Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 23


__ADS_3

Arvan tidak tega melihat tangisan Erina yang terdengar pilu. Hatinya pun ikut merasakan sakit melihat wanita yang dicintainya menderita batin seperti ini. Ingin sekali rasanya Arvan memeluk dan menjadi sandaran untuknya, namun itu semua mustahil akan terjadi.


" Sebentar lagi Ayah dan juga keluarga yang lainnya pulang, apa kau siap untuk betemu mereka? Ayah sudah tahu semua tentang kita..." ucap Arvan lembut.


" Aku ingin sendiri, aku tidak mau bertemu dengan siapapun..." jawab Erina datar.


" Baiklah, kita pergi sekarang. Tinggalah di Apartement sampai kau merasa tenang..."


" Apartement yang itu...?" tanya Erina ragu.


" Iya, apa kau mau tempat lain...? Aku akan booking hotel kalau begitu..."


" Tidak usah, kita ke Apartement saja..."


" Apa kau akan membawa Raka...?" tanya Arvan lagi.


" Iya, dia anakku. Kemanapun aku pergi dia akan selalu bersamaku..."


" Baiklah, aku akan bereskan barang - barang Raka dulu..."


Arvan membereskan barang - barang Raka lalu mengemasnya ke dalam koper. Setelah itu dia membawa koper Raka dan Erina ke mobil. Selesai dengan kopernya, Arvan kembali ke kamar untuk mengangkat tubuh Raka yang masih tertidur pulas.


" Ayo pergi, sebelum Ayah dan Ibu pulang..." ucap Arvan.


" Hmmm..." sahut Erina datar.


Arvan begitu sedih harus berpisah dengan anaknya dan juga wanita yang selama lima tahun ini telah mengusik hatinya.


Sampai di dalam mobil, Arvan memberikan Raka kepada Erina karena dia harus mengemudikan mobilnya. Mereka berdua terdiam selama perjalanan. Hampir satu jam mereka baru sampai di Apartement karena terjebak kemacetan di jalan.


Sampai di basement Apartement, Erina terdiam. Arvan yang melihatnya merasa sangat bersalah. Dia tahu tempat ini pasti mengingatkan Erina pada kejadian lima tahun lalu.


" Ayo masuk, biar Raka bisa istirahat dengan nyaman..." ucap Raka.


" Kopernya...?" tanya Erina.


" Biar nanti aku balik lagi untuk mengambilnya..." jawab Arvan sambil tersenyum.


" Tidak usah, biar aku gendong Raka. Kak Arvan bawa kopernya saja..."


" Kamu bisa gendong Raka...?"


" Bisa, diakan anakku. Aku sering menggendongnya..."


" Raka juga anakku, Erin..."


" Terserah...!"


Arvan tersenyum melihat Erina yang tak lagi menangis seperti saat di rumah tadi. Mereka berjalan menuju lift untuk naik ke lantai paling atas.


Sampai di depan pintu, Erina menarik nafas dalam - dalam lalu membuangnya dengan kasar.


" Ayo masuk, kamu pasti lelah menggendong Raka dari bawah..."


Arvan masuk terlebih dahulu untuk memasukkan koper milik Raka dan Erina. Setelah itu, ia menunjukkan kamar untuk Raka.


" Raka tidur di kamar itu saja, kamar yang ini untuk kita berdua..." gurau Arvan.


Erina langsung masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan ocehan Arvan. Setelah meletakkan Raka ke tempat tidur, Erina keluar untuk duduk di ruang tamu.


" Kenapa kak Arvan nggak pulang...?"


" Untuk apa aku pulang jika keluarga kecilku berada disini..."


" Pergilah, aku mau sendiri..."

__ADS_1


" Erina, aku merindukanmu..." ucap Arvan tulus.


Arvan berlutut di hadapan Erina dengan mata berkaca - kaca seraya menghiba.


" Sudahlah Kak, aku lelah bertengkar denganmu. Pulanglah, Ibu pasti mencarimu sekarang..."


" Aku tidak akan pergi sampai kau memaafkanku. Oh iya, ada barang kamu yang tertinggal saat itu disini. Aku selalu memakainya agar aku merasa selalu dekat denganmu..."


Arvan mengambil kalung yang selalu dia pakai selama lima tahun ini namun tertutup rapat oleh kaos putih yang dikenakannya. Dia menunjukkan kalung itu pada Erina.


" Ini kan kalung dari ibu, darimana kau mendapatkan ini...."


Erina mendekatkan wajahnya ke wajah Arvan untuk menyentuh kalung peninggalan ibunya itu. Dia tidak menyadari bahwa jantung lelaki di hadapannya itu berdetak diatas batas normal.


" Dimana Kak Arvan menemukan kalung ini...?" tanya Erina mengeraskan suaranya.


" Eh... itu, a...aaku menemukannya di kamar mandi..." jawab Arvan terbata.


" Tadinya aku mau kembali ke rumah untuk mencari kalung ini di kamarku..." ucap Erina tersenyum.


Sejenak Erina melupakan amarahnya melihat kalungnya yang hilang kini telah dia temukan.


" Boleh aku mengambilnya kembali...?" pinta Erina memohon.


" Boleh, tapi ada syaratnya..." ucap Arvan.


" Apa syaratnya...?"


" Bawa juga hatiku bersamamu..."


Erina menatap Arvan dengan heran. Sudah tahu kalau dia sangat membencinya, tapi Arvan selalu menghiba untuk menerima cintanya.


Arvan merebahkan kepalanya ke pangkuan Erina. Dia sangat berharap Erina bersedia untuk menerima dirinya sebagai papa Raka yang sah di mata hukum dan agama.


" Pergilah kak! Aku ingin sendiri saat ini..."


Erina kembali menangis mendengar penuturan Arvan. Saat ini tak ada yang bisa dilakukan selain hanya diam.


Saat suasana hening, tiba - tiba ponsel Arvan berdering. Arvan mengambilnya dari saku jaketnya lalu melihat nama penelfonnya.


" Halo... ada apa Hans...?"


"....._"


" Apaaa...?"


" ...._"


" Ya sudah, saya kesana sekarang..."


Arvan kembali memasukkan ponselnya setelah mematikan panggilannya. Arvan menatap Erina dengan lembut lalu mengusap pelan pipinya.


" Aku harus pergi sekarang, ada yang mengacau di tempat acara kak Ricko..."


" Siapa...?"


" Huft... Selly disana dan mengaku sebagai calon istriku..."


Arvan masih setia merebahkan kepalanya di pangkuan Erina. Sebenarnya dia tidak rela jika harus meninggalkan Raka dan Erina di Apartement.


" Mungkin saja kau juga melakukan itu padanya..." ucap Erina datar.


" Percayalah padaku Erina, aku tidak mungkin melakukan itu pada wanita iblis itu..."


" Kalau kau tidak memberi harapan padanya, tidak mungkin dia berani mengatakan semua itu di depan umum..."

__ADS_1


Erina mencoba melepaskan diri dari Arvan yang kini memeluk tubuhnya dengan erat.


" Kau tahu sendiri kelakuan wanita gila itu, kau lebih mengenal dia daripada aku..."


" Aku lelah kak, pergilah...!"


" Baiklah, tapi kalung ini akan tetap kupakai sampai kamu mau memaafkan dan menerima cintaku. Aku sendiri yang akan memakaikan kalung ini saat pernikahan kita..."


" Memangnya siapa yang mau menikah denganmu...!"


" Tidak usah terburu - buru, cinta itu pasti akan datang dalam kehidupan kita..."


" Jangan mimpi! Aku bahkan sangat membencimu...!"


" Walaupun kau membenciku, tapi cintaku padamu akan semakin bertambah setiap detiknya..."


" Kau pasti juga mengatakan hal yang sama pada kak Selly..."


" Hahahaa... apa kau cemburu...?" goda Arvan.


" Cihh... aku tak peduli pada hubungan kalian...!" cibir Erina.


" Sikapmu yang seperti ini membuatku semakin cinta..."


" Pergilah! Lepaskan pelukanmu, tubuhku sakit semua...!"


" Jangan berbohong padaku, aku tahu seperti apa kemampuanmu dalam ilmu bela diri walaupun takkan bisa mengalahkanku..."


" Aku lelah mau tidur...!" rengek Erina.


" Baiklah, asal kau bisa menyebutkan kata sandinya..."


" Kata sandi apa...?"


" Tebak saja, siapa tahu kamu beruntung..."


Erina berpikir keras untuk mengurai pelukan Arvan yang semakin erat itu. Sepintar apapun ia dalam bidang sains, tapi tetap saja Erina tidak bisa menebak kata sandi yang dibuat asal oleh Arvan.


" Aku nyerah Kak, tolong lepaskan..." rengek Erina.


" Coba dulu..." goda Arvan.


" Mmmm... Raka..." tebak Erina.


" Bukan..." sahut Arvan tersenyum.


" Arvan..."


" Tidak..."


" Erina..."


" No..."


" Aku nyerah aja deh, beneran nggak bisa..."


Saat Erina sedang merengek dalam pelukan Arvan, tiba - tiba ada seseorang di belakang mereka.


" Aku tahu apa kata sandinya..."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2