Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 95


__ADS_3

" Sial, orang itu sungguh keterlaluan...!" geram Arvan.


Arvan mengenal betul pria dalam rekaman itu. Dia semakin khawatir dengan keadaan istrinya.


" Raka, kita harus pergi sekarang. Mama dalam bahaya sekarang..."


" Bahaya kenapa, pa...?"


" Mama tadi pergi bertemu pria dalam rekaman itu..."


" Dia bukannya orang yang katanya temen mama itu, pa...?"


" Iya, sayang. Papa juga tidak percaya dia terlibat dalam penyerangan mama..."


Setelah berpamitan pada ibu panti, Arvan dan Raka segera pergi untuk mencari Erina.


" Samuel, aku pasti akan menghancurkanmu...!" geram Arvan.


Dalam perjalanan, Arvan menghubungi Adam untuk mendapatkan informasi terbaru. Namun Arvan kembali marah saat Adam tidak menemukan Erina di cafe itu.


" Astaga, kamu dimana sayang? Harusnya aku menjagamu tadi..." gumam Arvan sendu.


" Raka harusnya jaga mama, pa. Maafkan Raka sudah meninggalkan papa dan mama..." ucap Raka.


" Tidak apa - apa, sayang. Kita tidak perlu saling menyalahkan. Yang terpenting kita harus segera menemukan keberadaan mama..."


Arvan dan Raka kembali ke kantor untuk mengatur strategi menyelamatkan Erina. Disana sudah ada Ricko, Hans dan Adam. Sandra sudah pulang lebih dulu diantar sopir kantor.


" Tuan, saya mengaku bersalah sudah lalai dalam menjalankan tugas. Saya siap menerima hukuman apapun dari Anda..." ucap Adam pelan namun tegas.


Adam menunjukkan sikap profesionalitasnya dalam bekerja. Dia siap bertanggung jawab dengan kesalahan yang ia perbuat.


Arvan berusaha bersikap tenang apalagi di depan anaknya. Dia tidak bisa menunjukkan sisi buruknya di depan sang anak.


" Informasi apa yang kau dapat...?"


" Tidak ada, Tuan. Ketika saya sampai disana, Nona sudah tidak ada di tempat..."


" Apa mungkin Erina dibawa ke tempat Selly...?" ucap Hans.


" Suruh orang memantau rumah itu sekarang juga...!" perintah Arvan.


" Tidak bisa, pa. Itu bisa membuat warga curiga dan menggagalkan rencana kita menyelamatkan mama..." kata Raka menolak perintah Arvan.


" Lalu apa yang kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa tinggal diam begitu saja..."


" Kita pantau dari sini, jika mama dibawa masuk ke rumah itu baru kita akan bergerak..." ujar Raka.


Hans mengambil alih laptop milik Raka untuk memantau keadaan diluar rumah Erina. Tak ada yang boleh terlewatkan dari pantauan mereka.


Hans juga memerintahkan anak buahnya untuk mencari Erina di setiap sudut kota dan tempat - tempat yang lain.


# # #

__ADS_1


" Sam, kapan kita sampai...?" tanya Erina.


" Sebentar lagi, sabar Erin... kebiasaan kamu ya, nggak sabaran..." sahut Samuel.


Tak lama, Samuel menghentikan laju mobilnya di tepi danau buatan dekat komplek perumahan mereka.


" Ayo turun, kita sudah sampai..."


Samuel membukakan pintu untuk Erina yang tertutup kain di wajahnya.


" Bolehkah aku membuka kain ini, Sam...?"


" Nanti dulu, Erin. Pegang lenganku, sebentar lagi kita sampai..."


Sam menuntun Erina menuju tempat yang sudah ia siapkan sebelumnya. Setelah sampai, Sam membuka kain penutup mata Erina.


" Sudah sampai..." Samuel tersenyum di hadapan Erina.


" Sam, apa maksud semua ini...?" tanya Erina heran sekaligus terkejut.


Kini mereka berada di tepi danau yang telah dihias dengan rapi. Rangkaian mawar putih mengeluarkan aroma semerbak kesukaan Erina. Disana juga sudah ada meja kecil dengan dua kursi serta makanan yang sudah tersusun rapi diatasnya.


" Aku ingin menikmati hari ini berdua saja denganmu. Jangan menolaknya, Erin..." ucap Sam memohon.


" Baiklah, tapi aku tidak bisa berlama - lama karena suamiku pasti khawatir dengan kepergianku. Ponselku juga tertinggal di kantornya..."


" Tenang saja, kita tidak akan lama. Setelah makan, aku akan langsung mengantarmu pulang ke rumah..."


" Maafkan aku, Erin. Aku bukanlah sahabat yang baik untukmu. Aku sudah menghianati kepercayaanmu..." batin Samuel.


Selesai makan, Samuel mengajak Erina duduk di tepi danau di bawah pohon tempat mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama untuk melepas lelah usai pulang sekolah ataupun di hari libur.


" Rin, ada yang ingin aku katakan padamu. Mungkin aku memang salah, tapi aku tidak bisa menyembunyikannya lagi..." ucap Sam dengan serius.


" Ada apa, Sam...? Apa yang ingin kau katakan...?" tanya Erina tidak paham.


" Rin, aku ingin jujur padamu tentang perasaanku. Aku sangat mencintaimu..." ungkap Sam dengan sendu.


" Apaa...? Cinta...? Kau jangan bercanda, Sam! Aku ini sudah punya suami dan anak..." Erina melepas genggaman tangan Samuel.


" Tapi pernikahanmu hanya karena terpaksa, Erin. Kau hanya ingin memperjelas status anakmu saja. Kau tahu berapa lama aku memendam perasaan ini...? Sejak pertama kali kita kenal, aku sudah mulai mencintaimu dan kau tahu itu bukan waktu yang sebentar..."


" Tidak, Sam. Kau pasti berbohong...!"


" Untuk apa aku berbohong...! Aku selalu ada saat kau membutuhkanku, kemanapun kau pergi aku selalu mendampingiku. Aku tidak perduli bagaimana asal usulmu, seperti apa dirimu. Aku menerima dirimu apapun keadaanmu..."


" Sam, kau adalah sahabat yang sudah aku anggap seperti saudara. Bagaimana bisa kau memiliki perasaan itu padaku...?"


Erina tidak pernah menyangka sama sekali bahwa Sam memiliki perasaan cinta padanya. Selama mereka bersama, tak pernah sekalipun pria itu menyinggung masalah hati. Mereka murni hanya berteman saja tanpa adanya perasaan lebih.


" Apa kau pikir ini keinginanku, Erin. Aku juga tidak tahu mengapa perasaan ini muncul di hatiku. Cinta itu hadir begitu saja padaku, tak sanggup aku menolaknya..."


" Aku tahu cinta itu tidak salah, Sam. Tapi waktunya yang tidak tepat. Aku sudah bersuami sekarang, tidak pantas untuk kita mengungkapkan cinta disaat salah satu dari kita telah memiliki pasangan..."

__ADS_1


" Erin, aku tahu kau pasti tidak bahagia menikah dengannya. Pergilah bersamaku, kita akan memulai kehidupan baru yang bahagia bersama..." bujuk Samuel.


" Maaf, Sam. Tapi aku sangat mencintai suamiku, aku sangat bahagia dengan keluarga kecil kami..."


" Kau yakin dengan keputusanmu itu? Kau menolakku demi laki - laki yang telah menghancurkan hidupmu...?"


" Mungkin itulah takdir, kami dipertemukan dengan cara yang salah, namun sekarang kami menjalaninya dengan ikhlas sehingga cinta tumbuh diantara kami..."


" Jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku tidak bisa berbuat apa - apa lagi..." ucap Samuel penuh kekecewaan.


" Maaf, Erin. Aku akan tetap melanjutkan rencanaku karena cintaku yang tak terbalas..." batin Samuel menahan perih di hatinya.


" Antarkan aku pulang, suamiku pasti sangat mengkhawatirkanku..." pinta Erina.


" Baiklah, tapi bolehkah aku memberikan sesuatu padamu. Sebagai tanda persahabatan kita dan juga permintaan maafku. Aku mohon jangan pernah membenciku, Erin..."


" Anggap saja ini semua tidak pernah terjadi, aku hanya ingin pulang Sam..."


" Baiklah, tapi ini permintaan terakhirku. Tutuplah wajahmu seperti waktu kita datang lagi dan kita lupakan semua yang terjadi hari ini..." ucap Samuel menatap dalam Erina.


" Baiklah, kau harus bahwa kau orang pertama yang bisa aku percaya di dunia ini, Sam. Tetaplah menjadi sahabatku selamanya..."


Sam membukakan pintu mobil untuk Erina dan disambut wanita itu dengan senyuman.


" Erina, kau tetap baik seperti dulu. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah setengah jalan sekarang, maju mati di tangan suamimu, mundur mati di tangan Selly..." batin Samuel.


" Sam, kenapa melamun? Maaf soal yang tadi, memang dari awal kita bersahabat dan selamanya akan seperti itu..." ucap Erina.


" Apa kau benar - benar mencintai suamimu...?"


" Iya, Sam. Aku sangat mencintainya. Walaupun dia telah menghancurkan masa depanku disini, tapi takdir telah tertulis dengan rapi. Disaat aku hancur dan terpuruk, orangtuanya mengulurkan tangannya untukku, memberikan kasih sayang yang tidak pernah aku dapatkan dari orangtuaku. Mereka tidak mempermasalahkan siapa aku yang sebenarnya. Semua ini tidak murni kesalahan suamiku, waktu itu dia dijebak oleh kak Selly dengan obat. Aku yang berniat menolongnya justru menjadi korbannya. Aku sangat bahagia hidup dengannya, Sam..."


Samuel terkejut dengan pengakuan Erina. Jadi selama ini Selly telah menipunya dengan mengatakan bahwa Erina hidup sengsara di bawah kendali suaminya.


Samuel sangat geram dengan perbuatan Selly yang telah memanfaatkannya selama ini. Dia menyesal hampir saja membunuh Erina saat di London.


" Maafkan aku Erina, aku teman yang buruk bagimu..." ucap Samuel sendu.


Samuel benar - benar menyesal dengan perbuatannya dan berjanji dalam hati untuk memperbaikinya.


" Dimana kau tinggal sekarang? Aku akan mengantarkanmu pulang..."


Belum sempat Erina menjawab, terdengar suara tembakan dari belakang dan mengenai mobil Samuel hingga kaca belakang pecah.


Doorrr...! Doorrr...! Doorrr...!!!


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2