
" Raka, apa yang kau lakukan...?" tanya Arvan dengan heran.
" Eh... Papa sudah pulang, Raka sedang mencari keberadaan buronan yang kabur dari penyergapan polisi di London, Pa..." jawab Raka masih serius dengan laptopnya.
" Kau ini, harusnya kamu itu bermain dengan anak yang seumuran denganmu bukan mengerjakan pekerjaan orang dewasa..." tegur Arvan.
" Raka cuma membantu pekerjaan kakek, Pa..." sahut Raka santai.
" Apa Mama tahu pekerjaanmu setiap hari seperti ini...?"
" Tahu, cuma Raka tidak boleh terjun langsung ke lapangan untuk menyelidiki. Raka hanya boleh meretas dan memantau dari monitor saja..."
" Bakatmu memang sangat luar biasa, Papa bangga padamu..."
" Papa juga sangat hebat, Raka senang bisa jadi anak Papa..."
Mereka berdua berbincang sambil mencari data keberadaan buronan negara di Inggris. Hingga tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan obrolan mereka.
" Kalian memang sangat mirip, kenapa hatiku semakin terluka saat melihat kalian bersama..." batin Erina lalu kembali ke dalam kamar.
Arvan yang melihat sekelebat bayangan di belakangnya langsung menoleh. Dia seperti melihat bayangan Erina walau tak jelas.
" Sayang, Papa ke kamar dulu lihat Mama. Raka disini saja terusin pekerjaannya..." ucap Arvan.
" Iya Pa, jangan lama - lama... Raka udah laper..."
" Iya sayang..."
Arvan segera menyusul Erina ke kamar. Saat masuk ke dalam kamar, Arvan melihat Erina sedang berdiri di balkon kamar. Arvan segera mendekatinya dengan membawa selimut untuk menutupi tubuh Erina yang kedinginan.
" Kenapa...?" tanya Arvan.
" Maksud kak Arvan apa...?" ucap Erina seraya menghapus airmatanya.
" Apa yang membuatmu menangis...?"
" Tidak ada...!"
" Aku sudah bicara dengan Ayah dan Ibu, mereka ingin aku menikahimu..." ucap Arvan.
" Tidak bisakah kau membiarkan aku hidup tenang...?" sahut Erina datar.
" Apa aku harus lompat dari atas sini untuk menebus semua kesalahanku...?" ujar Arvan menghiba.
" Terserah...!" jawab Erina ketus.
Erina meninggalkan Arvan sendirian di balkon kamar. Erina hanya bingung harus membuat keputusan seperti apa saat ini. Hatinya masih sakit saat harus berdekatan dengan Arvan, namun dia juga tidak tega memisahkan Raka dengan Papanya.
" Mama kenapa menangis...?" tanya Raka yang baru masuk ke dalam kamar.
" Tidak sayang, Mama tidak apa - apa..." jawab Erina sambil tersenyum.
__ADS_1
" Jika Mama tidak ingin bersama Papa tidak apa - apa, Raka akan ikut kemanapun Mama pergi. Jangan menangis lagi ya...?" ucap Raka dengan tersenyum.
Arvan sangat terkejut dengan ucapan anaknya, namun di sisi lain mungkin itulah keputusan yang terbaik untuk mereka bertiga saat ini.
" Baiklah, Papa juga tidak akan memaksa kalian untuk tetap disini bersamaku. Kalian bebas menentukan hidup kalian, tapi jika suatu saat kalian ingin kembali padaku, aku akan selalu setia menunggu sampai ujung usiaku. Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain ada dalam hidupku karena hanya kalian yang akan selalu ada di hatiku..."
" Maafin Raka, Pa... Raka tidak bisa membiarkan Mama pergi sendiri. Raka sayang sama Papa, tapi Raka tidak mau membuat Mama menangis..."
" Ya sudah, Papa harus pergi dulu. Kamu jangan lupa ajak Mama untuk makan..." pamit Arvan.
" Kita makan dulu bersama, Pa..." ajak Raka.
" Tentu saja kalau Mama mengijinkan. Mungkin ini adalah terakhir kalinya Papa bisa melihat wajah kalian..." sahut Arvan tersenyum.
Arvan merasakan sakit di dalam hatinya. Erina sama sekali tak ingin menatap dirinya walau hanya sedetik saja.
" Ma, Papa bolehkan makan bareng kita...?" ucap Raka memohon.
" Iya..." jawab Erina singkat.
Mereka bertiga menuju meja makan kecil yang tertata cukup rapi di dekat dapur. Erina mulai membuka makanan itu dan menaruhnya di piring. Tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Erina. Pandangannya terasa kosong, sikapnya sangat dingin dan datar.
Mereka mulai makan dengan diam. Tak ada pembicaraan sama sekali, hanya Raka yang sesekali disuapi oleh papanya. Sedangkan Erina, dia makan sambil menundukkan kepalanya tak ingin menatap Arvan yang duduk berhadapan dengannya.
" Pa, nanti boleh ya sekali saja Raka tidur sama Papa dan Mama..." ucap Raka menghiba.
" Tidak sayang, Papa harus pulang. Kamu sama Mama ya...?" bujuk Arvan.
" Ayolah Pa, sekali saja... Raka janji ini permintaan terakhir Raka..."
" Ma... boleh ya sekali saja papa bersama kita. Mama janji kan hari ini kita full time bersama..." rengek Raka.
" Iya, terserah kamu saja...!" jawab Erina datar.
Arvan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Seandainya saja dia bisa memutar waktu, mungkin semua kejadian itu tidak akan terjadi.
" Raka, jangan seperti itu. Papa tidak mau membuat mama marah lagi. Jadi, sebaiknya papa pulang saja ya...?" bujuk Arvan.
" Apa Mama membenci Papa karena adanya Raka...?" cecar Raka.
Sebagai seorang detektif di usia yang masih balita membuat Raka memiliki wawasan yang luas. Dia mengerti masalah yang dihadapi orangtuanya mungkin memang berat sehingga mamanya sangat membenci sang papa.
" Tidak sayang, Mama bukannya membenci papa. Mama hanya butuh waktu untuk sendiri sementara. Raka harus jaga Mama dengan baik, buatlah Mama bahagia dan bangga pada Raka..."
" Maafkan Raka, Pa... Raka tidak bisa tinggal bersama papa lagi. Raka akan tinggal di London bersama Mama selamanya. Papa jangan cari kami sebelum Mama bisa memaafkan Papa..."
" Iya sayang, Papa akan tetap disini menunggu kalian. Sampai kapanpun itu..."
" Raka, ayo tidur... besok kita kembali ke London...!" perintah Erina.
" Jangan luapkan kebencianmu itu pada Raka, aku yang salah Erina..." tegur Arvan.
__ADS_1
" Aku nggak butuh pendapatmu...!" teriak Erina.
" Ma, jangan marahin papa lagi..." ucap Raka menangis.
" Cukup Erina! Mau sampai kapan kau menyiksa batin Raka...!" bentak Arvan.
Arvan tidak bisa menahan amarahnya lagi saat melihat tangisan Raka. Anak yang terlihat selalu tegar itu kini bagaikan anak sebayanya yang menangis histeris karena keinginannya tak dituruti orangtuanya.
" Itu bukan urusanmu! Kau bukan siapa - siapa, jadi jangan campuri urusanku...!" teriak Erina.
" Aku akan ikut campur jika itu tentang anakku...!"
Raka menatap kedua orangtuanya dengan tatapan yang sangat menyedihkan. Raka belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya. Karena tidak tahan dengan semua itu, Raka secara diam - diam keluar dari Apartement untuk menenangkan dirinya.
Raka memasuki lift untuk turun ke lantai dasar. Sampai di bawah, Raka berjalan menyusuri jalan tak tentu arah. Dengan airmata yang terus mengalir, Raka berusaha untuk menghapusnya walaupun akhirnya hanya sia - sia.
Arvan yang menyadari Raka sudah tak lagi di sampingnya langsung menghentikan perdebatannya dengan Erina.
" Rakaa...! Dimana kau...?" teriak Arvan.
Arvan menyusuri setiap sudut Apartementnya namun Raka tak ada di tempat. Erina juga ikut mencari keberadaan Raka mengikuti langkah Arvan.
" Rakaaa...! Jangan bersembunyi...! Ayo cepat keluar..." teriak Erina.
" Sebaiknya kita ke bawah, mungkin Raka di lantai dasar..." ajak Arvan.
" Iya..."
Arvan dan Erina masuk ke dalam lift untuk turun kebawah. Mereka sangat cemas karena Raka kabur lagi seperti tadi siang.
Sampai di bawah, Arvan mencari Raka di basement dan juga lorong - lorong sekitarnya. Arvan berlari ke jalan raya karena Raka suka pergi kemana saja tanpa rasa takut.
" Erina, itu Raka ada di seberang jalan..." seru Arvan.
" Aku akan menyusulnya..." sahut Erina cepat.
Karena tidak melihat situasi jalanan, Erina berlari tanpa tahu jika ada mobil yang melaju dengan sangat cepat.
" Erinaaa... Awaaasss...!!!" teriak Arvan.
" Aakkkhhhh...!!!"
Brugh!!!
Ciittt!!!
.
.
TBC
__ADS_1
.
.