Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 42


__ADS_3

" Bukankah Arvan di rawat disana...? Tapi apa hubungan anak itu dengan Arvan...?" batin Selly.


" Mulai sekarang awasi bik Ina dan juga Arvan...!" perintah Selly.


" Baik Boss..."


Selly menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu duduk di kursi ruang kerjanya di salah satu restorannya. Setelah semua anak buahnya pergi, Yona masuk dan duduk di depan anaknya.


" Ada apa lagi...? Kau kelihatan sangat kesal...?" tanya Yona sang ibu.


" Sepertinya Raka memang bukan anak biasa, Bu..."


" Maksudnya...?"


" Sepertinya bik Ina dan anak itu sudah saling kenal sebelumnya. Raka di jemput oleh seseorang di panti asuhan dengan mobil mewah. Apa itu tidak mencurigakan, Bu...?"


" Apa anak buahmu tidak mengambil foto orang itu...?"


" Huft... mereka memang tidak berguna...!" kesal Selly.


" Apa rencanamu selanjutnya...?"


" Kasus tabrak lari Arvan sepertinya sudah ditutup oleh kepolisian, sementara kita aman. Tapi Hans pasti tidak akan tinggal diam. Kita tidak boleh meremehkan Arvan dan Hans..."


" Apa Raka dan Arvan saling mengenal...?"


" Mungkin, saat ini Raka berada di rumah sakit yang sama tempat Arvan dirawat..."


" Kita harus cari tahu asal usul Raka, Selly..."


" Kita akan mengikuti bik Ina mulai sekarang, Selly yakin bik Ina menyembunyikan sesuatu..."


🌷🌷🌷


Di rumah sakit, kini hanya ada Raka dan Erina yang menemani Arvan. Mereka bertiga nampak sedang bercanda di atas tempat tidur Arvan.


Hingga malam kian larut, Raka masih betah bermain dengan papanya. Sesuatu yang sungguh langka dalam pandangan Erina. Biasanya Raka tidak pernah lepas dari ponsel pintarnya dan juga laptop sekedar bermain game atau sedang menyelidiki sebuah kasus.


Seharian ini bersama Arvan, Raka bertingkah selayaknya balita pada umumnya. Dia nampak polos dengan senyum manisnya yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain.


" Raka, sebaiknya kamu tidur sekarang. Malam sudah semakin larut, nanti kamu sakit..." tegur Erina.


" Iya, Ma..." sahut Raka.


" Mama ikut tidur disini juga ya...?" pinta Arvan.


" Saya bisa tidur di sofa, lagian disitu sempit nggak muat buat bertiga..." tolak Erina.


" Ayolah sayang, aku juga tidak akan tidur jika kamu tidak mau disini..." ancam Arvan.


" Iya, Ma... Raka biar bisa tidur di tengah..." imbuh Raka.


" Kenapa sih kalian berdua suka sekali memaksa...!" omel Erina.


" Besok Raka kasih hadiah kalau mama mau tidur disini..." bujuk Raka.


" Iya, papa juga akan kabulkan semua permintaan mama jika mama mau menemani kami berdua tidur..." sahut Arvan.


" Kalian jangan memaksa, mama masih banyak pekerjaan..."


" Sayang, aku mohon..." ucap Arvan serius.


" Hhh... baiklah!" sahut Erina pasrah.

__ADS_1


Erina segera naik ke tempat tidur agar Raka cepat tidur dalam pelukannya. Namun nyatanya, tak hanya Raka yang minta dipeluk melainkan juga Arvan.


Setelah Raka tidur dengan nyenyak, Erina duduk kembali karena merasa tidak nyaman tidur berhimpitan seperti ini. Arvan yang menyadari itu juga ikut duduk dan menatap wajah cantik yang sangat dicintainya itu.


" Kenapa Rin...?"


" Tidak apa - apa, kak... tidurlah..."


Arvan berdiri dan berjalan menuju sofa di sudut ruangan. Dia berusaha untuk tidak membuat Erina marah lagi. Apapun yang terjadi, Arvan akan mempertahan Erina agar tetap berada di sisinya.


" Sini...!" pinta Arvan lembut.


Erina beranjak mendekati Arvan lalu hendak duduk disampingnya. Namun belum sempat duduk, Arvan menarik tubuh Erina hingga jatuh ke pangkuannya.


" Auwww... apa yang kau lakukan...!" pekik Erina.


" Ssttt... jangan berteriak, nanti Raka bangun..." Arvan membungkam mulut Erina pelan.


" Apa kau bisa lepaskan aku...?" rengek Erina.


" Janji dulu jika kau tidak akan pernah meninggalkanku..." bisik Arvan.


" Kenapa kau selalu memaksa...!" sungut Erina.


" Karena kau tidak akan jujur tentang perasaanmu jika tidak dipaksa..."


" Sok tahu...!"


" Hmmm... maafkan aku, ijinkan aku menebus semua kesalahanku di masa lalu..."


" Aku belum memikirkannya...!"


" Aku akan membuatmu selalu bahagia bersamaku..."


" Aku sangat mencintaimu, Erina..."


Arvan menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang Erina. Ada rasa nyaman dalam hatinya saat wanita yang dicintainya itu berada sangat dekat dengannya.


Tanpa mereka sadari, Hans yang kini sedang rebahan di Apartemen menonton semua kejadian di dalam kamar perawatan Arvan. Ada saja keisengannya yang kadang kelewat batas.


Hans mengambil sedikit video rekaman di dalam kamar Arvan itu dan mengirimkannya ke nomor Erina. Dia ingin melihat reaksi heboh Arvan dan Erina di tengah malam.


Sambil tertawa cekikikan Hans menunggu reaksi keduanya dengan tetap memantau dari layar laptopnya.


⚡⚡⚡


Arvan sedang membujuk Erina saat tiba - tiba ada notifikasi masuk di ponsel Erina. Erina meronta minta dilepaskan namun Arvan semakin memeluknya dengan erat.


" Kak, lepaskan aku...!" teriak Erina.


" Apa sih...? Biar aku aja yang ambil ponselnya, siapa sih yang tengah malam begini berani mengganggu kekasihku..." sahut Arvan kesal.


Arvan meraih ponsel di atas meja di depannya. Dia mengeratkan tubuhnya dengan Erina untuk membuka ponselnya.


" Sayang, apa kata sandinya...?" tanya Arvan.


" Biar aku yang buka, kak...!"


" Nggak boleh, ini pesan dari Hans. Cepat kasih tahu apa sandi kuncinya..."


Erina menyebutkan kata sandinya dengan kesal karena Arvan semakin mempererat pelukannya. Arvan segera membuka pesan dari Hans dan terkejut melihat video yang dikirimkan Hans. Dengan cepat Arvan menarik Erina hingga mereka berdua langsung berdiri.


" Ada apa kak...?" tanya Erina heran.

__ADS_1


" Eh... tidak apa - apa. Hans cuma iseng saja, sayang..." Arvan langsung menghapus video yang dikirimkan Hans.


" Sial...! Beraninya dia memasang kamera tersembunyi disini...!" batin Arvan geram.


" Sayang, aku pinjam ponselmu sebentar. Aku mau telfon Hans, ada urusan penting..." ucap Arvan.


" Iya..." jawab Erina singkat.


Arvan keluar dari ruang rawatnya dan langsung menghubungi Hans.


" Hans kesini kau sekarang juga...!" teriak Arvan.


[ " Tapi Boss, ini sudah tengah malam. Ada apa...?" ] sahut Hans menahan tawanya.


" Beraninya kau memasang kamera di kamarku...!"


[ " Hahahaa... baiklah, aku akan datang sekarang. Karena besok kau sudah pulang, akan kulepas semua kameranya malam ini juga..." ]


" Jangan sampai Erina tahu...! Ingat itu...!"


[ " Beres Boss..." ]


Setelah menutup telfonnya Arvan duduk di kursi ruang tunggu untuk menunggu kedatangan Hans. Merasa tubuhnya sudah cukup sehat, Arvan mencari seorang perawat untuk melepas infusnya agar leluasa saat bergerak. Arvan kembali ke kamar sebentar untuk menemui Erina.


" Sayang, kamu tidur saja duluan sama Raka. Aku ada urusan dengan Hans di luar..." ujar Arvan.


" Kak Hans kesini...?" tanya Erina.


" Sebentar lagi dia sampai, tidurlah dengan nyaman. Nanti aku akan tidur di sofa, kita pulang besok..."


" Itu... infusnya udah dilepas...?"


" Iya, aku udah sehat kok. Kamu tidak perlu khawatirkan aku..."


" Jangan lama - lama dan jangan aneh - aneh...!" peringat Erina.


" Iya, tidurlah... ini sudah lewat tengah malam..."


Arvan menuntun Erina menuju tempat tidur lalu memeluknya sekilas kemudian keluar dari kamar.


Tak lama, Hans datang dengan tersenyum tanpa merasa berdosa.


" Hai Boss... gimana kabar hari ini...? Pasti sehat dong...? Apalagi habis_..." goda Hans nyengir.


" Sialan kau...! Beraninya kau pasang kamera di kamarku...!" Arvan mencengkeram leher Hans.


" Sabar Ar... aku bisa jelasin..."


Dua bodyguard yang berjaga di depan kamar Arvan hanya diam melihat dua atasannya bertengkar. Mereka tak berani melerai karena takut nanti malah jadi masalah.


Erina yang hampir terlelap langsung kaget ketika terjadi keributan di luar. Erina segera beranjak dari tempat tidur untuk melihat keadaan diluar.


" Kak Arvan_..."


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2