Dendam Menjadi Cinta

Dendam Menjadi Cinta
EP 41 Merasa bersalah.


__ADS_3

Saat keluar dari kamar mandi Viany terkejut dengan keberadaan Gustian yang sedang duduk di sofa kamarnya sedang main ponselnya.


Sadar Viany sudah keluar dari kamar mandi Gustian pun menoleh ke arahnya dan beranjak dari tempat duduknya,lalu dengan tersenyum Gustian berjalan mendekati Viany.Setelah sudah berada di dekat Viany atau sudah berdiri di depan Viany salah satu tangan Gustian mengusap pipi Viany dengan pelan dan berkata "Tunggu Mas di sini ya,nanti kita turun sama-sama" Lalu sebelum masuk ke dalam kamar mandi Gustian pun mencium kening Viany.


Viany yang tiba-tiba mendapat ciuman dari Gustian di keningnya berdiri tertegun melihat sikap Gustian ini. sejak ia pulang kerja bersama Gibran ia merasa sikap Gustian berubah seratus delapan puluh derajat, apakah itu karena keberadaan Gibran tetapi untuk apa.Kan Gibran sudah tahu kalau kakaknya mendekatinya karena ingin balas dendam dan bukan mencintainya.Terus sekarang apa lagi.. Tiba-tiba Viany mengingat apa yang Gibran katakan tadi pagi di dalam mobilnya, Gustian sangat khawatir padanya saat Viany sedang sakit dan sampai dirinya yang jatuh sakit sampai pingsan.Mengingat kata Gibran ini Viany tiba-tiba tersenyum sendiri.


"Jika sakit ku bisa membuat mu berubah peduli pada ku,rasanya Aku ingin sakit lagi,Mas."Batin Viany dengan tersenyum.


Tak berselang lama Gustian pun sudah siap membersihkan diri dan melihat Viany sedang duduk di sofa sambil main ponselnya Gustian sangat senang karena Viany benar-benar menunggunya di sana


"Ayokk.." Ucap Gustian setelah ia selesai memakai bajunya dan merapikan rambutnya.


Saat sudah berada di meja makan Gibran sudah duduk di sana sedang menikmati makannya.


"Loh..Bukannya tadi bilang tunggu Aku kok sekarang kamu makan duluan sekarang,dasar."Ucap Viany yang sebenarnya memang ingin menggoda Gibran karena tadi sebelum Viany masuk ke dalam kamar Gustian, Gibran bilang ia akan menunggunya makan bersama.


Tanpa Viany sadari Gustian sangat tidak suka Viany mengatakan begitu pada Gibran, kesannya seperti harap Gibran menunggunya makan bersama.


"Kamu kelamaan Vian,Aku sudah sangat lapar jadi maaf ya tidak menunggu mu."Ucap dengan tersenyum.


"Ya udah.."Ucap Viany.


Gustian yang melihat kedekatan mereka penyakit cemburunya kambuh lagi.Lalu ia mengambil beberapa jenis menu yang di meja untuk Viany.


"Makan yang banyak, Sayang."Ucap Gustian.


"Terima kasih,Mas."Ucap Viany dengan tersenyum.


Saat lagi makan Gustian merasa dirinya seperti obat nyamuk di antara Gibran dan Viany karena sedari tadi Gibran dan Viany selalu berbicara masalah penyakit yang di alami oleh pasien mereka.Sampai akhirnya Gustian berkata "Sayang,,Aku sudah selesai makannya."

__ADS_1


"Hm..Iya Mas."Ucap Viany dengan santai dan melanjutkan makannya juga melanjutkan obrolannya dengan Gibran tanpa peduli perasaan Gustian sekarang seperti apa.


Lalu Gustian pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke ruang tamu menunggu Viany siap makan.Lalu siapa sangka tak berselang lama Viany dan Gibran yang sudah siap makan mereka berdua bukannya ikut Gustian duduk di ruang tamu malah dengan buru-buru naik ke atas menuju ke kamar mereka masing-masing.


Gustian yang lagi duduk di sana sambil main ponselnya tertegun melihat mereka berdua mengabaikannya sedari tadi sejak mulai makan sampai mereka selesai makan,menganggapnya seperti dirinya ini angin berlalu saja.Lalu baru saja Gustian juga mau naik ke atas menemui Viany dengan buru-buru Viany dan Gibran sudah ganti baju dan hendak keluar lalu Gustian tertegun lagi melihat mereka berdua sudah ganti baju, apakah mereka berdua mau keluar,, Tetapi mau kemana...


"Mas,,Aku sama Gibran mau ke rumah sakit dulu ya..Ada pasien Aku mendadak drop."Ucap Viany dan tanpa menunggu jawaban dari Gustian dengan reflesk Viany menarik lengan Gibran keluar bersamanya.


"Kak..kami pergi dulu ya."Pamit Gibran kepada Gustian.


Gustian yang masih berdiri di sana menatap kepergian Gibran dan Viany entah kenapa tiba-tiba ia merasa bersalah terhadap mereka berdua karena dulu Gibran dan Viany adalah sepasang kekasih yang saling mencintai tetapi kerena dirinya ingin membalas dendam akhirnya ia memisahkan sepasang kekasih itu.Hal ini masih belum di ketahui oleh Viany dan Gibran,apa jadinya jika suatu hari mereka berdua tahu bahwa karena dirinya yang dengan sengaja memisahkan mereka dengan cara menjebak Gibran tidur bersama Susan.Sebenarnya dulu Gustian ingin menjebak Viany tidur bersamanya tetapi ia tidak yakin jika ia menjebak Viany tidur bersamanya Viany mau dia yang bertanggung jawab dan Gibran sudah pasti tidak akan mau berpisah dengan Viany mungkin saja Gibran tidak akan keberatan mau bertanggung jawab apa yang telah terjadi di antara ia dan Viany mengingat Gibran begitu mencintai Viany.


Malam pun sudah semakin larut Gustian yang masih menunggu kepulangan Gibran dan Viany di ruang tamu tanpa sadar ia ketiduran di sana.Sampai keesokan harinya saat Gustian terbangun dari tidurnya ia sadar ia ketiduran di ruang tamu tapi... Kenapa ia masih tertidur di sana apakah Viany dan Gibran tidak pulang semalam atau mereka berdua tidak melihatnya tidur di sana.


Lalu Gustian pun beranjak dari sofa dan naik ke lantai 2 menuju ke kamarnya.Saat masuk ke dalam kamarnya Gustian tidak melihat keberadaan Viany di sana lalu ia ke kamar mandi mencari keberadaan Viany dan ternyata Viany juga tidak ada di kamar mandi.


.


.


Karena semalam Viany dan Gibran tidak pulang jadi pagi ini Gustian memilih ke rumah sakit dan sekaligus mengecek dokumen rumah sakit yang memang perlu tanda tangan darinya tetapi sebelum masuk ke ruangan kantornya Gustian memilih mencari Viany terlebih dahulu di ruangan prakteknya.


Degggg...


Saat masuk ke dalam ruangan praktek Viany tiba-tiba Gustian merasa sesak di dadanya ketika melihat Viany dan Gibran sedang sarapan bersama di ruangan prakteknya.


"Mas.."


"Kak.."

__ADS_1


Panggil Viany bersamaan dengan Gibran ketika melihat Gustian tiba-tiba masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.


"Sayang..."Panggil Gustian berusaha tersenyum kepada Viany padahal ia sedang menahan rasa cemburunya.


"Apakah kalian semalam tidak pulang dan bagaimana dengan pasien mu,sayang."Tanya Gustian agar dirinya tidak merasa sesak.


"Puji syukur,Mas.Kami datang tepat waktu dan pasien itu selamat."Ucap Viany.


"Syukurlah jika begitu.."Ucap Gustian dengan tersenyum.


"Kak.. Apakah kamu sudah sarapan.."Tanya Gibran kepada Gustian.


"Sudah,,tadi kakak sudah sarapan di rumah."Bohong Gustian padahal tadi ia tidak mendapati Viany dan Gibran berada di dalam rumah dan tidak bisa menghubungi mereka ia segera bersiap-siap berangkat kerja lalu segera datang ke rumah sakit.


"Itu apa ,Mas."Tanya Viany melihat tangan Gustian menentang kantornya klesek.


"Oh ini...Ini sarapan untuk mu dan Gibran.. Karena tadi pagi Mas tidak melihat mu di rumah jadi Mas bawakan sarapan untuk kalian."Ucap Gustian lalu meletakkan kantong kleseknya di atas meja kerja Viany.


"Maaf Mas, Semalam Aku menangani pasien itu sampai pagi dan saat mau menghubungi mu ponsel Aku lowbat."Ucap Viany.


"Oh.. Baiklah kalau begitu Mas ke kantor dulu ya.Kalian lanjutkan saja sarapannya."Ucap Gustian.


"Mas benaran sudah sarapan kan atau mau sarapan bersama kami lagi."Ucap Viany.


"Hm,,ya..Mas sudah sarapan."Ucap Gustian.


"Baiklah Mas ke kantor dulu."Ucap Gustian lagi lalu Viany dan Gibran pun mengangguk kepalanya.


"Iya Mas."Ucap Viany.

__ADS_1


__ADS_2