
"Viany,,"Panggil Bima saat tidak sengaja bertemu dengan Viany di koridor rumah sakit.
"Apakah sekarang kamu mau ke kantin."Tanya Bima yang sudah berjalan bersamaan di samping Viany.
"Ya.."Jawab Viany.
"Kalau gitu kita makan sama,yuk.. Lagian kita sudah lama tidak bertemu dan baru bertemu beberapa hari ini saja."Ucap Bima.
"Lain kali saja ya , Dokter Bima.Soalnya sekarang saya tidak bisa makan siang bersama mu."Ucap Viany.
"Kenapa,,bukankah sekarang kamu juga mau ke kantin atau kamu ada janji dengan seseorang di sana."Tanya Bima.
"Ngak..Saya tidak ada temu janji sama seseorang di sana tapi saya mau beli makan siang untuk suami ku yang kebetulan tadi pagi mengalami Kecelakaan dan rawat di sini."Ucap Viany.
"What.."Ucap Bima dengan terkejut.
"Kamu sudah menikah."Tanya Bima.
"Iya..Dan suamiku adalah pasien yang tadi pagi mengalami Kecelakaan, Gustian Alvado."Ucap Viany yang sudah berada di kantin dan memilih menu makan siang untuk dirinya dan Gustian.
"What.."Ucap Bima tidak percaya.
"Ternyata pasien itu adalah suami kamu."Tanya Bima lagi.
"Hu'um."
"Astagaaa...Tapi tunggu dulu.. Jadi suami mu itu pemilik rumah sakit xxxxx bukan..?"
"Ya ,benar.."Jawab Viany tanpa menoleh ke arah Bima.
"Terus,, Kenapa kamu.."Jeda Bima karena perkataannya di potong oleh Viany.
"Sudah ya, Dokter Bima.Saya tau kamu mau tanya apa tapi lain kali saja ya kita ngobrolnya karena sekarang saya mau antar makan siang ini untuk suami ku."Ucap Viany menunjuk makan siangnya yang sudah di bungkus oleh pemilik kantin.
"Baiklah..Yang penting jangan lupa kamu utang penjelasan mu kepada Ku."Ucap Bima.
"Baiklah..Kalau begitu saya permisi dulu, Dokter Bima."Ucap Viany yang sudah hendak beranjak pergi dari sana, tetapi Bima mencegahnya.
"Tunggu.."
Takkkk...
"Aduh... Apaan kamu,Bima."
"Nah itu... Sekarang bukan waktunya kerja jadi tidak perlu gitu formal dengan ku, Dokter cerewet."Ucap Bima mencubit hidung Viany lagi.
"Ihh.. Apa-apaan kamu ini."Ucap Viany menepiskan tangan Bima yang mencubit pelan hidungnya seperti biasa lalu segera beranjak pergi dari sana.
__ADS_1
"Coba kamu lebih lambat lagi menikah dengan suami mu itu.."Batin Bima yang masih berdiri di sana melihat kepergian Viany.
Dan tanpa di sadari oleh Bima,ada sepasang mata sedang menatap ke arahnya dengan cemburu.
.
.
"Mas.."Panggil Viany membangunkan Gustian yang lagi istirahat.
Lalu dengan pelan Gustian membuka matanya dan melihat istrinya sudah berdiri di depannya.
"Sayang.."Panggil Gustian kepada Viany dengan suara yang pelan.
"Bagaimana dengan perasaan mu, apakah masih pusing."Tanya Viany.
"Iya..Masih sedikit pusing."Ucap Gustian.
"Kalau begitu makan siang dulu ya,habis itu minum obatnya lagi.1 jam lagi sudah waktunya minum obat jadi sekarang makan dulu ya."Ucap Viany dan di angguk oleh Gustian.
Lalu Viany pun menyerahkan nasi bungkus kepada Gustian.Tetapi Gustian tidak menerimanya, Gustian hanya menatap nasi bungkus yang masih di pegang oleh Viany.
"Kenapa.."Tanya Viany dengan heran.
"Bisakah kamu menyuapi Mas,Sayang."Tanya Gustian.
"Ah iya maaf,aku lupa tangan Mas masih di infus."Ucap Viany lalu ia pun menyuapi Gustian.
"Ngomong-ngomong kenapa Mas bisa mengalami kecelakaan."Tanya Viany yang memang belum sempat tanya Gustian tadi.
"Karena Mas terlalu memikirkan mu,Sayang."Ucap Gustian dengan jujur.
"Hah.."
"Karena Mas sangat senang pagi ini bisa membuatkan sarapan untuk mu dan sarapan bersama mu, juga...."Jeda Gustian.
"Juga apa.."Tanya Viany
"Juga..Bisa mencium mu."Ucap Gustian dan membuat kedua pipi Viany menjadi merah.
"Duh..Kenapa jadi panas ya,,apa ac nya rusak ya.."Ucap Viany mengipas pipinya.
"Mas tunggu ya,,Coba aku lihat apa ac nya di kecilkan dinginnya."Ucap Viany lalu beranjak dari tempat duduknya tetapi Gustian memegang pergelangan tangannya.
"Duduk Sayang."Ucap Gustian.
"Tapi.."
__ADS_1
"Duduk dulu.."Ucap Gustian lalu Viany pun dengan patuh duduk kembali ke tempatnya.
"Ac nya sudah cukup dingin ,Sayang."Ucap Gustian.
"Masa iya,,kok aku rasanya panas gitu ya."Ucap Viany dan Gustian menahan ketawanya karena ia tahu Viany malu karena tadi Gustian bilang bisa menciumnya.
"Apakah kamu sudah makan siang,Sayang."Tanya Gustian mengalihkan pembicaraan mereka tadi agar Viany tidak merasa malu lagi.
"Belum..Ini..Kamu cepat habiskan dulu,habis itu baru aku makan."Ucap Viany tiba-tiba merasa canggung dan Gustian yang merasakan itu sebisa mungkin menahan ketawanya.
Tak lama kemudian Gustian pun sudah menghabiskan makan siangnya dan tentu saja dengan mengobrol agar Viany tidak merasa canggung.
"Oh ya.. Mau aku hubungi Gibran."Tanya Viany sambil mengemaskan nasi bungkus Gustian dan Gustian menggelengkan kepalanya.
"Ngak,, jangan kasih tahu Gibran.Mas tidak mau Gibran khawatir."Ucap Gustian.
"Baiklah..Kalau begitu Mas istirahat dulu ya,sebentar lagi ada suster antar obat untuk Mas."Ucap Viany.
"Kamu tidak makan siang dulu,sayang."Tanya Gustian.
"Aku makan di ruangan Ku saja,Mas.Sekarang Mas istirahat dulu ya."Ucap Viany dan di angguk oleh Gustian.
"Aku ke ruangan Ku dulu ya,Mas.Permisi."Ucap Viany.
"Jangan lupa makan siangnya ya, Sayang."Ucap Gustian sebelum Viany sudah benar-benar keluar dari ruang rawat Gustian.
"Iya Mas."Ucap Viany.
Sementara di ruangan Bima ada seorang wanita cantik duduk di depan kursinya menatapnya dengan penuh cinta.
"Sayang, kenapa kamu tidak menjawab panggillan telepon dari Ku,padahal aku kangen banget sama kamu."Ucap Wanita itu yang adalah mantan kekasih Bima.
"Siapa juga yang suruh kamu kangen saya."Ucap Bima dengan Cuek dan matanya tetap menatap ke layar lap top di depannya.
"Apakah kamu masih marah ,Sayang."Ucap mantan kekasih Bima.
"Yang berlalu sudah berlalu dan saya tidak perlu punya rasa marah terhadap mu lagi.Jika tidak berkepentingan bisakah kamu sekarang pergi dari sini ."Ucap Bima.
"Sayang,Aku tahu Aku salah telah melakukan itu sama.."Jeda Resita karena Bima memotong perkataannya.
"Stop..Saya tidak mau mendengar masalah mu dengan Ananda karena itu bukan urusan saya , jadi sekarang tolong keluar dari ruangan saya karena kehadiran mu sangat menganggu Ku."Ucap Bima.
"Apakah sudah ada wanita lain di hati mu "Tanya Resita
"Kamu mau Keluar sendiri dari sini atau mau saya Panggil kan satpam menyeretmu keluar dari sini."Tanya Bima dengan tegas.
"Baiklah..Kalau begitu aku tidak menganggu mu,Permisi."Ucap Resita lalu keluar dari ruangannya Bima.
__ADS_1