Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 101


__ADS_3

Satu bulan kemudian,


Hari ini adalah ulang tahun Raka yang kelima. Erina dan Arvan sudah menyiapkan pesta kejutan untuk putra kesayangannya itu.


" Sayang, kamu bisa cek pembangunan perusahaan baru tidak sebelum pergi dengan Raka...?" tanya Arvan pada istrinya.


" Memangnya kak Arvan mau kemana...?"sahut Erina.


" Ada meeting dengan klien siang ini. Jadi kamu aja yang kesana sama Adam..."


" Kak Hans ikut sama kakak...?"


" Iya, dia masih harus banyak belajar untuk bisa menjadi mandiri. Kalau kak Ricko, aku percaya dia sudah mampu berdiri sendiri..."


" Baiklah, nanti aku ajak Adam. Tapi_..."


" Kenapa...?"


Erina sedikit ragu untuk mengutarakan sesuatu yang mengusik pikirannya.


" Apa sih, sayang? Ngomong saja...?" tanya Arvan lagi.


" Mmm... kita sudah terlalu lama meninggalkan ayah dan ibu, kak..."


" Iya, nanti kita berkunjung kesana..."


" Kapan...?"


" Nggak sabaran banget sih istriku ini..." Arvan menoel hidung istrinya.


Erina mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami dengan senyum manjanya.


" Raka harus segera masuk sekolah, kita harus ambil keputusan mau menetap dimana..." ucap Erina.


" Iya, sayang. Tapi urusan disini belum selesai dan tidak bisa ditinggal begitu saja..."


" Kasihan Ayah jika harus mengurus kantor terlalu lama, kak. Apa Erina sama Raka pulang duluan saja ke London...?"


" Yakin? Nanti kayak kemarin lagi, kakak tidak boleh pulang ke Indonesia karena tak mau berjauhan..." ledek Arvan.


Erina hanya nyengir karena malu lalu menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya.


" Tidak usah malu, kamu semakin menggemaskan saja..." ucap Arvan lagi.


" Hehehee... habisnya kak Arvan ngledekin..." Erina menggelitik pinggang Arvan tanpa sadar.


" Ish... ini tangannya bisa diem nggak sih? Apa yang semalam masih kurang...?" goda Arvan.


" Apaan sih? Cepat berangkat ke kantor sana...!" sungut Erina.


" Gimana kakak bisa pergi kalau masih dipeluk kayak gini terus, sayang..." ujar Arvan seraya tersenyum.


" Ya sudah, nih Erin lepas. Cepat pergi sana...!" usir Erina.


Arvan bingung menghadapi tingkah istrinya yang aneh. Kadang manja, kadang jutek tapi bikin gemes.


" Tuh kan, tadi aja nggak mau lepas sekarang malah diusir. Maunya apa sih sayang...?"


" Nanti pulang dari kantor jangan terlalu sore ya...? Aku mau jalan - jalan sebentar sebelum kita ke panti..." rengek Erina.


Melihat wajah imut dan menggemaskan sang istri membuat hati Arvan tidak tega untuk menolaknya.

__ADS_1


" Baiklah, nanti pulang dari proyek langsung saja ke kantor. Biar Raka langsung sama papa sekarang..." ujar Arvan.


" Raka biar sama mama saja, papa kan harus meeting diluar..."


" Ya sudah, terserah mama saja..."


Sepasang suami istri itu segera keluar dari kamar untuk sarapan bersama yang lain. Semua sudah berkumpul di meja makan.


" Selamat pagi semua..." sapa Erina.


" Pagi..." sahut semuanya serempak.


" Hans, kak Ricko dan kak Sandra mana...?" tanya Arvan.


" Mereka menginap di rumah orangtua kak Sandra, kenapa...?" jawab Hans.


" Tidak apa - apa, tumben aja mereka nginep disana..."


" Mungkin ada urusan kali..."


" Udah, kita sarapan dulu. Erin sudah laper..." sela Erina.


" Kau semangat sekali makannya, Erin. Apa tenagamu terkuras habis semalam..." ledek Hans.


" Sok tahu...!" sungut Erina dengan wajah yang memerah.


" Haish... jangan ganggu istriku...!" hardik Arvan.


Mereka mulai makan dengan tenang. Tak ada obrolan sebelum makanan di piring mereka habis. Selesai makan, Arvan dan Hans langsung pergi ke kantor.


" Adam, nanti kita pergi meninjau proyek pembangunan gedung ya?"


" Suamimu akan membuat perusahaan baru atau cabang kantor yang baru...?" tanya Adam.


" Ma, Raka ikut ya...?" rengek Raka.


" Iya, siap - siap sana..." sahut Erina.


Raka langsung masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap - siap. Tak lupa, anak itu selalu memakai jaket yang bisa dipakai untuk menyimpan senjata yang dibawanya.


Anak ini selalu siap dan waspada dimanapun dia berada. Bakatnya sebagai detektif mengharuskannya untuk selalu waspada terhadap sekitarnya.


" Let's go, mama..." teriak Raka.


" Ya sudah, kita berangkat sekarang..." sahut Erina.


Mereka segera pergi ke proyek yang jaraknya sekitar satu jam dari rumah. Raka duduk di depan di samping Adam, sedangkan Erina duduk di belakang.


Sampai di proyek, Erina dan Adam segera berkeliling di area pembangunan. Sedang Raka, dia lebih memilih duduk di sebuah warung yang tak jauh dari tempat mobilnya terparkir.


Raka memesan minuman dingin lalu duduk di pojok warung itu mendengarkan obrolan para pekerja yang sedang istirahat untuk membeli minuman.


" Ini sudah hampir dua minggu, kenapa gaji kita belum keluar ya...? Biasanya kita gajian setiap minggu..." ucap salah seorang kuli bangunan.


" Iya, mana tidak boleh kasbon lagi. Apa pemilik proyek ini orangnya pelit...?" sahut yang satunya lagi.


" Kurasa ini ada permainan dari penanggungjawab proyek, soalnya bahan bangunan yang datang minggu ini kualitasnya jelek tidak seperti sebelumnya..." timpal satunya lagi.


" Kalau sampai minggu ini gaji kita tidak keluar, kita harus demo dan mogok kerja..."


" Setuju..." jawab semuanya.

__ADS_1


Raka merekam semua pembicaraan para pekerja lalu pergi sebelum semua orang menyadari perbuatannya.


Sementara itu, Erina dan Adam sedang berbincang dengan pengawas proyek dan seorang mandor bangunan. Raka menyusul mereka dan mendengarkan dengan seksama pembicaraan para orang dewasa itu.


Raka membisikkan sesuatu pada Adam yang membuat Adammengernyitkan dahi tidak percaya.


" Maaf, pak. Kami ingin melihat laporan daftar dan kwitansi bahan bangunan dari pertama sampai yang terakhir..." ucap Adam.


Pengawas dan mandor itu gelagapan tidak mampu menjawab.


" Maaf, Tuan. Laporannya akan saya kirim besok ke kantor Anda..." ucap pengawas itu.


" Saya butuh sekarang, cepat ambil...!" perintah Adam.


" Ba...baik, Tuan..."


Pengawas dan mandor itu langsung masuk ke dalam ruangannya untuk mengambil laporan yang diminta Adam.


Erina dan Adam memeriksa semuanya laporannya. Semua laporan itu baik - baik saja, semua normal. Namun laporan terakhir tidak ada.


" Dimana laporan minggu ini...?" tanya Erina.


" Itu sudah semuanya, Nyonya..." jawab pengawas.


" Kau pikir aku tidak tahu? Material datang setiap minggu dan kau bilang ini sudah yang terakhir...?" teriak Erina.


" Sudah, simpan tenagamu untuk orang tidak berguna ini..." ujar Adam.


Pengawas itu tidak menyangka bahwa yang akan datang meninjau adalah orang baru. Biasanya Arvan dan Hans yang datang untuk mengecek pekerjaan mereka dan tidak pernah meminta daftar anggaran belanja mingguan.


" Maaf, Tuan. Mungkin yang terakhir masih terselip di ruangan saya..."


" Cari dan bawa sekalian laporan gaji para pegawai hingga minggu terakhir...!" perintah Adam dengan tatapan tajamnya.


Raka hanya mengawasi saja pergerakan mereka. Dia selalu waspada karena musuh bisa menyerang kapan saja, dia tidak boleh lengah.


" Mama, Uncle... kalian harus berhati - hati dan waspada. Sepertinya mereka siap untuk menyerang kita..." bisik Raka.


" Apa...? Menyerang? Maksud kamu apa...?" tanya Erina.


" Mereka sudah ketahuan menggelapkan keuangan proyek, kita tidak akan keluar dari sini dengan mudah..." jawab Raka.


" Huft... mama membencimu yang bersikap sok dewasa itu. Tapi kecerdasanmu membuat mama sangat bangga..." ujar Erina tersenyum.


" Nih, pasti mama tidak pernah membawanya..." Raka menyelipkan pistol di tas yang di pakai Erina.


" Thank you so much, baby boy..."


" Aku bukan bayi lagi, Ma...!" sungut Raka.


" Sudah, jangan berdebat. Kita harus waspada sekarang, cari bantuan untuk membantu kita keluar dari sini..." ujar Adam.


Erina segera mengirim pesan pada Hans untuk mengirim anak buahnya ke proyek tempat dirinya berada sekarang.


" Kalian siap...?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2