
Hans sedang melacak lokasi terakhir keberadaan Raka karena ponsel Raka sepertinya sedang tidak aktif. Setelah satu jam, barulah Hans menemukan lokasi terakhir Raka.
" Tempat apa ini...? Kenapa Raka berada di tempat seperti ini...?" gumam Hans.
Di pagar rumah sederhana itu terpampang tulisan sebuah nama panti asuhan. Hans tidak percaya jika Raka berada di tempat ini. Hans masuk ke dalam pagar, lalu mengetuk pintu rumah itu.
" Permisi...!" ucap Hans seraya mengetuk pintu.
Tak lama pintu terbuka dan keluarlah seorang wanita paruh baya dengan tersenyum ramah.
" Maaf, cari siapa ya...?"
" Mmmm... begini,Bu... saya mencari anak ini, apa dia ada dirumah ini...?" Hans memperlihatkan foto Raka dalam ponselnya.
" Anda siapa...?"
" Saya pamannya, Bu..."
" Disini tidak ada anak seperti itu..." sanggah ibu panti.
" Bu, saya ini benar pamannya Raka, tolong percaya pada saya..."
" Apa buktinya...?"
" Ini foto saya dengan Raka, kami tinggal dalam satu rumah. Saya mohon berikan Raka pada saya, ibunya sedang mencari anak ini..."
" Anda tunggu disini sebentar...!"
Wanita itu kembali masuk ke dalam rumah untuk menemui Raka. Dia ingin memastikan bahwa Raka mengenal pria yang ingin menjemputnya itu.
" Raka, di luar ada orang yang ingin menjemputmu. Katanya dia paman kamu, coba kamu lihat apa dia benar - benar keluargamu..." ucap ibu panti lembut.
" Terimakasih, Bu... saya akan melihatnya dari balik jendela..." jawab Raka.
Raka berjalan menuju jendela dekat pintu untuk melihat siapa yang datang.
" Ish... kenapa Uncle Hans datang sekarang? Aku belum menyuruhnya untuk datang kesini..." batin Raka.
" Raka, apa kau mengenalnya...?"
" Benar, Bu... beliau paman saya, namanya Hans..."
" Baiklah, ibu akan menyuruhnya masuk..."
Ibu panti mempersilahkan Hans untuk masuk dan bertemu dengan Raka.
" Tuan, silahkan masuk... Raka sudah menunggu di dalam..."
" Terimakasih, Bu..."
Hans masuk dan melihat Raka sedang duduk di kursi ruang tamu. Wajah datar Raka membuat Hans merasa heran. Dia tidak merasa telah membuat kesalahan padanya.
" Hei... keponakanku yang ganteng, akhirnya aku menemukanmu..." sapa Hans dengan senyum manisnya.
" Ikut Raka ke kamar...!" perintah Raka.
" Raka, tidak boleh seperti itu bicara dengan pamanmu dan juga dengan orang yang lebih tua darimu..." tegur ibu panti.
" Ah... tidak apa - apa bu, biasanya juga tidak seperti ini. Biasa anak kecil sedikit - sedikit suka ngambek..." sahut Hans tersenyum.
" Iya, tapi harus diajarkan dari sekarang biar kelak dia dewasa bisa menghargai orang lain dan bisa menjaga sopan santunnya kepada sesama dan juga yang lebih tua..." tutur ibu panti lembut.
" Raka tidak akan begitu lagi, Bu... Maaf..." ucap Raka tersenyum.
Hans tersenyum melihat Raka yang mau menuruti perkataan ibu panti. Sifat Raka memang mirip seperti Arvan, orang yang selalu terlihat dingin dan tak peduli pada orang - orang yang hanya mencari muka padanya.
" Maaf, bu... boleh saya bicara dengan Raka sebentar di kamar...?" ucap Hans.
" Silahkan, kalau begitu saya mau cek keadaan anak - anak yang lain terlebih dahulu..."
" Iya, Bu... silahkan..."
__ADS_1
Setelah ibu panti keluar, Raka menarik Hans masuk ke dalam kamar.
" Uncle kenapa datang kesini...? Raka belum minta dijemput sekarang..." ucap Raka kesal.
" Hei bocah... Mama kamu udah disini dan mencarimu dari kemarin..." sahut Hans.
" Raka pasti pulang tapi setelah barang bukti itu Raka dapatkan..."
" Barang bukti apa...?"
" Surat wasiat yang asli dari kakek untuk mama dan juga tentang kasus tabrak lari papa. Raka tidak bisa membawa banyak barang dari rumah itu karena tante Selly pasti curiga. Raka tadinya mau langsung pulang ke rumah papa, tapi ternyata anak buah tante Selly mengikuti sampai kesini. Jika mereka melihat Uncle bersamaku, bisa hancur semua rencanaku..."
" Maaf, Uncle hanya khawatir saat kau sudah pergi dari rumah kakekmu itu. Mama kamu sangat khawatir..."
" Sudahlah... apa diluar masih ada yang mengawasi rumah ini...?"
" Uncle juga tidak tahu, sebaiknya kita pergi sekarang sebelum mama kamu membunuhku..."
" Tidak Uncle, kita harus membuat strategi baru lagi. Raka akan tetap disini sampai besok bik Ina bawa bukti itu padaku. Uncle pulang saja sendiri, jangan lupa untuk donasi ke panti ini sebelum pergi dari sini..."
" Kenapa...?"
" Mereka yang disini juga butuh makan, bukan hanya Uncle saja yang makan..."
" Baik Boss, besok akan aku bicarakan dengan Uncle Ricko untuk jadi donatur tetap di panti asuhan ini..."
Saat mereka sedang berbincang, tiba - tiba ponsel Hans berdering. Ada panggilan masuk dari Ricko.
" Hallo, kak..."
"...._"
" Iya, Raka bersamaku sekarang. Ada apa...?"
" ..._ "
" Apa...? Beneran kak...? Ya sudah, saya dan Raka akan kesana sekarang..."
" Ada apa, Uncle...?" tanya Raka.
" Kita pergi sekarang, papa kamu sudah sadar..." jawab Hans.
" Benarkah, Uncle...? Papa beneran sudah sadar...?"
" Iya, ayo pamit pada ibu panti terus kita ke rumah sakit sekarang..."
" Iya, Uncle..."
Hans dan Raka segera pamit dengan ibu panti lalu bergegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Arvan. Tanpa mereka sadari, ada orang yang terus mengikuti mereka.
Satu jam lebih dalam perjalanan mereka baru sampai di rumah sakit karena terjebak macet di jalan. Hans langsung menggendong Raka berlari menuju ruang perawatan Arvan.
" Mama...!" teriak Raka.
" Raka..." ucap Erina kaget.
Arvan yang tadinya sedang tidur langsung terbangun mendengar suara Raka. Arvan tersenyum bisa melihat anaknya lagi setelah sekian lama tertidur.
Raka memeluk mamanya dengan erat seraya menangis.
" Sayang, kenapa menangis...?" Erina menghapus airmata di wajah Raka.
" Raka rindu mama..."
" Mama juga merindukanmu sayang..."
Arvan yang merasa diabaikan hanya bisa terdiam melihat kedekatan ibu dan anak itu. Hans yang melihat Arvan melamun segera menggoda bossnya itu.
" Adikku sayang, aku sangat merindukanmu... satu bulan lebih kita tak saling bicara..." Hans memeluk tubuh Arvan yang masih terbaring di tempat tidur.
" Haish... apa yang kau lakukan...!" bentak Arvan meronta.
__ADS_1
Erina dan Raka mengurai pelukan mereka karena terkejut dengan teriakan Arvan. Mereka berdua malah tertawa melihat Hans yang tak mau melepaskan pelukannya.
" Sudah, Uncle... nanti papa sakit lagi..." seru Raka.
" Kau tahu, Raka... papa kamu ini juga butuh pelukan jadi Uncle peluk saja daripada nggak ada yang peluk..." sahut Hans seraya tertawa.
" Hans...!" teriak Arvan kesal.
" Iya - iya..." sahut Hans tersenyum.
Hans melepaskan pelukannya lalu duduk di samping Arvan. Raka tersenyum lalu berlari naik ke brankar dan memeluk papanya.
" Apa kau merindukanku, Nak...?" ucap Arvan lirih.
" Tentu saja, Pa... Raka rindu sama papa..." jawab Raka pelan.
" Kenapa papa merasa selama ini kamu jauh dari papa...?"
" Raka selalu dihati papa..." ucap Raka tersenyum.
" Kau ini sangat pintar merayu, apa mama yang mengajarimu...?"
" Apaan sih...? Kok mama dibawa - bawa...?" tegur Erina.
Raka dan Arvan hanya tertawa tak berani menyahuti ucapan Erina. Raka berbisik pada papanya hingga keduanya tertawa lepas. Erina dan Hans menatap mereka curiga, dari tadi mereka berdua saling berbisik.
" Pa, kapan kita pulang...? Raka pengen tidur sama papa..." celoteh Raka.
" Iya, nanti tanya dokter dulu kapan papa bisa pulang..." sahut Arvan.
" Sudah, Raka turun biar papa istirahat..." ucap Erina.
" Tidak apa - apa, Rin... biarkan Raka disini bersamaku..."
" Tapi kak_..."
" Apa kau juga mau tidur disini, sayang...?" goda Arvan.
" Ish... mending aku tidur dijalanan...!" sungut Erina.
# # #
Di tempat lain, Selly bertemu dengan anak buahnya yang tadi mengikuti Raka.
" Apa yang kalian dapatkan...!"
" Kami mengikuti mereka sampai di sebuah panti asuhan, Boss... tapi_..."
" Tapi apa... hah...?"
" Tak lama setelah kepergian Bik Ina, anak itu dijemput oleh seorang laki - laki dengan mobil mewah..."
" Siapa dia...?"
" Kami tidak tahu, Boss... tapi mereka menuju rumah sakit XX di pusat kota..."
" Siapa yang mereka cari disana...?"
" Mereka menuju ke ruang VVIP, Boss..."
Selly mondar - mandir di ruangannya lalu dia terpikir dalam ingatannya.
" Bukankah Arvan di rawat disana...? Tapi apa hubungan anak itu dengan Arvan...?"
.
.
TBC
.
__ADS_1
.