Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 81


__ADS_3

Arvan dan William terus mengintai pergerakan para musuh. Tubuh mereka sudah terasa ngilu karena sedari tadi harus jongkok di belakang sofa.


Tak lama, keluar dua orang dari sebuah ruangan yang tak jauh dari mereka. Arvan dan William terkejut saat melihat kedua orang itu.


" Mike dan Erick...?!" bisik Arvan dan William bersamaan.


Mereka sungguh tidak percaya jika dalang dari semua ini adalah Erick, anak kedua dari nyonya Anderson.


Beberapa menit kemudian, datanglah satu orang lagi yang ternyata adalah Damian, kakak dari Erick dan Melani.


" Erick...! Dimana Melani...?" teriak Damian.


" Oh... rupanya anak pungut sudah datang..." seringai Erick.


" Mike, apa yang kau lakukan disini...?" seru Damian pada adik iparnya.


" Saya mengikuti kemana arah menuju sumber uang, kak. Kau pikir aku suka menjadi budakmu setiap hari...!" sahut Mike dengan sinis.


" Kalian berdua benar - benar tidak punya hati! Teganya kalian membunuh Mommy...!" hardik Damian.


" Cukup, kau bukan siapa - siapa di rumah ini. Aku adalah putra sulung dari keluarga Anderson, kau hanya sampah jalanan yang dipungut oleh Mommy dan Daddy..." ujar Erick.


" Lalu... kenapa kau harus membunuh Mommy? Apa salah mommy padamu...?"


" Jika dia tidak berniat untuk memberikan modal besar, mungkin semua ini tidak akan terjadi..."


" Kau harus tahu, Erick! Aku hanya meminjam dari Mommy bukan meminta..."


" Aku juga tidak berniat membunuh mommy, hanya saja dia jatuh saat lari dari kejaran kami..."


" Dasar kau tidak punya hati, Erick! Akan kupastikan kalian berdua mendekam di penjara...!" teriak Damian.


" Itu jika kau bisa lolos dari sini, anak pungut...!" seringai Erick seraya menodongkan pistolnya.


" Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Erick...! Beliau ibu yang telah melahirkanmu, tapi kau tega menghabisi nyawanya hanya demi harta..."


Melani terbangun saat mendengar suara - suara berisik di luar tempat dia disekap. Pengaruh obat bius yang disuntikkan padanya mungkin sudah mulai menghilang.


" Bukan hanya uang, dari kecil mommy lebih sayang padamu daripada anak kandungnya sendiri..."


" Itu tidak benar, Erick! Mommy dan Daddy selalu adil kepada kita..."


" Diam kau! Keberadaanmu di rumah ini hanyalah menjadi benalu yang mengganggu...!"


Melani berjalan tertatih menuju pintu, untuk keluar. Namun tubuhnya terasa lemah tak berdaya.


" Aku tidak menyangka kak Erick pelakunya. Tega sekali dia membunuh mommy, apa salah mommy padanya..." batin Melani seraya menangis.


Arvan dan William sudah bersiap dengan pistol masing - masing untuk menyergap Erick dan Mike. Keduanya sudah tidak tahan lagi bersembunyi di belakang sofa.


Saat Arvan dan William hendak berdiri, sebuah kamar di samping Erick tiba - tiba terbuka dan keluarlah Melani dari sana. Dengan tubuh yang tak seimbang, Melani langsung jatuh dalam pelukan Damian.


" Mel, kau tidak apa - apa...?" pekik Damian panik.


" Maafkan aku sempat meragukanmu, kak..." lirih Melani.


" Jangan pikirkan itu, kita harus keluar dari sini..." bisik Damian.


" Semoga para Detektif itu bisa menolong kita, kak..."


Harapan Melani satu - satunya adalah Arvan dan William. Semoga mereka melihat cctv saat Melani melepasnya satu persatu karena Erick sudah mengetahuinya.


" Mel, apa kau lebih memilih benalu itu daripada kakakmu sendiri...?!" hardik Erick.

__ADS_1


" Aku tidak akan mau ikut dengan pembunuh Mommy...!" teriak Melani.


" Kalau begitu, bersiaplah kalian menyusul Mommy...!" seringai Erick.


Erick sudah menarik pelatuknya yang terarah kepada Damian yang memeluk Melani.


" Doorrr....!"


" Auwww...! Kakak...!" pekik Melani.


Mereka terkesiap saat menyadari bukan Damian yang tertembak melainkan lengan Erick. Arvan dan William keluar dari persembunyiannya.


" Huft... akhirnya tertangkap juga kau..." seringai Arvan.


" Kalian...! Bagaimana kalian bisa disini...?"


" Maaf, Tuan. Kami bertamu sangat tidak sopan. Saya hanya membantu klien mengungkap sebuah kejahatan..." ujar William.


" Serang mereka...!" teriak Erick pada anak buahnya.


Arvan dan William berkelahi dengan anak buah Erick yang berjumlah lima orang itu. Namun bagi mereka berdua, musuh itu hanya preman amatiran yang bisa dilumpuhkan dalam sekali hantam.


Arvan memberi kode kepada anak buahnya diluar dengan satu kali tembakan ke udara agar mereka masuk dengan beberapa anggota polisi.


Akhirnya, Erick dan Mike menyerah kemudian di gelandang ke kantor polisi.


" Tuan, terimakasih telah menolong kami..." ucap Damian.


" Itu sudah menjadi tugas kami. Kalian bisa selamat adalah hasil kerja keras Melani juga..."


" Terimakasih, Tuan. Anda datang tepat waktu..." ucap Melani.


" Baiklah, urusan kami disini selesai. Selamat tinggal, untuk selanjutnya kasus ini akan ditangani oleh pihak berwajib..."


" Sebaiknya kita makan siang dulu, Van. Saya ingin mencoba Restoran Jepang di depan sana..."


" Baik, kak. Kalau begitu saya kabari yang lain supaya mengikuti kita..."


" Ok...!"


Semua berhenti di parkiran resto yang sangat padat pengunjung. Arvan dan William memilih privat room sedang yang lain berada diluar.


Mereka menikmati makanan dengan sangat lahap lalu kembali ke Markas. Tak lupa Arvan membawa satu porsi untuk Raka, anaknya.


" Papa...!" teriak Raka.


" Hei... sayang, udah makan...?" sahut Arvan.


" Belum, Raka masih kenyang..." jawab Raka.


" Ayo makan dulu, sekarang sudah lewat jam makan siang..." bujuk Arvan.


" Apa kasusnya sudah selesai, pa...?"


" Sudah, satu tugas berhasil terpecahkan..."


" Papa kapan kembali ke Indonesia...?"


" Mungkin besok atau lusa, sayang. Kenapa...?"


" Papa ninggalin Raka dan mama lagi...?"


Arvan melihat ada kesedihan di mata anaknya. Sebenarnya tidak tega harus meninggalkan keluarganya disini.

__ADS_1


" Raka, papa pergi hanya sebentar. Raka anak yang hebat, harus bisa jaga mama serta kakek dan nenek. Papa akan segera kembali secepatnya..."


" Iya, pa. Raka pasti jaga mereka semua dengan baik..."


" Anak pintar, ayo makan..."


Arvan menggendong Raka ke ruang kerja Raka lalu menyuapi sang anak dengan telaten. Selesai makan, Arvan mengajak Raka untuk tidur siang karena lelah setelah mengungkap kasus.


Sampai di kamar, Arvan langsung merebahkan diri diikuti Raka.Mereka saling berpelukan seraya memejamkan matanya.


# # #


Sore hari, Erina menunggu Arvan dengan kesal. Ponselnya aktif tapi tidak diangkat padahal posisinya berada di Markas dengan Raka.


" Adaamm...!" teriak Erina.


" Iya, boss... ada apa...?" sahut Adam dari luar ruangan Erina.


Adam bergegas masuk ke ruangan Erina dengan sedikit berlari.


" Ada apa, boss...?" tanya Adam.


" Antarkan aku ke Markas, sekarang...!" perintah Erina.


" Baik, boss..." jawab Adam.


Adam dan Erina segera pergi ke Markas tempat Arvan dan Raka berada. Mereka sungguh keterlaluan tidak menjawab panggilannya.


Sampai di Markas, Erina turun dari mobil lalu masuk ke dalsm Markas diikuti Adam yang selalu setia mengawal kemanspun sang boss pergi.


" Kak Willy, dimana kak Arvan dan Raka...?" tanya Erina saat berpapasan dengan William di koridor.


" Dari siang belum melihatnya, mungkin mereka beristirahat di kamar..." jawab William.


" Ya sudah, saya cari dulu di kamar. Adam, kau disini saja..."


" Baik, boss..."


Adam duduk di sofa bersama dengan William. Suasana hening membuat keduanya merasa canggung.


" Dam, bagaimana keadaan kantor...?" tanya William.


" Semua lancar, Tuan. Bulan ini saham perusahaan naik lagi. Banyak investor baru yang bekerjasama dengan perusahaan Sebastian Corp..."


" Baguslah, sekarang ini Tuan Sebastian jarang sekali mengecek kantor ataupun Markas. Mungkin beliau benar - benar ingin pensiun..."


" Tenang saja, Tuan. Untuk masalah kantor, Erina cukup lihai dalam berbisnis..."


" Saya percaya itu, tugasmu adalah mendampingi Erina. Jangan sampai mengecewakan kami..."


" Baik, Tuan. Saya akan bekerja lebih keras lagi..."


Sementara itu, Erina masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan oleh William. Erina terbelalak kaget melihat pemandangan di depan matanya.


" Astaga, apa yang mereka lakukan..?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2