
" Hei... kalian sudah gila...!" teriak Arvan.
" Haish... jangan bergerak atau kepalamu yang jadi sasaran..." perintah William.
" Kak, apa kau akan membunuhku dengan tangan Raka...?" pekik Arvan.
" Diamlah dan fokus! Jangan sampai kau bergerak sedikitpun...!" peringat William.
" Tapi, kak_..."
" Raka, bersiaplah! Kau harus bisa fokus dengan buah itu. Jangan menggunakan emosi, tetap fokus pada target. Anggap saja papa kamu adalah sebongkah batu yang tidak perlu kau perhatikan..."
" Baik, Uncle..."
William menghampiri Arvan yang nampak pucat ketakutan. Dengan senyum yang tidak bisa diartikan, William membenarkan posisi buah jeruk diatas kepala Arvan.
" Berdo'a saja bidikan Raka tidak meleset karena ini pertama kalinya Raka mencoba di atas kepala orang, biasanya dia hanya mencoba diatas meja..." bisik William.
" Kak, kau ingin membunuhku...! Aku tidak mau mati konyol di tangan anakku sendiri..."
" Diamlah, jangan pasang wajah panikmu nanti Raka tidak bisa fokus pada bidikannya..."
Raka sudah bersiap untuk membidik jeruk di atas kepala papanya. Raka memusatkan indra penglihatannya pada sasarannya. Diapun menetralkan hatinya supaya bisa fokus dan tidak terpancing dengan emosinya sendiri.
" Siap...!" teriak William.
Raka menganggukkan kepalanya sedangkan Arvan memejamkan mata sambil terus berdo'a.
William memberikan aba - aba agar Raka mulai menarik busur panahnya.
" Sssssshhh...pakkk!"
William langsung bertepuk tangan lalu memeluk Raka dengan erat.
" Kau sangat hebat, Nak! Uncle bangga padamu..."
Bidikan Raka tepat sasaran, anak panahnya menembus buah jeruk di atas kepala Arvan. Seketika tubuh Arvan terasa lemas dan terduduk di lantai dengan keringat yang mengucur deras.
" Terimakasih, Uncle..."
Raka berjalan menghampiri papanya yang masih duduk di lantai dengan jantung yang tak beraturan.
" Papa tidak apa - apa...?" tanya Raka.
" Hmmm... I'm fine..." jawab Arvan datar.
" Papa mau ikut latihan yang lain...?"
" Tidak, kau saja..."
William tersenyum mengejek ke arah Arvan yang masih lemas.
" Hei... kau baik - baik saja, Van...?"
" Hmmm... kenapa kau ajarkan hal - hal berbahaya pada anakku...!"
" Dia sendiri yang menginginkannya, saya tidak pernah memaksa..."
" Apa Erina tahu...?"
" Iya, tapi baru dua bulan yang lalu. Ini penting buat Raka, Van. Pekerjaannya menuntut dia untuk menjadi orang yang keras dan kuat. Raka harus dilatih dari sekarang supaya terbiasa..."
Raka mengambil pistol dengan kapasitas ringan yang sesuai dengan kekuatan otot tubuhnya. Anak itu berjalan menuju arena menembak jarak jauh. Arvan yang melihatnya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sungguh diluar dugaan, anak yang dicarinya selama lima tahun ini ternyata tumbuh dengan kemampuan yang sangat luar biasa.
Raka menatap tajam targetnya dan mengarahkan pistolnya dengan tangan mungil khas seorang balita namun cengkeramannya begitu kuat.
__ADS_1
" Doorrr... Doorrr... Doorrr...!!!"
Tiga tembakan tepat menembus titik tengah lingkaran yang terpampang di depannya.
" Huft... bakatnya memang sangat luar biasa..." gumam Arvan.
" Iya, Raka memang sangat luar biasa. Aku saja kalah bila harus bersaing dengannya dalam hal menembak. Saya yakin dia akan menjadi sniper yang sangat hebat..."
" Padahal aku berharap Raka tumbuh normal seperti anak seusianya..."
" Tenang saja, Raka hanya butuh waktu saja. Saya yakin Raka akan mampu mengatasi semua ini asal kalian tidak mengekangnya..."
" Tapi membiarkannya juga akan membuatnya semakin tak terkendali,kak..."
Raka menyimpan kembali senjata yang habis dia gunakan ke tempatnya semula lalu duduk di samping papanya.
" Kita jemput mama sekarang, pa. Raka lapar, pengen makan bareng mama..."
" Ok, kita pergi sekarang. Kak Willy, kami pamit dulu..." ucap Arvan.
" Bye, Uncle...!" pamit Raka.
" Hati - hati...!" peringat William.
Arvan dan Raka masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan markas menuju kantor Erina. Raka membahas soal aplikasi yang baru diperbaruinya dan menjelaskan secara detail penggunaannya supaya papanya bisa meng-akses langsung dengan cepat tanpa bantuannya.
Tak terasa, mereka berdua sudah sampai di depan gedung perusahaan tempat Erina berada.
" Pa, katanya Raka disuruh bersikap layaknya anak kecil..." ucap Raka saat hendak turun dari mobil.
" Iya, lalu...?" tanya Arvan.
" Berarti papa harus mau gendong Raka biar kelihatan kalau Raka ini memang masih kecil..."
" Ish... tadi kau hampir saja membunuh papa, sekarang mau menyiksa..." sungut Arvan.
" Haish... kau sudah berani mengancam papa rupanya..."
Arvan turun dari mobil terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk Raka dan menggendongnya walaupun hatinya masih kesal karena anak itu sudah mengerjainya dari tadi.
Sampai di ruangan kerja Erina, Raka langsung menghampiri sang mama dan memeluknya. Begitupun dengan Arvan yang memeluk dan mencium istrinya.
" Sayang, kalian darimana saja...?" tanya Erina melihat wajah datar suaminya.
" Papa habis gangguin aunty cantik diluar, Ma..." jawab Raka nyengir.
" Raka, papa tidak ganggu siapapun...!" sahut Arvan.
" Benar yang dikatakan Raka, kak...?" cecar Erina.
" Tidak, sayang. Raka hanya mengarang cerita..."
Arvan menarik Erina ke dalam pelukannya lalu menciumnya dengan lembut tanpa menghiraukan keberadaan Raka.
" Ish... kakak... jangan lakukan itu..." desis Erina.
" Biarkan saja, aku sedang kesal padanya...!" sungut Arvan.
" Memangnya Raka ngapain...?"
Erina mengajak Arvan dan Raka untuk duduk di sofa. Arvan dengan manja langsung merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.
" Masa' papanya sendiri dijadikan obyek latihan memanah. Kalau meleset, kepalaku yang tembus bukan jeruknya..."
" Udah, Raka cuma bercanda nggak usah marah..."
__ADS_1
" Papa lebay..." cibir Raka.
" Apa kau bilang? Beraninya bilang papa lebay, mau papa masukin ke asrama...!" ketus Arvan.
" Sudah, jangan berantem lagi...!" tukas Erina.
Erina pusing sendiri melihat ayah dan anak bertengkar di depan matanya.
" Sebaiknya kita pulang saja..." ajak Erina.
" Tunggu semua karyawan mama pulang dulu, papa dan Raka mau memperbarui sistem keamanan perusahaan mama..." ucap Arvan.
" Ya sudah, kita tunggu dulu saja..." sahut Erina.
Adam dan Sera yang tidak mengetahui kedatangan Arvan langsung saja nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Rissa_... eh, maaf... Saya tidak tahu ada Tuan Arvan disini..." ucap Sera terbata.
" Kalian mau pulang...?" tanya Erina.
" Mmm... sebenarnya iya jika sudah tidak ada lagi yang dikerjakan..." jawab Sera diangguki oleh Adam.
" Kau boleh pulang, tapi Adam tetap disini..." bukan Erina yang menyahut, melainkan Arvan.
" Baik, Tuan..." jawab Adam.
" Sayang, aku ada urusan sebentar dengan Adam. Kau disini saja dengan Raka..."
Arvan beranjak dari rebahannya lalu mengajak Adam ke ruang kerja sang assisten itu.
" Adam, bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik...?"
" Iya, Tuan. Saya baik - baik saja hanya luka kecil..."
" Sudah ada info tentang penyerangan kemarin...?"
" Belum, Tuan. Saya sedang mengawasi Samuel..."
" Kau dapatkan data tentang dia...?"
" Benar, Tuan. Samuel sedang merintis usaha di kota ini. Dia seorang CEO di perusahaan agency modeling di Indonesia. Kini dia membuka cabang baru disini sekitar satu minggu yang lalu..."
" Apa dia mempunyai catatan kejahatan...?"
" Sementara ini dia bersih, Tuan. Tidak pernah berurusan dengan hukum..."
" Huft... tapi perasaanku tetap mengarah padanya...!"
" Jangan - jangan Tuan cemburu karena Erina sangat dekat dengan laki - laki itu..."
" Tidak, tidak mungkin aku cemburu. Dia tidak selevel denganku..."
" Berapa lama semua karyawan pulang...?"
" Seperempat jam lagi, Tuan..."
" Baiklah, kita kembali ke ruangan Erina..."
Arvan keluar diikuti Adam di belakangnya mengecek keadaan di luar terutama ruang sistem keamanan. Arvan tidak mau mengusir karena tidak ingin ada satu orangpun curiga. Setelah semua karyawan pulang, baru dia akan beraksi bersama anaknya.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.