Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 43


__ADS_3

" Kak Arvan...! Astaga... apa yang kau lakukan...!" pekik Erina.


Erina menarik lengan Arvan agar melepaskan cengkeramannya pada Hans.


" Kak Arvan... lepaskan...!" teriak Erina.


Arvan kaget melihat Erina sudah berada di sampingnya.


" Erina, kenapa kamu ada disini...?" tanya Arvan gugup.


Arvan segera melepaskan cengkeraman tangannya di leher Hans. Dia lalu tersenyum seraya memeluk Hans.


" Kalian bertengkar...?"


" Tidak sayang, kami cuma bercanda... iya kan Hans...?" ujar Arvan.


" Eh... iya, Rin... biasa kalau cuma bercanda kayak gini. Biasanya Arvan pakai pistol juga..." sahut Hans tersenyum.


" Kak Arvan itu harusnya istirahat bukan malah diluar...! Kalian berdua juga... bukannya melerai mereka...!" tunjuk bodyguard yang ada di depannya.


" Maaf Nona... kami tidak berani..." jawab mereka.


" Udah sayang, kita duduk dulu disini..."


Arvan meraih tangan Erina dan menuntunnya pelan ke kursi. Seraya tersenyum, Arvan memberikan kode untuk Hans agar segera mengambil semua kamera yang terpasang di kamar rawat Arvan.


" Kalian kenapa sih...?" tanya Erina.


" Tidak apa - apa Erina sayang... kami beneran cuma bercanda..." jawab Arvan seraya tersenyum.


" Ayo masuk, kita istirahat udah malam..." ajak Erina.


" Sebentar sayang, Hans ada di dalam mau lihat Raka sebentar katanya..."


" Huft... aku ngantuk...!"


" Sebentar lagi, mau tidur di pangkuan aku...?"


" Tidak...!"


Tak lama Hans keluar dan tersenyum pada keduanya. Hans memberi kode pada Arvan bahwa pekerjaan sudah beres.


" Aku mau pulang dulu, ngantuk..." ucap Hans.


" Pulang besok saja kak, sekalian besok bareng daripada harus jemput lagi kesini..." sahut Erina.


" Iya Hans, Delia sedang jaga malam sekarang..." timpal Arvan.


" Benarkah...? Kalau begitu aku langsung kesana, bye..." seru Hans.


Dia langsung pergi ke ruangan Delia di lantai empat dengan wajah sumringah. Sampai di depan ruangan Delia, Hans mengetuk pintu. Beberapa kali mengetuk namun tak ada sahutan. Hans membuka pintu perlahan lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


" Delia kemana...?" gumam Hans.


Hans masuk dan mencari Delia ke setiap sudut ruangan namun tak ada juga.


" Apa Arvan bohong ya...?" batin Hans kesal.


Hans segera keluar dari ruangan Delia dengan wajah ditekuk. Dia mengumpat dalam hati akibat ulah Arvan yang menjahilinya. Hans yang berjalan menunduk tak melihat ke depan sehingga dia menabrak seseorang.


" Auwww... Bisakah kau berjalan dengan benar...!" hardik seorang laki - laki berpakaian putih.


" Maaf...!" ucap Hans datar.


" Sudahlah Reno, jangan memperpanjang masalah..." sahut gadis di samping dokter itu.


Hans langsung mendongakkan wajahnya menatap gadis itu dengan tajam.


" Delia_....!" seru Hans.


" Hans... apa yang kau lakukan disini...?" tanya Delia.


" Harusnya aku yang tanya, kamu ngapain berduaan sama dia..." jawab Hans ketus.


" Kami disini kerja, Hans...!"


" Benarkah...?"

__ADS_1


" Jaga ucapanmu, Hans...!"


" Jangan ribut disini, sebaiknya kalian selesaikan baik - baik masalah kalian..." sela Reno.


" Diam...!" teriak Hans dan Delia bersamaan.


" Dasar kalian ini tidak ada akhlak...!" kesal Reno yang langsung pergi meninggalkan mereka.


Hans menarik lengan Delia lalu menyeretnya ke ruang kerja gadis itu.


" Hans... lepaskan aku...!" teriak Delia.


" Jadi kau lebih suka disentuh laki - laki itu...!" Hans mencengkeram lengan Delia lebih kuat lagi.


" Kau gila Hans...! Lepaskan aku...!"


Hans membuka pintu ruang kerja Delia dengan kasar dan menarik tubuh kecil Delia dengan kuat lalu menutupnya kembali dengan kakinya.


" Aku kesini mencarimu, tapi apa yang kulihat...! Kau bermesraan dengan laki - laki lain...!"


Hans menghimpit tubuh Delia ke dinding sehingga gadis itu tak mampu untuk bergerak.


" Cukup Hans... kau menyakitiku...!" rintih Delia seraya menangis.


" Kau tahu bagaimana perasaanku padamu, Del... kenapa kau tidak pernah mengerti. Jika memang kau tidak menyukaiku kenapa selalu memberikan harapan padaku...!" teriak Hans.


" Kau salah paham Hans, aku dan Reno hanya sebatas teman kerja..."


" Apa kau mencoba membodohiku...!"


" Terserah padamu, Hans... aku banyak pekerjaan, lepaskan aku..."


" Jadi kau benar - benar mau meninggalkanku...?"


" Hentikan ocehanmu itu, Hans...!"


Hans lansung mencium bibir Delia dengan kasar untuk meluapkan emosinya. Delia hanya bisa menangis menerima perlakuan kasar dari Hans. Gadis itu mulai kehilangan pasokan oksigen karena Hans tak mau melepaskan ciumannya walau Delia meronta minta dilepaskan.


Setelah puas, Hans melepaskan ciumannya lalu menatap wajah Delia yang penuh dengan airmata.


Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hans dengan perasaan bersalah. Hans langsung keluar dari ruangan Delia setelah mencium kening gadis itu sekilas.


Delia hanya bisa menangis, tak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya. Kecewa tentu sangat dia rasakan saat ini. Delia tidak pernah melihat Hans bersikap kasar seperti ini sebelumnya.


# # #


Pagi menjelang, Erina merapikan semua barang - barang yang akan mereka bawa pulang.


" Kak, Erin telfon kak Hans dulu ya buat jemput kita..." ucap Erina.


" Iya, bilang supaya cepat datang kemari..." sahut Arvan.


Erina menghubungi nomor Hans beberapa kali namun tak ada jawaban. Dengan cemas Erina tetap mencoba menelfon Hans.


" Sayang, ada apa...?" tanya Arvan.


" Ini kak Hans tumben gak angkat telfonnya..." sahut Erina.


" Tumben, biasanya dia tidak pernah lepas dari ponselnya...?"


" Apa terjadi sesuatu dengannya...?"


" Nggak tahu juga sayang, ya udah kita bisa naik taksi saja seperti waktu itu..."


" Ya udah, kita langsung kebawah yuk cari taksi..." ajak Erina.


" Mama, Raka gendong..." rengek Raka.


" Sayang, mama bawa koper loh..." sahut Erina.


" Sini biar papa gendong...!" ucap Arvan.


" Jangan kak, kamu itu masih sakit..."


" Tidak apa - apa, demi kalian apapun akan aku lakukan..."


" Horeee... digendong papa...!" teriak Raka senang.

__ADS_1


Mereka bertiga masuk ke dalam lift untuk ke lantai dasar. Saat sampai di lobby, mereka bertemu dengan Delia yang juga hendak pulang.


" Tante cantik...!" teriak Raka.


Delia yang mengenali suara itu lansung mencari arah sumber suara. Dia melihat Raka, Arvan dan Rissa sedang berjalan menghampirinya.


" Hey little boy... How are you to day...?"


" I'm fine, tante..."


" Kalian mau pulang...?" tanya Delia.


" Iya, Del... kami mau cari taksi di depan..." jawab Arvan.


" Mau aku antar, sekalian aku mau pulang..."


" Benarkah? Terimakasih ya..."


" Tidak usah bilang terimakasih, kau juga sering membantuku selama ini..."


" Biar aku aja yang nyetir, sepertinya kamu sangat lelah, Del..." tawar Rissa.


" Terimakasih, Rissa..." sahut Delia.


Mereka berempat masuk ke dalam mobil Delia, Raka dan Arvan duduk di belakang sementara Delia di depan dengan Erina.


" Sayang, kita pulang ke Apartemen saja ya...?" pinta Arvan.


" Bukannya lebih nyaman di rumah, kak...? Siapa yang mau ngurusin kamu di Apartemen..." ucap Erina.


" Kan ada kamu..." rengek Arvan.


" Aku harus kembali ke London secepatnya..."


" Kau tidak boleh pergi kemanapun juga, kau harus tetap bersamaku...!"


" Kenapa papa dan mama bertengkar lagi sih...?" teriak Raka.


" Arvan, Rissa... kalian jangan seperti itu di depan anak...!" omel Delia.


Kini semuanya diam membisu. Hanya deru mesin mobil yang terdengar mengiringi keheningan pagi itu.


" Del, kau tahu dimana Hans...?" tanya Arvan tiba - tiba.


" Hans...? aku tidak tahu, Van..." jawab Delia sendu.


" Apa semalam kalian tidak bertemu...?"


" Ketemu sebentar karena aku banyak pasien semalam..."


" Kemana dia? Tidak biasanya dia tidak mengangkat telfon..."


Tak lama mereka sampai di Apartemen.


" Del, mampirlah sebentar... kita sudah lama tidak bertemu..." ucap Arvan.


" Lain kali aja, Van..." tolak Delia.


" Jangan menolak...!"


" Huft... baiklah..."


Mereka berempat masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai lima belas. Arvan menggendong Raka yang kini terlihat sangat manja. Sampai di depan kamar, Arvan menekan password untuk membuka pintu.


Erina segera menyeret kopernya setelah pintu terbuka. Namun dia sangat terkejut melihat sosok yang terkapar di lantai depan kamar.


" Kak Hans_...!"


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2