Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 84


__ADS_3

Erina dan Raka mendekati Arvan dan ibunya yang sedang bercengkerama di kebun.


" Ibu_..." ucap Erina pelan.


" Kemarilah, putriku. Kau terlihat sangat cantik hari ini, harusnya ibu menikahkanmu dengan laki - laki yang baik..." ujar ibu seraya tersenyum pada Arvan.


" Maksud ibu apa? Memangnya Arvan bukan orang baik..." sungut Arvan.


Arvan memetik setangkai mawar putih yang sudah mekar dengan sempurna. Dia mendekati Erina lalu tersenyum seraya memberikan bunga itu.


" Hey... itu bunga mahal. Kenapa kau petik sembarangan...!" hardik Ibu.


" Inikan cuma bunga, bu. Memang harganya semahal apa sih...?" sahut Arvan.


" Yakin kau mau bayar bunga itu...?"


" Iya, sebutkan saja berapa harga bunga ini..."


" Harganya 70% saham Mall milikmu itu..."


" Apaa...? Ibu mau merampokku...?" pekik Arvan.


" Terserah, kalau tidak mau kembalikan ke asalnya tadi dan tidak boleh cacat sedikitpun...!"


" Anak ibu itukan memang pelit, tidak mungkin dia mau bayar..." cibir Erina.


" Sayang, kenapa bilang begitu...? Siapa yang bilang aku pelit..." sahut Arvan.


" Memangnya apa yang pernah kau berikan padaku...?"


Arvan berfikir sejenak tentang apa yang pernah dia berikan pada istrinya. Jika uang, sang istri adalah seorang CEO yang tidak mungkin kekurangan uang. Perhiasan, wanita itu tak pernah memakai perhiasan apapun kecuali kalung peninggalan ibunya. Ponsel, bahkan milik istrinya itu memiliki fitur yang lebih canggih dibandingkan miliknya.


" Van, kau tidak pernah memberikan apapun pada istrimu...?" cecar ibu.


" Mmm... ada kok, bu. Arvan memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk Erina. Arvan tidak pernah memberikannya pada orang lain, hanya untuk istriku saja..." sahut Arvan seraya tersenyum jahil.


" Apa...? Perasaan kak Arvan tidak pernah memberikan apapun padaku...?" ucap Erina.


" Yakin? Atau pura - pura lupa...?"


" Memangnya apa...? Aku tidak pernah merasa menerimanya darimu...?"


" Tuh, udah ada hasilnya. Tiap malam aku selalu memberikannya. Mudah - mudahan kali ini berhasil lagi..." ucap Arvan nyengir seraya menunjuk ke arah Raka.


" Kak Arvaaannn...!" teriak Erina kesal dan juga malu.


Ibu hanya bisa geleng - geleng kepala melihat tingkah anak dan menantunya. Dalam hati, Nyonya Sarah sangat bahagia karena Raka adalah cucu kandungnya. Walaupun kehadiran Raka berawal dari sebuah kesalahan yang dilakukan anaknya, namun pada akhirnya mereka bisa saling menerima dan saling mencintai.


Arvan dan Erina masih terus kejar - kejaran di area tanaman bunga yang sangat luas.


" Sayang, sudah. Aku udah nggak kuat lagi..." seru Arvan.


Arvan merebahkan diri di atas rerumputan hijau. Sejenak memejamkan mata, Arvan merasakan ada yang menindih tubuhnya.


" Sayang, aku capek. Ambilkan minum sana..." pinta Arvan.


" Ambil saja sendiri, aku juga capek..." sahut Erina.


Erina merebahkan kepalanya pada dada bidang sang suami dengan nafas yang tersengal.


" Sayang, aku bisa sesak nafas nih. Biasanya kamu yang dibawah..." goda Arvan.


" Ish... ngelantur ngomongnya...!" sungut Erina.

__ADS_1


" Sayang, besok pagi kita pulang ke Indonesia..." ujar Arvan.


" Tapi, bagaimana dengan ibu...?"


" Ibu sudah mengijinkan kita pergi namun dengan satu syarat..."


" Syarat apa...?"


Arvan menyuruh sang istri untuk lebih mendekat kepadanya karena Arvan tidak mau orang lain mendengarnya.


" Yakin, mau tahu syaratnya sayang...?"


" Iya, cepat katakan..."


" Ibu memintaku menanam benih yang banyak disini biar tumbuh subur. Kalau perlu pagi, siang, malam..." bisik Arvan seraya mengusap lembut perut istrinya.


" Apaan sih, kak! Itu sih memang kau yang tak bisa menahannya. Pasti kamu sudah menanamnya di lahan yang lain kan...?"


" Tidak, sayang. Karena hanya ada satu lahan yang cocok dan itu hanya milikmu..."


" Ish... udah ah, bicaranya semakin ngelantur..."


Erina berdiri lalu menyusul ibu yang sedang merawat tanamannya. Arvan dan Raka juga membantu menanam bibit - bibit bunga ke dalam wadah plastik.


Tak terasa hari mulai terasa semakin siang. Ayah Regan datang tepat jam makan siang bersama Adam. Mereka sekalian membawa banyak makanan untuk makan siang bersama para karyawan toko.


" Adam, kenapa membawa makanan sebanyak ini...?" tanya Erina.


" Sekalian buat para karyawan disini. Tolong suruh mereka membagikannya, ya..." sahut Adam.


" Kita jadi berangkat besok ke Indonesia, kau bersiaplah..." kata Erina sembari memanggil salah satu karyawan toko dengan lambaian tangan.


" Yakin? Tidak akan ada masalah lagi kan...?"


" Syukurlah, aku sangat merindukan ibu dan adik - adikku..."


" Kenapa mereka tidak diajak menetap disini saja, Dam...?"


" Ibu sangat mencintai ayah, beliau tidak mau berpisah jauh dari makam ayah..."


" So sweet banget ibumu, apa kau juga akan seperti itu padaku...?" goda Erina.


" Tentu saja, kau adalah yang terbaik. Apa selama ini aku memperlakukan dirimu kurang baik...?"


" Kau yang terbaik, Adam. Terimakasih untuk semua yang kau lakukan padaku. Sekarang aku merasa hidupku cukup bahagia bersama kak Arvan. Jadi, mulai sekarang kau juga harus memikirkan masa depanmu. Carilah pendamping hidup yang bisa membuat hidupmu semakin lengkap..."


" Aku harus memastikan kau bahagia dengannya, Erin. Aku sudah menganggapmu sebagai adik perempuanku. Disini hanya kamu satu - satunya yang kumiliki. Kau tahu, ibu ingin sekali bertemu denganmu dan Raka..."


" Nanti jika semua masalah ini selesai, aku pasti akan membawa Raka dan kak Arvan berkunjung ke rumahmu..."


Arvan mendengarkan percakapan antara Erina dan Adam. Mereka terlihat sangat akrab seperti saudara. Pantas saja, Adam sangat perhatian pada Erina. Ternyata mereka seakrab itu karena sama - sama sendirian di negeri orang. Arvan sempat berpikir jika Adam memiliki rasa yang lebih terhadap istrinya.


" Sayang, makanan buat aku sama Raka mana...?" tanya Arvan.


" Sudah Erina taruh diatas, kak. Ayah dan ibu juga sudah menunggu disana untuk makan bareng..."


" Ayo keatas, aku udah laper..." Arvan mencium pipi Erina di depan Adam.


" Apaan sih, kak! Cuci tangan dan muka dulu sana, tanah semua tuh...!"


" Iya, sayang. Sebentar ya...?" Arvan kembali mencium pipi istrinya sebelum pergi.


" Ish... kebiasaan!" sungut Erina.

__ADS_1


Selesai membersihkan diri bersama Raka, Arvan mengajak anaknya itu naik ke lantai dua untuk makan siang bersama yang lain.


" Raka, sini sama Uncle makannya..."


Adam mengulurkan tangannya kepada Raka yang langsung disambut oleh anak itu.


" Sayang, punyaku mana...?" tanya Arvan.


" Itu, disamping Adam..." jawab Erina.


" Suapin dong, Raka aja disuapin sama Adam..." bisik Arvan.


" Kakak pengen disuapin sama Adam juga...?" sahut Erina sambil tertawa.


" Huft... Tidak bisa apa mesra sedikit saja..." sungut Arvan.


# # #


Pagi - pagi sekali, Adam sudah bersiap - siap di rumah Tuan Sebastian. Mereka akan berangkat ke Bandara diantar oleh William. Adam sudah membayangkan kebahagiaan saat bertemu dengan keluarganya nanti. Semalam setelah mengantar Tuan Sebastian pulang, Adam berbelanja banyak barang untuk ibu dan kedua adiknya.


" Adam, wajahmu terlihat berbinar sekali..." ledek Erina.


" Tentu saja, sudah sekitar enam tahunan tidak bertemu dengan keluargaku..." ucap Adam sembari menyunggingkan senyumnya.


" Dari dulu aku menyuruhmu pulang tapi kau tidak mau..."


" Siapa yang akan menjagamu kalau aku pergi...?"


" Saya bisa cari pengawal lain..."


" Memangnya ada yang rela bajunya di pakai buat ngelap ingus bossnya..." ledek Adam.


" Hahahaa... benar juga, cuma ada satu assisten yang gila sepertimu..."


William baru saja datang bersama dengan Monika. Gadis kecil itu langsung mencari keberadaan Raka yang sudah dia anggap sebagai adiknya.


" Raka, where are you...?" teriak Monika.


" Kak Monika, I'm here..." sahut Raka dari ruang makan.


Arvan yang mendengar teriakan bocah itu segera menutup kedua telinganya agar tidak meledak.


" Haish... kalau udah ketemu suaranya seperti sedang tawuran..." gerutu Arvan.


Monika berpelukan dengan Raka sambil menangis.


" Kenapa kau harus pergi...? Apa kau tidak akan kembali lagi kesini...?" ucap Monika.


" Kakak jangan menangis, Raka tidak akan lama disana. Kita nanti bisa video call setiap hari..."


" Janji...?"


" Janji...!"


Keduanya kembali berpelukan sebelum berangkat ke Bandara. Monika akan ikut mengantar Raka sampai di Bandara.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2