Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 126


__ADS_3

" Baiklah, tapi ini baru dugaanku saja. Dia adalah Robert, saingan bisnis kita..." ucap Adam.


" Robert...? Kenapa kamu bisa menuduh dia...?" tanya Erina penasaran.


" Karena berkas presentasi Robert kemarin sama dengan yang kita rancang waktu itu. Tapi saat dia tahu aku membawakan presentasi dengan konsep yang berbeda, dia menatap tajam pada Sera dengan amarah di matanya..."


" Tapi kenapa Sera memberikan berkas kita kepada Robert...?"


" Mungkin mereka memiliki hubungan special yang kita tidak tahu..."


Erina benar - benar tidak percaya Sera yang melakukan semua ini dan mengkhianati perusahaan tempatnya bekerja.


" Tapi kenapa harus dibunuh jika memang mereka saling mencintai...?"


" Mungkin ada motif lain yang tersembunyi. Berkas itu kita temukan di meja salah satu karyawan yang korupsi, mungkin mereka juga terlibat dengan kematian Sera..."


" Kenapa Sera harus pergi dengan cara yang tragis seperti ini...?"


" Kamu harus tenang, pikirkan anak - anakmu. Masalah ini bisa aku selesaikan dengan Tuan William dan suamimu sebelum dia kembali ke Indonesia..."


" Baiklah, aku akan fokus dengan pekerjaan di kantor..."


" Ya sudah, kita pulang sekarang ya? Aku tidak mau jadi sasaran peluru suami aroganmu..."


" Adam, jangan mengatai suamiku seperti itu..." sungut Erina.


" Ok, mulai sekarang kita harus fokus menatap ke depan dan hilangkan semua kesedihan. Sera akan lebih senang jika melihat kita tersenyum..." ujar Adam.


" Baiklah, di tempat ini aku berjanji tidak akan bersedih lagi demi Sera dsn Samuel sahabatku...!" teriak Erina.


Adam tersenyum melihat Erina kembali bersemangat. Adam juga berjanji dalam hati jika ia juga akan bersemangat melangkah ke masa depan.


Adam menggandeng tangan Erina berjalan menuju mobil untuk pulang. Erina tersenyum melihat Adam yang memperlakukan dirinya seperti adiknya sendiri.


# # #


" Kak Arvan...!" teriak Erina.


" Kenapa, sayang? Jangan berteriak seperti itu..." sahut Arvan.


Arvan mengamati wajah istrinya nampak lebih segar dan tidak histeris seperti tadi di pemakaman.


" Kak_..."


" Ada apa, sayang...?"


Erina langsung mendekat ke arah suaminya lalu menciumi seluruh wajah hingga sampai leher. Arvan yang mendapat serangan tiba - tiba merasa heran dan geli dengan sikap aneh istrinya.


" Kak, Raka dimana...?" tanya Erina.


Erina menghentikan ciumannya lalu bersandar pada dada bidang suaminya dengan manja.


" Tadi ikut kak Willy, katanya mau menginap disana..." jawab Arvan dengan tersenyum.


" Kok menginap sih, kak...?"


" Biarkan saja, sayang. Raka ingin bertemu dengan Monica, sudah lama tidak bertemu..."


Erina mengerucutkan bibirnya membuat Arvan semakin gemas dengan tingkah istrinya.


" Ayo mandi, sayang. Kakak siapin air dulu buat berendam..." ujar Arvan.


" Erin malas mandi, kak..." sahut Erina manja.


" Duduk dulu..." titah Arvan.

__ADS_1


Arvan menuntun istrinya menuju ke sofa dan menyuruhnya untuk duduk diam disana. Setelah itu, Arvan menuju kamar mandi untuk menyiapkan air untuk mandi sang istri.


" Sayang, ayo cepat kemari..." titah Arvan dari depan kamar mandi.


Berkali - kali di panggil namun tak ada sahutan dari sang istri membuat Arvan harus mendekat.


" Astaga... kenapa malah tidur sih...?" gumam Arvan.


Arvan menatap wajah lelah istrinya namun tak nampak raut kesedihan tadi. Dengan jahil Arvan membuka seluruh pakaian yang dipakai sang istri. Karena tak ada pergerakan sama sekali, Arvan mengangkat tubuh istrinya ke tempat tidur.


" Maafkan papa, Nak. Papa rindu kepadamu, jadi papa akan menjengukmu sekarang..." seringai Arvan.


Saat hendak mencium bibir sang istri, tiba - tiba wanita di bawah kungkungannya itu menggeliat dengan mata terpejam.


" Kakak jangan mencari kesempatan...!" sungut Erina.


" Hehehee... kenapa bangun sayang? Kakak bisa melakukannya saat kau tertidur..." sahut Arvan dengan tersenyum.


" Kakak curang...!"


" Istriku sangat menggemaskan, jadi tidak tahan deh..."


" Erin mandi dulu, ya...?"


" Tidak usah, sayang. Nanti saja mandinya setelah olahraga..."


" Dasar pemaksa...!"


" Tapi suka, kan...?"


Erina mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami membuat Arvan semakin bersemangat.


" Pelan - pelan saja, aku tidak mau anak kita sakit..."


" Iya, sayang. Kakak akan melakukannya dengan lembut..."


# # #


" Ayah, kenapa sudah rapi...? Mau ke kantor...?" tanya Erina saat mereka selesai sarapan.


" Iya, Adam akan menyelidiki kasus Sera bersama Arvan dan William..." jawab Ayah.


" Erina masih bisa menghandle pekerjaan kantor sendiri, Yah. Ayah temani ibu saja di toko bunga..."


" Tidak, sampai kau mendapat sekretaris baru..."


" Nanti Erin cari orang di kantor, Yah. Erin tidak mau ayah kelelahan..."


" Ayah masih kuat untuk bekerja, Erin..."


Arvan tidak mau perdebatan semakin panjang lalu menggenggam tangan istrinya di bawah meja agar tidak berdebat lagi dengan sang ayah.


" Baiklah..."


Ibu hari ini juga tidak ke toko bunga karena ingin menemani ayah bekerja. Erina sangat senang karena mereka akan berangkat ke kantor bertiga.


" Raka tidak pulang, kak...?" tanya Erina.


" Sepertinya tidak, sayang. Biarkan saja, disana ada Monica dan Mommynya..." jawab Arvan.


" Baiklah, kalau begitu Erin berangkat duluan..." pamit Erina.


" Iya, sayang. Hati - hati, kalau ada apa - apa segera hubungi kakak..."


" Iya, tenang saja. Erin bisa jaga diri..."

__ADS_1


Setelah Erina dan orangtuanya pergi, Arvan masuk ke ruang kerja ayahnya diikuti Adam. Mereka mengambil senjata dan peralatan yang lain untuk penyelidikan nanti.


" Tuan, kita ke hotel dulu untuk mengecek cctv di malam Sera datang kesana. Mungkin ada bukti yang kita dapatkan..."


" Baiklah, Kak William dan Raka akan datang ke Apartemen untuk cek cctv disana..."


Setelah berbagi tugas, Arvan dan Adam segera pergi menuju hotel tempat Sera pernah menginap. Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di tujuan. Untung saja Adam mengenal pemilik hotel itu karena dua tahun yang lalu Adam pernah renovasi hotel tersebut.


" Tuan, saya sudah membuat janji dengan CEO hotel ini. Beliau sudah menunggu di ruangannya..." ucap Adam.


" Baiklah, kita jangan membuang waktu lagi..." sahut Arvan.


Adam menemui resepsionis untuk memberitahukan kedatangannya kepada CEO-nya. Sesaat kemudian, sekretaris hotel itu datang untuk mengantarkan Adam dan Arvan ke ruangan CEO.


" Mr. Adam, mari saya antar ke ruangan Mr. Henry..." ucap wanita itu lembut.


" Terimakasih, Nona..." sahut Adam tersenyum.


Sampai di ruangan CEO, Adam disambut hangat oleh Henry karena mereka adalah teman semasa kuliah.


" Adam, jarang sekali kau datang kesini? Apa kau sangat sibuk...?" sapa Henry.


" Benar, saya tak ada waktu untuk mendengar ocehanmu..." sahut Adam.


" Apa gadisku itu masih bersamamu...?"


" Gadis mana yang kau maksud...?"


" Clarissa, siapa lagi..."


Arvan hanya diam saja mendengar ocehan dua orang tidak bermutu di depannya.


" Jaga mulutmu, ada suaminya disini..." Adam menatap ke arah Arvan yang berdiri melihat piagam penghargaan hotel.


" Siapa dia...?"


" Arvan Sebastian, putra dari Tuan Regan Sebastian, suami Rissa. Jangan bicara ngelantur jika tak mau jadi sasaran pistolnya..."


" Huft... rupanya aku kurang beruntung dalam hal asmara..." ujar Henry terkekeh.


Arvan duduk di sofa lalu menatap Adam agar mempercepat urusan mereka.


" Maaf, Tuan. Kami teman lama yang jarang bertemu..." ucap Henry merasa bersalah.


" Tidak masalah, tapi kalian bisa reuni di lain waktu. Saya butuh bantuan Anda sekarang..." sahut Arvan.


" Apa yang bisa saya bantu...?" tanya Henry.


Adam menghela nafas panjang lalu duduk di samping Arvan.


" Aku ingin melihat rekaman cctv di hotel ini beberapa hari yang lalu..." ucap Adam.


" Untuk apa, itu privasi tamu di hotel ini...?"


" Ini tentang Sera, Hen...!" ujar Adam serius.


" Sera...? Ada apa dengan Sera...?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2