Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 118


__ADS_3

" Sejak kapan mereka kembali dari Indonesia...?" gumam Sera.


Sera heran pada Adam dan Erina yang pulang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Biasanya mereka sering komunikasi via pesan singkat meski dalam keadaan sibuk


sekalipun.


" Adam, Nona Erina...!" pekik Sera.


Adam dan Erina yang baru sampai di depan lift langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka langsung tersenyum kearah Sera dan berpelukan.


" Sera, kau baru datang...?" tanya Erina.


Erina heran pada Sera yang terlambat datang hampir setengah jam. Biasanya dia tak pernah sekalipun terlambat masuk kantor tanpa ijin.


" Maaf ya, pagi ini aku terlambat bangun..." ucap Sera merasa bersalah.


" Ya sudah, tidak apa - apa. Ayo masuk, banyak pekerjaan yang harus aku urus..." ujar Erina.


Mereka masuk ke dalam lift menuju ke lantai paling atas yaitu lantai dua belas. Mereka bertiga saling diam seakan ada rasa canggung untuk sekedar basa basi.


Adam memperhatikan Sera dari atas sampai bawah. Saat melihat leher bagian sampingnya, Adam melihat ada tanda kemerahan disana walaupun hanya samar terlihat.


Sebagai pria dewasa, Adam tahu betul soal itu. Dia hanya berpikir siapa yang melakukan semua itu padahal setahu Adam, Sera tidak memiliki kekasih. Mungkinkah selama satu bulan ini banyak perubahan dalam hidup Sera yang tidak diketahui oleh Adam dan Erina?


Sampai lift terbuka, Adam masih merenungi masalah yang dihadapi Sera. Mungkinkah gadis itu menyembunyikan masalah besar dari sahabatnya?


" Dam, kau tidak ingin keluar dari lift...?" tanya Erina heran.


" Eh, iya... sorry..." ucap Adam kaget.


" Are you okey...?" tanya Sera.


" Hmm, I'm fine..." jawab Adam pelan.


Mereka bertiga berjalan menuju ruangan masing - masing. Erina menghempaskan tubuhnya di sofa lalu menghela nafas panjang. Tak lama Adam menyusulnya lalu duduk berdampingan.


" Ada apa? Aku belum memanggilmu..." ucap Erina tanpa menoleh.


" Apa Sera pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya...?" tanya Adam.


" Maksudnya...?"


" Mungkin dia bilang punya kekasih atau seseorang yang sedang dekat dengannya..."


" Tidak, kami hanya membahas soal pekerjaan saja..."


" Apa kau tidak menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan Sera...?"


Erina menatap heran pada Adam yang sedetail itu memperhatikan Sera.


" Apanya yang berbeda? Aku tidak paham apa yang kau maksud..."


" Kau tidak lihat di lehernya ada bekas tanda kemerahan yang sangat banyak. Walau disamarkan dengan alat make up, tanda itu masih tetap terlihat..."

__ADS_1


" Masa' sih? Tapi Sera bukan gadis seperti itu. Meskipun dia memiliki kekasih, tapi tidak secepat itu hubungan mereka terlalu intim..."


" Sudahlah, kita pikirkan dulu soal pekerjaan. Semua data yang semalam sudah aku serahkan kepada Tuan William. Soal proyek yang bocor juga akan di revisi oleh Tuan William agar tidak ada yang curiga..."


Erina memanggil Sera untuk melihat jadwal hari ini. Erina akan mengawasi Sera di dalam kantor. Tak lama Sera masuk dan membacakan jadwal untuk besok karena hari ini Erina datang secara tiba - tiba.


" Sera, bagaimana kondisi perusahaan selama aku tinggal? Apa ayah mengalami kesulitan dengan klien...?" tanya Erina.


" Mmm... semuanya baik - baik saja, Tidak ada masalah apapun kok..." jawab Sera tampak gugup.


Erina mendekati Sera dan menyibak rambut di bahunya dengan perlahan.


" Kenapa dengan lehermu? Terlihat bersemu merah...?" selidik Erina.


" Mmmm... itu_..." ucap Sera gugup lagi.


" Apa kau salah makan kemarin? Ini seperti alergi makanan..."


" Ah, iya... Kemarin aku memang alergi makanan, Rin..."


" Oohhh... ya sudah, kalau kamu sedang tidak sehat pulang saja. Aku akan menyuruh Adam untuk mengatur jadwalku besok..."


" Aku tidak apa - apa kok, Rin. Tadi sudah minum obat sebelum berangkat kerja..."


Erina menatap wajah Sera yang terlihat gugup sedari tadi. Penasaran juga apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu selama tak bersamanya.


" Oh iya, Ser... tadi aku mencari berkas proyek untuk presentasi minggu depan kok tidak ada ya...? Apa ayah yang menyimpannya...?"


" Nanti saya cari, Rin. Mungkin saja ikut terbawa ke mejaku..."


" Ser, apa kamu ada masalah pribadi...? Kita ini sahabat, kamu bisa cerita apa saja padaku atau Adam. Kita bertiga sudah seperti saudara, aku harap tidak ada rahasia diantara kita..."


" Aku tidak apa - apa, Rin. Aku hanya sedikit kurang enak badan saja..."


" Aku percaya, Ser. Semoga kamu cepet sembuh, biar diantar Adam pulang ya? Aku tidak mau kamu sakit..."


" Tidak usah, Rin. Aku masih kuat untuk bekerja..."


" Ya sudah, kembali ke mejamu sana..."


Setelah Sera keluar, Erina memanggil Adam untuk masuk. Ada hal penting yang akan mereka bicarakan mengenai pekerjaan. Mereka nampak serius dalam bekerja hingga William masuk ke dalam ruangan tidak mereka sadari.


" Eheemmm...!" seru William.


" Astaga...! Kak Willy, sejak kapan disini...?" ucap Erina kaget.


Adam hanya tersenyum kearah William kemudian kembali fokus pada laptopnya.


" Baru saja masuk, kalian serius sekali seperti sedang berperang..."


" Kak Willy bisa aja, kami sedang merekap ulang data keuangan proyek kemarin..."


" Apa kita minta data asli dari klien saja, jadi kita tahu berapa kerugian kita..."

__ADS_1


" Nanti aku saja yang ke tempat klien..." ujar William.


" Terimakasih, kak..."


" Arvan sama Raka tidak ikut...?" tanya William.


" Tidak, kak. Katanya kerjaan yang harus diselesaikan dulu. Nanti siang baru kesini katanya..." jawab Erina.


" Suruh langsung ke Markas saja, kita bertemu disana. Ada yang harus kita bicarakan dan tidak boleh ada orang luar tahu..."


" Baik, kak..."


# # #


Semua berkumpul di Markas agen rahasia milik Tuan Regan. Saat ini kepemimpinan di pegang langsung oleh William karena Tuan Regan sudah sering sakit - sakitan. Arvan yang seharusnya jadi pewaris utama malah membangun bisnisnya sendiri di Indonesia yang kini berkembang pesat. Erina yang tadinya hanyalah anak angkat disuruh menggantikan posisi CEO di perusahaan besar yang ada di negara itu.


" Sayang, makanlah dulu. Ini bawa bekalnya banyak, cukup untuk semuanya..." ujar Arvan.


" Ya udah, aku siapin dulu di meja. Kakak tadi nggak makan di rumah...?" tanya Erina.


" Maunya disuapin sama mama..." bisik Arvan.


" Ish... manja banget sih...!"


Erina menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya dibantu oleh pelayan. Setelah itu semua makan bersama dengan tenang kecuali Arvan yang merengek minta disuapi istrinya.


" Raka, kau tidak boleh seperti papamu. Manja seperti anak perempuan..." bisik Adam.


Raka hanya tertawa cekikikan tanpa menjawab bisikan Adam. Arvan yang merasa jadi bahan tertawaan mereka berdua hanya menatap tajam pada Adam.


" Apa yang kau katakan pada Raka...!" geram Arvan.


" Tidak ada, Tuan. Saya hanya bilang kalau makanan ini sangat enak..." sahut Adam seraya tersenyum.


" Sudah, jangan terlalu membenci Adam. Nanti anak kita mirip lagi sama dia..." omel Erina.


" Justru harusnya seperti itu, Rin. Kalau mirip aku pasti nanti anaknya tampan, kalau cewek pasti sangat cantik..." sahut Adam sombong.


" Cih...! Jangan sampai anakku mirip sepertimu. Benar - benar memalukan..." ucap Arvan sinis.


" Sudah, jangan bertengkar di meja makan...!" William mengeluarkan kata dengan nada meninggi.


Semua langsung diam, tak ada yang berani membantah perkataan William. Walaupun Arvan adalah anak dari Boss besar, namun dia sangat menghormati William.


Selesai makan, mereka berkumpul di ruang kerja William. Mereka akan mengatur strategi untuk menangkap para koruptor di dalam perusahaan.


Raka yang tak ingin ikut campur, memilih masuk ke ruangan lain untuk memecahkan kasus pembunuhan bersama para anak buah William.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2