Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 83


__ADS_3

" Dasar boss tidak ada sopan santunnya, bermesraan di depan jomblo..." umpat Adam dalam hati.


" Kenapa kau menatap istriku seperti itu...!" hardik Arvan.


" Eh... Tuan, saya tidak menatap istri Anda. Saya melihat pemandangan di danau itu sangat indah..." elak Adam.


" Pintar sekali kau mengelak...!"


" Sudah, kak. Kita pulang saja, sebentar lagi malam tiba..." ajak Erina.


" Iya, sayang. Dan kau, antar anakku pulang. Nanti kau ambil mobilmu di rumah...!" Arvan menunjuk ke arah Adam.


" Baik, Tuan..."


Mereka akhirnya pulang dengan tujuan masing - masing. Arvan tak henti - hentinya mencium tangan Erina sepanjang perjalanan pulang.


" Kak, fokus kalau lagi nyetir...!" peringat Erina.


" Sedetik saja aku tak bisa jauh dari kamu, sayang. Hidupku terasa hampa tanpamu, apalagi kalau sehari saja tidak_..."


" Jangan diteruskan...!" sungut Erina yang tahu maksud suaminya.


" Istri pintar...! Jangan lupa nanti malam begadang sampai pagi. Hhh... bahkan aku ingin melakukannya sekarang kalau bisa..." ucap Arvan nyengir.


" Apaan sih, kak! Pokoknya tidak ada jatah malam ini...!"


" Sayang, mana bisa seperti itu. Apa kau mau menyiksaku...?"


" Makanya jangan macam - macam...!"


" Eh, sayang. Kita coba disini yuk? Cari suasana baru..." seringai Arvan.


" Kak Arvan! Erina pulang sendiri saja, hentikan mobilnya...!" teriak Erina marah.


" Kok marah sih? Iya - iya, kita pulang sekarang..." ucap Arvan pasrah.


Sepanjang perjalanan pulang, Erina memasang wajah datarnya hingga membuat Arvan tak bisa berkutik sedikitpun.


Sampai di rumah, Erina langsung masuk ke dalam kamar lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


" Sayang, kita mandi bareng ya...?" rengek Arvan.


" Diam disitu! Jangan berani melangkah sedikitpun...!" ancam Erina.


" Tapi, sayang_..."


Erina langsung masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan suaminya. Hingga setengah jam di kamar mandi, akhirnya Erina selesai juga dengan ritual mandinya.


Erina kaget saat melihat Arvan masih berdiri di tempat yang tadi tanpa bergeser sedikitpun. Wajah sang suami nampak sendu dengan terus menunduk ke bawah.


" Mandi sana!" ujar Erina.


" Sayang, maafkan aku..." rengek Arvan.


" Cepat mandi terus ke bawah, Adam dan kak William pasti sudah datang..."


" Iya, sayang..."


Usai mandi, Arvan dan Erina turun ke bawah untuk makan malam bersama dengan yang lain. Tak ada percakapan selama makan karena itu sudah menjadi peraturan dalam keluarga Sebastian.


Selesai makan, mereka berpindah menuju ruang keluarga. Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Arvan kepada orangtuanya.


" Ada apa, Van...?" tanya Syah.

__ADS_1


" Begini, Yah. Besok Arvan akan pulang ke Indonesia, Raka dan Erina juga akan ikut bersamaku..." ucap Arvan pelan.


" Raka dan Erina ikut juga, Van...?" Ibu memastikan ucapan putranya.


" Iya, bu. Arvan tidak bisa meninggalkan mereka disini..."


" Ibu tahu, tapi kenapa mendadak seperti ini...? Ibu tidak bisa berpisah dengan Raka. Kalau kamu mau pergi dengan Erina saja ibu tidak masalah, tapi jangan bawa Raka...!"


" Tapi, bu... Erina nggak mau pergi tanpa Raka..." ucap Erina.


" Sudah, sayang. Jangan menangis, kita cari solusi yang terbaik..." bisik Arvan.


" Urusan kantor bagaimana kalau Erina pergi...?" tanya Ayah.


" Untuk sementara Ayah dulu yang pegang. Nanti dibantu kak Willy dan Sera..."


" Adam...?"


" Adam akan ikut ke Indonesia, Yah..." jawab Arvan.


" Tapi buat apa? Disana sudah ada Ricko dan Hans..."


" Kenapa kalian semua tega ninggalin ibu sendirian..." Ibu terlihat menangis lalu masuk ke dalam kamar.


" Bu, Erin bisa menjelaskan semuanya..."


" Sudah, sekarang kalian bubar dulu. Pergilah lusa, Van. Mudah - mudahan ibumu bisa dibujuk..." ucap Ayah.


" Baik, Yah. Arvan akan mencoba bicara lagi dengan ibu besok..."


Di dalam kamar, Erina menangis karena merasa bersalah pada ibu mertuanya. Erina seperti orang yang tidak bisa membalas budi baik keluarga Sebastian.


" Sayang, kenapa menangis...? Kita pasti bisa membujuk ibu besok..." hibur Arvan.


" Tidak, sayang. Ibu hanya belum terbiasa saja tanpa kalian..."


" Apa aku dan Raka tidak usah ikut ke Indonesia saja, kak...?"


" Jangan, sayang. Apapun yang terjadi, kita harus selalu bersama. Gimana adiknya Raka bisa tumbuh disini jika kita berjauhan..." Arvan mengusap perut rata istrinya.


" Ish... itu saja yang kau pikirkan...!" sungut Erina.


" Ya sudah, sekarang tidurlah. Malam ini kau bebas tugas, sayangku..." bisik Arvan.


# # #


Setelah sarapan bersama, Nyonya Sarah langsung beranjak untuk pergi ke ke toko bunga.


" Bu, biar Arvan antar ya...?" ucap Arvan sedikit memohon.


" Tidak perlu, ibu masih sanggup membayar sopir untuk mengantar ke toko..." jawab ibu ketus.


" Bu, Erina saja yang antar...?" bujuk Erina.


" Tidak, ikutlah suamimu! Jangan pedulikan ibu lagi..."


" Sarah, jangan seperti itu pada anak - anakmu..." tegur Ayah.


Ibu langsung pergi dengan wajah yang terlihat kesal dan kecewa. Erina benar - benar tidak tega melihat ibunya seperti itu karena dirinya.


" Sudahlah, ibumu butuh waktu untuk menerima keadaan ini. Kalian tidak perlu khawatir begitu..." ujar Ayah.


" Iya, Yah. Biar nanti Arvan yang bicara sama ibu, lagian Arvan juga hanya sementara di Indonesia. Setelah semua urusan disana selesai, Arvan pasti kembali kesini dan menetap selamanya di rumah ini..."

__ADS_1


" Benarkah...? Kau akan menetap di negara ini, Van...?" ucap Ayah senang.


" Iya, Yah. Arvan tahu, selama ini Arvan tidak pernah punya waktu untuk ibu dan ayah. Bahkan Arvan juga membawa kak Ricko dan Hans pergi dari rumah ini..."


Selesai sarapan, Arvan mengajak Erina dan Raka untuk menyusul ibu ke toko bunga.


" Pa, apa nenek tidak mengijinkan kita pergi...?" tanya Raka.


" Bukan begitu, sayang. Nenek hanya belum terbiasa tanpa kalian..." jawab Arvan.


" Aku merasa sangat bersalah pada ibu, kak Arvan mungkin lebih baik pergi sendiri saja..."


" Tidak, sayang. Kita akan selalu bersama apapun yang terjadi. Jangan bicara seperti itu lagi..."


" Aku tidak tahu, kak. Ibu sudah terlalu baik padaku dan Raka. Aku tidak bisa melihat ibu bersedih..."


Arvan sangat pusing memikirkan semua masalah ini. Seandainya boleh memilih, Arvan lebih baik berkelahi dengan sepuluh preman daripada melihat orang yang disayanginya bersedih.


Kini semua terdiam dengan fikiran masing - masing. Arvan beberapa kali menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.


" Kak, apa keputusan kita untuk pergi itu benar...?" ucap Erina.


" Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Semuanya beres kalau sama papa, iya kan Raka...?" tutur Arvan.


" Iya, pa. Mama jangan bersedih lagi ya...?" sahut Raka.


Erina hanya tersenyum kecil lalu bersandar di bahu Arvan dengan Raka di pangkuannya.


Tak lama, mereka sampai di toko bunga milik ibu Sarah. Arvan melihat sang ibu sedang menyiram bunga di kebun belakang toko.


" Ibu, jangan marah dengan Arvan..." lirih Arvan.


Arvan memeluk ibunya dengan erat. Arvan menyadari bahwa dirinya memang kurang perhatian pada orangtuanya. Bahkan sejak masih remaja, Arvan sudah berpisah dengan orangtuanya karena memilih tinggal di Indonesia dengan kakeknya.


" Pergilah! Ibu tidak bisa menahan kalian disini. Kau suami dan juga ayahnya, kau bebas membawa mereka pergi kemanapun kau mau..."


" Bukan seperti itu, bu. Arvan janji setelah semua urusan di Indonesia selesai, Arvan akan menetap disini selamanya dengan ibu dan ayah. Arvan tidak mungkin memisahkan ibu dengan Raka dan Erina..."


" Janji...? Kalian akan menetap disini selamanya...?"


" Iya, makanya ijinkan kami pergi sementara waktu. Anggap saja kami sedang honeymoon untuk membuat adiknya Raka..." ucap Arvan tersenyum manja.


" Dasar kau ini! Disini memangnya tidak bisa membuatnya...!" Ibu mencubit lengan anaknya seraya tersenyum kecil.


" Susah bu, sepertinya tempatnya kurang cocok untuk mencetak yang seperti Raka. Kalau disana, sekali coba langsung jadi tuh Raka, Arvan hebat kan...?"


" Dasar kau ini! Bicara sembarangan saja. Pergi sana, ibu tidak akan menghalangimu asal saat pulang nanti harus sudah ada adiknya Raka..."


" Tenang saja, Arvan akan membuatnya siang dan malam. Takkan kubiarkan dia lepas sebelum berhasil..." seringai Arvan.


" Hah... awas saja sampai kau menyakiti anak perempuanku! Kubikin milikmu itu tak bisa lagi berfungsi...!" ancam ibu.


" Ish... jangan dong, bu. Arvan bisa mati kau itu tak berfungsi..."


Erina melihat Arvan dan ibunya nampak tersenyum dan bercanda. Dia merasa lega karena tak ada lagi kesedihan di wajah sang ibu.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2