Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 129


__ADS_3

" Kalian ini siapa...?" tanya wanita paruh baya itu.


Wanita yang ternyata ibunya Robert itu tersenyum dengan ramah menyambut mereka.


" Maaf, Nyonya. Kami teman Robert, bisakah kami menemui putra Anda..." ucap Adam.


" Masuklah dulu, ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian..."


" Terimakasih, Nyonya..."


Mereka semua diajak ke ruang tamu. Tak ada yang mencurigakan dari rumah ini. Pemiliknya sangat ramah hingga membuat mereka ragu jika yang dicari berada di rumah ini.


" Silahkan duduk..." titah Nyonya rumah.


" Terimakasih, Nyonya..." jawab William.


" Selama ini Robert tidak pernah membawa teman ke rumah, saya senang ada teman - temannya datang berkunjung di saat kondisi Robert sedang tidak baik. Saya mohon kalian bisa menenangkan Robert..."


" Maksud Nyonya... Robert sedang sakit...?" tanya Erina.


" Iya, sudah beberapa hari ini Robert tidak mau keluar kamar. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan dia, padahal baru seminggu yang lalu dia terlihat sangat bahagia dan meminta ijin untuk menikahi seorang gadis..."


Ibunya Robert mulai menangis menceritakan keadaan anaknya yang sedang terguncang jiwanya.


" Apa nyonya tahu siapa gadis itu...?"


" Tidak, rencananya besok baru akan dibawa kesini. Tapi, Robert punya fotonya di kamar..."


" Bolehkah kami melihatnya? Mungkin kami mengenal gadis itu..."


" Robert mengunci diri di kamar, tidak ada yang bisa masuk..."


Sementara Erina berbincang dengan ibunya Robert, ketiga pria dewasa itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan mencari sesuatu yang bisa jadi bahan penyelidikan.


" Nyonya, kenapa foto keluarga Anda hanya bertiga...?" tanya Adam.


" Iya, Robert adalah putraku satu - satunya. Itu adalah Ayahnya Robert, beliau sudah meninggal tiga tahun yang lalu..."


" Jika Robert putra tunggal, lalu siapa Darwin...?"


" Kalian mengenal Darwin...?"


" Iya, katanya Darwin adalah kakaknya Robert..."


" Benar, Darwin memang kakaknya Robert tapi dari ibu yang berbeda. Suamiku berpisah dengan ibunya Darwin saat umur anak itu empat tahun. Selang beberapa bulan kami menikah dan lahirlah Robert..."


" Maaf, Nyonya. Kami tidak_..."


" Tidak masalah, saya senang memiliki teman berbagi..."


Arvan nampak ragu sekarang jika Robert adalah pelaku pembunuhan Sera. Keluarganya terlihat sangat baik, mana mungkin melakukan hal sekeji itu.


" Nyonya, ijinkan kami bertemu dengan Robert..." ucap Arvan.


" Baiklah, saya juga sangat khawatir dengan keadaannya..." sahut ibunya Robert.


Mereka naik ke lantai tiga dimana hanya ada Robert yang menempatinya. Ibunya berada di lantai dua dan lantai satu untuk kamar tamu, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan beberapa kamar pelayan.


" Robert, buka pintunya! Ada teman - temanmu datang..." teriak Ibu.


Berkali - kali mengetuk namun tak ada sahutan dari dalam. Ibunya Robert semakin khawatir dengan keadaan putranya.

__ADS_1


" Nyonya, apakah ada kunci cadangan...?" tanya William.


" Iya, saya ambil dulu dibawah..."


Sementara nyonya rumah kembali turun, Arvan dan yang lainnya bersiaga dengan segala kemungkinan yang terjadi. Beberapa saat kemudian, ibunya Robert datang membawa kunci cadangannya.


" Ini kuncinya, mudah - mudahan Robert baik - baik saja..."


Adam membuka pintu itu secara perlahan setelah kunci terbuka. Kamar itu terlihat sangat gelap karena semua lampu dimatikan.


" Robert, ini Mommy. Kenapa kamu tidak menyalakan lampunya...?"


Ibunya Robert menuju ke arah saklar lampu untuk menyalakan lampu agar bisa melihat keadaan anaknya. Begitu lampu menyala, semuanya kaget melihat keadaan kamar Robert yang berantakan dan sosok yang tergeletak di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.


" Robert! Ada apa denganmu, sayang...?" Ibunya Robert menangis histeris.


Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh anaknya yang sangat panas. Sepertinya dia dehidrasi dan demam sehingga tubuhnya sangat lemah.


" Tolong pindahkan anak saya ke kamar samping..." pinta ibunya Robert.


" Baik, nyonya..."


Arvan dan William segera mengangkat tubuh Robert ke kamar yang lain sementara Adam segera menghubungi dokter supaya cepat datang.


Erina dan Raka meneliti kamar Robert dan mencari sesuatu yang mungkin mereka butuhkan.


" Mama, bukankah ini foto tante Sera? Kenapa banyak sekali disini...?" tanya Raka.


Erina mendekati Raka dan melihat banyak foto kebersamaan Robert dan Sera yang terlihat sangat bahagia. Sepertinya mereka berdua memang memiliki hubungan special.


" Sera, kenapa kau tidak pernah bilang padaku soal Robert...?" batin Erina.


Diatas nakas samping tempat tidur Robert, Erina melihat ponsel Sera disana. Erina segera mengambil sarung tangan dari dalam tas kecilnya dan memakainya sebelum menyentuh ponsel Sera. Namun karena ponsel itu mati, Erina urung untuk mengambilnya.


" Iya, Ma..." jawab Raka.


Erina menghampiri suaminya yang sedang berdiri diluar kamar sendirian.


" Kak, yang lain kemana...?"


" Ada di dalam bersama Robert, sayang. Ada apa...?"


" Di dalam kamar tadi ada ponsel Sera dan banyak foto - foto i bersama Robert. Sepertinya mereka memang punya hubungan special..." bisik Erina.


" Ya sudah, kakak tanyakan dulu sama kak Willy soalnya kita harus jujur pada orangtuanya Robert soal ini..."


" Terserah kakak saja..."


Arvan berbincang sebentar dengan William untuk langkah selanjutnya. Setelah itu Arvan dan Erina menemui ibunya Robert yang sedang menunggu dokter di bawah.


" Nyonya, sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan dengan Anda..." ucap Arvan dengan tatapan serius.


" Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk dengan putraku...?"


" Bukan itu, sebenarnya kami bukan teman dekat Robert..."


" Apa maksudmu...?" Ibunya Robert tampak bingung dengan ucapan Arvan.


" Begini, Nyonya. Wanita yang akan diperkenalkan besok oleh Robert kepada Anda besok... dia sudah meninggal..." ucap Erina.


" Apa? Sebenarnya kalian siapa...?"

__ADS_1


" Sera adalah teman saya, dia terbunuh beberapa waktu yang lalu. Kami kesini ingin meminta keterangan kepada Robert tentang kematian Sera..."


" Apa kalian polisi yang menyamar...?!"


" Bukan, kami detektif swasta yang bertugas mengungkap kasus pembunuhan Sera. Kami yakin Robert tahu sesuatu tentang semua ini. Semoga putra Anda tidak terlibat..."


" Putraku orang yang baik, tidak mungkin dia membunuh kekasihnya sendiri...!"


" Justru karena itu, kami meminta ijin kepada Anda untuk memeriksa kamar Robert..."


" Baiklah, silahkan saja..."


" Terimakasih, Nyonya..."


" Pantas saja jiwa Robert terguncang, mungkin dia sudah tahu tentang kematian kekasihnya. Dia juga selalu meracau tidak jelas, berteriak histeris lalu menangis..."


Erina berusaha menenangkan Ibunya Robert yang kini tengah menangis sementara Arvan membawa dokter yang baru saja datang langsung ke lantai atas.


" Nyonya, boleh saya bertanya sesuatu...?"


" Iya, silahkan saja Nona..."


" Bagaimana hubungan Robert dan Darwin selama ini? Bukankah mereka bekerja dalam satu kantor...?"


" Darwin tidak pernah menyukai Robert, bahkan dia selalu memaksakan kehendaknya kepada adiknya. Berkali - kali Robert menolak berbuat curang kepada perusahaan lain namun Darwin selalu menekan jiwanya..."


" Apakah Robert pernah memperkenalkan seorang gadis kepada nyonya sebelumnya? Saya dengar dia sering berganti pacar..."


" Tidak, dia tidak pernah membawa gadis manapun. Baru kali ini saya melihat Robert sangat serius ingin menikahi seorang gadis dalam waktu dekat ini..."


" Apa nyonya tahu, sejak kapan mereka menjalin hubungan...?"


" Tidak, tapi sudah satu bulan lebih dia terlihat begitu ceria. Dia banyak tersenyum di rumah..."


Sementara itu, Arvan mengambil ponsel dan foto Sera dari kamar Robert. Dia menggeledah lemari dan menemukan pakaian yang dipakai seseorang yang masuk ke area Apartemen malam itu. Arvan mencari buku harian Sera namun belum ditemukan juga.


" Apa buku harian Sera tidak ada disini...?" gumam Arvan.


Adam menyusul Arvan ke kamar Robert. Dia tak ingin melewatkan penyelidikan sedikitpun.


" Tuan, apa ada sesuatu yang mencurigakan...?" tanya Adam.


" Saya menemukan ponsel dan foto - foto Sera bersama Robert..." jawab Arvan.


" Jadi Robert memang datang ke Apartemen Sera...!" geram Adam.


" Saya juga menemukan hoodie yang dipakai orang misterius di Apartemen..."


" Berarti benar dia pelakunya...?"


Disaat yang bersamaan terdengar suara teriakan dari kamah sebelah tempat Robert berada.


" Seraaa...!!!"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2