Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 115


__ADS_3

" Eheemmm!!!"


Adam yang baru keluar dari kamar melihat pemandangan yang seharusnya tidak boleh ia lihat.


" Ish... apa tidak ada tempat yang lebih privasi..." cibir Adam.


" Bilang aja pengen..." sahut Arvan tak peduli.


Arvan kembali mencium pipi istrinya hingga membuat Erina malu. Erina mencoba menjauhkan dirinya dari sang suami namun Arvan malah semakin mengeratkan pelukannya.


" Kak, udah dong...!" sungut Erina.


" Bukannya tadi kau yang minta, sayang..." sahut Arvan.


" Apaan sih? Udah ah, aku mau ke dapur cari makanan..."


" Mau ikut denganku, Nona..." goda Adam.


Arvan langsung melempar sendal yang dipakainya ke arah Adam tanpa melihat situasi. Namun bukannya Adam yang kena, malah ibunya yang baru keluar dari kamar.


" Auwww...! Apa ini...?!" teriak Nyonya Sarah.


" Itu milik Tuan Arvan, Nyonya. Anda tidak apa - apa...?" ucap Adam.


Arvan langsung berdiri menatap tajam pada Adam yang memprovokasi ibunya.


" Ibu, maaf... Arvan tidak tahu ada ibu disitu..."


Arvan mendekat dan mengusap pelan lengan ibunya yang terkena lemparan sandalnya.


" Lagian kamu ngapain sih pakai lempar sandal segala...?"


" Tadi Adam ngajak latihan lempar tangkap tapi dia tidak bisa menangkap lemparan Arvan, bu..."


" Benar begitu, Dam...?"


" Eh... iya, Nyonya. Benar yang diucapkan Tuan Arvan..." jawab Adam sambil tersenyum.


Arvan memukul bahu Adam dari belakang ibunya yang fokus mengelus lengannya.


# # #


Malam hari, privat jet telah mendarat di Bandara kota London. Arvan turun dari pesawat dengan dipapah oleh Adam karena setengah jam sebelum mendarat dia muntah lagi sehingga tubuhnya lemas.


William dan beberapa pengawalnya menyambutnya dengan penuh hormat. Saat melihat Arvan, William mengernyitkan dahinya merasa heran.


" Van, kamu kenapa...?" tanya William.


" Tuan Arvan mabuk perjalanan..." jawab Adam sambil nyengir.


" Awas kau! Pergi sana, aku tidak butuh bantuanmu...!" hardik Arvan seraya mendorong tubuh Adam menjauh.


Adam hanya tersenyum lalu mundur dan membiarkan Arvan berjalan sendiri dengan sempoyongan. William yang melihat Arvan akan jatuh langsung menopang tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


" Tuan, Nyonya... silahkan..." ucap William kepada orangtua Arvan.


Setelah Arvan dan orangtuanya masuk ke dalam mobil yang dikendarai salah seorang pengawal, mereka langsung diantar ke rumah dengan pengawalan ketat. Sementara Erina, Raka dan Adam masuk ke mobil William karena ada urusan yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu.


" Kak Willy, kita mau kemana...?" tanya Erina.


" Kita ke kantor dulu, ada yang harus kita kerjakan malam ini juga..." jawab William.

__ADS_1


" Kenapa tadi Raka tidak disuruh ikut mobil Ayah saja...?"


" Kita butuh dia untuk meretas cctv kantor saat kita masuk nanti. Tidak boleh ada yang tahu misi kita termasuk security sekalipun..."


" Tapi, Tuan... Apa kita akan menjadi pencuri di kantor sendiri...?" tanya Adam.


" Bukan kita, tapi kalian bertiga saja. Saya akan mengalihkan perhatian pihak keamanan..." jawab William.


" Kak, kalau nanti kak Arvan mencari kita gimana? Dia sangat sensitif dan posesif sekarang..." keluh Erina.


" Memangnya kenapa...?" tanya William.


" Biasa, Tuan. Kelakuan orang ngidam memang aneh - aneh. Bahkan tadi beberapa kali muntah di pesawat..." ujar Adam.


" Kau hamil lagi, Rin...?" tanya William terkejut.


" Iya, kak. Udah jalan lima minggu..."


" Kalau tahu begini, sebaiknya kuantar saja kau pulang. Aku tidak mau kau kelelahan..."


" Tidak apa - apa, kak. Aku masih kuat kok..."


" Ya sudah, tugas kalian adalah mengambil data di komputer beberapa karyawan yang dicurigai. Aku sudah menuliskan nama orang - orang itu. Pertama, Raka harus bisa menon-aktifkan cctv lalu membuka password komputer - komputer yang dipakai para karyawan itu. Adam dan Erina bertugas mencari bukti dan menyalinnya dengan cepat..."


" Baiklah, kita laksanakan dengan cepat..." ujar Erina.


William melajukan mobilnya sedikit cepat seraya menatap Raka yang sudah fokus dengan laptopnya untuk segera menjalankan misi. Anak itu sangat fokus jika sudah berhadapan dengan kasus seperti ini. Tidak boleh ada satu orangpun yang boleh mengusiknya.


Sampai di depan gedung perkantoran, William memarkirkan mobilnya tepat di depan lobby agar nantinya Erina dan yang lain bisa masuk ke dalam kantor dengan mudah. William yakin ada pihak keamanan yang bekerja sama dengan para koruptor.


Keluar dari dalam mobil, William mengumpulkan seluruh security untuk berbaris menerima pengarahan darinya. Erina, Adam dan Raka segera mengendap - endap menuju tangga darurat. Mereka tidak bisa melewati lift karena pasti akan terlihat dari luar.


Berjalan menaiki tangga membuat ketiganya lelah, apalagi mereka baru sampai setelah belasan jam di dalam pesawat.


" Mau aku gendong? Kasihan anak dalam kandungan kamu jika menaiki tangga sebanyak ini..." ujar Adam.


" Raka gimana...?" tanya Erina.


" Raka baik - baik saja, Ma. Yang penting adik Raka baik - baik saja..." sahut Raka.


" Terimakasih, sayang. Kalian berdua memang super hero..." gurau Erina.


" Kalau kami super hero, Tuan Arvan apa...?" sahut Adam.


" Ah iya, dia apa ya...?" gumam Erina yang sekarang sudah naik di punggung Adam.


Untung perut Erina masih rata, jadi dia tidak masalah perutnya menekan punggung Adam. Kadang - kadang Erina juga heran dengan sikap Adam yang menurutnya terlalu berlebihan padanya. Tidak ada yang apa yang sebenarnya dalam pikiran lelaki tampan itu.


Adam adalah sosok lelaki idaman kaum hawa. Pesonanya sungguh membuat para wanita rela menjatuhkan harga diri di hadapannya. Namun sikap dingin dan wajah cueknya membuat ia lebih memilih bertahan menjandi jomblo sejati. Setiap hari hidupnya hanyalah mendampingi boss cantiknya kemanapun dia pergi.


Adam tak pernah dekat dengan wanita manapun selain Erina dan Sera. Namun dengan keduanya tak ada tatapan cinta yang terlihat walau Adam selalu memberikan perhatian dan kasih sayang kepada dua wanita itu. Adam bahkan rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan Erina.


Adam hanya menganggap Erina sebagai adiknya tak lebih dari itu. Perhatiannya sungguh luar biasa untuk Erina dan Raka. Erina sempat berpikir jika Adam menyukainya, namun saat hari dimana Erina menikah dengan Arvan, Adam malah terlihat sangat bahagia dan ikut menyiapkan segala keperluan di hari itu. Tak ada raut sedih ataupun marah dalam dirinya.


Erina tidak tahu apa tujuan hidupnya di masa depan. Apa benar Adam tidak menyukai perempuan? Ah, Erina jadi teringat dengan bualan Arvan tadi di pesawat.


" Hei... kau melamun apa tidur...?" Adam membuyarkan lamunan Erina.


" Ish... siapa yang tidur, aku cuma sedang memikirkan sesuatu...?" sahut Erina.


" Raka, pelan - pelan saja. Perjalanan masih jauh, Uncle tidak bisa jika harus menggendong kalian berdua..." ujar Adam.

__ADS_1


Setengah jam, mereka baru sampai di lantai sembilan. Setelah menurunkan Erina dari punggungnya, Adam langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan mengatur nafasnya agar normal kembali.


" Adam, are you okey...?" tanya Erina.


" Yes, I'm fine..." sahut Adam dengan nafas tersengal.


" Uncle Adam is the best...!" Raka menunjukkkan dua jempolnya.


" Thank's boy..." ucap Adam tersenyum.


" Kamu istirahat dulu, biar aku dan Raka yang mencari datanya..." tutur Erina.


" Baiklah, tetap hati - hati. Aku akan menghubungi Tuan William terlebih dahulu..." kata Adam.


Adam segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor William.


" Tuan, pergilah dari sini agar para penjaga tidak curiga..." ucap Adam.


[ " Kau yakin...?" ] kata William setengah berbisik.


" Mungkin kami akan menginap di ruangan CEO, kasihan Erina jika harus naik turun tangga. Tolong temui Tuan Arvan agar beliau tidak mengkhawatirkan anak dan istrinya..."


[ " Baiklah, kalian hati - hati..." ]


Adam segera bergabung dengan Erina dan Raka untuk mencari bukti penggelapan dana yang dilakukan anak buahnya.


Sementara itu di rumah, Arvan menunggu Erina dan Raka yang tak kunjung sampai padahal mereka pulang bersama hanya beda mobil.


" Kemana mereka...? Harusnya sudah sampai dari tadi..." gumam Arvan.


Hingga satu jam Arvan menunggu dan menghubungi mereka namun tak ada jawaban. Tak lama William datang dan melihat Arvan di teras depan.


" Arvan, bukankah kau sedang sakit? Masuklah, sedang apa kau disini...?" tanya William heran.


" Dimana anak dan istriku? Bukankah tadi mereka bersama kak Willy...?"


" Mereka ada misi penting yang harus di selesaikan malam ini juga. Kau tidak usah khawatir, Adam akan menjaga mereka..."


" Kak, Erina sedang hamil...! Misi apa yang mereka lakukan malam - malam seperti ini...?"


" Ini masalah pekerjaan, Van. Mereka baik - baik saja..."


" Dimana mereka sekarang? Aku akan menyusulnya...!"


" Van, jangan lakukan itu...! Bisa berbahaya untuk mereka..."


" Sudah tahu berbahaya tapi kak Willy masih melibatkan mereka...!"


" Saya minta maaf, tapi jangan kacaukan misi ini..."


" Tapi aku mau pantau keadaan mereka...?"


" Baiklah, kita pergi sekarang..."


William dan Arvan segera pergi kembali ke kantor Erina untuk memantau keadaan mereka walaupun sudah ada beberapa pengawal yang bersiaga di luar area gedung.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2