
Pagi hari yang cerah, Hans sudah berkutat di dapur untuk membuat sarapan. Delia yang baru bangun tak mendapati sang kekasih di sampingnya.
" Hans...!" Delia keluar kamar mencari Hans ke dapur.
" Sayang... kau sudah bangun...? Mandilah dulu biar tidak telat ke rumah sakit..."
" Kamu jadi batalin jadwal Reno ke Surabaya...?"
" Cium dulu sebelum aku jawab..." goda Hans.
" Jawab dulu sebelum aku cium..." sahut Delia.
Hans mendekati Delia dengan tersenyum. Gadis itu diangkatnya lalu didudukkan di atas meja makan.
" Aku akan melakukan apapun untukmu, sayang..."
" Janji...?"
" Iya, aku pasti akan kabulkan apapun permintaanmu..."
" Ya udah... sekarang gendong aku sampai kamar mandi..."
" Sesuai titah tuan puteri, hamba laksanakan..."
Hans mengangkat tubuh sang kekasih menuju kamar mandi seraya menciuminya sengan gemas.
" Mau dimandikan sekalian...?" tanya Hans.
" Tidak, keluarlah...!" jawab Delia.
" Baik, Nona... saya akan menyiapkan pakaian Anda..." ucap Hans layaknya seorang pelayan.
Usai mandi dan sarapan, Hans dan Delia segera berangkat ke rumah sakit. Tapi sebelum itu, Hans mampir dulu ke Apartemennya untuk berganti pakaian.
" Hans, aku tunggu disini saja ya...?" ucap Delia.
" Sayang... bisakah kau memanggilku dengan kata yang lebih romantis...?" pinta Hans.
" Maksudnya...?"
" Panggil dengan sayang, honey, hubby atau yang lainnya..."
" Ish... aku malu..."
" Malu sama siapa...?"
" Hans_..."
" Apaa...?"
" Iya... iya... sayang..." ucap Delia pelan.
" Sekali kamu panggil dengan namaku, aku akan menciummu sepuluh kali tiap nama..."
" Tapi aku malu kalau di dengar orang..."
" Ya udah, kalau lagi berdua aja gimana...?" usul Hans.
" Ok! Aku setuju..." jawab Delia seraya tersenyum.
Delia menunggu Hans di dalam mobil karena malas untuk naik ke lantai 15. Sepuluh menit kemudian Hans sudah berada disamping Delia.
" Maaf sayang, nunggu lama ya...?"
" Tidak, Hans... ayo berangkat..."
" Yes...!" tiba - tiba Hans berteriak kegirangan.
" Kamu kenapa...?" tanya Delia heran.
" Sudah siap menerima hukumanmu...?" seringai Hans dengan mata berbinar.
" Astaga... aku lupa...!" Delia menutup mulut dengan kedua tangannya.
__ADS_1
" Sudah siap, honey...?" bisik Hans.
" Jangan sayang, aku beneran lupa..." rengek Delia.
" Kau tidak bisa menolaknya..."
" Maafkan aku..." lirih Delia menghiba.
" Huft...! Baiklah, kali ini aku memaafkanmu tapi tidak untuk kesalahan kedua dan seterusnya..." ucap Hans pasrah.
# # #
Arvan, Erina dan Raka sedang bersiap meninggalkan rumah sakit.
" Sayang, sudah siap untuk pulang...?" tanya Arvan.
" Sudah, kak... tapi jangan panggil aku seperti itu..." jawab Erina datar.
" Memangnya kenapa? Aku sangat menyayangimu..."
" Nggak enak di dengar orang, kita tidak ada hubungan apa - apa..."
" Oh... kamu pengen hubungan kita diperjelas...? Jangan khawatir, aku akan segera menikahimu secepatnya..."
Erina hanya diam dan tak menanggapi ucapan Arvan. Raka yang sudah siap untuk pulang langsung menyumpal kedua telinganya dengan handset supaya tidak mendengar perdebatan orangtuanya.
" Udah ah, malu sama anak...!"
" Nggak usah malu, aku mencintaimu sayang..." bisik Arvan.
" Papa... Mama... ayo pulang!" teriak Raka.
" Eh, iya sayang... jangan teriak - teriak begitu dong..." sahut Arvan dengan tersenyum seraya mencuri ciuman di pipi Erina.
" Kak_...!"
" Jangan mendesah di depan anak dibawah umur..." bisik Arvan.
Arvan merasa gemas dengan wajah cemberut wanitanya itu. Bibirnya yang mengerucut membuat Arvan semakin kelimpungan menahan hasrat.
Arvan menggendong Raka dan juga menggandeng Erina keluar dari ruang perawatan. Mereka terlihat seperti keluarga yang harmonis.
" Sayang, nanti setelah antar kamu dan Raka... aku ke kantor ya? Sudah lama aku meninggalkan pekerjaanku..."
" Iya, tapi pulangnya jangan malam - malam ya...? Nanti aku dan Raka kesepian di rumah..."
" Aku pasti cepat pulang..."
Kini mereka sudah sampai di pelataran Apartemen milik Arvan. Lagi - lagi Arvan menunjukkan kepedulian dan kasih sayangnya untuk Raka dan Erina.
" Pa, Raka lapar...!" rengek Raka.
" Iya, nanti papa masak buat kalian..."
" Katanya mau ke kantor, kak...?" tanya Erina.
" Nanti saja setelah Raka makan..." jawab Arvan seraya tersenyum.
Sampai ke unit Apartemen miliknya, Arvan menekan password untuk membuka pintu.
" Pa, Raka ke kamar dulu ya...?" pamit Raka.
" Iya sayang, sekalian mandi ya..."
" Iya pa..."
Setelah Raka masuk kamar, Arvan mengajak Erina duduk di sofa ruang tamu.
" Sayang, kamu nggak istirahat dulu dikamar...?"
" Nanti saja kak, masih pengen disini..."
Arvan mendekatkan wajahnya ke wajah Erina. Arvan tak pernah merasa puas memandang wajah cantik di hadapannya.
__ADS_1
" Kamu semakin cantik sayang, I love you..." bisik Arvan.
" Ihh... jangan gombal, katanya mau masak...?" sahut Erina tertunduk malu.
Kedua pipi Erina tampak merona membuat Arvan semakin tidak bisa menahan sesuatu dalam dirinya.
" Sayang... ijinkan aku sebentar saja memandang wajahmu hingga tanpa jarak. Aku sangat merindulanmu..."
Tidak tahu mengapa, Erina tidak mampu menolak keinginan Arvan. Erina mengalungkan kedua tangannya ke leher Arvan saat bibir keduanya menyatu. Arvan semakin memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk Erina dengan satu tangannya dan tangan satunya lagi meraba punggung wanitanya dengan lembut.
Arvan semakin tak terkendali dan menginginkan yang lebih dari itu. Tangannya mulai meraba ke area sensitif Erina yang membuat wanita itu perlahan mendesah.
" Kak Arvan_..." lirih Erina.
Tak hanya di bibir, bahkan Arvan juga menyesap leher jenjang Erina hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.
" Aakkkh...!" rintih Erina.
Arvan merebahkan tubuh Erina ke sofa dan segera mengungkungnya dengan penuh hasrat. Erina hanya bisa pasrah saat Arvan kembali mendaratkan ciumannya pada lehernya.
" Papaaa...!" teriak Raka yang baru keluar dari kamar.
Erina dan Arvan sangat terkejut hingga tanpa sadar Erina mendorong tubuh Arvan dengan keras. Arvan yang tidak siap langsung terjungkal ke lantai dengan kepalanya terantuk pada meja di sampingnya.
" Auwww...!" rintih Arvan.
" Ra... Raka mau apa...?" tanya Erina gugup.
" Papa ngapain tiduran di lantai...?" ucap Raka polos.
" Tidak apa - apa, papa cuma lagi pijitin mama tadi..." seloroh Arvan.
" Makanannya mana, pa...?"
" Papa beli dulu di resto depan ya...? Kelamaan kalau harus masak..."
" Iya pa, Raka ikut ya...?"
" Kamu temenin mama saja, biar papa yang beli makanannya sendiri..."
" Tapi kak Arvan tidak apa - apa...?"
Erina mengusap kepala Arvan yang tadi terantuk pinggiran meja dengan wajahnya yang nampak khawatir.
" Tidak apa - apa honey, it's oke...!"
" Really...? Kurasa itu cukup keras loh, Kak...?"
" I'm fine, honey... jangan khawatirkan aku..."
Setelah mencium pipi Erina sekilas, Arvan segera keluar untuk membeli makanan.
Erina menghela nafasnya pelan menyadari kebodohannya yang sudah membiarkan tubuhnya disentuh lagi oleh Arvan. Tapi Erina juga tak mampu menolak dengan pesona dan kelembutan lelaki yang dulu telah menorehkan luka padanya.
" Tidak, Erina...! Kau tidak boleh melakukan itu lagi tanpa status yang jelas di antara kalian...!" rutuk Erina dalam hati.
" Raka, kamu udah mandi ya...? Mama mau mandi sebentar, kamu jangan kemana - mana tetap disini..."
" Iya, Ma..."
Sementara Erina sedang membersihkan diri, Raka membuka laptopnya untuk memeriksa email yang masuk. Ternyata banyak sekali email yang dikirimkan oleh William semalam. Sepertinya ada kasus baru yang sulit untuk mereka pecahkan.
Raka sangat fokus dengan laptopnya sehingga tidak ada ada seseorang yang telah duduk disampingnya.
" Apa yang kau lakukan...?"
.
.
TBC
.
__ADS_1
.