Viany lagi.
"CK... Baiklah kali ini saya maafkan anda, tetapi jika anda mengulanginya lagi saya tidak akan segan memberikan mu surat peringatan."Ucap Bima dengan serius.
"Terima kasih."Ucap Viany.
"Tetapi..Apa ada perlu bapak datang keruangan saya."Tanya Viany.
"Husf... Sebenarnya tadi ada,, tetapi sekarang sudah tidak..Lain kali saja saya minta penjelasan dari yang anda utang itu."Ucap Bima lalu ia pun beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan Viany.
"Segitu gak sabarnya minta utang penjelasan dari Aku kenapa kerja di sini.. Huft... Jangan terlalu formal saat hanya kita berdua.. Terus sekarang apa itu..Saya anda saya anda." Ucap Viany menghela napasnya ketika Bima sudah keluar dari ruangannya.
Sementara di rumah sakit milik keluarga Alvado ,Susan sudah berada di ruangan praktek Gibran dan tentu saja kedatangannya dan kemunculan di hadapan Gibran membuat Gibran sangat terkejut apalagi sekarang perut Susan sudah kelihatan buncit dan anak di dalam perut Susan itu adalah anak kandungnya.
Ya.. Setelah ngobrol dengan Viany tadi dan Viany berharap Susan mau bertemu lagi dengan Gibran, Akhirnya Susan pun langsung ke rumah sakit tempat Gibran kerja.Selain memang rindu dengan Gibran,Susan juga berharap Gibran akan senang dengan kehadirannya dan anak yang di kandungnya.Tetapi jika bisa lebih...Susan sangat berharap Gibran bisa melupakan Viany dan menjadi keluarga yang utuh untuk anak mereka.
"Bagaimana dengan kabar mu, Gibran."Tanya Susan yang sudah duduk di kursi depan meja kerja Gibran.
"Baik,, seperti yang kamu lihat."Ucap Gibran yang memang juga senang melihat Susan yang sepertinya juga baik-baik saja apalagi sekarang Susan mengandung anak mereka dan Gibran juga merasa bersalah terhadap Susan karena keegoisan kakaknya melibatkan Susan yang tidak bersalah.
"Bagaimana kabar mu dan..."Jeda Gibran menatap perut buncit Susan.
Susan yang melihat mata Gibran menatap ke arah perut buncitnya pun tersenyum dan berkata "Kami baik-baik saja dan juga anak ...Anak dalam perut aku juga sehat-sehat."
"Baguslah jika begitu.."Ucap Gibran dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apakah kamu sekarang...Sendiri yang merawatnya."Tanya Gibran menatap Susan dan Susan menganggukkan kepalanya.
"Maaf.."Ucap Gibran lilih.
"Ini pilihan Aku sendiri yang mau merawatnya jadi kamu jangan merasa bersalah dan aku sama sekali tidak merasa keberatan untuk menjalani semuanya ini "Ucap Susan yang masih mengingat perkataan Gibran waktu itu.
"Maaf.."Ucap Gibran yang merasa bersalah karena sempat meminta Susan menggugurkan anak itu.
"Anak ini adalah laki-laki.Tetapi tidak tahu jika nanti dia lahir karena terkadang memang tidak sesuai dengan terdektesi dari dokter."Ucap Susan dengan ketawa kecil agar bisa memecahkan kecanggungan mereka.
"Kamu berharap itu anak laki-laki atau perempuan."Tanya Gibran juga ikut ketawa kecil.
"Baik laki-laki maupun perempuan Aku sama-sama suka."Ucap Susan.
"Kapan kamu akan mengadakan cek bayi mu itu."Tanya Gibran entah kenapa ia pun jadi ingin melihatnya layar USG anaknya.
Bayi mu..Susan merasa sedikit kecewa karena Gibran mengatakan bayi mu bukan bayi kita ataupun anak kita padahal anak yang di dalam perut Susan itu juga anak darah dagingnya, apakah sampai sekarang Gibran masih tidak mau menerima kehadiran anak ini.
"Bulan depan,, Tadi Aku baru saja cek di rumah sakit xxxx dan...Dan bertemu dengan Viany di sana."Ucap Susan.
"Sudah,, Viany sudah menceritakan semuanya dari awal ia meninggalkan mu dan bertemu dengan kakak mu."Ucap Susan yang tahu apa yang Gibran ucapkan.
"Apakah kamu masih mencintai Viany walaupun ia sudah menjadi kakak ipar mu."Tanya Susan dan tanpa ragu Gibran menganggukkan kepalanya.
Sesuai dengan perkiraan Susan bahwa Gibran masih sangat mencintai Viany walaupun Viany sudah menjadi milik kakaknya dan itu tentu saja Susan merasa kecewa.
"Kakakmu pasti selalu merasa cemburu jika kalian berdua berdekatan seperti dulu walaupun status kalian sekarang adalah ipar karena adiknya masih mencintai istrinya."Ucap Susan dengan nada bercanda walaupun sebenarnya hatinya juga sakit karena Gibran masih tidak bisa menerimanya walaupun Viany sudah menikah.
"Aku rasa kakak mu pasti sangat posesif terhadap Viany di depan mu apalagi kakak mu tahu kalau kalian adalah mantan."Ucap Susan dengan nada bercanda lagi dan itu sukses membuat Gibran pun ikut ketawa dengan candaan Susan karena memang benar dengan apa di katakan oleh Susan.
"Baiklah...Kalau begitu aku tidak mengganggu mu lagi,,Aku pergi dulu."Ucap Susan beranjak dari tempat duduknya.
"Aku antar kamu.."Ucap Gibran yang juga ikut beranjak dari duduknya.
"Tapi..."Jeda Susan.
"Pekerjaan ku sudah selesai dan aku sudah boleh pergi sekarang."Ucap Gibran.
__ADS_1
"Baiklah.. Kalau begitu terima kasih."Ucap Susan dan di angguk oleh Gibran.
.
.
"San.."Panggil Gibran saat mereka berdua sudah berada di dalam mobilnya.
"Hmm.."
"Jika anak ini sudah mau lahir kabarin Aku."Ucap Gibran tiba-tiba.
"Apakah kamu sudah mau menerima anak ini,Gi."Tanya Susan.
"Bagaimana pun anak ini juga...Anakku dan aku harus bertanggung jawab atasnya."Ucap Gibran.
"Apakah hanya karena merasa tanggung jawab saja."Tanya Susan sedikit kecewa karena Gibran tidak mengatakan bahwa ia sudah mau menerima kehadiran anak mereka.
"Ya.. Seperti yang aku katakan tadi, bagaimana pun dia darah daging Ku."Ucap Gibran.
"Terima kasih..Tetapi aku tidak perlu tanggung jawab mu."Ucap Susan masih sama dengan dulu.
"Kenapa.."
"Karena tanpa tanggung jawab mu untuk menafkahinya,aku bisa menafkahinya sendiri."Ucap Susan.
"San... Biarlah aku sebagai ayahnya yang melakukan nafkah untuknya.
"Sebagai ayahnya...Jadi kamu..Mau menerimanya."Tanya Susan lagi.
"Tentu.. Seperti yang tadi Aku katakan bagaimana pun dia darah daging Ku."Ucap Gibran dan tentu saja Susan sangat senang.
"Maaf..Aku harap kamu tidak menyalahkan Aku yang pernah meminta mu untuk menggugurkannya."Ucap Gibran lagi.
"Aku juga harap kamu bisa memberiku kesempatan untuk merawatnya bersama mu sampai ia lahir juga sampai suatu hari nanti kamu sudah menikah dengan pria lain.Tetapi Aku harap walaupun suatu hari ia sudah memiliki ayah tiri aku berharap kamu tetap tidak membatasi hubungan kami."Sambungnya lagi.
Degggg...
__ADS_1