
" Seraaa...!!!" teriak Robert histeris.
Robert meronta memanggil - manggil nama Sera sambil menangis histeris.
" Dokter, apa yang terjadi dengan anak saya...?"
" Sepertinya putra Anda mengalami guncangan jiwa yang sangat hebat. Apakah ada sesuatu yang terjadi dengannya...?" tanya Dokter.
" Saya tidak tahu, Dok. Sejak beberapa hari yang lalu, Robert sudah seperti ini..."
Dokter memberikan suntikan obat penenang kepada Robert lalu memasang infus di tangannya. Setelah menuliskan resep obat untuk pasien, sang Dokter pamit karena harus kembali ke rumah sakit.
" Nyonya, akan ada polisi yang menjaga Robert selama dua puluh empat jam. Dia adalah saksi atas pembunuhan Sera dan mungkin juga bisa jadi tersangka karena dia adalah orang yang sering bersama Sera..."
" Putraku tidak mungkin melakukan itu..."
" Nyonya tenang saja, kami akan mengungkap kasus ini secepatnya. Pastikan Robert tidak meninggalkan rumah ini selama penyelidikan..." ujar William.
# # #
Pagi hari, William dan anak buahnya kembali menggeledah Apartemen Sera untuk mencari buku harian gadis itu. Hampir satu jam mencari, namun tak ada hasil hingga mereka memutuskan untuk menghentikan pencarian.
William memutuskan untuk kembali ke kantor karena Arvan, Erina dan Adam berada di kantor.
" Kak, apa buku harian Sera ketemu...?" tanya Erina.
" Tidak ada, mungkin dia menyimpannya di tempat lain..." jawab William.
" Kemana lagi kita harus mencari...?"
" Sudahlah, lebih baik kau fokus saja dengan pekerjaanmu..."
" Huft... aku kan hanya pengen tahu saja..."
Sementara itu, Raka sedang duduk di kursi biasanya Sera bekerja. Dia membuka laci dan mengambil beberapa berkas disana. Hanya file yang sudah tak terpakai yang ada di dalamnya.
" Raka, apa yang kau lakukan disitu...?" tanya Adam.
" Tidak ada, Uncle. Hanya duduk saja main game..." jawab Raka dengan tersenyum.
" Ya sudah, Uncle ke bawah dulu..."
" Untuk apa Uncle ke bawah...?"
" Uncle melaporkan para koruptor di kantor ini. Uncle sedang tidak ada waktu untuk mengurus mereka. Saat ini para polisi sudah berada di lobby..."
" Iya, Uncle. Semoga mereka tidak kabur..." seru Raka.
" Astaga... kau benar juga. Ya sudah, Uncle hubungi petugas keamanan untuk bersiaga di bawah..." sahut Adam.
Sementara Adam sedang membereskan para koruptor, Raka kembali membuka satu per satu laci di meja kerja Sera. Di laci tengah, Raka mendapatkan apa yang dicarinya yaitu buku harian Sera yang terselip dalam sebuah map.
" Akhirnya ketemu juga, tante Sera... semoga kau bisa tenang setelah ini semua selesai..." batin Raka.
Raka membawa buku itu kepada mamanya yang sedang sibuk bekerja.
" Ma, coba lihat apa yang Raka bawa...!" seru Raka.
" Apa, sayang? Jangan bercanda, mama sedang sibuk..." sahut Erina tanpa menoleh.
" Mamaa...!" teriak Raka kesal merasa diabaikan.
__ADS_1
" Raka, jangan berteriak... tidak sopan..." ujar Arvan.
Arvan langsung mendekati Raka lalu menggendongnya. Arvan tidak mau anak itu ngambek dan kabur seperti mamanya.
" Ayo sama papa saja, ada apa...?"tutur Arvan lembut.
" Raka hanya ingin memberikan buku harian tante Sera..." sungut Raka.
Arvan, Erina dan William terkejut dengan ucapan Raka. Mereka tidak menyangka, Raka akan menemukannya dengan cepat.
" Sayang, kamu dapat darimana...?" tanya Erina.
" Di laci meja tante Sera, Ma. Soalnya saat hari terakhir tante Sera kemarin, Raka sempat melihat tante Sera menulis di buku ini sambil menangis..." jawab Raka.
" Ya sudah, sebaiknya kita ke Markas sekarang. Ponsel Sera tertinggal disana, kita periksa barang bukti sekarang juga dan tangkap pelakunya..." ujar William.
# # #
Di kediaman Robert,
Dokter sedang memeriksa keadaan Robert yang kini sudah mulai tenang namun sesekali masih meracau memanggil nama Sera.
" Dokter, bagaimana keadaan Robert...?" tanya ibunya Robert.
" Keadaannya sudah membaik, Nyonya. Tapi harus terus diawasi, putra Anda bisa saja kembali histeris bila mengingat kejadian buruk yang dialaminya..."
" Terimakasih, Dok. Saya akan menjaganya dengan baik..."
" Baiklah, saya akan kembali ke rumah sakit. Jika ada apa - apa hubungi saya..."
" Baik, Dok..."
Setelah dokter meninggalkan kediaman Robert, Darwin datang untuk melihat keadaan istrinya itu.
" Sekarang sudah lebih baik, terimakasih sudah peduli dengan adikmu..." sahut ibunya Robert.
" Ayolah, Mom. Robert itu adik Darwin, kami bersaudara dan sepantasnya saling menjaga..."
" Iya, Mommy percaya padamu..."
" Saya keatas dulu lihat keadaan Robert..." ucap Darwin.
" Iya, tapi jangan ganggu istirahatnya..."
" Tenang saja, Mom. Darwin hanya sebentar disini..."
" Baiklah, Mommy mau siapkan makan dulu untuk Robert..."
" Yes, Mom...."
Darwin beranjak menuju kamar Robert di lantai tiga. Dia kaget saat ada penjaga di kamar adik tirinya.
" Kalian siapa...?" tanya Darwin dengan menatap mereka tajam.
" Kami hanya menjaga Tuan Robert, tidak boleh ada sembarang orang masuk ke dalam..."
" Saya kakaknya, apa kalian akan melarang saya menemui adik sendiri...!" hardik Darwin.
" Silahkan, Tuan. Tapi biarkan pintu tetap terbuka..."
" Baiklah..."
__ADS_1
Darwin masuk ke dalam kamar Robert lalu duduk di samping adik tirinya dengan tersenyum.
" Apa yang terjadi padamu? Kau kelihatan sangat kacau..." ujar Darwin.
" Pergi kau...!" teriak Robert.
" Kau ini sangat lemah, hanya kehilangan satu wanita saja sudah begini. Diluar sana masih banyak wanita yang menantimu, tidak perlu meratapi hal yang tidak penting..."
" Pasti kau yang telah membunuh Sera...!"
" Hei... aku tidak melakukan apa - apa. Jangan menuduhku tanpa bukti, karena semua orang tidak akan percaya dengan bualan orang gila sepertimu..."
" Br*ngs*k kau...!"
" Apa kau tahu, kau adalah tersangka pembunuhan kekasihmu itu..." seringai Darwin.
" Aku bukan pembunuh...!" teriak Robert.
" Sungguh ironis, padahal gadismu itu sedang hamil..." bisik Darwin.
" Apa maksudmu...?"
" Ya, wanitamu itu memang sedang hamil dan tidak tahu siapa pria yang telah melakukannya..." seringai Darwin.
" Kau pasti berbohong...!"
" Terserah, dan jangan harap polisi akan melepaskanmu karena terakhir kali dia bertemu denganmu di Apartemen itu saat dia meninggal..."
" Bagaimana kau tahu aku disana...?!"
" Hahahaa... kau pikir aku bodoh? Semua gerak - gerikmu berada dalam pengawasanku..."
" Pasti kau yang membunuh kekasihku...!" teriak Robert.
" Jangan asal menuduh, semua bukti mengarah padamu..."
" Pergi kau dari sini...!" Robert berteriak sangat kencang sehingga dua penjaga diluar langsung masuk ke dalam.
" Tuan, apa yang terjadi...?" tanya salah seorang penjaga.
" Tidak apa - apa, dia hanya histeris saja. Sebentar lagi juga dia akan tenang kembali..." jawab Darwin santai.
Darwin segera keluar dari kamar Robert begitu ibu tirinya masuk membawakan makanan untuk Robert.
" Darwin, kau mau kemana...?" tanya ibu.
" Saya harus pergi ke kantor sekarang, Mom. Robert juga butuh banyak istirahat, jangan biarkan siapapun menemuinya dahulu. Sepertinya jiwanya sedang terguncang..."
" Iya, Mommy juga tahu. Makanlah dulu sebelum pergi..."
" Iya, Mom..."
Sebenarnya Robert dan Darwin bukanlah keluarga yang bisa disebut harmonis. Hubungan mereka berlandaskan keterpaksaan demi harta warisan ayahnya. Jika mereka terlihat bermusuhan, maka warisan akan dialihkan ke lembaga sosial semuanya. Darwin tidak ingin semua itu terjadi sehingga dengan terpaksa ia menerima keluarga Robert walaupun ada niat terselubung di dalamnya.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.