Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 37


__ADS_3

" Kamu siapa...?" tunjuk Selly seraya melayangkan tatapan tajam.


Raka berpura - pura takut dan berpegangan pada tangan bik Ina.


" Maaf Non, anak ini terpisah dari orangtuanya di terminal. Saya menemukannya di jalanan dan merasa tidak tega melihatnya..." ucap bik Ina.


" Kenapa kau bawa kesini! Bawa saja ke kantor polisi...!" sahut Selly sinis.


" Nona, tolong ijinkan anak ini tinggal disini selama beberapa hari saja. Saya janji anak ini tidak akan merepotkan, dia hanya anak berusia empat tahun yang butuh perlindungan..."


Selly menatap anak itu lagi sekilas lalu mendesah dengan pelan.


" Baiklah, tapi ingat jangan membuat keributan di rumahku. Kau juga harus cepat menemukan keluarganya...!"


" Terimakasih Nona, kalau diijinkan biarkan anak ini menempati kamar nona Erina..."


" Terserah...!"


Selly berlalu meninggalkan bik Ina dan Raka yang sekarang sedang tersenyum. Bik Ina segera membawa Raka ke kamar Erina.


" Tuan Muda_..." ucap bik Ina pelan.


" Panggil saja namaku, bik... jangan sampai tante Selly curiga..." sahut Raka cepat.


" Maaf, sebaiknya istirahatlah dulu disini. Ini kamar mama kamu sejak lahir..."


" Bibik jangan sampai salah bicara tentang identitas saya..." pesan Raka.


" Iya, bibik akan ingat Tuan Muda Raka..."


Setelah bik Ina keluar, Raka mengamati setiap sudut ruangan kamar ibunya.


" Kamar mama cukup luas tapi tidak ada satupun barang berharga. Apa benar tante Selly memperlakukan mama dengan buruk...?" gumam Raka.


Raka tetap berdiam diri di dalam kamar menunggu Selly dan ibunya keluar rumah. Raka memandang foto ibunya yang dia temukan di laci meja belajar.


" Mama yang dulu dan sekarang tetap sama, cantik..." batin Raka.


Raka merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memikirkan cara untuk memulai penyelidikan.


# # #


Sore hari, Raka mencari bik Ina yang sedang berada di dapur. Ada misi yang harus dia kerjakan di saat Selly dan ibunya tidak ada di rumah.


" Bik, tante Selly kemana...?" tanya Raka.


" Biasa, kalau pergi jam segini pasti pulangnya nanti lewat tengah malam dan dalam keadaan mabuk..." jawab bik Ina.


" Apa disini ada cctv...?"


" Sepertinya tidak ada, tapi tidak tahu kalau di ruang kerja Tuan Bagas..."


" Saya mau masuk ke ruangan itu bik..."


" Baiklah, tapi hati - hati..."


Bik Ina sebenarnya tidak tahu apa yang akan dikerjakan anak sekecil itu di ruang kerja. Baginya, Raka hanyalah seorang anak balita yang sangat menggemaskan.


Raka memeriksa beberapa berkas di atas meja namun itu hanya laporan keuangan Restoran. Dia juga mencari di dalam laci - laci serta rak buku namun tidak ada sesuatu yang penting.

__ADS_1


" Tidak ada apapun yang penting di tempat ini..." gumam Raka.


Raka memasang kamera tersembunyi di sudut ruangan lalu kembali mencari bukti - bukti yang mungkin tersimpan di suatu tempat. Raka melihat ada sebuah meja kecil di sudut ruangan diatasnya ada vas bunga.


" Meja itu_..." belum juga Raka mendekati meja, bik Ina datang.


" Raka, Nyonya besar pulang. Cepatlah keluar..." ucap bik Ina.


" Baik bik, kita pergi sekarang..."


Bik Ina menggandeng tangan Raka untuk kembali ke kamar. Namun baru sampai di depan tangga, Yona sudah teriak memanggilnya.


" Ina...! Siapa yang kau bawa itu...!" pekik Yona.


" Maaf, Nyonya... saya menemukan anak kecil ini tersesat di jalanan. Saya kasihan, jadi untuk beberapa hari ini dia akan tinggal disini. Saya sudah meminta ijin kepada Non Selly..."


" Rumah ini bukan tempat penampungan anak jalanan! Bawa dia pergi...!"


" Saya mohon Nyonya, hanya beberapa hari atau paling lama satu minggu. Jika sampai satu minggu orangtuanya tidak ditemukan, saya akan menitipkannya ke panti asuhan..."


" Hhh... baiklah! Tapi jika dia berbuat onar di rumah ini akan saya lempar dia kembali kejalanan...!"


" Baik Nyonya, saya akan menjaganya sebaik mungkin..."


Yona segera masuk ke dalam kamarnya tanpa curiga kepada Raka sedikitpun.


# # #


Malam hari, Raka sedang bersama dengan bik Ina untuk makan malam di dapur. Sedangkan Selly dan ibunya makan di meja makan.


" Sayang, kenapa kau biarkan Ina membawa anak jalanan itu tinggal di rumah ini...?"


" Ibu cuma tidak mau dia berisik di rumah ini..."


" Lanjutkan saja makannya, tidak perlu bahas anak itu lagi..."


Selesai makan malam, Selly dan ibunya langsung kembali ke kamar masing - masing untuk beristirahat. Raka memanfaatkan waktu ini untuk memasang beberapa kamera tersembunyi di dalam dan luar rumah.


Setelah semua selesai, Raka kembali ke kamar dan segera menghubungi Hans untuk memeriksa rekaman kamera yang baru dia pasang.


Sementara itu, Hans yang sedang menunggu Arvan di rumah sakit membaca pesan dari Raka.


" Anak itu sudah bikin repot saja malam - malam begini..." gumam Hans.


Hans segera membuka laptop yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi. Dia menghubungkan laptopnya dengan kamera yang di pasang oleh Raka.


" Kau lebih cerdik dari papamu, kau berani masuk sarang iblis sendirian, Raka..." seringai Hans.


Tak ada sesuatu yang mencurigakan malam itu karena semua orang sudah beristirahat.


# # #


Dua hari kemudian, Erina datang secara tiba - tiba sehingga membuat Hans sangat terkejut. Kedatangan Erina yang mendadak itu tak bisa menutupi kegugupan Hans saat berhadapan dengannya.


" Kak Hans...!" sapa Erina.


" Eh iya, Rin... kenapa tak bilang padaku kalau mau pulang? Aku bisa menjemputmu..." ucap Hans gugup.


" Gimana keadaan kak Arvan...?"

__ADS_1


" Masih sama, dia tidak bergerak sama sekali..."


Sekarang Hans dan Erina duduk di luar ruang perawatan Arvan. Erina terlihat sendu melihat keadaan Arvan yang masih tak sadarkan diri padahal sudah sebulan lebih.


" Kak, Erina mau menemui kak Arvan dulu ya...?"


" Oh iya, silahkan... Arvan memang butuh kamu saat ini. Mungkin kehadiran kamu bisa membuat semangat hidup Arvan muncul lagi. Dokter sudah menyerah karena tak ada keinginan dalam diri Arvan sendiri untuk bangun..."


" Aku bukan siapa - siapa kak, tidak ada hubungan apa - apa dengan kak Arvan..."


" Rin, Arvan itu sangat mencintaimu. Maafkan semua yang terjadi di antara kalian di masa lalu. Raka butuh kalian berdua, jangan abaikan anak itu..."


" Dimana Raka sekarang...?" tanya Erina.


" Di... dia ada di rumah..." jawab Hans gugup.


" Kak Hans nggak bohong kan...?" cecar Erina.


" Bohong apanya...?" elak Hans.


" Aku tahu dimana Raka! Kenapa kak Hans membiarkan Raka masuk ke rumah kak Selly...!" teriak Erina.


" Erina, aku bisa menjelaskan semuanya..."


" Apa kau mau membunuh anakku...!"


" Rin, tenanglah... kita bisa bicarakan semua ini baik - baik..."


" Apalagi yang harus dibicarakan...? Nyawa Raka bisa terancam jika mereka tahu siapa Raka yang sebenarnya...!"


" Rin, percayalah... Raka bisa jaga diri, saya juga selalu memantau dia disana..."


" Bagaimana aku bisa percaya Raka akan baik - baik saja, dia masih sangat kecil, kak..."


" Kamu sedang lelah, Rin... istirahatlah. Semua akan baik - baik saja. Masuklah ke ruangan Arvan, besok aku akan menjemputmu..."


Hans membawa koper milik Erina ke ruang rawat Arvan. Setelah itu dia pergi entah kemana untuk memikirkan hari esok.


Sementara itu, Erina duduk di tepi brankar tempat Arvan terbaring.


" Kak, bangunlah... Raka dalam bahaya sekarang, kita harus bisa bawa Raka pergi dari rumah itu..." isak Erina.


" Jika kau mau bangun, aku akan memaafkan kesalahanmu..." Erina menggenggam erat tangan Arvan.


Karena kelelahan, Erina mengambil kursi lalu duduk menghadap Arvan. Tangannya terus menggenggam erat tangan Arvan dan iapun mulai terlelap dengan lengan Arvan sebagai bantalan.


Hingga pagi hari, Erina mulai terbangun saat ada sebuah tangan yang mengusap lembut rambutnya. Erina kaget dan langsung terbangun.


" Kak_..."


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2