
Seluruh anggota keluarga Sebastian telah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama yang tertunda. Seperti biasa, Raka selalu berada di pangkuan kakeknya serta disuapi oleh neneknya.
" Raka, kamu betah tinggal disini...?" tanya kakek dengan tersenyum.
" Jangan bilang ayah mau bawa Raka ke London...!" ucap Arvan kesal.
" Memangnya kenapa? Dari lahir juga yang mengurus ayah, bukan kamu..." sahut ayah santai.
" Tapi Raka harus tetap bersama Arvan, Yah..."
" Kau kan bisa membuatnya lagi yang banyak... "
" Ayah...! Kenapa bilang begitu? Kalau Raka ikut ayah, Erin juga ikut..." ucap Erina.
" Ya sudah, pergi saja semua. Arvan bisa hidup sendiri...!"
Arvan melempar sendok di tangannya lalu pergi begitu saja dengan amarahnya yang memuncak.
" Kak, tunggu...!" panggil Erina.
Erina berusaha mengejar suaminya namun lelaki itu sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan segera melaju keluar gerbang.
" Kenapa kak Arvan jadi sensitif banget sih? Ayah kan pasti hanya bercanda saja..." gumam Erina.
Erina kembali masuk ke dalam rumah dan meminta kunci mobil yang dipakai Hans.
" Kak, pinjam kunci mobilnya ya...?"
" Tidak usah mengejar Arvan, Rin. Mungkin Arvan ingin menghadiri meeting pagi ini dengan klien..." ujar Hans.
" Rin, tunggu...! Aku akan mengantarmu..." ucap Adam.
" Aku bisa sendiri, Dam. Aku ingin mencari suamiku..."
" Kemanapun kau pergi, aku akan mengawalmu..."
" Baiklah..."
Erina berpamitan dengan kedua orangtuanya untuk segera menyusul suaminya yang pergi entah kemana. Sementara Raka disuruh tetap di rumah.
" Kita mau cari suamimu kemana, Rin...?" tanya Adam.
" Tidak tahu, Dam. Coba saja kita ke kantor, mungkin kak Arvan ada disana..." jawab Erina.
" Baiklah, tapi kok aku merasa sedikit aneh ya pada suamimu..."
" Aneh apanya...?"
" Pokoknya aneh saja, tidak seperti biasanya..."
" Kalau aku ngerasa kak Arvan itu sangat sensitif dan tidak bisa menahan amarahnya. Sepertinya dia sedang sakit, Dam. Tapi dia tidak mau diajak ke rumah sakit..."
" Harusnya kau bisa membujuknya, Rin. Takut nanti penyakitnya bertambah parah jika dibiarkan..."
" Nanti aku coba lagi deh, sekarang cepatlah sedikit..."
" Siap, Nona..."
# # #
Arvan terbaring lemah di brangkar rumah sakit dengan tubuh yang sangat lemah. Tadinya Arvan bertujuan ingin pergi ke kantor, tapi di tengah jalan dia kembali mual dan muntah. Karena penasaran dengan penyakitnya, Arvan secara diam - diam pergi ke rumah sakit. Dia juga sudah mengnon-aktifkan ponselnya di jalan tadi agar tidak bisa dilacak.
Saat ini dokter sedang memeriksa keadaan Arvan dengan sangat teliti. Beberapa dokter spesialis ikut turun tangan untuk memeriksa kondisi kesehatan pemegang saham terbesar rumah sakit itu.
" Dokter, apakah ada penyakit serius di tubuh saya...?" tanya Arvan.
Para dokter saling berpandangan sebelum menjawab pertanyaan dari Arvan.
" Maaf, Tuan. Kami tidak menemukan penyakit apapun di tubuh Anda..." ucap salah satu dokter.
__ADS_1
" Tapi kenapa saya sering mual dan muntah secara tiba - tiba? Tubuh saya juga sangat lemah tak ada tenaga sedikitpun..."
Semua dokter bingung harus menjawab apa kepada Tuannya karena memang tidak ditemukan penyakit apapun ditubuhnya.
Delia yang mendengar bahwa Arvan dirawat di ruangan intensif segera mencarinya untuk melihat langsung keadaan orang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu
" Arvan, kau kenapa...?" tanya Delia memecah keheningan.
" Del, akhirnya kau datang juga. Mereka semua tidak berguna..." Arvan menatap tajam para dokter di depannya.
" Ish... apa yang kau katakan? Mereka ini dokter senior di rumah sakit ini..."
" Tapi mereka tidak bisa mengatakan aku ini sakit apa..." keluh Arvan.
" Mungkin mereka takut kalau mau bilang kau ini hipertensi karena marah - marah terus..." gurau.
" Huft... jangan ngelantur kau...!"
" Hehehee... sekarang coba ceritakan padaku apa yang kau rasakan..." ucap Delia serius.
" Dari kemarin aku merasakan mual dan muntah, tubuhku juga rasanya tak bertenaga sama sekali..."
" Hahahaaaa..." Delia malah tertawa dengan sangat kencang.
" Apa yang kau tertawakan...?" sungur Arvan.
" Apa kau ingat kejadian sekitar enam tahun yang lalu...?"
" Kejadian apa...?"
Arvan mencoba mengingat - ingat kejadian di masa lalu, namun dia tidak mengingat apapun.
" Astaga...! Kau pernah mengalami hal seperti ini juga...!" pekik Delia hingga membuat para dokter terkejut.
" Maksud kamu apa...?" tanya Arvan penasaran.
" Maksudmu_..."
" Iya, ada kemungkinan istrimu sedang hamil saat ini. Apa dia tidak menemanimu kesini? Biar nanti di periksa oleh dokter kandungan..."
" Aku kesini sendiri tadi..."
" Ish... kau ini, sudahlah! Biarkan para dokter ini pergi..." ucap Delia.
Arvan langsung memberikan kode kepada para dokter untuk segera pergi dari hadapannya.
" Kau temani aku disini sampai istriku datang...!"
" Aku juga harus bekerja, Van. Apa kau sudah menghubungi Erina...?"
" Belum, kau saja. Aku sedang kesal pada semua orang..."
" Kau ini persis seperti saat istrimu mengandung Raka. Kau sangat sensitif dan manja..."
" Oh iya, aku pengen minum jus alpukat. Suruh Hans membawakannya kesini dan harus bikinan bik Ina..."
" Baik, Tuan..." ucap Delia gemas dengan tingkah pria yang biasanya bersikap dingin dan arogan.
Delia menghubungi Erina dan mengatakan jika Arvan sedang di rumah sakit tapi tidak mengatakan sakit apa yang di derita Arvan. Setelah itu, Delia juga menghubungi Hans untuk membawakan jus dari rumah.
Setengah jam kemudian, Erina dan Adam sampai di rumah sakit lalu di susul Hans di belakangnya.
" Erina... Adam...!" panggil Hans.
" Kak, kok kamu ada disini...?" tanya Erina.
" Tadi Delia minta dibawain jus buatan bik Ina..." jawab Hans.
" Pagi - pagi begini Delia pengen minum jus ...?"
__ADS_1
" Tidak tahu. Terus kalian ngapain kesini...?"
" Tadi Delia bilang kalau kak Arvan dirawat disini..."
" Arvan sakit...?"
" Sepertinya iya..."
" Ya sudah, kita cari Arvan dulu..." ujar Hans.
Saat mereka sedang berjalan menuju ruang perawatan Arvan, Delia berpapasan dengannya.
" Sayang, kamar Arvan yang mana...?" tanya Hans.
" Kalian sudah datang? Di kamar paling ujung itu ya, kalian pergilah duluan nanti aku menyusul..." jawab Delia.
" Mau kemana...?" Hans menarik pinggang Delia hingga tubuh mereka tak ada jarak.
" Hans! Aku sedang jam tugas sekarang. Lepaskan tanganmu itu...!" pekik Delia kesal.
" Aku merindukanmu..." bisik Hans.
" Kak Hans...! Bisa - bisanya kau mengganggu Delia di jam kerja. Ayo pergi...!" Erina menarik jas Hans hingga pria itu mengurai pelukannya.
" Iya, dasar pengganggu...!" gerutu Hans.
" Aku duluan, sayang. Kamu jangan lama - lama..." Hans mencium kening Delia dengan lembut.
" Sudah, aku mau cari teman aku dulu..." Delia mendorong Hans yang tak mau melepasnya.
" Ini jusnya, sayang...?" tanya Hans.
" Bawa aja ke ruang perawatan Arvan..."
Erina kembali menarik lengan Hans menuju kamar suaminya. Sampai di dalam, Erina melihat Arvan sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
" Kak, kamu sedang apa disitu...? Katanya sakit...?" tanya Erina.
" Tidak apa - apa, sini sayang..." sahut Arvan.
" Kakak sakit apa...?"
" Tidak apa - apa, cuma pengen ketemu kamu saja disini...:
" Serius, kak!"
" Iya, mana jusnya...?"
" Jus apa...? Yang dibawa kak Hans itu...?"
" Iya, itu aku yang minta..."
Tak lama, Delia masuk dengan seorang dokter wanita.
" Ayo, silahkan berbaring. Saya akan memeriksa Anda..."
Arvan, Delia dan dokter itu menatap Erina. Wanita itu jadi bingung ditatap seperti itu.
" Saya...?"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1