Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 86


__ADS_3

Raka dan Hans sudah sampai di kantor Arvan. Mereka segera masuk ke ruangan Arvan. Raka berlari menghampiri papanya yang sedang serius dengan berkas di tangannya.


" Papaaa...!" sapa Raka.


" Hei... sayang, kok kesini? Bukannya istirahat di rumah..." sahut Arvan.


" Mama dimana, pa...?"


" Ada di ruangan Uncle Hans..."


" Raka cari mama dulu ya...?"


" Iya, ruangannya ada di sebelah kanan ruangan papa ini..."


" Thank you, papa..."


" Sama - sama, sayang..."


Raka segera keluar dari ruangan papanya lalu menuju ruangan Hans. Disana terlihat mamanya sedang sibuk membantu memeriksa berkas - berkas yang biasanya dikerjakan oleh Hans.


" Mamaa...!"


" Raka, kamu sama siapa kesini...?"


" Sama Uncle Hans, Ma. Sekarang ada di ruangan papa..."


" Kamu duduk dulu, ada beberapa berkas yang harus mama selesaikan..."


" Ok, Ma..."


Raka membuka ponsel pintarnya untuk bermain game kesukaannya di tengah kesibukannya bekerja.


Jam makan tiba, Hans memesan beberapa porsi makanan untuk mereka. Mereka semua berkumpul di ruangan Arvan untuk makan siang bersama. Selesai makan, Erina dan Sandra merapikan tempatnya kembali rapi seperti semula.


" Erin, tadi saya dan Raka datang ke rumahmu..." ucap Hans.


" Kak Hans ngapain kesana...?" tanya Erina.


" Anakmu tuh yang minta diantar kesana...?"


" Raka, untuk apa kau kesana...?" Arvan menatap tajam anaknya.


" Raka hanya mau cek rumah itu saja, pa..." jawab Raka.


" Papa tahu maksud kedatanganmu kesana. Jadi, jangan pernah mendekati rumah itu lagi..." hardik Arvan.


" Sudah, kak. Jangan marahi Raka..." ucap Erina.


" Memangnya kau tidak tahu jika tempat itu mungkin berbahaya...!"


Semua terdiam melihat amarah Arvan. Jika sudah seperti ini, tidak ada lagi yang berani membantah. Bahkan Ricko yang lebih tua dari diapun tidak berani untuk sekedar menasehati.


Raka yang memang menuruni sifat papanya itu juga terlihat marah dan segera berlari meninggalkan ruangan Arvan dengan membanting pintu sangat keras.


" Rakaa...!" teriak Erina.


Erina menyusul Raka, namun anak itu sudah lebih dulu masuk ke dalam lift. Erina segera melepas heels yang di pakainya lalu mengejar Raka lewat tangga darurat.


" Erin, tunggu...!"


Semua ikut keluar untuk mengejar Raka dan Erina. Arvan langsung mengejar Erina yang turun lewat tangga darurat.

__ADS_1


" Sayang, tunggu...!" teriak Arvan.


Erina terus saja berlari untuk bisa sampai dibawah lebih cepat daripada Raka. Saat sampai dibawah, ternyata Raka sudah tidak ada di lobby. Mungkin anak itu sudah keluar dari gedung perkantoran.


Erina berlari hingga ke jalan raya, namun anak itu sudah tak terlihat lagi.


" Raka, kau pergi kemana...?" ucap Erina lirih seraya menangis.


" Sayang, Raka pasti baik - baik saja. Mungkin dia pulang ke rumah..." hibur Arvan.


" Kau jahat! Aku sangat membencimu...!" teriak Erina.


" Erina, tenanglah. Kita cari Raka sama - sama..."


" Pergi, aku tidak butuh bantuanmu...!"


" Sayang, aku minta maaf. Jangan marah seperti ini, kita cari Raka sekarang..."


" Pergi! Aku bisa cari Raka sendiri...!"


Erina segera menyetop ojek yang lewat di depannya tanpa menghiraukan Arvan yang membujuknya.


" Erina, jangan pergi...!" teriak Arvan frustasi.


" Van, dimana Raka dan Erina...?" tanya Hans.


" Mana kunci mobilmu...?" ujar Arvan.


" Ini_..."


Arvan langsung menyambar kunci mobil di tangan Hans dan segera lari ke tempat parkir.


" Keluarga gila...!" umpat Hans dalam hati.


Erina terus berkeliling kota untuk mencari keberadaan Raka. Hingga dua jam lamanya berkeliling, Erina tak juga menemukan putranya.


" Neng, kita sudah berputar - putar dari tadi. Apa ada tujuan yang yang mungkin akan dikunjungi putra Anda...?" tanya tukang ojeknya.


" Saya tidak tahu, pak. Anak saya tidak mengenal kota ini dengan baik..."


" Sangat susah kalau seperti itu, Neng..."


Di tempat lain, Arvan juga berputar - putar mengelilingi kota mencari Erina dan Raka. Laki - laki itu frustasi memikirkan anak istrinya yang menghilang entah kemana.


" Sayang, kalian dimana...?" gumam Arvan dengan sendu.


" Maaf, lagi - lagi aku menyakiti hati kalian..." batin Arvan dengan perasaan bersalah.


Saat melewati sebuah taman, Arvan melihat istrinya sedang bersama seorang pengendara sepeda motor. Arvan segera menepikan mobilnya di depan Erina dan segera turun dari mobil.


" Sayang, kau tidak apa - apa kan...?" Arvan langsung memeluk istrinya dengan erat.


" Lepaskan! Pergi dari sini...!" teriak Erina.


Arvan melepaskan pelukannya lalu mengambil dompet di saku jasnya kemudian memberikan sejumlah uang kepada tukang ojek.


" Bapak bisa pergi, ini istri saya..." ujar Arvan.


" Baiklah, saya permisi..." jawab tukang ojek itu.


Setelah tukang ojek itu pergi, Arvan mengajak Erina untuk masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


" Sayang, maaf ya... harusnya aku tidak marah pada Raka..." ucap Arvan menghiba.


" Apa dengan minta maaf Raka langsung kembali...!" sahut Erina marah.


" Aku tahu ini semua salahku, sayang. Aku janji akan mencari Raka sampai ketemu..."


Hati Arvan terasa perih melihat airmata kesedihan di wajah istrinya. Ingin sekali Arvan menghapus airmata di wajah cantik istrinya, namun dia takut sang istri semakin marah.


" Raka tidak pernah mematikan ponselnya walaupun sedang marah..." kata Erina lirih.


" Kita pasti menemukannya, sayang..."


" Aku takut terjadi apa - apa dengan Raka, kak..."


" Iya, sayang. Aku juga khawatir dengan anak kita..."


Arvan menarik tubuh Erina dalam dekapannya. Rasa bersalahnya cukup besar terhadap istri dan anaknya.


" Maaf, aku hanya memberikan luka dan derita untuk kalian. Sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakiti hati kalian. Aku hanya tidak mau kalian hidup dalam bahaya..."


" Raka itu anaknya tidak bisa dibentak, dia lebih menghargai orang yang berbicara halus padanya. Pasti butuh waktu yang lama untuk dia mau dekat lagi denganmu..."


" Apa Raka tidak akan memaafkanku...?" ucap Arvan sendu.


Airmata Arvan langsung luruh begitu saja. Dia tidak bisa membayangkan jika anak yang sangat disayanginya akan membencinya. Seandainya sang waktu bisa diulang kembali, Arvan pasti tidak akan membentak anak kesayangannya itu.


" Hatinya tidak bisa ditebak, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan nanti. Biasanya hanya ibu yang bisa meluluhkan hatinya..." jawab Erina.


" Tidak masalah jika Raka masih membenciku asalkan dia masih bersama dengan kita. Mungkin karena kami terpisah cukup lama, aku tidak tahu bagaimana sifat Raka yang sebenarnya. Aku sungguh menyesal dengan semua yang kalian alami selama ini, sayang..." Arvan menggenggam erat jemari istrinya.


" Jalan...! Kita harus temukan Raka secepatnya. Kami tidak punya siapa - siapa disini..." tutur Erina datar.


" Baiklah, kemana tujuan kita selanjutnya...?"


" Makan orangtuaku. Disana adalah satu - satunya tempat yang bisa membuatku tenang..."


" Iya, sayang. Mudah - mudahan setelah kita pulang dari pemakaman orangtuamu, Raka bisa kita temukan..."


Arvan kembali melajukan mobilnya menuju pemakaman orangtua Erina. Sepanjang perjalanan mereka saling diam dengan pikiran masing - masing.


Setengah jam kemudian, Arvan dan Erina sampai di pemakaman. Erina langsung bergegas ke pemakaman dengan seikat mawar putih di tangannya.


" Ayah, Ibu... Erina datang. Bagaimana kabar kalian...? Erina tidak membawa Raka hari ini, Erina tidak bisa menjaganya dengan baik sehingga dia kabur..." ucap Erina seraya menangis.


Arvan hanya bisa diam seraya menopang tubuh istrinya agar tidak jatuh. Terlihat gurat kesedihan dari sorot mata Erina.


" Sayang, jangan menangis lagi. Jangan membuat ayah dan ibu ikut sedih dengan keadaanmu saat ini. Beliau pasti sedang tersenyum diatas sana walaupun tak bisa menyentuhmu lagi..."


Sementara semua orang sedang panik mencarinya, anak kecil itu dengan santai masuk ke dalam rumah seseorang yang dia kenal sangat baik.


" Raka...! Sejak kapan kau datang, Nak...!


" Baru saja datang, ibu bolehkah aku menginap disini malam ini..."


" Apa kamu ada masalah, Nak...?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2