
" Sayang, Raka dimana...?" tanya Arvan.
" Raka... dia sedang bersama kak Hans..." jawab Erina pelan.
" Apa kau sedang berbohong padaku...?"
" Tidak, kak..."
" Tatap mataku Erina...! Katakan dimana Raka...?" cecar Arvan.
" Aku tidak tahu kak, kemarin aku baru sampai disini. Raka selalu bersama kak Hans, Erin tidak tahu mereka dimana sekarang..."
" Telfon Hans, suruh bawa Raka kesini. Aku merasa sudah sangat lama tidak bersama dengannya..."
" Mmm... sebaiknya kakak istirahat saja dulu. Pasti sekarang ini kak Hans sedang sibuk di kantor..."
" Erin... apa kau menutupi sesuatu dariku...?"
" Tidak, kak... apa kau tidak percaya padaku...?" ucap Erina pura - pura marah.
" Bukan begitu, Erin... aku hanya_..."
" Sudahlah... aku mau keluar dulu, istirahatlah..."
Erina meninggalkan Arvan begitu saja, tak menghiraukan teriakan laki - laki itu.
" Erin... jangan pergi...! Maafkan aku..." teriak Arvan.
Arvan berusaha bangun untuk mengejar Erina namun tubuhnya terasa lemah. Dia menyesal telah membuat Erina marah lagi.
Sementara diluar, Erina sedang memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Arvan tentang keberadaan Raka.
" Rissa, kenapa kau diluar...? Kau terlihat bingung...?" tanya Ricko yang baru datang bersama Sandra.
" Eh... Kak Ricko, kak Sandra... kalian disini...?" ucap Erina kaget.
" Tadi kami habis makan siang di luar, ini kami bawa makanan untukmu juga..."
" Terimakasih, Kak..."
" Apa kamu sedang memikirkan sesuatu...?" tanya Sandra.
" Iya kak, kak Arvan sudah sadar..." jawab Erina sendu.
" Benarkah...? Sejak kapan...? Kenapa tak memberitahu kami...?" ucap Ricko senang.
" Maaf, kak... ponselku dibawa kak Hans..."
" Harusnya kamu senang Arvan sadar..."
" Bukan itu masalahnya, kak...! Kak Arvan menanyakan keberadaan Raka..."
" Raka...? Memangnya Raka pergi kemana...? Beberapa hari ini memang kami tidak bertemu dengannya, kata Hans mereka tinggal di Apartemen..."
" Tidak kak, Raka tidak di Apartemen... Sebab itulah Rissa langsung terbang kesini..."
" Lalu... mereka berdua kemana...?"
" Raka menyelinap masuk ke rumah Selly, saya takut terjadi sesuatu padanya..."
" Astaga... bagaimana itu bisa terjadi...? Apa saja yang mereka berdua lakukan selama ini..." kesal Ricko.
" Posisi Raka saat ini jauh dari rumah Selly, kak Hans sedang melacaknya dengan ponselku..."
" Huft... ya sudah, kita temui Arvan terlebih dulu baru kita cari Raka dan Hans..." saran Ricko.
Ricko menggandeng tangan istrinya menuju ruang rawat Arvan diikuti Erina. Namun saat mereka membuka pintu, mereka terkejut melihat Arvan yang tergeletak di lantai dalam keadaan pingsan.
" Arvan...!" pekik Ricko dan Sandra.
Erina nampak terpaku di tempatnya berdiri. Ada rasa sesal dalam hatinya karena membiarkannya sendiri tadi.
__ADS_1
" Mas, cepat angkat Arvan ke brankar..." ucap Sandra panik.
Erina segera menekan tombol di samping brankar untuk memanggil dokter. Tak lama, dokter datang bersama dua orang perawat.
" Silahkan tunggu di luar..." ucap perawat itu ramah.
Ketiganya hanya diam lalu keluar dari ruangan itu dengan perasaan khawatir.
" Rissa, kalian tidak bertengkar lagi kan...?" cecar Ricko.
" Tidak, kak... saya hanya menyuruhnya istirahat dan meninggalkannya sebentar keluar ruangan..." jawab Erina pelan.
" Pasti ada yang difikirkan Arvan, tidak mungkin dia senekat itu bangun dari brankar tanpa alasan..." sahut Sandra.
" Apa mungkin kak Arvan tahu aku tidak jujur soal Raka...?" batin Erina.
Dokter yang memeriksa Arvan keluar dan mengatakan jika Arvan hanya memaksakan diri untuk berjalan di saat tubuhnya masih lemah. Arvan harus melakukan terapi untuk melemaskan otot - ototnya, tidak boleh memaksakan gerakan dengan cepat.
Setelah dokter dan perawat pergi, mereka bertiga kembali masuk untuk melihat keadaan Arvan.
" Mas, kabari ayah dan ibu supaya mereka bisa tenang di London saat mendengar Arvan sudah sadar..." ucap Sandra.
" Ya udah, Mas keluar sebentar. Kamu disini sama Rissa..." sahut Ricko.
Erina mendekati Arvan yang masih belum sadar. Wajah Arvan terlihat sangat pucat.
" Maafkan Erina harus berbohong, kak... Erina takut kakak drop lagi jika tahu keadaan Raka yang sebenarnya..." batin Erina.
" Rissa, kamu tidak perlu khawatir. Arvan baik - baik saja dan akan segera sadar sebentar lagi..." hibur Sandra.
" Iya kak, Rissa hanya sedang bingung memikirkan Raka..."
" Jangan terlalu dipikirkan, Ris... Raka pasti baik - baik saja..."
" Iya kak... Raka pasti bisa jaga diri..."
" Ya sudah, kakak keluar dulu cari Mas Ricko..."
Erina duduk di tepi ranjang setelah kepergian Sandra. Di genggamnya tangan Arvan untuk menenangkan hatinya sendiri yang sedang risau. Tak ada yang bisa Erina lakukan saat ini, hanya kesedihan yang nampak di wajahnya. Erina nampak merebahkan kepalanya pada lengan Arvan yang masih tak sadarkan diri.
" Kak... bangunlah, maafkan aku..." lirih Erina.
" Apa kau mencemaskan aku...?" tiba - tiba terdengar suara Arvan yang sangat pelan.
" Kak Arvan_..." pekik Erina terkejut.
" Kenapa menangis...? Aku tidak suka melihat airmatamu seperti ini..." lirih Arvan seraya mengusap pelan airmata di wajah Erina.
" Maafkan aku, kak..."
" Untuk apa minta maaf, ini bukan salahmu..."
Erina memeluk Arvan dengan sangat erat sehingga nafas lelaki itu tersengal - sengal dan batuk.
" Kak Arvan kenapa...?" seru Erina khawatir.
" Boleh aku minta sesuatu...?" tanya Arvan.
" Katakan saja, kakak mau apa...?" sahut Erina cepat.
" Boleh kakak minta air putih, tenggorokanku terasa sangat kering..." lirih Arvan.
" Sebentar ya, Erin ambilkan..."
Erina mengambil air lalu membantu Arvan untuk duduk dan meminum air itu. Setelah selesai, Arvan bukannya kembali merebahkan dirinya ke bantal malah ke pangkuan Erina.
" Jangan pergi lagi, aku tidak mau berpisah dengan kalian berdua..." lirih Arvan.
" Jangan memikirkan itu dulu, kak... yang penting kak Arvan sembuh dulu..." ucap Erina.
Erina membelai rambut Arvan dengan lembut. Ditatapnya wajah yang kini tengah tersenyum memainkan rambutnya itu. Nampak sekali kebahagiaan di wajah Arvan saat ini.
__ADS_1
" Sayang, jangan pergi lagi ya...? Aku tidak bisa hidup tanpa kamu dan Raka. Apa tidak cukup kau menghukumku selama lima tahun ini...?"
" Kau pasti bersenang - senang selama lima tahun ini..." sahut Erina datar.
" Kenapa bicara begitu, aku mencarimu kemana - mana seperti orang gila. Sungguh aku sangat menyesal telah menyakitimu dulu..."
" Sudahlah, aku tidak mau membahas masa lalu lagi. Aku lelah dengan semua ini, aku hanya ingin menata masa depan yang bahagia bersama Raka..."
" Apa kau akan meninggalkan aku...?"
" Terserah kau mau ikut atau tidak...!"
" Benarkah...? Jadi kau mau memaafkan aku...?" ucap Arvan dengan mata berbinar.
" Kita lihat saja nanti...!" goda Erina.
" Sayang... jangan seperti itu...! Aku sangat mencintaimu..." rengek Arvan seperti anak kecil.
" Sudahlah, sebaiknya kak Arvan istirahat biar cepet sembuh..."
" Tapi dipeluk ya...?" rengek Arvan lagi.
" Nggak mau, ada kak Ricko dan kak Sandra di luar..." tolak Erina.
" Ayolah, sayang... please..."
" Erin pergi saja kalau kakak seperti ini terus..." goda Erina.
" Jangan sayang, jangan pergi..."
" Huft... kalau begitu istirahat yang benar...!" perintah Erina.
" Iya sayang, tapi janji kamu nggak akan pergi ninggalin aku..."
" Iya, sekarang tidurlah. Apa perlu aku pukul biar pingsan..."
" Ish... kau kejam sekali padaku..."
# # #
Sementara di tempat lain, anak buah Selly sedang menghadap sang Boss untuk menyampaikan laporannya.
" Apa yang kalian dapat...?" seru Selly.
" Pelayan dan anak itu berada di sebuah panti asuhan di perkampungan padat penduduk Boss..."
" Awasi terus pelayan itu, aku curiga dengan gerak - geriknya selama ini..."
" Baik Boss..."
Usai memberi perintah, Selly berniat untuk pergi namun saat itu juga dia berpapasan dengan bik Ina yang baru pulang. Tatapan tajamnya membuat bik Ina sedikit ngeri melihatnya.
" Apa anak itu sudah bertemu orangtuanya...?" tanya Selly.
" Belum Non, masih dicari..." jawab bik Ina pelan.
" Lanjutkan pekerjaanmu...!"
" Baik, Non..."
Selly menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Raka secara diam - diam karena menurut ibunya, anak itu seperti bukan bocah jalanan dilihat dari kulitnya yang putih bersih serta ucapannya yang lembut. Jika anak itu keturunan konglomerat, Selly bisa memanfaatkan anak itu untuk meminta imbalan karena telah menampungnya.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1