
" Arvan dan Erina pasti bangga punya anak genius sepertimu, Raka..." batin Hans.
" Uncle, Raka lapar..." rengek Raka.
" Ya udah, Raka mau makan apa...?" tanya Hans.
" Seperti yang mama beli tadi pagi, rasanya enak..."
" Memangnya mamamu beli makanan apa...?"
" Nasi tapi warnanya kuning terus ada telurnya juga..."
" Oh... itu namanya nasi kuning..."
" Beli sekarang ya, Uncle...?"
" Malam - malam begini susah nyarinya, biasanya jualan nasi kuning itu pagi..."
" Yah, Uncle... Raka pengin makan itu...!" rengek Raka lagi.
" Huft... baiklah, kita cari sekarang. Tapi kalau tidak ada kita makan yang lain..." ucap Hans pasrah.
# # #
Sudah satu bulan Arvan terbaring koma di rumah sakit. Belum ada tanda - tanda dirinya akan segera sadar dari tidur panjangnya.
Raka dan Hans sibuk menyelidiki kasus tabrak lari Arvan dan juga penyerangan Erina. Polisi tidak bisa menemukan bukti apapun karena mobil yang dipakai menggunakan plat nomor palsu.
Raka berdiri di balkon kamarnya menatap halaman luas dibawahnya. Raka sangat merindukan Mamanya yang jauh di negeri orang. Raka juga memikirkan cara untuk memecahkan kasus itu.
" Hei... Bocah...! Apa yang kau pikirkan...?" tanya Ricko.
" Uncle... tidak ada apa - apa..." sahut Raka datar.
" Kau persis seperti papamu, jika sedang banyak pikiran pasti lebih suka menyendiri..."
" Sudah satu bulan Mama tidak kesini, apa Mama masih marah dengan papa...?"
" Pekerjaan Mama kamu sangat banyak, tidak bisa ditinggal begitu saja..."
" Raka tahu, Uncle... tapi papa butuh mama saat ini..."
" Sudah, jangan berpikir aneh - aneh. Bagaimana penyelidikanmu...?"
" Belum ada jejak, hanya saja orang itu pernah menyebut nama Selly. Apa Uncle pernah dengar nama itu...?"
" Selly... Selly... Selly...? Oh iya, itu kan wanita yang selalu mendekati papa kamu..."
" Benarkah...? Uncle tahu dimana rumahnya...?"
" Tidak, mungkin Uncle Hans tahu. Papamu lebih banyak menghabiskan waktu dengan Hans dalam urusan seperti itu..."
" Ya sudah, terimakasih Uncle... nanti Raka tanya sama Uncle Hans..."
" Ya sudah, Uncle mau pergi dulu dengan tante Sandra. Kamu mau ikut...?"
" Tidak, Raka tunggu Uncle Hans saja..."
" Ok, Uncle pergi dulu..."
Raka menatap kepergian Ricko dari dalam kamarnya. Dia menghela nafas pelan lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Hans.
" Hallo, Uncle... cepat pulang, aku butuh bantuanmu...!"
"...._"
" Cepat...!"
__ADS_1
Raka langsung menutup telfonnya secara sepihak kemudian membuka laptop di depannya.
" Akh... kenapa aku tidak bisa fokus ya...? Apa karena tidak ada Mama..." gumam Raka.
Raka menutup kembali laptopnya kemudian keluar dari kamar menuju halaman belakang rumah tempat favoritnya.
Setengah jam kemudian, Hans datang dengan tergesa - gesa karena Raka sudah menunggunya.
" Raka...!" panggil Hans dari luar kamar.
Karena tak ada sahutan, Hans masuk ke dalam kamar namun yang dicarinya tak ada di tempat.
" Kemana bocah itu pergi...?" gumam Hans.
Hans kembali ke bawah untuk mencari keberadaan Raka. Semua ruangan sudah dia telusuri namun anak itu tetap tak terlihat batang hidungnya. Hans ke halaman belakang tempat biasa Raka menyendiri.
" Raka, where are you...?" teriak Hans.
" I'm here, Uncle..." jawab Raka dari atas pohon mangga.
" What are you doing...?"
" Nothing..."
" Huft... turunlah! Tadi Mama kamu telfon tapi kau tidak menjawabnya..."
" Ponselku ada di kamar, ada apa...? Apakah Mama akan datang...?"
" Tanya saja sendiri nanti, sekarang turunlah...!"
" Ok, I'm coming...!" Raka loncat dari atas pohon dan mendarat di depan Hans.
" Hentikan tingkahmu itu! Kalau Rissa tahu bisa di penggal kepalaku...!"
" Mama tidak sekejam itu, Uncle..."
Raka berjalan menuju saung dekat tempatnya berdiri diikuti Hans. Raka duduk bersandar pada dinding bambu yang masih terlihat kokoh itu.
" Uncle, ceritakan tentang Selly...!" ucap Raka datar.
" Selly siapa...?" tanya Hans heran.
" Orang yang katanya selalu mengejar papa..."
" Darimana kau tahu soal Selly...?"
" Uncle cerita saja..."
" Huft... baiklah_..." Hans menghela nafas dengan pelan sebelum memulai ceritanya.
" Selly adalah teman sekolah papamu waktu kecil. Dia selalu mengejar papamu walaupun sudah ditolak berkali - kali..."
" Hubungannya dengan mama...?"
" Hmmm... Selly adalah kakak tiri mama kamu. Hubungan mereka sangat buruk dari mereka masih kecil. Selly dan ibunya sangat membenci Rissa, mama kamu..."
" Jadi, ada kemungkinan ini semua perbuatan tante Selly...?"
" Bisa saja, dia orang yang sangat jahat..."
" Baiklah, aku yang akan membalas perbuatan jahatnya pada mamaku dengan tanganku sendiri..." geram Raka.
" Hei... kau tidak boleh melakukan apapun! Ingat pesan mama Rissa...!" seru Hans.
" Tenang saja Uncle, Raka hanya ingin tahu tentang keluarga Mama..."
" Maksudnya...?"
__ADS_1
" Raka akan masuk ke rumah itu dan mencari tahu semuanya..."
" Itu sangat berbahaya, Raka...!"
" Uncle tenang saja, selidiki siapa saja yang tinggal di rumah itu..."
" Huft... Saya mengenal pelayan di rumah itu. Tapi semenjak kakekmu meninggal, Uncle belum bertemu lagi dengannya..."
" Apa pelayan itu berpihak dengan Selly...?"
" Tidak, dia pengasuh mama kamu sejak lahir..."
" Berikan saya alamat rumah itu, Uncle..."
" Buat apa...?"
" Sudahlah, itu jadi urusan Raka nanti. Uncle tinggal cari informasi tentang rumah itu..."
" Baiklah, tapi temuilah papamu sebentar. Semenjak dia sakit, kau hanya menemuinya sekali waktu bersama mama kamu..." ujar Hans.
" Papa nggak butuh Raka, dia hanya ingin bertemu Mama. Mungkin mama masih marah jadi tidak mau bertemu dengan papa..." sahut Raka.
" Terserah kau saja, bocah...!" sungut Hans kesal.
Hans segera pergi setelah mendapat perintah dari Raka. Dia langsung menghubungi anak buahnya untuk mengawasi rumah Selly.
Hans kembali ke rumah sakit karena Tuan dan Nyonya Sebastian harus kembali ke London malam ini. Pekerjaan yang menumpuk di London harus segera diselesaikan karena Rissa sering bepergian ke luar negeri untuk bertemu klien.
Hampir satu jam Hans mengemudikan mobilnya, kini dirinya sudah sampai di parkiran rumah sakit. Dia langsung menuju ruang perawatan Arvan untuk bertemu dengan orangtua angkatnya.
" Ayah, ibu... kalian butuh istirahat. Nanti malam kalian harus menempuh perjalanan jauh, sekarang pulang dan istirahatlah..." ucap Hans dengan tersenyum.
" Sebenarnya ibu tidak bisa meninggalkan Arvan seperti ini, Hans. Ibu tidak tahu sampai kapan Arvan akan tertidur seperti ini..." Ibu menangis dalam dekapan Ayah.
" Bu, jika ingin Arvan sadar... tolong bujuk Rissa untuk kembali kesini. Bukan hanya Raka yang mengharapkannya kembali, tapi juga Arvan..."
" Ibu akan coba, Hans. Semoga Rissa bersedia membuka hatinya untuk Arvan..."
" Seandainya Hans cerita ini semua dari dulu, mungkin Arvan tidak akan seperti ini, Bu..."
" Sudahlah, tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, Hans..."
Hans menatap saudara angkatnya itu dengan sendu. Di genggamnya tangan itu dengan kuat. Ribuan do'a dan harapan dalam hatinya tak pernah surut untuk kesembuhan saudaranya itu.
" Kamu harus sembuh Van, kamu tidak boleh menyerah. Aku yakin Erina bisa mencintaimu suatu saat nanti. Teruslah bertahan demi Raka dan Erina. Aku akan selalu mendukung apapun yang kau lakukan. Kau tahu, anakmu itu sangat hebat, mungkin lebih hebat darimu. Kembalilah, Raka membutuhkanmu..." Hans menyeka airmata yang lolos begitu saja membasahi pipinya.
" Ayah, Ibu... mari kita pulang. Kalian harus beristirahat, perjalanan jauh nanti bisa membuat kalian cepat lelah..." ucap Hans.
" Kau benar, Hans. Kalau begitu, Ayah titip adikmu. Jaga dia baik - baik..." ujar Ayah sendu.
" Jangan khawatir, Yah... Hans dan kak Ricko pasti jaga Arvan dengan baik. Dia adik kesayangan kami, tidak mungkin kami melalaikan dia..." jawab Hans dengan tersenyum.
" Terimakasih, Nak... Ayah bangga punya anak - anak hebat seperti kalian..."
" Kami tidak akan membuat Ayah dan Ibu kecewa..." sahut Hans.
Setelah memeluk Arvan secara bergantian, Tuan dan Nyonya Sebastian segera pergi dari rumah sakit untuk mengemas barang - barang mereka yang akan dibawa ke luar negeri.
.
.
TCB
.
.
__ADS_1