Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 21


__ADS_3

" Kita dimana Kak...?" tanya Rissa sambil mengucek matanya.


" Ayo turun, kamu juga pasti sangat mengenal tempat ini..." ujar Arvan seraya tersenyum.


Setelah membayar ongkos taksi, mereka turun dari taksi. Erina sangat terkejut karena Arvan membawanya ke sebuah pemakaman tempat ibunya di makamkan.


" Kak Arvan punya keluarga yang dimakamkan disini...?" tanya Erina.


" Iya, ayo ke dalam..."


Arvan menggendong Raka dan merangkul bahu Erina karena mereka berdua masih mengantuk, kesadarannya belum terkumpul. Arvan berhenti di depan dua makam, yang satu sudah lama dan satunya masih baru.


" Erin, lihatlah mereka! Apa kau tidak merindukannya...?" ucap Arvan.


Erina yang masih bersandar di bahu Arvan mulai membuka matanya dan terkejut melihat nama pada dua pusara di hadapannya.


" Ayah... Ibu..." ucap Erina terkejut.


Erina langsung duduk bersimpuh di depan makam kedua orangtuanya. Airmata tak bisa dibendung lagi mengingat bahwa sekarang dia benar - benar telah menjadi yatim piatu.


" Ibu, maafkan Erina. Lima tahun Erina pergi dan tak pernah mengunjungi Ibu..." Erina terisak hingga membuat Raka ikut menangis.


" Erina, kenapa harus menangis. Orangtuamu sudah bahagia diatas sana. Tersenyumlah untuk mereka, ikhlaskan kepergian mereka..."


Arvan mencoba menghibur Erina yang kini sangat terpuruk. Wanita yang sangat membencinya itu kini tak mampu untuk menolak pelukan hangatnya.


" Bagaimana kau tahu Ibu dan Ayah disini...?" tanya Erina.


" Karena selama lima tahun ini aku selalu menunggumu disini hampir tiap minggu..." jawab Arvan.


" Kau mengenal keluargaku...?"


" Duduklah dulu dengan benar biar kakimu tidak kram, aku tidak akan kuat menggendong kalian berdua bersamaan..." gurau Arvan.


Mereka kini duduk berselonjor kaki di samping makam orangtua Erina tanpa alas apapun.


" Aku ingin kaumenceritakan semuanya tentang Ayahku. Bagaimana beliau bisa meninggal..." pinta Erina.


" Ceritanya tidak berawal dari situ Erina, cerita dimulai beberapa jam sebelum kau menolongku dijalanan..." ucap Arvan seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Papa... Mama... disini panas..." rengek Raka karena saat ini matahari sangat terik.


" Astaga, Papa sampai lupa. Ayo kita cari tempat yang nyaman buat duduk..."


" Raka mau pulang Pa, ngantuk..."


" Kita pulang saja Kak..." ajak Erina.


" Ya sudah, nanti kita lanjutkan di rumah..." ucap Arvan.

__ADS_1


" Mama, gendong..." rengek Raka manja.


" Sama papa saja, sayang. Mama pasti lelah kalau harus gendong Raka..."


" Tidak apa - apa, Raka kalau lagi ngantuk memang seperti ini..."


Mereka kembali naik taksi untuk pulang ke rumah Arvan. Raka sangat bersemangat untuk segera pulang dan tidur ditemani kedua orangtuanya.


Sampai di rumah, suasana masih nampak lengang. Hanya ada para pelayan di dalam rumah. Arvan mengajak Erina dan Raka ke kamarnya.


" Kak, apa tidak ada kamar lain untukku...?" tanya Erina.


" Maaf, sebenarnya ada... tapi saudara Ibu ada beberapa orang yang akan menginap disini malam ini. Dan semua kamar sudah terisi penuh. Kamu tidak keberatan kan tidur disini dengan Raka...?"


" Tidak usah, saya bisa cari hotel saja dengan Raka..."


" Erina, aku mohon... biarkan Raka istirahat dulu. Kamu juga istirahat, aku bisa tidur di kamar kak Ricko..." ucap Arvan.


" Jangan Kak, ini kamarmu. Saya tidak berhak atas kamar ini..."


" Bagaimana kalau kita bertiga tidur disini...?" usul Arvan.


" Tidak...! Aku nggak mau sekamar denganmu..." ketus Erina.


" Mama, papa... ayo tidur..." rengek Raka.


" Iya sayang, ayo kita tidur..." sahut Arvan.


" Mama... ayo tidur di samping Papa, kita tidak pernah tidur bertiga..." rengek Raka lagi.


" Tidak sayang, Mama_..."


Arvan kembali bangun lalu mendekati Erina lagi. Diraihnya tangan Erina supaya mereka lebih dekat. Wanita itu ingin sekali memberontak, namun taapan menghiba Raka membuat Erina terpaksa mengikuti kemauan sang putra kesayangannya.


" Jangan ada kesedihan lagi di hati Raka, sudah cukup apa yang dia alami selama ini..." bisik Arvan pada Erina.


Erina pasrah pada permintaan anaknya. Dia tidak ingin Raka kabur lagi seperti tadi. Erina naik ke tempat tidur diikutii Arvan disampingnya.


" Kak, kenapa tidak di samping Raka sana...?"


" Karena kami berdua akan menjagamu, bukan hanya sekarang tapi untuk selamanya..." ucap Arvan lembut.


" Jika bukan karena Raka, aku tidak mau dekat denganmu...!" ketus Erina.


" Aku akan buktikan jika cintaku padamu itu tulus, Erin..."


Lagi - lagi Raka merengek minta di peluk papanya padahal posisinya Erina sekarang berada di tengah. Jadi, dengan sangat terpaksa Erinapun ikut dipeluk oleh Arvan.


" Maaf Erin, aku tidak bisa menolak keinginan Raka..." bisik Arvan.

__ADS_1


Erina hanya terdiam sambil memeluk Raka dan tubuhnya yang ramping ini dipeluk oleh Arvan dari belakang dengan erat. Tubuh mereka benar - benar tak ada jarak sedikitpun hingga membuat jantung keduanya berpacu dengan cepat. Aroma mawar dalam tubuh Erina mengusik pertahanan Arvan yang selama ini sangat merindukan wanita yang saat ini dalam dekapannya. Begitu pula dengan Erina, hangatnya pelukan Arvan membuatnya hatinya terasa tenang dan nyaman. Tanpa mereka sadari, Raka sudah tertidur pulas dengan sedikit senyum di bibirnya.


" Raka sudah tidur, lepaskan pelukanmu...!" ucap Erina ketus.


" Oh iya, maaf Erin..."


Arvan melepaskan pelukannya pada Raka, namun berpindah merengkuh tubuh wanita yang selama lima tahun ini mengusik hatinya.


" Lepaskan...!" pekik Erina pelan.


" Biarkan seperti ini sebentar, aku sangat merindukanmu juga anak kita. Aku mohon, biarkan aku bertanggungjawab atas perbuatanku dulu kepadamu..." ucap Arvan menghiba.


" Tidak, aku sudah bahagia hidup berdua dengan Raka. Besok pagi aku akan kembali ke London bersama Raka..."


" Jangan tinggalkan aku lagi Erin, aku tidak bisa hidup tanpa kalian berdua..."


" Kau sudah menghancurkan hidupku, apalagi yang kau inginkan dariku...?"


" Aku tidak sengaja melakukannya sayang, semua itu di luar akal sehatku..."


" Bohong! Aku tidak akan tertipu lagi dengan ucapanmu..."


" Percayalah Erin, demi anak kita... jangan pergi, tetaplah bersamaku. Aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu..." Arvan kembali menghiba pada Erina.


Sungguh saat ini Arvan sangat bahagia dapat menemukan wanita yang sangat dicintainya dan juga putra mereka. Arvan akan berjuang untuk mendapatkan hati Erina demi anaknya, Raka.


Arvan tahu apa yang tengah dialami Raka saat ini. Anak itu enggan bermain dengan teman sebayanya karena ternyata semua orang selalu membully dirinya yang tidak memiliki seorang papa. Arvan tidak mau psikis Raka berdampak hingga dewasa nanti. Dia harus bisa meyakinkan Erina untuk hidup bersama demi kebahagiaan putra mereka.


" Lepaskan pelukanmu kak...!" Erina mencoba meronta namun dekapan Arvan lebih kuat.


" Erina, berjanjilah kita akan menjalani kehidupan ini bersama demi anak kita..."


" Tidak, aku tidak mau menjalani seluruh hidupku dengan orang yang sudah menghancurkan kehidupanku...!"


" Erina, aku akan menceritakan kejadian yang sebenarnya mengapa aku bisa melakukan itu padamu..."


Arvan menarik paksa tubuh Erina hingga sekarang mereka saling berhadapan. Mata mereka saling beradu dan mengunci. Erina merasakan tatapan sayu Arvan yang membuat tubuhnya seakan tak berdaya. Dia segera memejamkan matanya untuk menetralkan detak jantungnya. Tanpa mereka sadari, bibir mereka sudah saling terpaut entah sejak kapan. Arvan meluapkan segala kerinduannya dengan ******* bibir wanita yang kini berada di bawah kungkungannya dengan lembut.


Setelah cukup lama melakukan itu, Arvan melepaskan pagutannya dan segera merebahkan kembali tubuhnya disamping Erina. Erina yang baru menyadari apa yang barusan terjadi, wajahnya merona merah bak tomat rebus. Dia tidak percaya pada dirinya sendiri yang telah menerima ciuman dari lelaki yang sangat dibencinya itu.


" Maafkan aku, aku tidak bisa mengontrol kerinduanku padamu..." ucap Arvan.


" Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2