
Tok..tok..tok...
"Vian.."Panggil Gibran..
"Vian... Viany..."Panggil Gibran lagi.
Tok..tok...tok..
"Vian..."
Kleck...
"Gibran.."Panggil Viany saat ia sudah membuka pintu kamarnya.
"Ayok... Sekarang kita pergi dari sini."Ucap Gibran lalu menarik tangan Viany keluar dari kamarnya.
"Tunggu,Gi..."Ucap Viany lalu melepaskan tangan Gibran.
"Kenapa..Ada apa dan mau kemana malam begini."Tanya Viany tidak mengerti.
"Nanti akan Aku jelaskan."Ucap Gibran.Lalu saat kembali menarik tangan Viany dan membalikkan badannya juga sebelum kakinya menginjakkan anak tangga untuk turun Gustian sudah berdiri di lantai bawah sana menatap mereka berdua dan Viany yang melihat itu ia terkejut dengan keadaan Gustian yang sudah berantakan dan beberapa bagian wajahnya terluka.
"Mas..."Panggil Viany lalu melepaskan tangan Gibran lagi dan segera turun mendekati Gustian.
"Apa yang terjadi dengan mu,Mas."Tanya Viany kepada Gustian lalu Gustian langsung memeluknya.
"Maaf..Mohon maafkan Aku, Viany."Ucap Gustian dalam tangisnya dan memeluk erat Viany.
"Mas..."Panggil Viany.
"Ada apa ini.."Tanya Viany lagi.
"Lepaskan tangan kotor mu, Gustian Alvado."Teriak Gibran lalu melepaskan pelukan Gustian dari Viany.
__ADS_1
"Gi..."Panggil Viany.
"Ayok.. Sekarang kita pergi."Ucap Gibran lagi dan hendak menarik Viany keluar dari rumahnya.
"Tunggu Gi,,"Ucap Viany dan melepaskan tangan Gibran lagi.
"Ada apa dengan kalian berdua."Tanya Viany menatap Gibran lalu juga menatap
Gustian.
Gibran menghelakan napasnya sedangkan Gustian menatapn Viany dengan sedih.
"Kamu tahu apa yang dia lakukan pada kita."Ucap Gibran dengan pelan.
"Kita..Apa yang dia lakukan pada kita.."Tanya Viany dengan perasaan tidak enak.
"Dia...Karena dia kita jadi berpisah..Karena dia..Dia menjebak ku tidur dengan Susan."Ucap Gibran menunjuk Gustian dengan menahan emosinya.
"A..apa.."Ucap Viany dengan terkejut lalu ia menatap Gustian yang juga sedang menatapnya dengan sedih.
"Benarkah itu.."Tanya Viany masih dengan suara yang pelan dan Gustian menundukkan kepalanya.Melihat Gustian menundukkan kepalanya Viany sudah tahu jawabannya.
"Kenapa.."Tanya Viany lagi.
"Maaf.."Ucap Gustian dengan suara yang pelan dan juga memberanikan dirinya menatap Viany.
Mendengar kata 'Maaf' dari mulut Gustian, Viany merasa sangat sesak di dadanya.
"Apakah karena ingin balas dendam."Tanya Viany lagi dan Gustian hanya diam menatapnya.
Melihat kediaman Gustian hati Viany semakin sesak karena dugaannya benar bahwa Gustian tidak pernah mencintainya dan mendekatinya hanya karena ingin balas dendam.
Sedangkan Gustian melihat Viany sudah mulai meneteskan air matanya rasanya sangat ingin memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Lalu tanpa berkata lagi Gibran menarik tangan Viany dan membawanya pergi dari sana.Tetapi saat sudah sampai di depan pintu Viany menghentikan langkahnya dan di ikuti oleh Gibran.Lalu Viany menoleh ke kebelakang dan menatap Gustian yang masih berdiri di sana dengan diam juga sedang menatapnya dengan pipi yang juga sudah basah.
Beberapa detik Gustian dan Viany saling bertatapan sejenak sampai akhirnya Gibran menarik tangan Viany lagi dan membawanya pergi dari sana.
Akhirnya Gustian tidak bisa berdiri dengan seimbang lagi ketika Viany dan Gibran sudah tidak terlihat lalu dengan pelan ia menjatuhkan dirinya di lantai dan menangis dengan hati yang sanga sesak di dalam dadanya.
"Maaf.."Ucap Gustian dalam tangisnya.
Sementara di dalam mobil Gibran, Viany dan Gibran hanya diam saja.Tidak ada yang membuka suara, mereka berdua tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing sampai akhirnya Gibran membawa Viany ke apartmentsnya yang dulu ia tinggal sendiri.
Di dalam kamar, Viany masih belum bisa tidur .Viany memikirkan tatapan sedih Gustian dan juga memikirkan pipi basah Gustian yang tidak pernah ia lihat selama bersamanya.Sebenarnya tadi melihat wajah kesedihan Gustian dan pipi yang sudah basah, Viany sangat ingin memeluk Gustian.Tetapi Memikirkan Gustian terlalu ambisius untuk membalas dendam orang tuanya kepadanya sampai menjebak adiknya sendiri dan memisahkan mereka berdua ,Viany pun menjadi benci pada Gustian karena menurutnya Gustian benar-benar sangat egois demi membalas dendam ia menyakiti orang lain apalagi orang itu salah satunya adalah adik kandungnya sendiri.
"Kenapa kamu begitu egois,Mas..Jika kamu ingin balas dendam dan ingin memisahkan ku dengan Gibran kenapa harus sampai menyakiti adik mu dan menjebaknya tidur bersama Susan.Kamu sangat egois."Batin Viany.
Dan Gibran yang juga sudah berada di dalam kamarnya pun belum bisa tidur.Sebenarnya Gibran juga sedang memikirkan keadaan Gustian yang tadi terluka karena pukulannya.Setelah kepergian kedua orang tua nya Gustian mengganti posisi ke dua orang tuanya merawat dan melindungi Gibran.Gustian juga sangat menyanyangi Gibran,Hanya saja Gibran tidak menyangka kakaknya yang begitu menyanyanginnya begitu tega menyakitinya apalagi merebut kekasihnya untuk balas dendam.
"Ayah ,Bunda...Kemana kakak yang sangat melindungi dan menyanyangi Gibran.Kenapa dia sekarang begitu tega menyakiti Ku."Batin Gibran menatap ke atas langit-langit kamarnya.
Keesokan harinya Gibran yang sudah bangun mendapati Viany sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.Melihat itu Gibran mengingat impiannya dulu sangat ingin memiliki keluarga kecil bersama Viany.
Lalu dengan pelan Gibran berjalan mendekati Viany dan memeluk Viany dari belakang dan Viany yang tiba-tiba mendapat pelukan dari Gibran ia pun berhenti beraktivitas.
"Kamu tahu, dulu Aku sangat ingin seperti sekarang.Setiap bangun pagi saat membuka mata orang yang pertama Ku lihat adalah kamu dan setiap hari bisa memeluk mu seperti ini saat kamu sedang sibuk di dapur."Ucap Gibran dengan pelan dan kepalanya bertumpul pada bahu Viany.
Lalu dengan pelan Viany melepaskan tangan Gibran dari pelukannya lalu membalikkan badannya menatap Gibran dan berkata "Duduklah di sana sarapannya sebentar lagi sudah siap."
Mendengar itu Gibran pun dengan patuh duduk di meja makan menunggu Viany menyediakan sarapannya.
Tidak berselang lama Viany pun membawa dua piring Mie goreng seafood ke meja makan.
"Terima kasih."Ucap Gibran.Lalu ia dan Viany pun segera menikmati sarapan pagi mereka berdua.
Sedangkan Gustian, ia sedang duduk sendirian di meja makan menatap sarapannya yang sudah di siapin oleh Bibi tadi.Gustian hanya menatapnya dan tidak berselera untuk memakannya.
__ADS_1
Lalu setelah hanya meneguk beberapa kali kopi yang juga sudah di siapin oleh Bibi Gustian segera berangkat ke kantornya.