Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 48


__ADS_3

" Sayang, aku tidak pernah bohong padamu terutama tentang perasaan cintaku padamu..." bisik Arvan.


Wajah mereka hampir tak berjarak saat tiba - tiba pintu ruangan itu terbuka dengan keras.


" Papa... Mama...!" pekik Raka.


Keduanya sangat kaget dan Arvan langsung menjauhkan tubuhnya dari Erina.


" Sayang, kamu kesini sama siapa...?" tanya Arvan.


" Sama pengawal di rumah, pa..."


" Harusnya kau telfon papa atau Uncle Hans, sayang..."


" Mama sudah sembuh...?"


Raka naik ke atas brankar di bantu oleh papanya. Erina tersenyum melihat Raka baik - baik saja.


" Mama tidak apa - apa sayang..."


" Raka punya hadiah buat mama..." ucap Raka tersenyum.


" Hadiah apa, Raka...?"


Raka mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku jaketnya. Anak itu memang sangat menyukai jaket dan sweather jika sedang bepergian.


" Nih buat Mama...!"


" Apa ini...? Pasti isinya bukan uang kan...?" gurau Erina.


" Buka saja, Ma..."


Erina membuka amplop itu dan melihat ada dua lembar foto. Erina langsung menangis begitu melihat foto itu.


" Sayang, darimana kamu mendapatkan ini...? Mama tidak pernah melihat ini sebelumnya..." ungkap Erina seraya menangis.


Erina menatap foto Ayahnya bersama dengan seoang wanita yang kata Raka itu adalah ibunya. Foto satu lagi, Ayahnya bersama seorang bayi kecil dalam gendongannya.


" Ini Raka temukan di brankas kakek di ruang kerjanya, Ma..."


" Mama tidak pernah tahu kakekmu begitu sayang pada mama..."


" Raka juga sayang sama mama..." ucap Raka memeluk Erina.


" Papa juga sayang mama dan Raka..." ujar Arvan lembut.


Arvan memeluk keduanya penuh kasih sayang seraya mencium pipi gembul Raka.


" Kok mama nggak dicium pa...?" celoteh Raka.


" Hehehee... nanti aja kalau Raka udah tidur, soalnya kalau cium mama itu harus lama..." gurau Arvan.


" Apaan sih, pa...!" sungut Erina merona.


Wajah Erina nampak memerah menahan malu. Arvan yang melihatnya tersenyum lalu mengecup kening wanita itu dengan lembut tanpa meminta ijin terlebih dahulu.


" Kak, jangan lakukan itu...!" omel Erina.


" Cuma sedikit sayang..." sahut Arvan tersenyum.


Raka yang berada dalam dekapan Erina telah tertidur pulas karena kelelahan. Kejadian hari ini begitu menegangkan, membuat kacau ketenangan hati.


" Kak, bisakah kita pulang sekarang...?" tanya Erina.


" Besok ya, sayang... biar lukanya sedikit mengering dulu..." jawab Arvan.


" Aku tidak mau terus - menerus berada disini..." rengek Erina.


" Sayang, malam ini aja... besok kita pulang.. " bujuk Arvan.


" Erin merasa nggak nyaman di tempat ini, kak...!"

__ADS_1


" Sabar ya sayang, cuma semalam saja..."


" Tapi kak_..."


" Sudah, jangan membantah. Ada yang mau aku tanyakan padamu..."


" Soal apa...?"


" Bagaimana Raka bisa masuk ke ruang kerja Ayahmu...?"


" Saya juga tidak tahu, kak... beberapa waktu lalu saat masih berada di London, aku cek posisi terakhir Raka di ponselnya. Aku begitu terkejut saat melihat keberadaan Raka ternyata di rumah Ayah. Maka dari itu, aku bergegas kesini untuk menyelamatkannya..."


" Kenapa Raka nekat masuk rumah Selly...?"


" Dia ingin menyelidiki soal tabrak lari dan juga penyerangan di taman waktu itu..."


" Penyerangan...? Siapa yang diserang...?"


" Aku dan Raka..."


" Jadi semua ini ulah Selly! Aku akan mencarinya kemanapun dia sembunyi..."


" Selly masih belum tertangkap, aku takut keselamatan Raka terancam, kak..."


" Jangan khawatir, aku akan melindungi kalian berdua..."


Arvan mencium dengan lembut bibir Erina yang selalu membuatnya ketagihan.


" Ish... kakak...!"


" Istirahatlah, aku akan menjaga kalian berdua..."


Akhirnya Erina terlelap setelah Arvan mengusap kepalanya beberapa kali dengan tersenyum manis. Setelah itu, Arvan rebahan di sofa sudut ruangan itu.


# # #


Jam tujuh malam, Hans duduk di meja kerja Delia menunggu gadis itu selesai kerja. Hans sampai tertidur dengan menyandarkan kepalanya di meja.


" Del, kok kamu bisa pindah jam kerja secara tiba - tiba sih...?" tanya Reno yang mengikuti Delia ke ruang kerjanya.


" Ya sudah, kamu pulang langsung tidur biar nggak sakit..."


Delia dan Reno terkejut saat masuk ke dalam ruangan ada seseorang yang tertidur disana.


" Del, siapa dia...?" tanya Reno.


" Astaga... Hans, apa yang dia lakukan disini..." sungut Delia.


" Ini pria yang kemarin ya...? Kalian berpacaran? Sepertinya dia sangat mencintaimu..." ucap Reno.


" Sudahlah, aku sedang kesal padanya...!"


" Pasti dia sudah menunggumu lama disini hingga dia sampai tertidur..."


" Biarkan saja, aku mau pulang..."


" Jangan seperti itu, hargailah ketulusan dan usahanya..."


" Huft... baiklah, aku akan bangunkan dia..."


" Ya sudah, kalau bisa tolong pulanglah ke rumahku. Besok pagi aku harus berangkat seminar ke Surabaya selama tiga hari. Usia kandungan istriku sudah sembilan bulan, dia bisa melahirkan kapan saja. Aku titip dia padamu..."


" Jangan khawatir, kalian sudah kuanggap sebagai saudara jadi tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan..."


" Ya sudah, aku mau kerja dulu. Urus itu pacar kamu, kasihan tidur disitu..." ujar Reno.


" Ish... biarin aja...!" sungut Delia.


Reno keluar dari ruangan Delia untuk memulai pekerjaannya. Delia merapikan mejanya lalu menatap Hans yang masih terlelap di alam mimpi.


" Hans, bangun...! Kau mau menginap disini...?" seru Delia.

__ADS_1


Delia menggoncang bahu Hans dengan keras namun pria itu tetap diam tak bergerak sama sekali.


" Astaga Hans...! Kalau tidak mau bangun juga aku tinggal...!" ancam Delia.


" Hmmm... Eh, kamu udah selesai kerjanya...?" gumam Hans yang masih setengah sadar.


" Mau pulang atau aku tinggal...!"


" Jangan marah - marah nanti cantiknya semakin bertambah..."


" Ish... cepat cuci muka sana...!"


" Iya sayang, ini juga udah mau jalan kok..."


Hans melangkahkan kakinya dengan sempoyongan menuju toilet di dalam ruangan Delia. Wajah Hans memang terlihat lelah akhir - akhir ini. Selesai mencuci muka, Hans menghampiri Delia yang sedang memainkan ponselnya.


" Del, pulangnya pakai mobil kamu ya? Soalnya Arvan nggak bawa mobil sendiri takutnya nanti malam dia butuh sesuatu diluar..." ucap Hans.


" Terserah...!" sahut Delia datar.


" Kita ke ruangan Erina dulu yuk, nyerahin kunci mobilnya..."


" Hmmm..."


Hans dan Delia berjalan beriringan menuju ruang rawat Erina yang berada di lantai lima. Sampai di depan kamar, Hans mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada sahutan.


" Hans... memangnya Arvan nggak ada ...?"


" Kita buka aja pintunya, sayang..."


Hans membuka pintu dengan perlahan lalu masuk diikuti Delia.


" Ish... mereka tidur rupanya, tapi kenapa ada Raka ya...?" gumam Hans.


" Sayang, kamu bawa kertas dan pena nggak...?" tanya Hans.


" Buat apa...?"


" Aku mau tulis pesan saja buat Arvan, kasihan kalau harus dibangunin..."


" Raka nggak dibawa pulang aja...?"


" Biarkan saja, anak ini bisa menjadi penengah perseteruan orangtuanya..."


" Kamu ada - ada saja sih, Hans..."


Hans menaruh secarik kertas dan juga kunci mobilnya. Setelah itu, mereka langsung keluar dan pulang.


Dalam perjalanan pulang, Hans dan Delia saling diam. Sepertinya mereka berdua kelelahan dengan aktifitas padat hari ini.


Sampai di Apartemen Delia, Hans ikut turun dan mengikuti gadis itu sampai depan kamar.


" Hans, tak perlu mengantarku sampai kamar..."


" Boleh aku masuk sebentar...?"


" Aku lelah, Hans... sebaiknya kamu pulang..."


" Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Del..."


" Apa...?"


" Apakah kau mencintaiku seperti aku yang sangat mencintaimu...?"


" Aku_..."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2