Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 29


__ADS_3

" Siapa wanita ini...?" batin Delia.


Di dalam mobil, Delia memangku Raka yang sudah kembali terlelap dan Erina yang duduk disampingnya. Sepanjang jalan hanya keheningan yang ada di dalam mobil itu. Sesekali Raka mengigau memanggil papanya. Delia mengusap pelan punggung anak itu supaya kembali tenang.


Sampai di Apartement, Delia menggendong Raka sedangkan Hans memapah Erina yang sudah tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. Mereka membawa ibu dan anak itu ke dalam kamar lalu membaringkannya diatas tempat tidur.


" Erin, kenapa badanmu jadi panas...?" gumam Hans.


" Kenapa Hans...?" tanya Delia.


" Tubuh Erina tiba - tiba panas..."


" Kenapa tadi tidak dirawat saja di rumah sakit...?"


" Huft... pikiranku sedang kacau. Apa kau bisa memeriksanya...?"


" Semua peralatanku di dalam mobil di rumah sakit..."


" Astaga, lalu kita harus bagaimana...?"


" Di kompres saja, mudah - mudahan panasnya bisa turun..."


Delia pergi ke dapur mengambil air dan juga mencari handuk kecil untuk mengompres Erina. Setelah semuanya dapat, Delia kembali ke kamar dan memakaikan kompres pada Erina.


" Kamu sangat mengkhawatirkan dia...?" tanya Delia pelan.


" Tentu saja, memangnya kenapa...?" Hans balik bertanya.


" Tidak apa - apa, sebaiknya aku pergi sekarang. Jaga dia baik - baik, ganti kompresnya sampai panasnya turun..."


" Jangan pergi..." pinta Hans.


" Saya mau ke rumah sakit melihat keadaan Arvan..." tolak Delia.


" Delia... ayolah, aku minta tolong kamu jaga mereka malam ini saja..."


" Untuk apa Hans...? Kau yang harusnya jaga mereka...!" ucap Delia kesal.


" Kita bicara di luar..." Hans menarik tangan Delia menuju ruang tamu.


" Lepasin Hans...!" Delia meronta menghempaskan tangan Hans.


" Duduklah, kita bicara baik - baik..." ucap Hans memohon.


Hans kembali meraih tangan Delia lalu menariknya hingga terduduk di sampingnya.


" Apa kau cemburu...?" ucap Hans sembari tersenyum.


" Ish... buat apa aku cemburu...!" elak Delia walaupun wajahnya kini bersemu merah.


" Aku senang kamu cemburu..." goda Hans.


" Hhh... aku mau pulang...!" pekik Delia.


" Sayang, jangan pergi..."


Hans langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Delia tanpa meminta ijin terlebih dahulu.


" Hans, apa yang kau lakukan...?" pekik Delia.


" Sebentar saja Delia, biarkan aku merasakan ketenangan sebentar..." Hans memejamkan matanya sejenak.


Hingga lima menit berlalu, Hans masih memejamkan matanya. Delia mencoba bergerak untuk mencari posisi duduk yang lebih nyaman.


" Hans, apa kau tidur...?" ucap Delia pelan.


" Mmmm... tidak, ada apa...?" sahut Hans mendesah pelan.


" Siapa wanita yang di dalam itu? Apa dia kekasihmu...?"

__ADS_1


" Jangan asal kalau bicara, dia itu wanita di masa lalu Arvan dan anak kecil itu anak mereka..."


" Tapi kamu perhatian banget sama mereka...?"


" Tuh kan... pasti cemburu ya...?" goda Hans.


" Nggak...!"


Delia mengacak rambut Hans dengan kasar hingga laki - laki itu meringis menahan sakit.


" Udah sayang, ampun...! Ini sakit sekali..." rengek Hans.


" Awas... aku mau cek keadaan wanita itu..." sungut Delia.


" Namanya Rissa, sayang..." kekeh Hans.


Hans tersenyum setelah Delia masuk ke dalam kamar Rissa. Sepertinya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


" Huft... kamu semakin menggemaskan saat sedang marah..." gumam Hans.


Hans mengikuti Delia ke kamar Rissa untuk melihat keadaan mereka.


" Gimana Del...? Rissa baik - baik saja kan...?"


" Udah agak mendingan sih..."


" Kamu bisa jagain mereka sebentar kan...? Aku harus cek keadaan Arvan di rumah sakit..."


" Jangan lama - lama ya...?"


" Iya, cuma sebentar kok..." Hans menggenggam erat tangan Delia.


" Kau belum menceritakan apapun tentang Arvan..."


" Iya, nanti aku ceritakan semuanya padamu..."


" Kak Ricko, Arvan gimana...?" tanya Hans dengan cemas.


" Operasinya belum selesai Hans..." jawab Ricko sendu.


" Tolong bujuk ibu untuk pulang kak, jika disini terus ibu bisa sakit..."


" Aku sudah membujuknya dari tadi Hans, tapi ibu tidak mau pulang sebelum melihat Arvan..."


" Mungkin kak Sandra bisa bujuk ibu..." pinta Hans.


" Saya tidak berani Hans..." sahut Sandra pelan.


" Huft... kenapa semua jadi kacau seperti ini..." keluh Hans.


" Apa yang sebenarnya terjadi Hans...?"


Hans menceritakan masa lalu Arvan dengan Erina hingga adanya Raka di tengah - tengah mereka. Ricko tidak menyangka, wanita yang selama ini dicari Arvan ternyata tinggal di rumahnya sendiri di London. Setelah lima tahun lamanya, takdir baru mempertemukan mereka lagi. Padahal Arvan juga sering datang ke London namun belum pernah sekalipun bertemu dengan Erina karena selalu bekerja ke luar kota ataupun luar negeri saat Arvan berkunjung.


Ricko sering bertemu Erina sebelumnya namun dia tidak mengenali gadis itu karena sang ibu mengenalkannya sebagai Rissa. Ricko belum pernah melihat foto Erina, hanya namanya saja yang sering disebut Hans dan Arvan.


" Hans, kita harus selidiki masalah ini. Semua ini murni kecelakaan atau ada motif lainnya..." ucap Ricko.


" Iya kak, saya akan coba menyelidikinya besok. Kondisi Erina juga drop sekarang setelah mendonorkan darahnya untuk Arvan..."


" Kenapa kau meninggalkan dia...?"


" Ada Delia yang menjaganya, kak..."


Tak lama dokter yang menangani Arvan keluar dari ruang operasi. Ayah dan Ibu langsung beranjak dari duduknya.


" Dokter, bagaimana kondisi anak saya...?" tanya Ibu cemas.


" Operasinya lancar Nyonya, kita tunggu perkembangannya besok pagi. Pasien masih dalam pengaruh obat bius, semoga dia bisa melewati masa kritisnya malam ini..."

__ADS_1


" Apa anak saya akan segera sadar dokter...?"


" Kita berdo'a saja, semoga ada keajaiban pada putra Anda. Namun, karena kondisinya sangat parah bisa saja pasien mengalami koma..."


" Tidak dokter, anak saya harus sembuh...!" ucap Bu Sarah dengan terisak.


" Tenang Bu, sebaiknya kita pulang sekarang. Ibu dan Ayah harus beristirahat. Besok kita akan kesini lagi untuk menemui Arvan..." bujuk Ricko.


" Iya Bu, Hans antar pulang ya...? Kak Sandra biar menemani ibu di rumah. Percayalah, Arvan orang yang kuat. Dia pasti akan segera sembuh..." ucap Hans.


" Biar William saja yang pulang bersama kami, dia juga butuh istirahat..." ucap Tuan Regan.


" Baiklah, Sandra... kamu ikut Ayah dan Ibu ya...?" ucap Ricko.


" Iya sayang, aku pulang ya..." sahut Sandra pelan.


Ricko mengantarkan istri dan orangtuanya sampai ke mobil. Setelah itu kembali lagi ke dalam duduk bersama Hans.


" Rencana kita selanjutnya apa kak...?" tanya Hans.


" Retas semua cctv di area kecelakaan itu, kita harus bisa menangkap pelakunya..." jawab Ricko.


" Biasanya itu pekerjaan Arvan, kak..."


" Memangnya kau tidak bisa...?" Biasanya aku cuma bagian eksekusi saja..."


" Huft... pekerjaan kantor juga banyak, honeymoon batal, keadaan jadi kacau begini..." keluh Ricko.


" Sabar kak, semoga Arvan cepat sadar..."


" Besok kau selidiki kasus ini dengan Raka. Kurasa anak itu lebih pintar darimu..."


" Benar, anak itu memang sangat genuis di usianya yang masih balita..." puji Hans.


Saat sedang berbincang - bincang, tiba - tiba ponsel Hans berdering.


" Sebentar ya kak, Delia telfon..." ucap Hans.


Ricko hanya menganggukkan kepalanya lalu merebahkan dirinya di kursi. Dia sangat lelah karena dari pagi belum istirahat.


" Sayang, kenapa...?" tanya Hans di telfon.


"......"


" Apaa...?"


" ..._"


" Iya, ini sudah jalan pulang. Kamu tenangkan dia sebisa mungkin, sayang..."


"...."


Setelah panggilan terputus, Hans kembali menghampiri kakaknya.


" Kak, aku harus pergi sekarang. Delia butuh aku disana..." pamit Hans.


" Ada apa Hans...?"


" Itu kak_..."


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2