Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 52


__ADS_3

Sore hari Erina terbangun karena merasakan tubuhnya tertindih sesuatu yang berat. Dengan rasa kantuk yang masih menghinggapinya, Erina mencoba membuka matanya. Dia begitu terkejut saat ada sosok lelaki yang memeluknya bahkan kakinya menindih paha Erina.


" Astaga... kak Arvan...!" pekik Erina.


Arvan tertidur dengan pulas tanpa menghiraukan wanita yang dipeluknya meronta.


" Kak, lepaskan aku...!" rintih Erina.


" Hmmm... apa sayang...?" gumam Arvan pelan.


" Aku mau bangun, lepaskan pelukanmu..."


" Mau kemana...?"


" Ini sudah sore, aku mau masak buat makan malam nanti..."


" Tidak usah, delivery saja..."


" Tapi, kak_..."


" Ssttt... ayo tidur lagi..."


Arvan semakin mengeratkan pelukannya bahkan hampir menindih tubuh Erina. Arvan mencari posisi ternyaman untuk kembali melanjutkan mimpinya.


Erina hanya mendesah pelan tak mampu melepas pelukan Arvan yang begitu erat. Dirinya mencoba untuk ikut tidur kembali namun sulit.


" Kak_..."


" Hmmm..."


" Ayo bangun..."


" Sebentar sayang..."


" Kakak lanjutin tidurnya sendiri, aku mau bangun..."


" Sayang, menurutlah sama calon suamimu ini..."


" Huft... dasar egois...!" gerutu Erina.


Arvan mengurai pelukannya lalu membuka mata menatap wajah Erina dengan lekat. Ada rasa rindu yang bergejolak dalam hatinya walaupun belum berpisah. Tak sanggup rasanya untuk jauh dari orang - orang yang disayangi.


" Sayang..."


" Apa...?"


" Besok aku antar ke London ya...?"


" Kau mengusirku...?!"


" Bukan begitu sayang, ini demi keselamatan kalian berdua. Aku tidak mau Selly menyakiti kalian, sayang..."


" Raka mau disini sama papa..." rengek Raka.


" Iya sayang, papa akan jemput Raka dan mama setelah tante Selly bisa tertangkap..." bujuk Arvan.


" Papa juga ikut tinggal di London saja..."


" Sini, Raka tidurnya di tengah. Papa pengen peluk anak tampan yang gembul ini..."


Erina hanya diam tak tahu haruskah senang atau sedih berpisah dengan Arvan. Setelah Arvan sadar dari koma, Erina merasa nyaman berada di dekatnya. Dia juga tidak bisa menolak saat Arvan memeluk dan menciumnya dengan lembut.


Arvan memindahkan Raka di sampingnya. Erina hanya terdiam dan sedikit menggeser tubuhnya agar Raka punya ruang untuk berbaring. Arvan menyunggingkan senyumnya pada Erina yang menatapnya datar.


" Pa, Raka mau bantu Uncle Willy sebentar..." ucap Raka seraya beranjak dari tempat tidur.


" Mandi dulu sayang..." sahut Arvan.


" Nanti saja, Pa... Raka hanya ingin mengecek email sebentar..."

__ADS_1


" Jangan lama - lama, papa sama mama mau tidur lagi..."


" Ish... aku mau mandi...!" tukas Erina.


" Sayang, Kakak ikut mandi lagi ya...?" bisik Arvan.


" Jangan macam - macam deh...!" sungut Erina.


Arvan tersenyum seraya mengacak - acak rambut Erina dengan gemas. Sepertinya berada dekat wanita pujaannya membuat Arvan merasa nyaman dan juga bahagia.


" Ya udah, kamu duluan mandinya. Aku mau temenin Raka di depan..." tutur Arvan lembut.


" Kak, bisakah kau bujuk Raka supaya menjadi anak yang normal seperti yang lainnya...?"


" Maksudnya apa sayang...?"


" Kau tahu seperti apa pekerjaan Raka di usianya yang masih balita sekarang ini? Taruhannya nyawa, kak... aku tidak mau Raka terluka..."


" Iya, nanti aku bilang sama Raka tapi nggak janji dia mau. Sepertinya itu memang bakat dia, sayang..."


" Bisakah aku dan Raka tetap disini sampai beberapa hari lagi...?" pinta Erina.


" Sayang, aku senang jika kamu tetap disini bersamaku. Tapi keselamatan kalian lebih penting. Setelah semua masalah ini selesai, kakak pasti jemput kalian dan kita akan langsung menikah..." tutur Arvan.


" Apa kak Arvan benar mencintaiku...?"


" Percayalah, kamu adalah satu - satunya wanita yang ada dihatiku. Aku sangat mencintaimu, sayang. Apakah kau juga mencintaiku dan bersedia menikah denganku...?"


" Iya, kak... aku juga mencintaimu dan bersedia menikah denganmu..." ucap Erina.


" Terimakasih sayang, I love you..."


Arvan memeluk dan mencium Erina tanpa henti hingga wanita itu merasa geli dan meronta minta dilepaskan.


" Kakak... udah...!" pekik Erina.


" Jangan panggil kakak, tapi sayang..." sahut Arvan.


" Ah... ibu, selalu saja begitu..."


" Aku mandi dulu kak, lepasin..."


" Panggil sayang dulu, baru aku lepaskan..."


" Huft... baiklah! Sayangku, cintaku, honey, hubby... I love you..." seru Erina.


" Hahahaa... kau manis sekali..." Arvan semakin mengeratkan pelukannya.


" Lepasin, sayang..." rengek Erina.


" Iya, sana mandi..."


Arvan melepaskan Erina lalu keluar dari kamar untuk menemani Raka di ruang tamu.


" Hey... sedang apa, sayang...?" Arvan duduk di samping Raka.


" Cuma iseng saja, pa..." sahut Raka seraya tersenyum.


" Ini kasus dimana...?" tanya Arvan.


" Pembunuhan pengusaha di pinggiran kota di London, Pa. Raka yakin pembunuhnya orang yang dekat dengannya, tapi saya tidak bisa melacak dari tempat sejauh ini. Raka harus mengecek TKP untuk mencari bukti..."


" Kalau pekerjaanmu disana seperti itu, papa tidak akan tenang ninggalin kamu disana..."


" Papa tidak usah khawatir, Raka bisa jaga diri. Ada mama, Uncle willy dan kakek yang jagain Raka..."


" Sayang, bisakah kau berhenti dari pekerjaan ini dan menjadi anak - anak seusiamu...?"


" Papa... Raka tidak suka papa bilang seperti itu!" ucap Raka marah.

__ADS_1


Raka bergegas merapikan laptop dan juga kertas yang berserakan di meja lalu membawanya masuk ke kamar Hans dan mengunci pintunya setelah dibanting dengan keras.


" Rakaaa...!" teriak Arvan.


Erina yang mendengar teriakan Arvan langsung keluar dari kamar setelah berpakaian rapi.


" Sayang, ada apa...?" tanya Erina.


" Hhhh... sudahlah, aku mau mandi dulu..." jawab Arvan acuh.


" Kak_..."


" Erina... ah, sudahlah..."


" Kalian itu kenapa sih...?"


Arvan meninggalkan Erina sendiri di ruang tamu hingga wanita itu merasa kebingungan.


" Ish... apa - apaan mereka! Beraninya mengabaikanku..." gerutu Erina.


Erina mencoba mengetuk pintu kamar yang ditempati Raka namun tak ada sahutan sama sekali. Erina mendesah pelan lalu duduk di sofa ruang tamu.


Tak lama Hans datang bersama Ricko dengan membawa banyak makanan.


" Hey... adik bungsu, kenapa melamun..." sapa Ricko.


" Eh... kak Ricko, kak Hans... sejak kapan kalian disitu...?" ucap Erina kaget.


" Apa ada masalah?" tanya Hans.


" Nggak tahu, sepertinya kak Arvan dan Raka habis berdebat dan masuk ke kamar masing - masing..."


" Mereka itu sifatnya sama, tidak ada yang mau mengalah dan keras kepala..." ujar Ricko.


" Saya ikut kak Ricko ke rumah aja ya? Besok pagi saya dan Raka akan kembali ke London..."


" Bilang dulu sama Arvan, nanti dia ngamuk jika kau pergi tanpa dia..."


" Saya belum sempat bertemu bik Ina, kak..."


" Nanti aku yang antar, kenapa sih wajahnya kayak gitu? Marah...?"


Arvan duduk disamping Erina lalu menatap wajah tanpa ekspresi kekasihnya.


" Maaf soal tadi, aku hanya ingin Raka berhenti dari pekerjaannya tapi dia malah marah..." ucap Arvan.


" Raka kenapa, Van...?" tanya Ricko dan Hans bersamaan.


" Saya menyuruhnya untuk berhenti jadi detektif, kak. Tapi anak itu malah marah dan mengunci diri di kamar. Beri aku saran untuk menuruti permintaan ibu atau anaknya..." keluh Arvan.


" Jangan terlalu mengekang anak, harusnya kalian itu bersyukur punya anak berbakat seperti Raka. Kalian itu tugasnya hanya mendukung dan mengawasinya supaya dia bisa mengasah kemampuannya untuk bisa membantu orang - orang yang butuh keadilan..."


" Tapi Raka masih terlalu kecil, kak..."


" Raka sudah paham dengan apa yang dia kerjakan. Dia tahu betul resiko apa yang akan terjadi saat dia mulai mengerjakan pekerjaan itu..."


" Saya hanya takut Raka terluka..."


" Dia harus dibekali ilmu bela diri sejak dini untuk melatih tubuhnya agar semakin kuat. Yang harus kalian pikirkan saat ini adalah dimana Raka harus tinggal menetap supaya dia bisa belajar di sekolah formal dan menumbuhkan jiwa sosialnya terhadap orang di sekelilingnya..."


Erina dan Arvan mulai berpikir dimanakah Raka akan tinggal menetap. Mereka belum pernah berpikir tentang semua itu.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2