Dendam Menjadi Cinta

Dendam Menjadi Cinta
EP 43 Segitu fokuskah dia saat lagi sedang masak.


__ADS_3

"Aku sudi menjadi pelampiasan mu, pelampiasan apa yang telah Papa ku lakukan kepada kedua orang tua mu.Sampai...Sampai kamu mau melepaskan ku."Ucap Viany menatap Gustian dengan tenang.


Deggggg....


Menjadi pelampiasan mu..


Sampai kamu mau melepaskan ku...


"Apa artinya sampai aku puas menyakitinya lalu menceraikannya."Batin Gustian.


"Kamu ini ngomong apaan sich.."Ucap Gustian dengan nada tidak suka.Kerena sekarang Gustian tidak suka Viany berkata begitu, sekarang Gustian juga tidak mau Viany meliki ilfeel terhadapnya.


"Apa ada yang salah dengan ucapan Ku,Mas...Kamu tidak mencintai ku dan kamu mendekati ku bukan kah karena ingin balas dendam dengan apa yang telah Papa ku lakukan terhadap orang tua,mu."Ucap Viany walaupun hatinya merasa sakit karena menurutnya Gustian mendekatinya bukan karena mencintainya tetapi ingin balas dendam.


Deggggg....Kenapa kedengarannya gitu sesak saat Viany berkata begitu.


"Kalau begitu sekarang buka baju mu, berikan aku hak yang memang sudah seharusnya aku ambil dari mu."Ucap Gustian.Ingin berkata kepada Viany bahwa ia sekarang mencintainya juga tidak akan menceraikannya tetapi mengingat bagaimana orang tua nya meninggal karena ayahnya membuat Gustian sulit untuk mengatakan begitu.


"A..Apa.."Ucap Viany tidak percaya.


"Kenapa,,,Bukankah tadi kamu bilang sudi menjadi pelampiasan Ku,sampai aku... Sampai Aku puas lalu melepaskan mu "Ucap Gustian, sebenarnya ia sangat tidak suka kata yang terakhir yang ia ucapkan seperti yang tadi Viany ucapkan.


"Baiklah jika itu mau mu."Ucap Viany lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di depan Gustian dengan pelan membuka satu per satu kancing piyama yang ia pakai sekarang.


"Tidak apa-apa,Vian.Dia suami mu dia memang punya hak untuk itu."Batin Viany dengan mata tertutup sambil membuka kancing baju piyamanya.


Sedangkan Gustian dia menatap Viany dengan tidak suka hatinya sangat sakit karena melihat Viany membuka kancing baju piyama nya dengan tutup mata,kesannya Viany seperti terpaksa melakukannya bukan karena memang ia ingin.

__ADS_1


"Apakah kamu harus sampai seperti begitu terpaksa melakukannya Viany Nugraha.Aku adalah suami mu dan kamu adalah istri ku, apakah aku minta hak Ku yang sebagai suami mu ,kamu harus memberikannya dengan terpaksa,hah."Ucap Gustian dengan tidak bisa menahan emosinya melihat Viany seperti itu.


Viany yang setelah mendengar Gustian berkata begitu ia langsung menghentikan tanganya tepat pada kancing terakhir yang akan ia buka dan membuka matanya menatap Gustian . Viany tidak tahu harus berkata apa.


Dan Gustian yang melihat diamnya Viany ia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya tanpa berkata apa pun dengan hati yang sakit.Mengingat pertama kali ia melakukannya dengan Viany bukan karena suka sama suka tetapi dengan cara memaksanya dan kasar melakukannya membuat Gustian sekarang tidak ingin seperti itu lagi.Gustian ingin Viany melakukannya dengan ihklas bukan dengan terpaksa.


Setelah Gustian keluar dari kamarnya Viany pun memasang kembali kancing baju piyamanya yang tadi sudah ia buka lalu duduk kembali ke tempatnya tadi memikirkan apa yang barusan Gustian ucapkan tadi.Sementara Gustian yang kembali ke ruang kerjanya sambil meminum beberapa gelas wine yang alkoholnya lumayan tinggi.


Malam semakin larut, Viany yang tidak bisa tidur memilih keluar dari kamarnya dan ingin mencari keberadaan Gustian.Saat Viany menuju ke ruang tamu ia tidak mendapati keberadaan Gustian di sana lalu Viany pun ke ruang kerja Gustian tanpa mengetuk pintunya dan dengan pelan Viany membuka pintu ruang kerja Gustian, ternyata Gustian berada di dalam sana dan ketiduran di kursi kebesarannya lalu Viany berjalan mendekatinya dan melihat di meja kerja Gustian ada sebotol wine yang sisa sedikit lalu Viany mengambil botol itu dan gelasnya juga Viany bawa keluar lalu Viany ke kamar tamu yang memang ada di lantai bawah mengambil selimut untuk Gustian.


Saat Viany masuk kembali ke ruang kerja dan menutupi selimut untuk Gustian , Gustian merancau memanggil nama orang tua nya.


"Ayah,Bunda...Tian harus bagaimana.."Rancau Gustian dalam tidurnya.


"Tian harus bagaimana.."Rancau Gustian lagi.


"Ayah...Bunda..."


Viany sangat senang mendengar rancauan dari Gustian yang mengatakan tidak ingin menyakitinya tetapi Papanya.. Sepertinya Gustian memang tidak bisa memaafkan Papanya... Jika begitu apakah Viany boleh berpikir sebenarnya Gustian mencintainya tetapi karena ia tidak bisa memaafkan Papanya jadi oleh karena itulah Gustian merancau ia harus bagaimana.


"Maaf..."Lilih Viany lalu Viany mencium pucut kepala Gustian dan berjalan keluar dari ruang kerja Gustian.


.


.


Keesokan paginya Gustian yang tersadar dari bangunnya di ruang kerjanya merasa kepalanya sedikit sakit lalu setelah berdiam sejenak dan hendak bangun dari tempat duduknya ia sadar ada sesuatu yang jatuh dari tubuhnya dan ternyata itu adalah selimut lalu Gustian memungutnya kembali dan menatap selimut yang ada di tangannya kemudian ia tanpa sengaja matanya melihat ke arah mejanya dan ia sadar wine dan gelas yang semalam ia bawa masuk ke dalam ruang kerjanya sudah tidak ada di sana.Sepertinya Gustian memang sudah tahu siapa yang melakukannya.

__ADS_1


"Viany.."Ucap Gustian.Lalu ia pun berjalan keluar dari ruangannya dan saat sudah berada di luar ruangannya Gustian merasa haus lalu ia pun menuju ke ruang dapur,saat baru saja ia sampai di ruang dapur ia mendapati Viany sedang sibuk di sana.


Melihat itu, Gustian sangat ingin memeluknya dari belakang lalu mencium nya dengan penuh kasih sayang.


Setelah menghelakan napasnya Gustian berjalan mendekati di mana termos yang berisi air putih dan mengabaikan Viany yang sedang sibuk dengan masakannya.


Sampai Gustian sudah habis minum air putihnya Viany masih belum sadar keberadaan Gustian.


"Segitu fokuskah dia saat lagi sedang masak."Batin Gustian.


"Ekhemm..."Gustian pura-pura berdehem lalu dari mata ekornya ia melihat Viany masih tetap dengan kesibukannya.


"Uhukk..uhukkk..."Kali ini Gustian pura-pura batuk dengan suara agak keras dan akhirnya Viany menoleh ke arahnya.


"Mas..."Panggil Viany.


"Mas kenapa..."Tanya Viany berjalan mendekatinya.


"Ah..Oh..Ngak pa-pa ."Ucap Gustian.


"Oh.."Ucap Viany lalu ia meninggalkan Gustian yang masih berdiri di sana dan melanjutkan kesibukannya.


"Loh... Begitu Aja..."Batin Gustian.


.


.

__ADS_1


Maaf ya jika sampai sini masih banyak typo yang salah atau Ada kata-kata yang agak acak-acakan gitu 😁🙏


__ADS_2