Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 54


__ADS_3

" Kak, kita tidak bisa melakukannya sekarang..." ucap Erina pelan.


" Kenapa...?" tanya Arvan mengernyitkan dahinya.


" Itu_..."


" Itu apa...? Kau tidak percaya aku akan bertanggungjawab...?"


" Bukan, kak... aku sedang datang bulan..."


Arvan langsung terkejut dan turun dari atas tubuh Erina dengan sangat kecewa.


" Kenapa nggak bilang dari tadi...!" ucap Arvan kesal.


Arvan segera beranjak dari tempat tidur menuju balkon. Arvan menengadahkan wajahnya menatap langit cerah bertabur jutaan bintang.


" Kak, masuklah... di luar dingin..." ucap Erina.


Erina menyusul Arvan ke balkon dan memberikan selimut padanya.


" Aku masih ingin disini, tidurlah dulu...!" sahut Arvan datar.


" Kenapa? Kakak tidak mau tidur...?"


" Tidurlah dulu, Erin... aku akan menyusul nanti..."


" Apa kau marah...?"


" Tidak..."


Jawaban Arvan yang bernada kesal dan kecewa membuat hati Erina sakit. Diapun segera meninggalkan Arvan seraya menangis dalam diam. Erina mengambil sweathernya lalu keluar dari kamar Arvan.


# # #


Erina duduk di sebuah taman dekat Apartemen Arvan. Inilah kebiasaan Erina jika sedang bersedih, dia selalu menyendiri di tempat yang sepi.


Erina menatap langit cerah yang seakan menertawakan kebodohannya yang percaya begitu saja dengan bualan Arvan. Kini Erina menyadari bahwa lelaki itu tidak membutuhkan cintanya namun hanya butuh pelampiasan hasratnya saja.


Erina menangisi nasibnya yang begitu buruk malam ini. Mungkin memang lebih baik jika ia dan anaknya jauh dari Arvan.


Hingga larut malam, Erina masih betah menyendiri di taman yang semakin dingin. Rasanya sangat malas untuk pulang dan bertemu dengan Arvan.


" Apa nasibku akan buruk seperti ini terus? Kenapa aku bisa mencintai lelaki macam dia...?" batin Erina.


Airmata terus saja mengalir membasahi kedua pipinya di bawah lampu temaram sudut taman.


" Aku akan pergi besok pagi sesuai keinginannya dan tak akan pernah kembali lagi padanya..." gumam Erina.


Sementara itu, di dalam Apartemen Arvan masih bersandar di kursi dari bahan kayu yang terpasang di balkon. Dia hampir menghabiskan sebungkus rokok untuk meredam hasratnya yang sempat memuncak. Tanpa terasa sudah tiga jam berlalu Arvan membiarkan Erina tidur sendiri.


Malam yang semakin dingin membuat Arvan tak betah berlama - lama di luar karena hasratnya juga sudah mulai mereda.


Saat masuk ke dalam kamar, Arvan terkejut karena Erina tidak ada di dalam kamar. Di kamar mandipun wanita yang dicarinya itu tidak ada.


" Erina, dimana kamu sayang..." gumam Arvan.


Arvan keluar kamar mencari Erina di dapur dan ruang tamu namun wanitanya itu tak muncul juga. Ingin mengetuk pintu kamar Hans, ia takut Raka terbangun.

__ADS_1


Arvan masuk ke ruang kerjanya untuk mengecek cctv. Arvan terkejut melihat rekaman cctv bahwa Erina keluar dari Apartemen dan itu sudah itu sekitar tiga jam yang lalu dimana Arvan gagal menikmati malam panjangnya itu.


" Ish... apa dia marah padaku..." gumam Arvan.


Arvan mengambil jaket di kamarnya lalu berjalan menuju pintu keluar untuk mencari Erina.


" Sayang...!"


Arvan kaget saat membuka pintu dia mendapati Erina sudah berdiri di hadapannya dengan penampilan yang cukup kacau.


" Sayang, apa yang terjadi denganmu...?" Arvan meraih tangan Erina namun wanita itu langsung menepisnya dengan kasar.


" Sayang, jawab aku? Kau darimana saja...?" ucap Arvan khawatir.


Erina tak menanggapi ucapan Arvan yang terus mengikuti langkahnya sedari tadi. Erina menuju sofa lalu merebahkan dirinya disana. Wajahnya terlihat sembab habis menangis.


" Erina, kenapa tidur disitu? Ayo aku antar ke kamar...?"


Arvan mencoba meraih tubuh Erina namun dengan cepat Erina menangkisnya dengan kasar hingga Arvan merasakan sedikit panas di lengannya.


" Sayang, aku mohon jangan seperti ini. Bicaralah apa yang sebenarnya terjadi...?"


Arvan kehabisan kata - kata menatap wajah sayu kekasih yang sangat dicintainya. Hatinya sangat sedih diabaikan oleh orang yang paling dekat di hati dan jiwanya.


" Apa kau marah padaku? Katakan sesuatu, sayang..."


Erina bangkit dari tidurnya lslu menatap tajam ke arah Arvan yang berlutut di hadapannya.


" Aku akan pergi ke London besok..." ucap Erina datar tanpa ekspresi.


" Sayang, bukankah masih dua hari lagi...?"


" Jangan berbohong, jujurlah padaku..."


Erina kembali diam, bayangan lima tahun lalu kembali terlintas dalam ingatannya. Rasa benci itu muncul lagi dan membuat Erina merasa takut berada di dekat Arvan.


" Pergi! Jangan dekati aku...!" teriak Erina histeris.


Tiba - tiba saja Erina berteriak histeris seraya menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Dia menangis sambil menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.


" Sayang, ada apa denganmu? Jangan menangis...?"


Hans yang mendengar ada keributan diluar segera bangun dan melihat apa yang terjadi.


" Arvan, Erina... ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar di tengah malam begini...?" tanya Hans.


" Hans, bantu dia untuk ke kamar. Aku tidak mau tidur Raka terusik..." pinta Arvan.


" Apa yang kalian ributkan di tengah malam seperti ini...?" keluh Hans.


"Hans, bawa Erina masuk ke kamar..."


" Huft... bisakah kalian bersikap dewasa sedikit saja...?"


Hans mendekati Erina yang masih menangis di lantai lalu duduk di depannya.


" Ayo ke kamar, jangan membuat harimu buruk dengan. sesuatu yang tidak penting..." bisik Hans.

__ADS_1


Erina mendongakkan wajahnya lalu menghamburkan diri dalam pelukan Hans. Diapun kembali menangis dalam dekapan Hans.


" Ada apa denganmu? Apa Arvan menyakitimu...?" ucap Hans pelan.


" Aku takut, kak..." ucap Erina dengan tubuh yang bergetar.


" Apa yang kau takutkan? Aku akan menjagamu, jangan takut lagi..." Hans membalas pelukan Erina agar wanita itu menghentikan tangisannya.


Arvan geram karena Hans berani menyentuh wanitanya, namun dia tidak bisa berbuat apa - apa karena sepertinya Erina takut melihatnya.


" Sayang, kenapa tiba - tiba kau seperti ini...? Apa aku berbuat salah padamu...?" batin Arvan.


Hans memapah tubuh Erina masuk ke dalam kamar Arvan. Setelah membantunya berbaring dan menyelimutinya, Hans duduk di sampingnya hingga Erina tidur.


" Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sekacau ini? Bagaimanapun juga, kau adalah adikku yang harus kujaga..." gumam Hans.


Arvan perlahan masuk ke dalam kamar lalu duduk di samping Hans. Tatapannya tak lepas dari wajah kekasihnya yang terlihat sangat kacau.


" Ada yang bisa kau jelaskan padaku...?" ujar Hans menatap Arvan.


" Aku tidak tahu, Hans. Sepertinya Erina habis dari luar dan keadaannya sudah begini..."


" Untuk apa dia keluar? Tidak ada alasan untuk Erina pergi di malam selarut ini..."


" Aku juga tidak tahu, Hans. Saat aku ingin mencarinya, kami sudah berpapasan di depan pintu..."


" Sejak kapan dia pergi...?"


" Mungkin sekitar tiga jam yang lalu..."


" Kalian bertengkar lagi?"


" Tidak, Hans. Aku sedang duduk di balkon sedari tadi, kukira Erina sudah tidur terlebih dulu. Saat aku ingin tidur, dia malah tidak ada..."


" Tidak mungkin Erina pergi tanpa alasan, jujurlah padaku, Van...!"


Arvan berjalan menuju balkon diikuti oleh Hans. Mereka sejenak menatap pemandangan kota di tengah malam.


" Mungkin aku melakukan kesalahan sama seperti dulu lagi, Hans..."


" Maksudnya...?"


Arvan menceritakan kejadian tadi bersama Erina yang berujung dengan kecewa hingga Arvan mengabaikan kekasihnya itu.


" Kau keterlaluan, Van...! Pantas saja dia membencimu, tak bisakah kau menunggu sampai kalian menikah...!"


" Aku khilaf, Hans. Aku tidak bisa menahan diriku saat berada dekat dengannya. Biasanya cukup dengan memeluknya saja aku sudah merasa nyaman, tapi malam ini aku benar - benar takut dia akan pergi jauh. Aku menyesal menyakiti hatinya lagi..."


" Sudahlah, semua sudah terjadi. Kau hanya bisa pasrah dengan keputusan Erina. Sekarang aku tahu apa yang dipikirkan Erina tentang dirimu..."


" Apa yang dipikirkan Erina tentang aku, Hans...?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2