Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 122


__ADS_3

" Seraaa...!!!" teriak Erina histeris.


Erina tak kuasa melihat kamar Sera yang berantakan. Sesosok tubuh diatas tempat tidur bersimbah darah dengan keadaan yang sangat mengenaskan.


Arvan dan Adam yang langsung berlari menghampiri Erina ikut Shock. Adam langsung menutup tubuh polos Sera dengan kain seprai yang ia ambil dari lemari. Sementara Arvan langsung menyuruh Raka menunggu di ruang tamu sebelum menenangkan Erina yang menangis histeris.


" Tidaakkk...! Kenapa semua ini bisa terjadi padamu..." lirih Adam dalam tangisannya.


Arvan yang lebih kuat menguasai keadaan segera menghubungi pihak berwajib dan juga keamanan Apartemen.


" Sayang, kita keluar dulu menunggu polisi datang. Tenanglah, duduklah bersama Raka di depan..." ujar Arvan.


Arvan menghubungi William juga untuk segera mengusut tuntas kasus ini. Setelah mendudukkan Erina, Arvan kembali ke kamar untuk menenangkan Adam yang sama histerisnya dengan Erina.


" Dam, ayo keluar dari kamar ini. Jangan sampai kita merusak barang bukti yang ada..." ucap Arvan.


Adam hanya bisa menangis bersandar dinding di samping tempat tidur Sera. Adam menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Sera yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


" Sera... kenapa harus berakhir seperti ini, aku tidak mau kehilangan dirimu dengan cara seperti ini..." lirih Adam.


Selang lima menit, pihak keamanan Apartemen datang untuk memeriksa keadaan. Mereka juga tidak berwenang untuk mengambil tindakan jadi hanya ikut menunggu kedatangan pihak berwajib.


Arvan berhasil membawa Adam keluar dari kamar Sera dan mengajaknya duduk di ruang tamu bersama Erina dan Raka.


Menunggu sekitar sepuluh menit, polisi datang bersama Ambulance yang akan membawa jasad Sera ke rumah sakit untuk autopsi.


" Tuan, sejak kapan kalian disini...?" tanya salah seorang polisi.


" Kami datang sekitar lima belas menit yang lalu. Saat kami masuk, keadaan korban sudah seperti itu. Kami tidak merusak TKP..." jawab Arvan.


" Bagaimana kalian bisa masuk...?"


" Mereka berdua adalah teman dari korban dan bekerja di tempat yang sama. Mereka sering menghabiskan banyak waktu di tempat ini..."


" Baiklah, kalian bertiga datanglah ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut..."


" Baiklah, tapi kami boleh meminta ijin untuk ikut menyelidiki kasus pembunuhan ini...?" pinta Arvan.


" Kalian siapa...? Ini akan menjadi tanggung jawab kepolisian..."


" Saya adalah Detektif dari agen rahasia di kota ini..."


" Apa kau anak buah Tuan Regan...?"


" Benar, saya bekerja untuk beliau..."


" Baiklah, kita akan bergabung untuk mengungkap kasus ini bersama..."

__ADS_1


" Terimakasih, pak..."


" Sama - sama, terimakasih juga sudah bersedia membantu pekerjaan kami..."


Jasad Sera dibawa ke rumah sakit, sedangkan Arvan dan William bekerja sama dengan polisi untuk mencari bukti tentang pembunuhan Sera.


Adam, Erina dan Raka diantarkan pulang ke rumah oleh anak buah William. Arvan tidak mau Adam sendirian di Apartemen karena jiwanya yang sedang terguncang.


" Kak Willy, apa ini ada kaitannya dengan para koruptor di perusahaan atau berkas yang dicuri oleh perusahaan lain...?" tanya Arvan.


" Kita belum tahu, Sera tidak pernah saya libatkan dengan kasus apapun di markas. Makanya saya tidak melakukan pengawalan untuknya..." jawab William.


Polisi mengambil sidik jari yang berada di sekitar tempat itu lalu memasang garis polisi di depan pintu Apartemen. Arvan memprediksi bahwa Sera mengenal pelaku karena sepertinya ia masuk dengan bebas. Mereka juga sempat melakukan hubungan terlarang sebelum Sera dibunuh.


Selesai dengan penyelidikan, Arvan dan William segera pergi dari Apartemen Sera diikuti oleh para polisi. Arvan langsung pulang karena tak ingin istrinya terpuruk sendirian di saat ia sedang hamil muda.


" Kak Willy, saya langsung pulang. Besok pagi kita bertemu di markas untuk mengambil tindakan selanjutnya..." pamit Arvan.


" Baiklah, kau juga harus istirahat dan tenangkan istrimu. Dia pasti merasa sangat kehilangan sahabatnya..." sahut William.


Arvan segera melajukan kendaraannya menuju rumah dengan perasaan cemas takut istrinya tak bisa mengontrol diri.


# # #


" Sayang, kamu yang sabar ya...? Kakak pasti akan segera menangkap pembunuhnya..." Arvan menghibur Erina yang masih menangis.


Arvan tidak tahu harus dengan cara apa membujuk istrinya agar berhenti menangis. Biasanya hanya Adam yang bisa membuat Erina tenang di saat sedang marah atau sedih. Namun saat ini, bukan hanya Erina yang terpuruk tapi Adam juga sangat terluka dengan kepergian Sera.


" Kakak pasti akan segera menangkap pelakunya, kamu harus kuat demi anak - anak kita..."


" Sera adalah teman terbaik untukku, aku tidak sanggup kehilangan dia secepat ini..."


" Sebaiknya kau tidur sekarang, apa kau punya kontak orangtua Sera...? Kita harus mengabarkan kabar duka ini kepada mereka..."


" Orangtuanya sudah berpisah dan memiliki keluarga baru masing - masing. Sera tidak pernah berkomunikasi dengan orangtuanya sejak saat itu..."


" Baiklah, kalau begitu kita yang akan mengurus pemakamannya. Bukankah hanya kita yang dia miliki disini...?"


" Kakak benar, aku harus kuat demi anak - anak kita dan juga Sera..."


" Ya sudah, sekarang istirahatlah. Kakak akan menemui Adam setelah kamu tidur..."


" Erin ikut kakak aja..." rengek Erina.


Arvan menghela nafas panjang sebelum menjawab rengekan istrinya. Wajahnya yang terlihat menghiba membuat Arvan tidak tega menolaknya.


" Baiklah, tapi istriku yang cantik ini harus janji tidak akan menangis lagi apalagi di hadapan Adam. Kamu harus bisa terlihat kuat agar Adam tidak semakin terpuruk. Kalian harus saling menguatkan supaya Sera bisa tenang di tempat yang abadi..."

__ADS_1


Erina memeluk suaminya dengan sangat erat. Rasa nyaman yang selalu ia rasakan saat berada dalam dekapan sang suami.


" Ayo, kak. Kita temui Adam sekarang, dia pasti sedang sedih..."


" Iya, sayang. Tapi sebentar saja, setelah itu kita juga harus istirahat..."


" Iya, suamiku sayang..."


Arvan sedikit merasa tenang melihat senyum kecil di bibir istrinya. Merekapun segera beranjak mencari keberadaan Adam.


Sampai di bawah, mereka langsung menuju kamar Adam namun tak ada orang di dalam. Erina melihat pintu utama tidak tertutup dengan rapat sehingga dia berpikir bahwa Adam ada diluar.


" Kak, sepertinya Adam diluar..." ucap Erina.


" Ya udah, kita keluar cari Adam..." sahut Arvan.


Arvan merangkul bahu istrinya keluar rumah mencari keberadaan Adam. Terlihat pria itu sedang duduk di taman menatap langit gelap. Walaupun dia hanya diam, namun airmatanya mengalir dengan deras.


" Sera, harusnya aku bisa menjagamu. Harusnya kita tetap bersama apapun yang terjadi..." batin Adam.


" Kak, bolehkah Erin bicara berdua saja dengan Adam? Dia pasti sungkan jika ada kak Arvan disini..." bisik Erina.


" Ya sudah, tapi jangan lama - lama diluar. Ajak Adam segera masuk dan istirahat agar kalian tidak sakit..."


" Iya, sayang. Erina akan bujuk Adam biar tidak bersedih lagi..."


Arvan mencium kening istrinya sekilas lalu meninggalkannya berdua dengan Adam supaya mereka lebih leluasa dalam berbicara.


" Jangan larut dalam kesedihan, kita harus kuat dan bisa mengungkap siapa pembunuhnya..." Erina duduk di samping Adam.


" Erin, kenapa kamu ada disini...?" tanya Adam.


" Dam, aku tahu kita kehilangan saudara yang sangat kita sayangi. Tapi kita harus bisa bangkit untuk mencari keadilan buat Sera..."


" Iya, Rin. Tapi aku belum bisa menghilangkan rasa bersalahku pada Sera. Seharusnya tadi siang aku bisa mencegah kepergiannya dari kantor. Aku yakin Sera menyimpan rahasia besar yang tidak ingin kita ketahui..."


" Kak Arvan dan kak Willy akan menyelidiki kasus ini sampai selesai, tenangkan dirimu. Kita juga akan membantu penyelidikan ini. Sera pasti meninggalkan suatu bukti yang bisa mengungkap siapa pembunuhnya..."


" Kamu benar, Rin. Aku sendiri yang akan menangkap pembunuh itu. Takkan kubiarkan dia berkeliaran dengan bebas..."


Erina membawa Adam ke dalam pelukannya agar amarah Adam tidak meledak. Setelah itu, Erina membujuk Adam agar mau masuk ke dalam dan beristirahat karena malam semakin larut.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2