Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 56


__ADS_3

" Papa, lihat orang ini...!" teriak Raka.


" Siapa sayang...?" tanya Erina.


" Ini, Ma... ada seseorang yang mengikuti kita sejak kita masuk di area parkir taman..." jawab Raka.


" Coba sini mama lihat..."


Erina meminta laptop di pangkuan Raka yang duduk di jok belakang sedangkan Erina duduk di samping Arvan.


" Kak, apa kau mengenal orang ini...?" tanya Erina.


" Sepertinya tidak sayang, dia hanya orang bayaran saja..." jawab Arvan.


" Apa kita pulang ke rumah utama saja, kak...?"


" Tidak, aku tidak mau menambah masalah baru. Keselamatan kak Sandra juga bisa terancam sayang..."


" Terus kita harus gimana...?"


" Kita berangkat ke London malam ini..."


" Tapi, kak_..."


" Percayalah padaku, sayang. Jaga anak kita sampai aku kembali..."


" Aku khawatir dengan keselamatan kak Arvan disini..."


" Aku akan menikahimu saat aku kembali ke London nanti..." bisik Arvan seraya tersenyum.


Satu jam kemudian, mereka sampai di Apartemen. Arvan menggendong Raka yang terlihat lelah dan mengantuk.


" Sayang, tolong bawakan laptopnya, ya...?"


" Iya, kak..."


Sampai di dalam unit Apartemennya, Arvan merebahkan tubuh Raka ke tempat tidur.


" Sayang, kau juga harus istirahat. Tidurlah dengan Raka, aku mau ke ruang kerja sebentar..."


" Aku ikut ya, kak... Raka sudah tidur..."


" Iya, sayang... terimakasih sudah bersedia memaafkan aku yang sudah menyakitimu berulang kali..."


" Bolehkah aku memelukmu, kak...?"


Arvan tersenyum mendengar keinginan wanita terkasihnya itu. Terselip rasa bahagia yang siap meledak dari dalam nanubarinya.


" Tentu saja, sayang... semua yang aku miliki adalah milikmu sekarang. Aku serahkan seluruh hidupku untuk bisa membuatmu bahagia..."


Erina menangis seraya memeluk erat tubuh Arvan. Ada setitik rasa tak rela jika harus membiarkan Arvan menghadapi Selly sendirian.


" Kak, Erin mau tetap disini bersama kakak..."


" Sayang, aku tahu perasaanmu tapi inilah yang terbaik untuk kita bertiga..."


" Aku ingin kita selalu bersama ...!"


" Iya, sayang... I love you..." bisik Arvan.


Arvan mengikis jarak semakin rapat hingga keduanya saling menyatukan hati mereka lewat ciuman panas keduanya. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Erina membalas ciuman Arvan dengan ******* kecil di mulutnya.


" Maaf sayang, aku tidak bisa menahan rasa ini..." lirih Arvan.


" Sudahlah, tidak apa - apa kak. Aku mau menemani Raka istirahat..." sahut Erina pelan.


" Terimakasih, sayang... aku sangat bahagia hari ini. Kalian berdua adalah sumber kebahagiaanku..."


Erina menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Arvan yang membuatnya merasa sangat nyaman.


" Aku sangat mencintaimu, kak... jangan pernah tinggalkan kami apapun yang terjadi..." lirih Erina.


" Itu pasti sayang, aku akan selalu mencintaimu selamanya..."

__ADS_1


Erina melepaskan pelukannya lalu beranjak menuju tempat tidur menemani Raka istirahat. Dibelainya kepaka anak kesayangannya itu. Walaupun usianya masih balita namun kemampuannya melebihi orang dewasa. Ada rasa bangga sekaligus khawatir dalam hati Erina. Pekerjaan yang dilakukan anaknya berhubungan dengan nyawa yang harus dipertaruhkan.


Sementara itu, Arvan kembali membuka laptopnya di ruang kerja untuk menyelidiki orang yang telah mengikutinya seharian ini. Keselamatan Raka dan Erina berada di tangannya sekarang. Arvan harus ekstra waspada untuk melindungi orang - orang di sekitarnya.


" Siapa orang ini? Jangan - jangan dia mengikutiku sejak dari Apartemen. Aku tidak boleh lengah sedikitpun dalam menjaga mereka..." gumam Arvan.


Arvan mengecek cctv lainnya dan terkejut melihat orang yang dikenalnya.


" Selly... dia juga berada di tempat itu...?" batin Arvan.


Arvan menghubungi anak buahnya untuk berjaga - jaga di sekitar Apartemen dan juga mencari keberadaan Selly.


" Aku tidak mungkin bertindak jika Raka dan Erina masih ada disini. Seharusnya malam ini mereka kuantarkan ke London. Sulit sekali hati ini harus berpisah dengan mereka..." gumam Arvan.


# # #


Pagi - pagi sekali, Arvan, Erina dan Raka sudah bersiap untuk berangkat ke Bandara Soetta diantar oleh Hans. Sangat sulit membujuk Raka karena anak itu sudah terlalu dekat dengan sang papa.


" Sayang, ayo kita berangkat sekarang...?" ujar Arvan pada anaknya.


" Papa ikut kan?" tanya Raka.


" Iya, papa akan mengantarmu sampai di rumah kakek..."


" Papa tinggal di rumah kakek juga...?"


" Iya, papa akan tinggal bersama Raka dan mama. Sekarang kita berangkat biar tidak ketinggalan pesawat..."


" Janji...?"


" Huft... iya, papa janji, sayang. Udah, sekarang kamu panggil Uncle Hans untuk bersiap - siap..."


" Iya, Pa..."


Setelah Raka keluar dari kamar, Arvan menghampiri Erina yang sedang berdiri di balkon menikmati udara pagi yang masih terasa segar.


" Hey... apa kau melamun...?"


Arvan mengeratkan pelukannya di pinggang Erina seraya tersenyum.


" Udah siap untuk berangkat...?"


" Aku pasti akan merindukan tempat ini, kak..."


" Ayolah, sayang... ini hanya untuk sementara saja..."


" Jika nanti aku dan Raka merindukanmu, gimana...?"


" Kita bisa berkomunikasi setiap hari, kapanpun kalian butuh aku... aku pasti akan datang..."


" Janji...?"


" Hahahaa... kau ini persis seperti Raka, sayang..."


Arvan semakin erat mendekap tubuh kekasihnya seraya mengecup tengkuknya tanpa henti membuat Erina mendesah pelan. Arvan membalikkan tubuh Erina sehingga mereka saling berhadapan. Mata mereka saling beradu dengan tatapan yang sulit diartikan. Arvan mengikis jarak di wajah mereka saat Erina mulai menutup matanya. Bibir mereka menyatu seiring terbitnya sang mentari di ufuk timur. Mereka seakan melayang ke awan hingga lupa daratan.


Nafas Erina semakin habis karena pasokan oksigen yang semakin menipis. Arvan melepaskan ciumannya untuk memberi ruang bernafas untuk kekasihnya.


Arvan menurunkan ciumannya ke leher jenjang nan mulus itu hingga sang kekasih mengerang tertahan. Mereka hanyut dalam buaian asmara yang kian memuncak. Erina bahkan mencengkeram kuat punggung Arvan merasakan sensasi yang sangat luar biasa.


" Aakkh! Hentikan, kak...!" lirih Erina mendesah pelan.


" Aku benar - benar gila karenamu, sayang..." rintih Arvan.


Arvan mendorong tubuh Erina hingga menghimpit ke dinding. Arvan benar - benar tak bisa menahannya kali ini.


" Tolonglah aku, sayang..." racau Arvan.


Erina hanya bisa pasrah saat tubuh bagian bawah Arvan menempel tepat di area sensitifnya. Arvan berusaha untuk melepaskan hasratnya walaupun hanya lewat gesekan yang masih tertutup pakaian rapi.


Semakin lama Arvan meracau dan meraih apa saja yang bisa di genggamnya untuk menuntaskan hasratnya yang sebentar lagi siap meledak.


" Aakkhhh...!!!"

__ADS_1


Arvan merosot ke lantai saat merasakan bagian bawahnya sangat basah. Erina hanya bisa pasrah dan juga ikut duduk di lantai karena tubuhnya juga ikut lemas karena permainan Arvan yang membuat nafasnya tersengal.


" Terimakasih, honey... I love you..." bisik Arvan seraya tersenyum.


" Cepatlah mandi, kak... sebentar lagi kita berangkat..."


" Kalau seperti ini, rasanya aku tak sanggup jauh darimu sayang..."


" Bukankah kau sendiri yang mengusirku pergi dari sini...?"


" Hahahaa... bukannya mengusir sayang, aku hanya ingin menyelamatkan kalian..." Arvan tertawa kecil seraya mengacak rambut sang pujaan hatinya.


" Cepatlah mandi, sudah basah semua tuh...!" ledek Erina.


" Ini semua gara - gara kamu, sayang..." sahut Arvan tersenyum.


" Kok Erina yang salah...?"


" Habisnya kamu ini sangat menggoda, mana bisa aku menahannya jika terus berada di dekatmu..."


" Ish... alasan saja! Sudah berapa banyak perempuan yang merasakan milikmu...?" cibir Erina.


" Kenapa bicara seperti itu, milikku hanya akan berlabuh dalam satu ruang saja, yaitu milikmu..."


" Benarkah...?"


" Tentu saja, aku baru menggunakannya sekali bersamamu lima tahun yang lalu. Dan aku akan melabuhnya lagi nanti bila kesempatan itu tiba..." seringai Arvan dengan senyuman devilnya.


" Ish... pergi sana! Dasar mesum...!"


" Hahahaa... ya udah, aku mandi dulu sebentar..."


Arvan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dengan cepat karena perjalanan menuju Bandara lumayan jauh.


Lima belas menit kemudian, mereka berempat sudah bersiap di dalam mobil untuk berangkat ke Bandara. Raka merasakan ada yang mengikutinya lagi seperti kemarin. Anak itu sering menoleh ke belakang untuk mencari sosok misterius itu.


" Raka, kamu kenapa...?" tanya Hans.


" Ah, tidak apa - apa Uncle... teruslah jalan, tolong lebih cepat lagi ya..."


" Siap Tuan Muda..." seloroh Hans.


" Uncle harus hati - hati ya? Jangan terlalu dekat dulu dengan tante Delia..."


" Memangnya kenapa...?"


" Uncle Hans tidak bisa menjaga tante Delia sepanjang hari. Jika musuh tahu Uncle dekat dengan seseorang, dialah yang akan jadi sasaran musuh..."


" Kamu benar juga, boy... aku harus berhati - hati..."


Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tidak terjebak kemacetan. Dia juga memikirkan ucapan Raka barusan tentang keselamatan Delia.


Satu jam perjalanan, mereka sampai di Bandara lalu Arvan melakukan chek in paspor miliknya juga milik Erina dan Raka.


" Sayang, semuanya sudah beres. Kita langsung masuk ke dalam pesawat..." ujar Arvan.


" Iya, kak..."


" Kalian hati - hati, tetap waspada disana. Semoga Selly tidak mengejar sampai disana..." ucap Hans.


" Kakak juga hati - hati disini, jaga kak Delia dengan baik..."


" Siap Nyonya Sebastian..."


Saat mereka bertiga hendak masuk ke dalam pesawat, tiba - tiba ada seseorang yang berteriak memanggil Erina.


" Erina... tunggu...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2