Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 38


__ADS_3

" Kak Ricko..." ucap Erina kaget.


" Rissa, sejak kapan kau datang...?" tanya Ricko.


" Semalam, kak..."


" Hans tidak ada disini...?"


" Tidak ada, semalam dia pulang..."


" Kamu pulang saja, biar bodyguard diluar mengantarmu..."


" Saya disini saja kak, mau nungguin kak Hans datang..."


" Ya sudah, kalau begitu saya ke kantor dulu..."


Ricko mengurungkan niatnya untuk menemani Arvan karena ada Rissa yang bersamanya. Dia segera berangkat ke kantor menyusul sang istri yang lebih dulu pergi ke kantor.


Setengah jam perjalanan, Ricko sampai di kantor dan melihat Sandra sudah serius bekerja di mejanya.


" Sayang, rajin banget sih pagi - pagi...?" goda Ricko.


Ricko memeluk istrinya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu sang istri.


" Mas, kok udah kesini...? Katanya mau jagain Arvan dulu di rumah sakit...?" sahut Sandra.


" Aku merindukanmu, jadi aku tinggalkan Arvan..." gurau Ricko.


" Ish... jangan menggangguku...!" sungut Sandra.


" Hahahaa... kau sangat cantik kalau lagi marah..."


" Hentikan, Mas... malu kalau ada yang lihat..."


" Aku sudah melihatnya..."


Tiba - tiba Hans sudah berdiri di hadapan mereka sehingga membuat Sandra malu.


" Kau ini mengganggu saja...!" kata Ricko kesal.


" Kalian itu yang mengganggu penglihatanku..." elak Hans.


" Hei... bukannya Rissa menunggumu di rumah sakit...?"


" Astaga... kenapa aku jadi lupa...! Aku harus ke rumah sakit sekarang...!"


Hans segera berlari keluar kantor dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi.


Sampai di rumah sakit, Hans segera mencari Erina di ruang rawat Arvan. Hans mengurungkan niatnya untuk masuk saat melihat Erina sedang mengelap tubuh Arvan dengan kain basah. Erina nampak tulus merawat Arvan, tak ada lagi kebencian seperti saat pertama kali bertemu.


" Aku tahu kalian pasti bersama lagi suatu saat nanti, semoga tak ada aral yang memisahkan kalian lagi..." batin Hans.


Hans duduk di luar ruangan sambil memainkan ponselnya memantau keadaan di rumah Selly. Hans berharap Raka akan baik - baik saja di rumah itu.


" Hei... kenapa melamun...?"

__ADS_1


Delia langsung duduk di samping Hans setelah merebut ponsel dari tangan lelaki itu.


" Ish... kau ini suka sekali mengagetkanku..." sahut Hans seraya tersenyum.


" Ada masalah...?" tanya Delia.


" Erina sudah kembali dan dia tahu anaknya sedang berada di rumah lamanya..."


" Masalahnya apa...?"


" Rumah itu adalah kenangan terburuk dari Erina. Ibu dan kakak tirinya sangat jahat padanya. Raka datang ke rumah itu untuk menyelidiki tentang kecelakaan Arvan, penyerangan Erina dan juga kematian ayahnya Erina..."


" Itu sangat berbahaya Hans...!"


" Aku tahu, tapi Raka memaksa..."


Hans menyandarkan kepalanya ke bahu Delia seraya memejamkan matanya.


" Hans, kau sangat lelah. Istirahatlah biar kamu tidak sakit..."


" Bagaimana aku bisa istirahat sementara Raka sedang berjuang untuk orangtuanya..."


" Ya sudah, nanti aku kasih vitamin supaya menjaga daya tahan tubuhmu..."


" Vitamin apa...? Aku cuma butuh kamu sebagai penyemangatku..." ucap Hans yang hampir tertidur.


" Kau ini... udah ah, aku mau pulang, ngantuk..." ucap Delia yang baru selesai dengan tugas malamnya.


" Aku antar ya...?"


" Tidak usah, sebaiknya kau tidur walau sebentar..."


" Huft... kau ini seperti orang mabuk saja..." gerutu Delia.


Delia merebahkan tubuh Hans ke kursi lalu beranjak untuk pulang karena dirinya juga lelah dan mengantuk.


" Kalian, tolong jaga Hans dan juga Nona Rissa yang ada di dalam ruangan Tuan Arvan. Nona Rissa tidak boleh pergi tanpa pengawasan..." perintah Delia kepada para bodyguard.


" Baik Nona..."


# # #


Raka hari ini di rumah sendirian karena Selly dan ibunya pergi ke Restoran, sedangkan bik Ina sedang ke pasar berbelanja.


Raka kembali masuk ke ruang kerja kakeknya dan menggeser meja kecil di sudut ruangan yang telah dicurigainya dari kemarin.


Saat meja itu bergeser, ternyata benar di balik meja itu ada sebuah brangkas kecil. Raka beberapa kali memasukkan kodenya namun gagal. Dia jadi teringat dengan mamanya dan mencoba memasukkan tanggal lahirnya.


" Yap...! Berhasil...!" seringai Raka dengan mata berbinar.


Raka memeriksa isi brangkas itu dan menemukan beberapa berkas penting di dalamnya. Ada juga beberapa foto kakeknya bersama bayi mungil dalam gendongannya. Raka segera mengambil semua isi brangkas itu dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya.


Raka segera merapikan tempat itu lagi dan kembali ke dalam kamarnya. Dia berniat untuk keluar dari rumah itu hari ini juga sebelum Selly mencurigainya.


Saat sedang membereskan semua barangnya, ponselnya bergetar tanda pesan masuk.

__ADS_1


" Mama...!" gumam Raka.


Raka membaca pesan dari Rissa yang intinya menyuruh Raka supaya secepatnya meninggalkan rumah itu.


" Astaga, aku sampai lupa kalau ponselku terhubung dengan ponsel mama. Pasti mama tahu aku disini sekarang..." batin Raka.


Raka membalas pesan mamanya dan akan segera kembali ke Apartement. Setelah selesai mengemas semua barangnya, Raka menunggu bik Ina pulang dari pasar.


Satu jam menunggu, akhirnya bik Ina pulang dari pasar. Namun bersamaan dengan itu, Selly dan ibunya juga pulang.


" Sial... aku tidak mungkin bisa membawa barang bukti ini sekarang. Mereka pasti memeriksa isi dalam tasku..." batin Raka.


Raka segera menyimpan kembali barang - barangnya di dalam lemari mamanya lalu menutupnya dengan rapat. Hanya bik Ina yang bisa membawa berkas - berkas itu keluar dari rumah Selly.


Bik Ina masuk ke dalam kamar Raka setelah tadi anak itu mengirimkan pesan padanya.


" Raka, ada apa...?" tanya Bik Ina.


" Begini bik... Raka harus segera pergi dari rumah ini. Tolong besok bawa barang yang ada di dalam lemari mama ke taman tempat kita bertemu kemarin. Raka tidak bisa membawanya karena tante Selly akan memeriksa barang - barang di tas Raka..."


" Baiklah, tapi alasan apa yang harus kita katakan pada Non Selly nanti...?"


" Bilang saja kalau bibik akan menitipkan saya ke panti asuhan sampai orangtua Raka datang menjemput..."


" Bibik takut jika nanti kita ketahuan, Raka..."


" Jangan khawatir bik, setelah saya keluar dari sini maka secepatnya saya juga akan mengeluarkan bibik dari rumah ini..."


Raka keluar dari kamar bersama bik Ina lalu menghampiri tante Selly dan ibunya di ruang keluarga. Raka berusaha setenang mungkin dan bersikap manis layaknya anak seusianya.


" Permisi Nyonya, saya_..." ucap bik Ina gugup.


" Ada apa...?!" sahut Selly datar.


" Maaf, Non... saya mau mengantarkan anak ini ke panti asuhan saja. Saya belum menemukan orangtuanya dan saya juga agak repot jika harus merawatnya disini. Mungkin anak ini akan terawat dengan baik disana..."


" Baguslah kalau begitu, saya juga tidak senang ada anak kecil di rumah ini..."


Yona memperhatikan dengan seksama wajah Raka. Menurut Yona, anak itu seperti bukan gelandangan jika dilihat dari kulitnya yang putih bersih. Anak itu lebih mirip anak konglomerat.


" Tunggu_...!" ucap Yona.


" Ada apa, Bu...? Biarkan saja anak itu pergi..." sahut Selly.


" Diam kau...!"


Raka dan bik Ina saling berpandangan. Ada firasat yang mulai tidak enak dalam hati Raka. Yona menatapnya sangat lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala.


" Raka, mendekatlah padaku...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2