
" Apa kamu ada masalah, Nak...?" tanya wanita paruh baya itu seraya mengusap pelan rambut Raka.
" Kenapa ibu bisa tahu...?" tanya Raka balik.
" Dari raut wajahmu ibu bisa tahu, Raka..." jawab wanita itu yang ternyata ibu panti yang pernah di datangi Raka bersama bik ina.
" Raka lelah, bolehkah Raka istirahat sebentar...?"
" Tentu saja, apa kau mau mencoba berbaur dengan teman - temanmu...?"
" Nanti saja, bu. Raka mau istirahat dulu saja..."
" Ya sudah, kamu istirahat di kamar yang itu saja.." ibu panti menunjukkan kamar yang kosong kepada Raka.
" Terimakasih, bu..."
Raka masuk ke dalam kamar lalu merebahkan duri di tempat tidur yang tidak terlalu luas itu.
" Maafin Raka, Ma... seperti yang mama dan papa inginkan, Raka akan mencoba berbaur dengan anak seusia Raka. Raka juga akan menyelidiki sendiri keberadaan tante Selly agar keselamatan mama tidak terancam lagi. Sungguh, Raka tidak marah ataupun benci pada papa. Setelah kasus tante Selly terungkap, Raka pasti pulang..."
# # #
Hari sudah mulai pagi, Raka ikut berbaur dengan anak panti yang lain dan mencoba untuk ikut bermain bersama mereka.
" Hei... kamu imut sekali..." celoteh salah satu anak perempuan yang duduk di samping Raka. Anak itu mungkin berumur sepuluh tahunan sama seperti Monika.
" Kakak mau main denganku...?" tanya Raka walaupun wajahnya nampak datar.
" Tentu saja, siapa namamu? Nama saya Agnes..."
" Nama saya Raka, kak..."
" Untuk anak seusia kamu mainnya bukan disini, ayo ikut kakak..."
Agnes mengajak Raka ke sebuah ruangan yang berisi mainan edukasi anak.
" Mau main apa disini, kak...?"
" Kamu bisa bermain puzzle atau bermain warna dengan lilin mainan..."
Raka asyik bermain dengan Agnes dan anak - anak kecil lainnya. Baru juga satu jam bersama, Raka sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Dia bisa menerima interaksi sosial dari teman sebayanya.
Ibu panti sangat senang melihat ada sedikit perubahan pada diri Raka. Dulu Hans pernah memberitahukan tentang Raka yang merupakan anak genius yang memiliki kecerdasan diatas normal anak seusianya.
__ADS_1
" Raka, apa kau senang bermain dengan teman - temanmu...?" tanya ibu panti.
Kini mereka berdua duduk di taman samping rumah. Banyak tanaman bunga dan buah yang terawat rapi disana.
" Raka senang, bu. Walaupun tadi ada anak yang nangis rebutan mainan..."
" Itu hal yang wajar, namanya juga anak kecil..."
" Selama ini Raka tidak pernah mainan seperti itu?"
" Ibu tahu, sekarang apa Raka mau cerita sama ibu kenapa bisa sampai disini..."
" Raka pengen cari suasana baru saja, bu..."
" Sorot matamu itu tidak bisa membohongi ibu, Raka..."
Raka hanya tersenyum kepada wanita paruh baya yang sangat peka terhadap dirinya walaupun baru dua kali mereka bertemu.
" Raka ingin belajar untuk menjadi anak yang baik untuk papa dan mama. Selama ini Raka tidak pernah mendengar nasehat mereka..."
" Tapi kau tidak bisa pergi begitu saja, pasti orangtuamu sangat khawatir mencarimu. Sebaiknya kau hubungi pamanmu, biar mereka juga tenang..."
" Iya, bu. Nanti saya akan menghubungi keluarga saya..."
Sangat aneh bagi Raka, karena dia duduk bersama teman - temannya untuk belajar mengenal huruf padahal sejak berumur dua tahun dia sudah bisa membaca dan menulis dengan baik.
" Raka, kenapa kamu diam...? Apa kamu belum bisa menulisnya...?" tanya seorang pengasuh yang mengajarinya.
Raka berpura - pura tidak bisa melakukannya sehingga pengasuh itu mengajari dengan penuh perhatian. Dari mulai memegang pensil hingga membuat coretan di kertas, pengasuh itu menggenggam tangan Raka untuk diarahkan membuat huruf yang benar.
Tanpa sadar, Raka memperhatikan dengan seksama wajah tulus dan sabar pengasuh itu. Baru kali ini Raka merasakan perhatian yang begitu menenangkan hatinya walaupun banyak sekali anak yang duduk bersamanya, namun mereka semua mendapatkan kasih sayang yang sama.
" Apa karena selama ini aku bisa melakukannya sendiri hingga mama tidak pernah memberikan perhatian kecil seperti ini? Dulu aku belajar huruf juga dari internet, tidak ada yang menggenggam tanganku saat menorehkan tinta dalam selembar kertas. Ternyata menjadi anak biasa itu lebih menyenangkan. Pantas saja mama memaksa aku untuk bersekolah dan berbaur dengan teman sebaya..." batin Raka seraya meneteskan airmata.
" Raka, kenapa menangis? Apa ada teman yang mengganggumu...?" tanya Agnes yang tiba - tiba sudah duduk di sampingnya.
" Kak Agnes, Raka tidak apa - apa. Raka hanya senang saja memiliki banyak teman disini..."
" Kau pasti betah tinggal disini, kami semua tidak kekurangan kasih sayang dari para pengasuh..." tutur Agnes.
" Iya, kak. Semua yang disini sangat baik padaku..." sahut Raka.
Semua anak kembali belajar hingga menjelang makan siang. Raka merasa sangat senang hari ini. Dia mulai meninggalkan gadgetnya dan mulai bermain di dunia nyata.
__ADS_1
Saatnya makan siang, Raka duduk berjajar dengan anak - anak yang lainnya. Walaupun hanya makanan sederhana, tapi terasa sangat nikmat.
Karena masih dianggap balita, Agnes menyuapi Raka dengan telaten. Gadis kecil tampak cekatan dalam mengurus anak kecil, mungkin dia sudah terbiasa membantu pengasuh panti untuk menjaga anak - anak.
Raka merasa terharu dengan sikap baik Agnes. Di rumah, dirinya dianggap sebagai anak yang mandiri sehingga hal sekecil inipun sudah jarang ia dapatkan.
" Raka, sebaiknya kamu istirahat di kamar seperti yang lain. Saya juga akan beristirahat di kamarku..."
" Iya, kak Agnes. Selamat istirahat..." ucap Raka.
Setelah berpisah dari Agnes, Raka kembali ke dalam kamar dan bersiap untuk pergi. Raka mengetuk pintu kamar ibu panti untuk berpamitan dengannya sebelum pergi supaya tidak menjadikan orang panti khawatir.
Setelah berpamitan, Raka membawa semua peralatan yang selalu tersedia di saku jaketnya. Raka sudah memutuskan untuk menyelidiki rumah mamanya sendiri. Dia tidak mau melibatkan banyak orang disana karena tidak ingin terjadi masalah yang lebih besar lagi.
" Papa, mama... maafkan Raka tidak menuruti keinginan kalian. Raka hanya ingin melindungi ibunya dari para penjahat..." gumam Raka.
Raka naik ojek untuk pergi ke rumah ibunya agar tidak terlalu mencolok. Dia harus mencari informasi tentang rumah di samping rumah mamanya.
Sampai di tempat tujuan, Raka membayar tukang ojek itu dan menyuruhnya pergi. Untung saja Raka memiliki debit card yang bisa dicairkan di ATM di berbagai negara. Kakeknya, Tuan Regan memberikannya kepada anak itu tanpa sepengetahuan orang lain.
Raka memperhatikan rumah mewah itu dengan seksama. Sepertinya rumah itu juga kosong seperti rumah mamanya.
Saat akan mendekati gerbang rumah itu, ada seorang wanita tua yang menghampirinya. Sepertinya dia adalah salah satu pelayan yang ada di sekitar sana.
" Hei... kamu cari siapa, Nak? Apa kamu tersesat...?" tanya wanita itu.
" Iya, tante. Ini rumah siapa ya...?" tanya Raka dengan wajah polosnya.
" Rumah itu sudah lama kosong. Sekitar tiga tahun yang lalu. Orangnya pindah keluar negeri dan pulang hanya setahun sekali. Biasanya ada cleaning service yang membersihkan rumah itu satu minggu sekali..."
" Kalau rumah yang sebelahnya...?"
" Itu rumah juga kosong, penghuninya tidak ada yang pulang satupun juga..."
" Terimakasih, bu. kalau begitu saya permisi dulu..."
Raka segera pergi dari komplek itu dan akan kembali besok untuk melanjutkan penyelidikannya. Dia harus segera pulang sebelum jam tiga sore supaya ibu panti tidak mengkhawatirkannya. Besok dia akan kembali dengan membawa peralatan yang lebih lengkap.
.
TBC
.
__ADS_1
.