Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 137


__ADS_3

" Akhirnya kau tertangkap juga...!" gumam Adam.


Darwin yang sedang duduk di bawah pohon besar itu tidak mengetahui jika Arvan dan Adam sudah berdiri di belakangnya.


" Kau tidak bisa kabur lagi, pecundang...!" teriak Adam dengan kilat amarah di matanya.


Darwin sangat terkejut dengan teriakan Adam yang menggema ke seluruh penjuru hutan. Dia tidak menyangka akan tertangkap secepat ini. Darwin berusaha tenang menghadapi amarah Adam yang kian memuncak.


" Kalian mengejarku sampai ke tempat ini, sungguh hal yang sangat luar biasa..." seringai Darwin.


Adam langsung mendekati Darwin dan memukul tepat di ulu hatinya. Pria itu langsung tersungkur dan meringis kesakitan.


" Akan kupastikan hidupmu menderita seumur hidup...!" Adam menginjak kaki Darwin dengan sangat keras.


" Auwww...!" ringis Darwin.


" Cukup, kau bisa membunuhnya...!" cegah Arvan.


Arvan tahu Adam sedang meluapkan amarahnya kepada Darwin yang sudah membunuh Sera secara sadis.


" Hahahaa... kalian hanya pecundang. Hanya karena seorang wanita kalian rela memasuki hutan seperti ini..."


Adam sudah tidak tahan lagi dengan pria iblis di depannya. Dia sudah bersiap dengan pistol di tangannya ingin meledakkan kepala Darwin.


" Adam, hentikan! Jangan menuruti amarah kamu itu..." teriak Arvan.


" Orang seperti dia tidak pantas hidup, Tuan...!"


Saat Adam sedang berdebat dengan Arvan, dia sedikit lengah sehingga Darwin merebut pistol dari tangan Adam.


" Darwin...!" teriak Arvan dan Adam secara bersamaan.


" Hahahaa... mungkin saya akan mati. Tapi kalian juga akan menemani saya ke alam baka..." seringai Darwin.


Darwin menodongkan pistolnya ke arah Arvan dan Adam. Walaupun kemungkinan besar dia tidak akan selamat, namun Darwin tak ingin mati sendirian.


" Matilah kalian berdua...!" pekik Darwin.


Doorrr! Doorrr! Doorrr!!!


" Aakkhhh...!" teriak Darwin.


Arvan dan Adam yang sempat menutup mata terkejut karena bukan mereka yang tertembak melainkan Darwin. Rupanya Raka lebih cepat menarik pelatuknya dan menembak lengan dan bahu Darwin agar pistol di tangan Darwin terlepas. Raka sengaja menembak di area yang tidak menyebabkan seseorang tewas. Dia hanya ingin melumpuhkan musuh, bukan membunuhnya.


William, Hans dan Robert yang mendengar suara tembakan langsung mencari sumber suara itu. Mereka khawatir ada salah satu rekan mereka yang tertembak.


" Raka...!" gumam Arvan dan Adam bersamaan.

__ADS_1


" Maaf, Uncle. Aku tidak berniat menyakitimu, luka itu tidak akan membuatmu mati jika langsung dibawa ke rumah sakit..." ucap Raka dengan tersenyum manis.


" Kau...!" geram Darwin.


" Cepat bawa dia pergi dari sini...!" perintah Arvan kepada pengawalnya.


" Terimakasih, Nak. Kau memang yang terhebat..." ucap Adam seraya tersenyum.


Tak lama, William dan yang lainnya sampai di tempat tertangkapnya Darwin. Semua kembali ke kota setelah Darwin di gelandang kantor polisi. Mereka mengucap syukur dengan selesainya kasus Sera dan penculikan Monica.


# # #


Beberapa hari kemudian, Erina dan yang lainnya berziarah ke makam Sera. Robert juga turut serta dalam rombongan itu ditemani ibunya.


" Sera, kami datang sekarang. Kami sudah menangkap orang yang telah menyakitimu. Tenanglah kau disana, kami disini tidak akan pernah melupakanmu..." ucap Sera.


Tak terasa, airmata kembali mengalir saat menatap nisan sahabat terbaiknya itu. Di sampingnya, Adam dengan setia mengusap nisan itu dengan lembut seakan itu adalah rambut pirang sebahu milik sahabatnya yang sekarang sudah tak berada di sisinya lagi.


" Sera, maafkan aku. Aku tak bisa menjagamu, tapi aku tahu kau berada di tempat terbaik sekarang..." lirih Adam.


Robert ikut duduk di samping pusara Sera, gadis yang beberapa waktu ini telah menghiasi hari - harinya. Seketika ia menangis dengan membenamkan wajahnya pada gundukan tanah yang masih basah itu.


" Maafkan aku, sayang. Harusnya aku bisa menjadi pelindungmu bukan malah menghancurkan hidupmu. Aku adalah orang yang tidak berguna..." isak Robert.


Adam tak tahan untuk tidak meneteskan airmatanya. Dia langsung mengusap pelan bahu Robert yang masih terisak.


" Aku belum sempat meminta maaf padanya, dia seperti ini karena aku..." keluh Robert.


" Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Tidak perlu ada yang disesali, kita yang masih hidup harus terus bangkit untuk masa depan yang lebih baik. Jangan berhenti pada satu titik di saat kita masih bisa bernafas dengan bebas..." kata Arvan yang kini ikut duduk berseberangan dengan istrinya.


Setelah cukup lama mengunjungi makam Sera, mereka berdiri hendak meninggalkan tempat itu. Di saat yang bersamaan, datang seorang wanita paruh baya dan diikuti pria yang mungkin seumuran dengan wanita itu. Saat mendekati makam Sera, dua orang itu langsung bersimpuh dan menangis.


" Maafkan mama, Sera. Mama sangat menyesal meninggalkanmu..." ucap wanita itu.


" Papa juga minta maaf, karena keegoisan kami... kau jadi seperti ini..." pria itu ikut bersimpuh di depan makam Sera.


Adam yang merasa penasaran langsung menghampiri mereka yang menangisi makam sahabatnya.


" Maaf, kalian siapa...?" tanya Adam.


Dua orang itu langsung menoleh ke arah Adam dengan mengusap airmata yang membasahi wajahnya.


" Kami orangtua kandung Sera. Dia anak kandung kami satu - satunya yang telah kami telantarkan beberapa tahun yang lalu..." jawab Ayah Sera.


" Benarkah? Untuk apa kalian datang setelah Sera tiada...?" Adam terlihat marah dan kecewa.


" Sudah satu bulan ini kami mencari keberadaan Sera, perasaan kami tiba - tiba cemas dan khawatir saat itu. Baru kemarin kami mendapatkan informasi tentang Sera yang menjadi korban pembunuhan..." ucap ibunya Sera dengan sangat sedih.

__ADS_1


" Kenapa baru sekarang kalian datang! Kemana saja kalian saat Sera butuh kasih sayang dan perhatian...!" teriak Adam.


" Adam, sudah! Jangan seperti ini, bagaimanapun juga mereka adalah orangtua Sera..." ucap Erina.


" Tapi mereka_..."


" Sudah, sebaiknya kita pergi sekarang. Biarkan mereka disini bersama Sera..." bujuk Erina.


Adam hanya diam saat Erina mengajaknya menjauh dari makam Sera. Arvan sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil bersama dengan Raka. Yang lain juga sudah pulang, tinggal orangtua Sera dan Robert. Sepertinya ada sesuatu yang ingin Robert bicarakan dengan kedua orangtua Sera.


# # #


Erina sudah sampai di dalam kamarnya lalu merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur king size yang membuatnya sedikit nyaman.


" Kau sangat lelah, sayang. Apa mau kakak pijitin...?" goda Arvan yang sudah berada diatas tubuh Erina.


" Apaan sih kak! Minggir sana, aku lelah pengen istirahat..."


Arvan mencium bibir istrinya sekilas lalu berbaring di sampingnya. Arvan membelai lembut pipi istrinya lalu mengecupnya cukup lama.


" Sayang, lusa aku harus kembali ke Indonesia. Kamu tidak apa - apa kakak tinggal...?" tanya Arvan.


" Iya, kak. Tidak apa - apa, selesaikan pekerjaan kakak disana. Erina disini ditemani kak Willy dan Adam, jadi tidak perlu khawatir..." jawab Erina.


" Terimakasih, sayang. Minggu depan kakak pulang lagi kesini..."


" Apa kak Arvan tidak lelah setiap minggu harus pulang...?"


" Tidak, sayang. Kalian bertiga adalah penyemangat hidupku. Aku hanya ingin membuat kalian bahagia bersamaku..."


" Kau kakak mual lagi disana gimana...?"


" Sudah biasa, dulu waktu kamu hamil Raka juga lebih parah dari ini. Kakak sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur..."


" Suamiku memang hebat, I love you..." ucap Erina.


" I love you, too honey..." balas Arvan.


Erina memeluk erat suaminya hingga akhirnya tertidur dengan lelap. Arvan merasa sangat bahagia dengan keadaannya sekarang. Meskipun berawal dari sebuah kesalahan, namun sekarang mereka disatukan lagi setelah hampir enam tahun berpisah. Sekarang hanya kebahagiaan yang mereka rasakan dengan membangun keluarga kecil yang harmonis dan penuh canda tawa bahagia.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2