
" Aku akan memberikannya jika kau mau..." goda Erina.
" Benarkah...?" tanya Arvan serius.
" Tentu saja, tapi_..."
" Tapi apa...?"
" Aku masih_..."
" Ish... jangan membuatku tersiksa sayang...!" kesal Arvan.
" Hehehee... cepatlah tidur, aku akan tidur di kamar sebelah..." ucap Erina nyengir.
" Hmmm... jangan kau pikir bisa keluar dari kamar ini tanpa hukuman dariku, sayang..."
Arvan langsung mengangkat tubuh Erina masuk ke dalam kamar.
" Kak, lepasin...!" pekik Erina.
" Kau harus bertanggungjawab dengan apa yang telah kau mulai, sayang..."
Arvan merebahkan Erina di sofa lalu dengan cepat menindihnya. Senyuman terbit di bibir Arvan sebelum dia memulai aksinya.
" Kak... apa yang kau lakukan...?"
" Menurutmu apa yang akan terjadi saat posisi kita seperti ini...?" bisik Arvan.
Tubuh Erina serasa membeku, jantungnya berdetak sangat kencang. Dia tak berani menatap wajah Arvan yang hanya berjarak beberapa centi saja.
" Kak, lepaskan aku...?"
" Tidak sebelum aku melabuhkan sesuatu yang berharga milikku padamu..."
" Jangan, kak... Erin mohon..."
" Kau sendiri yang menginginkannya tadi, kenapa tak menyelesaikannya...?"
" Aku cuma bercanda, kak..."
" Bercanda kamu kelewatan, kamu harus tanggungjawab...!"
" Maaf, Erin tidak akan melakukannya lagi..."
" Sudah terlambat, aku akan membuatmu begadang sampai pagi malam ini..."
" Kak_..."
" Sudah selesaikan...?"
" Belum...!"
" Jangan bohong, aku akan melihatnya sendiri..."
" Jangan! Kita akan melakukannya setelah menikah..." rengek Erina.
" Untuk apa menunggu, kita sudah melakukan ini sebelumnya. Jadi sudah tidak ada lagi malam pertama..."
Arvan mulai menciumi seluruh wajah wanitanya dengan lembut. Saat ciumannya turun ke leher, Erina mengerang dengan kencang sehingga Arvan harus membungkam mulut wanitanya dengan mulutnya.
" Ssttt... jangan terlalu keras, nanti Raka terbangun..." bisik Arvan.
" Udah, hentikan kak...!"
" Huft... baiklah, tidurlah dengan Raka. Aku akan tidur di kamar lain..."
" Kak Arvan, marah...?"
" Tidak, cuma sedikit kecewa..." ucap Arvan tersenyum.
" Ish... dasar mesum...!" sungut Erina.
" Siapa suruh menggodaku...? Aku bisa menghukummu semalam suntuk bila menggodaku lagi..."
Arvan beranjak dari tubuh Erina setelah mencium kening wanitanya itu sekilas.
__ADS_1
" Persiapkan dirimu untuk hari - hari yang akan datang..." bisik Arvan.
" Udah ah, keluar sana...!" usir Erina.
Arvan keluar setelah mengusap pelan kepala anaknya dan juga megecup keningnya dengan lembut.
# # #
Sesuai kesepakatan semalam, hari ini akan diadakan acara pernikahan antara Arvan dan Erina. Pernikahan yang hanya dilakukan secara sederhana di kediaman keluarga Sebastian yang disaksikan keluarga William dan beberapa anak buahnya saja karena jika pernikahan ini tersebarluas, maka ini akan berbahaya untuk keselamatan Raka dan Erina.
Hans dan Ricko menyaksikan pernikahan itu lewat video call dengan William. Mereka turut bahagia melihat kebahagiaan adiknya.
" Selamat ya, semoga cepat diberi momongan lagi..." ucap William tersenyum.
" Kak Willy...! Jangan bicara seperti itu di depan Raka...!" sungut Erina.
" Kenapa kalian tidak menggelar resepsi yang lebih mewah dari Ricko...?" tanya William.
" Tidak, kak... waktunya belum tepat. Banyak masalah yang harus aku selesaikan. Jika pernikahan ini diketahui publik, nyawa Erina dan Raka dalam bahaya..." jawab Arvan.
" Kalian ada masalah apa di Indonesia...?"
" Peristiwa kecelakaan waktu itu semakin memanjang masalahnya. Secara kebetulan, saya dan Erina memiliki musuh yang sama. Dia buronan polisi disana sekarang..."
" Kalian mengenal orang itu sebelumnya...?"
" Iya, dia kakak tiri Erina dan juga perempuan yang dulu selalu mengejarku..."
" Yang dulu mengacau di pernikahan Ricko...?"
" Iya, sebenarnya kami teman sekolah dulu. Tapi aku tidak begitu mengenalnya karena aku tidak suka berteman dengan sembarang perempuan..."
" Yakin seperti itu...?" cibir Erina.
" Haish... apa kau tidak percaya padaku, sayang...?"
" Mana kutahu, aku tidak pernah berteman denganmu..."
" Tapi kalau 'itu' pernahkan?" bisik Arvan.
Erina beranjak meninggalkan Arvan dan William yang tersenyum dengan tingkahnya.
" Kurasa ayah dan ibu merawatnya dengan cukup baik hingga dia tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri dan cantik..." ucap Arvan seraya menatap kepergian Erina.
" Hey... itu semua hasil kerja kerasku. Saya mengajarkan ilmu dalam berbisnis di saat istrimu sedang terpuruk. Kau tahu, awal dia datang ke rumah ini hidupnya sangat kacau. Ada niatan ia ingin mengakhiri hidupnya karena tak ingin membuat keluarga Sebastian malu karena menampung seorang gadis yang hamil tanpa seorang suami..."
" Pasti sangat berat hidup Erina karena perbuatanku. Aku sungguh menyesal telah mengukir luka dalam hidup Erina, kak..."
" Tentu saja, untung anakku selalu menemani Erina setiap hari sehingga Erina bisa menumbuhkan rasa kasih sayangnya terhadap anak - anak terutama anak dalam kandungannya. Dalam waktu satu bulan, Erina mampu bangkit dari keterpurukan karena orangtuamu memberikan kasih sayang yang berlimpah padanya dan juga janin yang di kandungnya..."
" Oh iya, dari tadi aku tidak melihat princess Monika...?" tanya Arvan.
" Dia pasti sedang bermain dengan Tuan muda Raka..." jawab William terkekeh.
Arvan melihat Raka dan Monika berlarian di teras dengan beberapa pengawal disana.
" Van_..."
" Iya, kak..."
" Jaga Erina baik - baik, nasibnya tak pernah baik sejak kecil. Semoga dia bisa menemukan kebahagiaan saat bersamamu..."
" Oh iya, kak. Itu pasti akan kulakukan... boleh aku minta tolong sesuatu padamu, kak...?"
" Minta tolong apa? Katakan saja..."
" Saat kami naik pesawat kemarin, Erina bertemu dengan teman lamanya. Aku merasa ada yang janggal dari pertemuan itu. Selidiki siapa dia sebenarnya, namanya Samuel. Dulu mereka satu sekolah dari SMP hingga masuk ke perguruan tinggi. Aku hanya takut orang itu akan berbuat jahat pada keluargaku..."
" Baiklah, secepatnya saya akan cari orang itu. Akan lebih mudah jika dia tinggal di kota ini..."
" Tenang saja, aku akan pancing Erina untuk menceritakan tentang orang itu..."
Arvan dan William berbincang hingga sore hari. Semua anak buah yang berada di rumah itu sudah kembali bertugas sesuai posisi mereka semula.
" Hhh... sepertinya saya harus pulang dulu mengantar anak dan istriku. Nikmati harimu yang menyenangkan ini, Van..." pamit William.
__ADS_1
" Terimakasih, kak Willy. Kau memang yang terhebat, aku bangga kepadamu. Ayah memang tidak salah menjadikanmu orang kepercayaannya..."
" Kau terlalu berlebihan, Van. Justru Tuan Regan yang mengajarkan saya tentang banyak hal sehingga saya bisa seperti sekarang..."
" Sekali lagi terimakasih, kak. Kau sudah menjaga keluargaku dengan baik. Aku tidak akan mampu membalas semua kebaikanmu..."
" Sudahlah, keluarga ini sudah saya anggap seperti keluargaku sendiri. Jadi sudah sewajarnya jika saya melindungi semua yang ada disini. Apa yang pernah Tuan Regan berikan padaku, tidak pernah bisa aku lupakan..."
" Papa, mama dimana...?" tanya Raka.
Raka yang habis main dari luar berlari tergesa - gesa disusul Monika. Tubuh mereka penuh dengan keringat karena berlarian tiada henti.
" Ada di kamar, Raka mau apa...?" sahut Arvan.
" Raka mau main ke rumah Uncle Willy, Pa. Boleh ya...?"
" Ini sudah sore, sayang. Besok saja ya...?"
" Raka pengen menginap disana, Pa..."
" Sayang, nanti disana kamu merepotkan Aunty dan Uncle Willy..."
" Sudahlah, Van. Biarkan Raka ikut dengan saya, besok saya antar lagi kesini..." ucap William menengahi.
" Apa tidak merepotkan kak Willy...?"
" Tentu saja tidak, dari Raka kecil saya yang merawatnya. Anak ini lebih sering bersamaku daripada bersama ibunya..."
" Benarkah...? Kak Willy memang yang terbaik. Kalau begitu Arvan akan memandikan Raka dulu, tunggu sebentar ya...?"
" Iya, cepetan. Monika juga terlihat sudah lelah..."
Arvan menggendong Raka ke lantai atas untuk memandikan anak itu sebelum diajak Willy ke rumahnya.
" Pa, kok mama tidur sih?" tanya Raka.
" Mungkin mama lelah, sayang. Ayo kita mandi dulu, Uncle Willy sudah menunggu di bawah..." ujar Arvan.
" Ok, Pa...!"
Arvan dan Raka mandi bersama di bawah guyuran shower sebentar karena Raka sudah tidak sabar ingin ikut Uncle Willy ke rumahnya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Arvan mengantar Raka pada William dan istrinya. Setelah itu, Arvan kembali ke kamar menghampiri istrinya yang masih terlelap.
" Sayang, kau cantik sekali. Terimakasih sudah bersedia menjadi pendamping hidupku. I love you, honey..." gumam Arvan.
Arvan menatap lekat wajah polos istrinya yang tengah terlelap. Pesona sang istri sungguh membuat Arvan seperti orang yang kecanduan. Hanya menatap wajahnya saja hasratnya langsung bergejolak.
" Ish... bagaimana aku bisa jauh darimu jika hanya menatapmu saja hasratku langsung meronta ingin menerkammu..." gumam Arvan berdecak.
Arvan mencoba meredam hasratnya, namun justru dirinya merasa tersiksa. Dengan perlahan, Arvan merangkak naik ke atas tubuh Erina lalu mencium bibirnya dengan lembut.
Merasa ada yang mengusik tidurnya, Erina menggeliat namun masih terpejam.
"" Eugh...!" Erina melenguh saat bibir Arvan bermain di lehernya.
" Huft... tanpa obat sialan itupun kau sudah membuatku hilang kendali, sayang..." batin Arvan.
Erina terlonjak kaget saat tubuh bagian bawahnya seperti ada yang menindihnya.
" Aakkhh...! Kak Arvan...!" pekik Erina.
" Hmmm... kenapa kau bangun sayang...?" sahut Arvan pelan.
" Apa yang kakak lakukan...?"
" Meminta sesuatu yang sudah sah menjadi milikku..."
.
.
TBC
.
__ADS_1
.