
" Eh, Tuan... kenapa Raka ditinggal...?" tanya Adam tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Arvan yang baru tersadar segera menoleh ke belakang dan melihat anaknya sedang berlari - lari kecil ke arahnya.
" Astaga... Aku sampai melupakan anakku..." ucap Arvan kesal.
Arvan segera menghampiri Raka lalu menggendongnya dan kembali menatap Adam dengan tatapan tajamnya.
" Raka, maafin mama..."
Erina berlari lalu memeluk Raka yang masih berada dalam gendongan Arvan.
" Maafkan Raka juga ya, Ma..."
Erina membawa Raka ke dalam dekapannya dan menciumnya berkali - kali. Sementara itu, Arvan mengejar Adam yang sudah berlari menjauh karena pasti tuannya akan mengamuk.
" Adaaammm...! Berhenti kau...!" teriak Arvan penuh amarah.
Erina dan Raka saling berpandangan melihat tingkah aneh Arvan. Arvan dan Adam kejar - kejaran seperti anak kecil di tepi danau dengan umpatan - umpatan yang tak pantas di dengar.
" Adaammm...! Kubunuh kau...!" pekik Arvan kencang.
" Ampun, Tuan... saya tidak sengaja melakukannya..." sahut Adam sambil terus berlari.
" Berhenti atau ku tembak sekarang juga...!" ancam Arvan.
" Baik, saya akan berhenti tapi jangan menembak..." teriak Adam seraya bersembunyi di balik pohon.
Nafas mereka berdua seakan terputus karena lelah berlari di sepanjang danau dengan kecepatan tinggi.
" Kak Arvan, apa yang kau lakukan...?" teriak Erina.
" Diamlah! Aku akan membunuhnya sekarang juga...!" geram Arvan.
" Kalian kenapa lagi? Kenapa bertengkar seperti anak kecil..."
" Sudahlah, ini urusanku dengan kecoak itu...!"
" Kak, Raka lapar. Sebaiknya kita makan dulu ya...?" bujuk Erina.
" Hhh... baiklah, ayo makan..."
Mereka bertiga duduk atas tikar dan kembali melanjutkan makan yang tertunda. Adam yang melihat keluarga itu akur kembali, tersenyum dan segera meninggalkan tempat itu untuk memberikan privasi bagi keluarga kecil itu.
" Semoga kalian selalu bahagia..." gumam Adam seraya masuk ke dalam taksi yang sudah dipesannya tadi.
Raka yang sedang makan tiba - tiba teringat dengan Adam saat masih ada sebungkus makanan yang belum terbuka.
" Mama, Uncle Adam kemana...?" tanya Raka.
" Oh iya, kemana dia pergi..." sahut Erina.
" Mungkin dia kabur takut aku bunuh..." jawab Arvan acuh.
" Lagian papa kenapa sih mau bunuh Adam...?" tanya Erina.
" Karena aku tidak suka ada orang lain yang menyentuh milikku...!"
" Maksudnya...?"
" Sudahlah, aku akan menghapusnya nanti di rumah..."
" Menghapus apa, kak...?"
__ADS_1
" Nanti tahu sendiri saat sampai di rumah..."
Mereka kembali makan dengan lahap karena memang sangat lapar. Apalagi Arvan yang sedari tadi kejar - kejaran dengan Adam telah menguras banyak tenaga.
# # #
Adam menyandarkan tubuhnya di taksi yang ditumpanginya. Rasa lega menghampirinya karena sudah terbebas dari kejaran tuannya.
" Syukurlah... akhirnya bebas juga. Semoga mereka tidak berantem lagi seperti tadi. Sungguh hari yang sangat melelahkan..." keluh Adam.
Sopir taksi yang membawanya itu merasa heran dengan tingkah penumpangnya yang suka bicara sendiri.
" Tuan, apakah Anda baik - baik saja...?"
" Ah, iya... saya baik - baik saja. Cepatlah jalan...!"
" Baik, Tuan..."
Sampai di Apartemen, Adam langsung membersihkan diri karena merasakan tubuhnya sangat lengket setelah kejar - kejaran dengan tuannya.
Selesai mandi, Adam memesan makanan seraya menonton siaran televisi. Rasanya sangat nyaman bisa rebahan dengan tenang tanpa gangguan siapapun.
Lima belas menit kemudian, makanan pesanannya datang dan Adam segera melahapnya tanpa sisa. Setelah merasa kenyang, Adam masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Baru setengah jam memasuki alam mimpi, dering ponsel di sampingnya berbunyi nyaring. Dengan mata yang masih terpejam, Adam menekan tombol berwarna hijau itu lalu menempelkannya di telinga.
" Hallo... siapa...?" ucap Adam dengan suara serak.
[ " Apa kau buta...?!" ]" teriak orang diseberang telfon.
Adam kaget kemudian membuka matanya dan menatap layar ponsel.
" Tuan William, maaf saya baru bangun. Ada apa Anda menghubungi saya...?"
[ " Datanglah ke Markas sekarang...!" ]
" Baik, Tuan..."
Adam pergi ke kantor terlebih dahulu untuk mengambil mobilnya daripada harus mondar - mandir naik taksi.
" Tuan, ada apa...?" tanya Adam setelah sampai di Markas.
" Tadi Arvan menemukan sapu tangan di TKP, kamu cocokkan sidik jarinya dengan hasil sidik jari ketiga anak korban..." perintah William.
" Baik, Tuan..."
" Hari liburku hilang minggu ini. Nasibku begitu buruk akhir - akhir ini..." gerutu Adam dalam hati.
Adam di bantu beberapa anak buah William menyelidiki sidik jari dalam sapu tangan itu. Setelah lima belas menit meneliti, hasilnya pun sudah keluar. Adam mencocokkan sidik jari itu namun tidak ada yang sama dengan ketiga anak korban.
Adam berpikir sejenak lalu beranjak dari ruang laboratorium untuk menemui William. Kali ini dia harus ikut mengusut tuntas kasus ini walaupun bukan bidangnya.
" Tuan, boleh saya masuk...?" ucap Adam.
" Masuklah! Sudah kau identifikasi sidik jarinya...?" sahut William.
" Sudah, Tuan. Dalam sapu tangan itu hanya ada sidik jari satu orang saja. Namun tidak ada yang sama dari ketiga anak korban..."
" Saya yakin pembunuhnya ada diantara mereka yang tinggal di rumah itu..."
" Apa kita perlu datang kesana lagi, Tuan...?"
" Tunggu perintah dari Arvan dulu. Sepertinya dia sudah memiliki rencana untuk menangkap pembunuh itu..."
__ADS_1
" Baik, Tuan. Saya akan menanti perintah dari Anda..."
" Kau tahu dimana Arvan sekarang...?"
" Tadi saya mengantar Tuan Arvan ke danau lalu saya pulang ke Apartemen..."
" Apa terjadi kekacauan pada mereka...?" tanya William seraya tersenyum.
" Seperti dugaan Anda, Tuan... mereka tidak akan bisa akur saat bertiga..." sahut Adam ikut tersenyum.
" Kenapa kau malah pergi dan tidak melakukan pengawalan...?"
" Saya masih pengen hidup dengan tenang. Tuan Arvan sepertinya tidak suka melihat keberadaan saya..."
" Maksudnya...?"
" Hampir saja saya jadi sasaran tembaknya hanya karena kesalahpahaman..."
" Dia memang seperti itu, kau harus terbiasa dengan sikap arrogannya..."
" Saya tidak mengerti kenapa Tuan Arvan tidak menyukai saya..."
" Itu karena kau terlalu dekat dengan anak istrinya..."
" Huft... pantas saja..." gumam Adam.
# # #
Puas menikmati pemandangan alam di danau, Arvan mengajak anak dan istrinya berkeliling kota London. Mereka tampak bahagia setelah tadi sempat terjadi masalah kecil.
Arvan mengajak mereka ke beberapa tempat wisata yang indah. Melihat senyuman istri dan anaknya, Arvan begitu senang dan selalu mengucap syukur dalam hati.
Hingga malam hari, mereka baru sampai di rumah. Arvan langsung memandikan Raka lalu mengajaknya tidur di kamar Raka sendiri. Setelah Raka tidur, Arvan kembali ke kamar dan melihat sang istri masih rebahan di sofa.
" Sayang, kamu belum mandi...?" tanya Arvan.
" Sebentar, kak. Erina lelah seharian berkeliling kota..."
" Ya udah, sekarang mandi yuk...? Biar lebih fresh dan nyaman tidurnya..."
" Kak Arvan duluan saja..."
" Kita bareng aja sayang, aku pengen menghapus yang tadi..."
" Apanya yang dihapus...?" tanya Erina bingung.
Tanpa menunggu persetujuan, Arvan langsung mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.
" Auwww...! Kebiasaan deh, kakak selalu mengagetkan Erin....!"
Arvan hanya diam lalu menanggalkan semua kain yang melekat di tubuh sang istri. Setelah itu, Arvan juga melepas pakaiannya yang basah karena guyuran air shower.
" Kak, hentikan...!" rintih Erina saat Arvan mulai memeluk pinggangnya.
" Aku ingin menghapus jejak Adam di tubuhmu..." bisik Arvan.
Mereka mandi dengan cepat lalu segera kembali ke kamar untuk melakukan aktifitas yang sempat terhenti karena Erina merasa tidak nyaman melakukannya di kamar mandi.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.