
" Kejadian apa...?" tanya Rissa.
" Kemarin Selly datang ke pernikahan kak Ricko dan membuat kekacauan disana..." jawab Hans.
" Apa kak Hans tahu penyebab kematian Ayahku...?"
" Yang aku dengar, ayahmu terkena serangan jantung..."
" Tapi Ayah tidak punya riwayat penyakit jantung, kak..."
" Tapi itulah keterangan dari keluargamu..."
" Ini pasti hanya akal - akalan ibu dan kak Selly. Jika benar mereka membunuh Ayah, aku pasti akan membalasnya...!" geram Rissa.
" Selesaikan dulu pekerjaanmu di London, saya akan mengerahkan anak buah untuk menyelidiki masalah disini..."
Mereka berbincang hingga tak terasa sudah sore hari yang mengharuskan Rissa dan William secepatnya ke Bandara agar tidak ketinggalan pesawat.
" Kak, kita harus segera ke Bandara. Jalanan pasti macet di sore hari seperti ini..." ajak Rissa.
" Ok, tidak ada yang ketinggalan kan...?" tanya Hans.
" Tidak kak, semua sudah beres..." jawab Rissa.
" Kita pergi sekarang..." sahut William.
Hans melajukan mobilnya menuju Bandara Soetta dengan kecepatan sedang karena jalanan padat. Raka yang lelah tertidur di pangkuan Rissa.
William yang melihat wajah polos Raka hanya tersenyum. Di depan semua orang, Raka terlihat sangat menggemaskan. Namun di saat sedang bekerja dia terlihat sangat dingin dan lebih arogan dibandingkan papanya saat dewasa nanti.
Satu jam lebih dalam perjalanan, mereka sampai juga di Bandara. Hans dan Raka mengantar mereka sampai di ruang tunggu.
" Sayang, kamu jangan merepotkan Uncle Hans. Jangan bertindak sendiri dalam menyelidiki kasus ini. Mama tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu..." pesan Rissa.
" Iya Ma, udah ribuan kali Mama bilang seperti itu sama Raka..." celoteh Raka dengan tersenyum.
" Jangan membantah! Atau kau akan mama masukkan ke sekolah play grup..."
" Ish... itukan sekolah bayi, Ma...!" sungut Raka.
" Kamu kan memang masih bayi..." goda Rissa.
" Mama...! Raka bukan anak kecil lagi...!" pekik Raka.
" Ssttt... malu di lihat orang...!" Hans membungkam mulut Raka supaya tidak berteriak.
" Mama tuh...!" sungut Raka.
" Ya sudah, Mama pergi dulu... jangan suka ngambek dan kabur dari rumah..." pesan Rissa lagi.
Setelah berpamitan, Rissa dan William masuk ke dalam pesawat yang sudah siap lepas landas. Hans dan Raka juga kembali ke mobil untuk segera pulang karena sangat lelah.
" Uncle, bolehkah Raka menemui papa sebentar...?"
" Memangnya kamu tidak lelah...?"
" Cuma sebentar Uncle..." rengek Raka.
__ADS_1
" Baiklah, kita ke rumah sakit sekarang..." sahut Hans.
" Kau ini benar - benar keras kepala seperti Arvan, kau sepertinya lebih merepotkan dari papamu..." batin Hans.
Sampai di rumah sakit, Hans menggandeng tangan Raka menuju kamar rawat Arvan di ruang VVIP. Namun baru sampai di lorong itu, Raka menaruh curiga pada seseorang yang berdiri tak jauh dari sana.
" Uncle, berhenti dulu...!" ucap Raka pelan.
" Ada apa...?" tanya Hans.
" Ada orang yang mengawasi kamar papa, siapa dia...?"
" Uncle juga tidak tahu, coba kita tanya..."
" Ish... Uncle pikir dulu sebelum bertindak...!"
" Siap Boss..."
Mereka mundur lagi dan mencari tempat yang sepi untuk mengatur strategi. Raka berpikir keras untuk mencari cara mengetahui orang misterius itu.
" Uncle, kita kembali ke dalam mobil sebentar. Ada barang Raka yang tertinggal disana..."
" Baiklah Boss kecilku... Sesuai perintahmu..."
Raka mengambil beberapa peralatan di dalam mobil lalu menyerahkannya kepada Hans.
" Raka akan mengalihkan perhatian orang itu, Uncle pasang kamera ini di kamar papa biar kita tahu siapa saja yang keluar masuk menjenguk papa..."
" Kau yakin bisa mengalihkan perhatian orang itu...?"
" Itu hal yang mudah..."
" Ini bukan buat mainan, tapi untuk mengalihkan perhatian musuh..." sahut Raka.
Mereka berdua mulai menjalankan aksinya. Raka berjalan terlebih dahulu menghampiri orang misterius itu.
" Permisi Om, boleh saya minta tolong...?" ucap Raka dengan senyum manisnya.
" Hmmm... jangan ganggu saya anak kecil..." sahut orang itu datar.
" Ayolah Om, mainan saya rusak. Bisa tolong pasangin ini lagi nggak...?" rengek Raka khas anak kecil.
" Huft... baiklah! Sini mainan kamu, biar Om yang benerin..."
Untung saja sejak lahir Raka sudah diajarkan bahasa Indonesia sehingga cara pengucapannya sangat lancar. Walaupun menetap di Inggris, namun keluarga Sebastian selalu menggunakan bahasa Indonesia saat di rumah.
Raka berjalan memutar arah sehingga orang itu ikut berputar dan sekarang posisinya membelakangi kamar Arvan. Hans yang mendapat kode dari Raka langsung berjalan melewati mereka kemudian masuk ke kamar Arvan.
Hans memasang kamera tersembunyi di setiap sudut kamar Arvan dengan hati - hati agar tidak ada seorangpun yang tahu. Setelah berhasil memasang semuanya, Hans menatap Arvan yang masih terdiam dalam tidur panjangnya.
" Van, cepatlah sadar! Erina dan Raka sangat membutuhkan kehadiranmu..." gumam Hans.
Hans segera keluar dari ruangan Arvan sebelum orang misterius itu menyadari kehadirannya. Terlihat Raka sedang bertanya hal - hal yang ringan supaya orang itu nampak sibuk.
" Om sangat baik, terimakasih ya..." ucap Raka.
" Sama - sama, pergilah!"
__ADS_1
" Oh iya, apa ada keluarga Om yang sakit disini...?"
Orang itu nampak kebingungan untuk menjawab kemudian menunjuk asal ke sebuah kamar.
" Itu, ada di kamar sebelah sana..."
Raka tersenyum namun hatinya begitu marah karena orang yang ada dihadapannya ini memang benar seorang penjahat.
" Sekali lagi terimakasih Om, boleh saya memeluk Anda...?" ucap Raka memohon dengan wajah imutnya.
" Tentu saja..."
Raka memeluk orang itu seraya menempelkan sejenis alat penyadap yang sangat kecil di jaket bagian leher orang itu.
" Ya sudah Om, saya mau kembali ke ruang rawat nenek saya dulu di lantai bawah..." pamit Raka.
" Hati - hati, bisa masuk lift sendiri...?"
" Bisa Om..."
Raka segera meninggalkan tempat itu lalu menuju lift tempat Hans menunggunya.
" Kau memang hebat! Aku salut pada kecerdasanmu..." puji Hans yang sangat kagum pada anak kecil itu.
" Tidak perlu berlebihan Uncle, ini hanya pekerjaan kecil..."
" Apa ini di wajahmu...?" Hans melihat ada tanda hitam di pipi Raka.
" Ini buat penyamaran saja..." sahut Raka sambil melepas tempelan hitam di pipinya.
" Hahahaa... pasti Uncle Willy sudah mengajarkan hal - hal ekstrim yang tidak diketahui mama kamu..." tebak Hans.
" Uncle Willy adalah guru terbaikku, mama tidak akan mengijinkan aku seperti ini jika tahu. Mama hanya tahu aku meretas data di depan komputer saja..."
" Bakat papamu sama persis denganmu, namun kecerdasanmu menurun dari mama, iya kan...?" selidik Hans.
" Mungkin, Mama memang sangat pintar dalam sains dan strategi bisnis. Makanya kakek menyuruhnya kerja tiap hari..."
Tak terasa mereka sudah sampai di area parkir mobilnya. Hans membukakan pintu untuk Raka kemudian dia duduk di kursi kemudi.
" Uncle, suruh orang untuk menjaga papa 24 jam. Saya tidak mau terjadi hal buruk pada papa. Orang yang tadi bukanlah keluarga pasien rumah sakit ini..." ucap Raka.
" Baiklah, anak buahku akan segera meluncur kesana sekarang juga..." jawab Hans.
Hans menghubungi anak buahnya untuk berjaga - jaga di depan ruang rawat Arvan demi menjaga keselamatan Arvan dan keluarganya yang berkunjung.
Hans begitu kagum dengan sosok kecil di sampingnya itu. Walaupun umurnya baru empat tahun, tapi kecerdasannya melebihi orang dewasa. Dia sangat pintar memainkan strategi perang.
" Arvan dan Erina pasti bangga punya anak genius sepertimu, Raka..."
.
.
TBC
.
__ADS_1
.