Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 67


__ADS_3

Hans kembali menemui ibunya Selly untuk mencari keberadaan Selly yang sampai sekarang belum ditemukan.


" Nyonya, sebaiknya Anda katakan siapa orang yang bekerjasama dengan Selly...!" ujar Hans dengan tatapan tajam.


" Dia anak durhaka! Aku sangat membencinya...!" teriak Yona histeris.


" Kau tidak bisa seperti ini terus, Selly bisa membunuh banyak orang di luar sana..."


" Dia... dia membunuh suamiku..." racau Yona.


" Dia itu anak kamu! Kau harusnya tahu seperti apa sifat Selly. Bahkan dia berani mengorbankan kamu demi keselamatannya sendiri..."


" Aakkhhh! Selly... tega sekali kau pada ibumu..." tangis Yona lirih dan terdengar pilu.


" Kau akan kukirim ke rumah sakit jiwa jika tak mau memberikan informasi tentang semua kejahatan Selly...!" ancam Hans lalu beranjak pergi meninggalkan Yona yang masih menangis.


Hans meninggalkan kantor polisi dengan kesal karena tidak mendapatkan informasi apapun dari ibunya Selly. Dia segera kembali ke kantor untuk menemui Arvan.


Sampai di kantor, Hans langsung masuk ke dalam ruangan Arvan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Haish...! Kau ini mengagetkanku saja...!" omel Arvan.


Wajah Hans nampak kusut dan juga kesal. Dengan cepat dia menyambar gelas milik Arvan yang tinggal separuh saja isinya.


" Woiii... itu minuman punyaku...!" hardik Arvan.


" Ish... kau tidak tahu aku sedang kesal. Ibunya Selly benar - benar sudah gila..." umpat Hans.


" Kau ini kenapa datang - datang langsung marah..." tanya Arvan.


" Yona tidak mau buka mulut, Van. Sebaiknya masukkan dia ke rumah sakit jiwa..."


" Sabar, Hans. Kita cari jalan yang lain..."


" Aku sudah sangat geram sama wanita ular itu, Van..."


" Sudah, sebaiknya tenangkan dirimu dan kita akan pergi meeting sebentar lagi..."


" Biasanya juga kak Ricko yang meeting...?"


" Kau juga harus belajar mandiri, Hans. Tidak selamanya kau bergantung pada orang lain..."


" Maksudnya...?"


" Tidak ada maksud apa - apa..."


# # #


Sudah satu minggu Arvan berada di Indonesia. Namun pencarian Selly masih belum menemukan titik terang. Beberapa anak buahnya sedang mengawasi gerak - gerik Samuel. Alamat rumah yang diberikan Erina ternyata sudah tidak di tempati lagi. Hanya sesekali Samuel mengunjunginya sebentar.


" Hans, aku akan ke London besok pagi. Siapkan privat jet karena kak Sandra mau ikut katanya..." ujar Arvan.


" Sama kak Ricko juga...?" tanya Hans.


" Tidak tahu, cuma kak Sandra tadi yang bilang mau ikut. Nanti tanyakan sendiri sama kak Ricko..."


" Huft... kalian meninggalkanku sendiri...?"


" Bukankah itu membuatmu senang...? Bisa menginap di Apartemen Delia..." cibir Arvan.


" Haish... aku cuma dua kali menginap disana..." sahut Hans.


" Awas saja kalau sampai kau sakiti dia, aku takkan segan untuk membunuhmu walaupun kau saudaraku..."


" Hahh... bagaimana aku bisa mendapatkan kebahagiaan kalau tidak menyakitinya terlebih dahulu..."


" Maksudnya apa...?"


Hans membisikkan sesuatu di telinga Arvan hingga dengan reflek buku tebal yang ada diatas meja melayang di kepala Hans.


" Dasar bocah sialan!" umpat Arvan.


" Kenapa mukul sih? Emang kenyataannya seperti itu kan...?" sungut Hans.

__ADS_1


" Bicaramu semakin ngelantur...!"


Arvan dan Hans kembali serius dalam menyelesaikan pekerjaannya. Arvan juga akan lembur malam ini supaya saat dia tinggalkan nanti Hans tidak terlalu repot.


Walaupun Hans sudah sangat ahli dalam urusan perusahaan, namun jiwanya seakan sejalan dengan Arvan lebih menyukai petualangan. Mereka memiliki sifat yang sama seperti ayahnya yang lebih suka dengan hal - hal yang ekstrem. Pedang dan pistol sudah menjadi mainan mereka sehari - hari.


# # #


Seperti yang sudah direncanakan, Arvan, Ricko dan Sandra akan berkunjung ke London. Hans harus rela mengurus perusahaan sendirian selama beberapa hari.


Penerbangan yang memakan waktu sekitar empat belas jam itu terasa sangat melelahkan. Arvan sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan istri dan anaknya.


" Sayang, aku sangat merindukan kalian..." gumam Arvan.


Arvan rebahan di atas tempat tidur yang sudah tersedia di dalam pesawat. Ada beberapa kamar khusus yang tersedia disana. Membayangkan bisa memeluk anak dan istrinya saja sudah membuat hati Arvan menghangat.


Mungkin Arvan harus lebih bersabar lagi untuk beberapa waktu sampai semuanya siap dan dia bisa menetap di London seperti permintaan istrinya.


Arvan juga tidak ingin ayahnya masih sibuk bekerja di usia tuanya. Cukup dirinya saja yang bekerja, Arvan merasa masih mampu untuk bertanggungjawab untuk seluruh keluarganya.


Karena lelah dan bosan sendirian, akhirnya Arvan lebih memilih untuk memejamkan mata dan merangkai mimpi indah bersama awan.


Tanpa terasa, Arvan sudah tertidur hingga beberapa jam lamanya hingga Ricko harus membangunkannya karena sebentar lagi mereka akan tiba di Bandara.


" Van, kita hampir sampai... Bangunlah..."


" Hmmm... udah sampai, kak...?"


" Setengah jam lagi kita mendarat..."


" Ya udah, aku mau cuci muka dulu..."


Arvan bergegas menuju toilet untuk mencuci muka dan segera bergabung dengan para awak pesawat.


Arvan duduk di sebelah Sandra dengan senyum jahilnya.


" Kak..." bisik Arvan.


" Apa...?" sahut Sandra heran melihat tingkah Arvan.


" Apanya yang jadi...?"


" Itu..." Arvan menunjuk perut Sandra dengan matanya.


" Astaga... kau ini ada - ada saja..."


" Hehehee... udah ada apa belum...?"


" Nggak tahu, Arvan..." ucap Sandra kesal.


" Memangnya belum pernah di cek atau_..."


" Atau apa...?"


Kali ini bukan Sandra yang menjawab melainkan Ricko yang baru saja keluar dari toilet.


" Loh, sejak kapan kak Ricko disitu...?" Arvan merasa salah tingkah.


" Dari tadi, aku dengar semua yang kau katakan..."


" Hehehee... cuma bercanda, kak..."


" Menyingkir sana! Jangan ganggu istriku...!"


" Huft... posesif banget jadi orang..." cibir Arvan.


Setengah jam kemudian, mereka bertiga sudah sampai di Bandara dan sudah ditunggu oleh William.


" Kak Willy...!" teriak Arvan.


" Hei... akhirnya kalian sampai juga disini..." kata William.


" Selamat malam, kak. Bagaimana kabarmu...?" sapa Sandra.

__ADS_1


" Saya sangat baik, Nona. Ayo kita pulang sekarang..."


William mengambil koper milik Sandra namun tidak dengan milik Arvan dan Ricko. Mereka sudah paham dengan sifat William yang paling tidak suka mengerjakan sesuatu yang tidak penting. Selama orang itu masih bisa melakukannya sendiri, William tidak akan membantunya.


" Kak, gimana kabar ayah dan ibu...?" tanya Arvan setelah masuk ke dalam mobil.


" Mereka baik, ibu sangat merindukanmu apalagi setelah mengira kau menjadi korban dalam kecelakaan pesawat itu. Ibu selalu cemas memikirkanmu setiap hari..."


Arvan jadi tidak sabar untuk bertemu dengan ibunya. Merindukan pelukan hangat yang jarang sekali ia rasakan karena mereka jarang sekali bertemu.


# # #


Kini mereka sampai di depan rumah mewah kediaman keluarga Sebastian. Arvan bergegas keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Sekarang sudah pukul sepuluh malam, mungkin semuanya sudah tidur.


Arvan menuju ke kamar ibunya dan mengetuknya berkali - kali namun tak ada sahutan dari dalam.


" Tuan dan Nyonya sedang pergi keluar kota. Besok pagi baru pulang..." seru William dari ruang keluarga.


" Erina dan Raka juga ikut, kak...?" tanya Arvan sedikit kecewa.


" Tidak, hanya Raka yang ikut. Erina mungkin sudah tidur di kamarnya..."


" Ya sudah, aku mau langsung ke kamar istirahat..."


Arvan membawa kopernya naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Sementara Ricko dan Sandra berada di kamar bawah di samping kamar ayahnya.


" Ricko, saya pulang dulu. Ini sudah malam, Monika janji akan menungguku..." pamit William.


" Iya, terimakasih kak sudah menjemput kami..."


" Sama - sama..."


Arvan yang sudah masuk ke dalam kamar melihat sang istri yang sudah tertidur pulas. Rasa rindu yang selama ini telah ia pendam kini bergejolak ingin segera berlabuh kepada sang pemilik hati.


Saat ingin mendekati Erina, Arvan tersadar jika dirinya begitu gerah dan tubuh rasanya sangat lengket. Arvan mengurungkan niatnya mendekati sang istri dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


Arvan mempercepat mandinya dan bergegas keluar hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Rasanya sudah tidak sabar untuk memeluk belahan jiwanya itu.


Dengan jahilnya Arvan sengaja membiarkan rambutnya yang basah menetes di wajah sang istri yang tengah terlelap. Erina yang merasakan wajahnya terasa basah langsung membuka matanya dan terkejut ada seorang lelaki yang berada di atas tubuhnya walaupun masih terhalang oleh selimut tebalnya.


" Aaakkkhhh...!"


Erina berteriak seraya mendorong tubuh lelaki itu dengan kuat hingga terjungkal ke lantai.


" Auwww....! Sayang, kenapa kau menyerangku..." rintih Arvan.


Erina langsung duduk dan menyalakan lampu utama untuk melihat siapa orang yang sudah berani kurang ajar padanya.


" Astaga... kak Arvan...!" pekik Erina.


Erina langsung menutup mata dengan kedua tangannya merasa kasihan tapi juga malu karena Arvan tak memsksi sehelai benangpun di tubuhnya. Handuknya terlepas saat dia jatuh ke lsntai tadi.


" Sayang, kau tak mau menolong suamimu ini...?" sungut Arvan.


" Bukan begitu, pakai dulu handuk kakak..."


" Tidak, malam ini aku tidak akan memakai apapun di tubuhku..."


" Erin ambilkan baju dulu ya, kak...?"


" Tidak usah, karena malam ini kaupun juga tidak akan memakainya..."


Arvan berdiri dengan percaya dirinya lalu mendekati sang istri yang masih tak mau memandangnya.


" Apa kau tidak merindukanku...?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2